
Ting Tong!
Ting Tong!
Ting Tong!
"Dimana nih yang punya tempat? Lama bener bukanya"
"Sabar kali, siapa tau dia lagi beraak"
"Anjg jijik banget lu ngomongin itu"
Ting Tong!
"Ya elah gak sabaran amat, tunggu aja ngapa" Si wanita mulai kesal dengan tingkah laku teman lelakinya.
"Wah jangan-jangan nih orang kagak ada" mulai kepikiran.
"Awas aja kalau gak ada, lagian sotoy banget lu gue bilangin suruh telpon dulu tadi" tunjuk sang teman.
"Kagak aktif dia, lu tau sendiri dia jarang banget buka hp"
Ditengah kericuhan yang terjadi suara pintu terbuka membuat semua orang terdiam.
Si pemilik tempat pun terkejut dengan kedatangan sahabat-sahabatnya.
"Kalian??"
"Nah ini nih orangnya!"
"Gue kira lu gak ada disini, lama banget buka pintunya"
"Sorry, masuk aja" si pemilik apartemen membukakan pintu selebar mungkin, mempersilahkan kawan-kawannya untuk masuk.
Kean dan Bisma langsung menjatuhkan tubuh mereka di atas sofa, sudah lama mereka tidak berkunjung ke apartemen milik Fabio, terakhir kali mungkin semester lalu.
"Ahhh.... Nyaman banget sofa lu"
"Udah lama banget ya kita gak kesini?" Timpal Kean.
"Yoi, habisnya ni anak keluyuran mulu mana gak pernah ngasih tau kita lagi"
Fabio hanya menyungging senyum, dia memang jarang bermain dengan teman-teman akhir-akhir ini. Sedikit merasa kasihan karena mereka sepertinya merindukan kehadiran Fabio.
"Mau minum apa? Gue bikinin"
"Gak usah Fab, kita udah bawa bekel dari rumah" Dinsa melarang.
"Oh ya?"
"Tapi lu punya es batu gak di kulkas? Biar seger gitu kalau minumnya dingin"
"Ada, bentar gue ambilin" Fabio berlalu ke dapur untuk mengambil setumpuk es batu.
"Nad, sini duduk" ajak Dinsa pada Nada.
"Gue mau ke toilet dulu"
"Oh, ya udah sana"
Nada pun menyeret kakinya menuju toilet khusus tamu, karena toilet itu berada dalam satu ruangan dengan dapur maka Nada melewati Fabio yang sedang sibuk memindahkan es batu ke dalam mangkuk besar.
__ADS_1
"Fabio, gue ikut ke toilet ya" seru Nada, membuat lelaki itu menoleh ke belakang.
"Ya Nad? Mau ke toilet? Silahkan aja"
Nada pun masuk, tak berselang lama Nada keluar setelah melakukan buang air kecil. Dia masih melihat Fabio di dapur.
Nada pun menghampiri.
"Biar gue bantu, Fab"
"Eh, ga usah Nad. Udah duduk aja sama yang lain"
"Gapapa, ada yang susah?"
"Es batunya gak mau keluar" kata Fabio sembari menepuk-nepuk cetakan es supaya bisa terlepas.
"Ada air anget? Kalau susah tuangin pake air anget dulu"
"Ada, tuh di dispenser"
Nada pun mengambilnya, segelas saja lalu memasukkan air tersebut ke dalam cetakan es. Dan beberapa detik es itu pun bisa terlepas.
"Baru tau gue bisa kayak gitu, thanks ya"
"Sama-sama, btw tadi lo kok gak balik lagi waktu dari kantin?" Nada menanyakan, sebab ketika mereka tengah berkumpul Fabio izin pergi sebentar namun tak kunjung kembali.
Fabio berpikir sejenak, siang tadi dia mengantar Lucia pulang ke rumah. Memang tak ada satupun dari temannya yang tau sebab Fabio juga mendadak dan tak sempat menelpon mereka.
"Tadi gue--"
"Ya ampun kalian malah ngobrol disini! Cair kali tuh es batu, kita udah nunggu lama disana, kering nih tenggorokan gue" Bisma menyela, dia menghampiri Fabio yang terlihat berbincang dengan Nada.
"Oke, Nad kita kesana dulu yu"
Nada mengangguk, tak sempat Fabio menjawab dan ujungnya mereka lupa tentang pembahasan di dapur tadi.
***
Pura-pura gak peduli, padahal kangennya sampe kebawa mimpi.
Bukannya tidak tau diri, tapi mungkin perlakuannya terlalu tembus ke hati.
Akankah esok dia muncul lagi? Jika iya tolong jangan buat aku mati dini.
"Perkenalkan nama bapak, Rohlan. Disini bapak mengajar mata kuliah ekonomi bisnis, sebelumnya bapak ucapkan selamat datang di universitas kami. Semoga kita semua bisa menjadi partner yang baik, perjalanan kalian masih sangat panjang, tapi bapak minta kalian tetap lakukan yang terbaik, bukan untuk bapak tapi untuk diri kalian masing-masing"
Sambutan hangat mengawali pembelajaran pertama di perkuliahan itu, di pagi hari otak para mahasiswa masih sangat segar untuk menerima materi. Disertai semangat yang masih full, tidak seperti mahasiswa semester akhir.
Lucia duduk di bangku paling depan, kebiasaannya sejak masih di sekolah menengah, terbawa sampai ke perguruan tinggi sekarang.
Dia menyimak dengan seksama, pandangannya tak beralih dari layar infocus, jari kanannya pun bergerak menulis disetiap lembaran buku.
Kring!
Sebuah notif dari ponsel menyita perhatian Lucia, awalnya ia mau mematikan saja gawai tersebut, tapi saat matanya membaca sekilas pesan yang masuk, tak kuasa Lucia acuhkan.
Fabio: Pulang bareng?
Senyum merekah membaca pesan tersebut, namun cepat-cepat Lucia menormalkan kembali raut wajahnya.
Belum ia balas, nanti saja kalau mata pelajaran sudah selesai. Dimatikannya ponsel itu sampai dosen yang mengajar keluar dari kelas.
__ADS_1
"Hari ini cuma satu pelajaran kan?"
"Iya, padahal masih pagi tapi udah selesai aja. Biasanya sekolah sampe jam 4 sore baru boleh pulang"
Lucia mendengarkan saja teman sekelasnya berbicara, sedangkan ia sibuk menghubungi supir Jihan kalau hari ini tidak usah menjemputnya pulang kuliah.
Seusai itu barulah Lucia membalas pesan dari Fabio.
Lucia: Aku udah keluar kelas, kakak dimana?
Tak sampai semenit, Fabio kembali membalas pesan Lucia.
Fabio: Masih dikelas, tunggu sebentar gak apa-apa?
Lucia: Ya, aku tunggu di luar gedung.
Raisya menepuk pundak Lucia yang sedari tadi diam dan sibuk dengan ponselnya.
"Kamu mau ikut main ke kosan Caca gak?"
"Kayaknya enggak Sya, aku mau langsung pulang. Maaf ya Ca"
"Kapan-kapan main lah ke kosan aku, nginep juga boleh" kata Caca.
"Ada-ada aja kamu, ya kali Lucia dibiarin jauh dari suaminya" Raisya menyikut, berpikir kalau Lucia tinggal bersama sang suami.
Lucia tersenyum kaku, biarlah mereka berpikir demikian. Orang gila pun tak ada yang percaya kalau ibu hamil tinggal sendirian.
"Kita duluan ya, Lucia"
"Iya, hati-hati kalian" melambaikan tangan.
Lucia duduk di bangku panjang, menunggu Fabio keluar dari kelas. Angin sepoi-sepoi menyapu kulit mulusnya.
Lima belas menit Fabio tak kunjung muncul. Bosan, Lucia bangkit dan mampir ke perpustakaan sebentar, dia ingin sekalian mencari referensi buku ekonomi yang bisa dipelajari nanti di rumah.
Ruangan yang sunyi mampu menenangkan pikiran Lucia, deretan rak buku berjejer sesuai jenisnya. Lucia melewati beberapa lorong yang kosong khusus buku yang berkaitan dengan fakultasnya.
Tapi ketika Lucia tengah mencari buku yang cocok, sebuah buku sastra menyempil diantara buku-buku itu.
Tangan Lucia menjulur hendak mengambil benda tersebut, tapi sebuah tangan dari belakang lebih dulu merebutnya.
Seketika Lucia berbalik, penglihatannya terbeliak menatap siapa yang berdiri dibelakang.
"Kak Fabio?"
Suasana kembali senyap begitu mereka saling beradu tatap, tak ada yang ingin lebih dulu berpaling, sama-sama terdiam bagaikan orang asing.
Hening...
Hening...
Hening...
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada"
__ADS_1