Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Martabak Semanis Kamu


__ADS_3

"Besok aku jemput lagi"


Ucapan yang tidak pernah Lucia harapkan, ia merasa terjebak lagi dalam lingkup kesesakan, sampai kapan? Lucia berharap tidak bertemu dengan pria itu lagi semenjak menjaganya sewaktu di rumah sakit.


Tapi ternyata sang suami datang dengan sikap serta tutur kata yang berbeda, apakah pria itu mulai memikirkan bayinya?


Hal yang berbanding terbalik dengan kedekatan Lucia dan Fabio, hari ini tak ada satu atau dua patah kata pun yang terucap dari bibir keduanya.


Mereka seolah mundur sebab dihantui ketidakpastian masa depan.


Ada tembok besar yang membentengi keduanya, satu-satunya jalan bukan dengan merusak penghalang itu tapi dengan memanjat tembok yang setinggi langit untuk dapat saling bersatu.


Tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, perlu perjuangan serta kesabaran segudang.


Namun manusia hanya bisa mengeluh, ada kalanya ia merasa lelah dan hampir menyerah.


"Hai hai hai..... Balik lagi sama gue Yongki di saluran 97.6 FM. Ngomong tentang cinta, tentu semua orang udah Tuhan kasih yang namanya cinta. Semua orang pasti kenal sama kata yang satu ini, sebab semua orang pingin dicintai dan mencintai. Tapi sayang, gak semua cinta itu harus dibalas lagi dengan cinta, adakalanya cinta itu cuma bertepuk sebelah tangan aja. Tapi jangan berkecil hati, mungkin dibalik itu semua Tuhan udah ngasih yang terbaik untuk kamu kedepannya, kalau kamu mencintainya tunjukkan bentuk cinta kamu tanpa memikirkan balasan dari dia, lakuin apa yang membuat hati kamu senang, cinta itu memang gak harus dimiliki, tapi cinta itu harus diresapi, karena kalau cuma dimiliki tapi gak ada cinta, juga percuma. Kayak lagu yang satu ini PUPUS by Dewa 19..."


Aku tak mengerti apa yang kurasa


Rindu yang tak pernah begitu hebatnya


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu


Aku persembahkan hidupku untukmu


Telah ku relakan hatiku padamu


Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa


Dan hati kecilku bicara


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk s'luruh hatiku


Tap!


Lucia mematikan radio yang memutar lagu lawas, bukan menghiburnya malah membuat Lucia tambah sedih.


Ia pun memilih duduk di meja belajar dan membuka buku pelajaran, siapa tau dengan belajar pikiran Lucia bisa teralihkan dan setelah itu ia bisa tidur dengan nyenyak.


"Manajemen operasional adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya (baik manusia maupun alat-alat) untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Ini termasuk pembuatan keputusan tentang pembuatan produk atau jasa, pengoperasian sistem, pengelolaan inventori, dan ..."


Baru sebentar Lucia membaca paragraf pertama tiba-tiba saja perutnya mulas seperti diaduk-aduk, Lucia menutup mulut seperti ingin muntah. Ia lantas berdiri dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Hoekkk..... Hoekkk......


Lucia mengeluarkan semua makan malam dan mengosongkan lagi perutnya yang baru diisi, rasa mual menyerang begitu saja, Lucia tak mampu menahannya, ia memuntahkan semua isi perut ke dalam toilet.


Setelah hampir lima belas menit di dalam kamar mandi akhirnya Lucia keluar setelah agak mendingan, ia duduk di tepi ranjang karena merasa lemas.


"Perasaan aku gak makan yang aneh-aneh, tapi kenapa tiba-tiba mual?"


Seingatnya ia tidak mengkonsumsi makanan sembarang, sedari tadi pun ia masih fit dan tidak ada keluhan apa-apa.


"Huftttttttt..... Mungkin aku terlalu banyak pikiran" Lucia menduga.


Ia tak melanjutkan lagi kegiatan belajar, Lucia memutuskan untuk berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya walau ia belum mengantuk sama sekali.


Rasanya sepi lagi, Lucia mengambil ponselnya dan melihat WhatsApp.


Hanya grup kelas yang ramai, satu kontak yang Lucia sematkan justru hening tak mengirimnya pesan apapun.


"Tadi kakak nunggu aku, tapi ujungnya kita gak pulang bareng"


"Apa kakak marah sekarang?"


"Apa kita akan asing lagi?"


Seluruh pertanyaan yang tidak bisa Lucia ajukan, hanya bisa dijawab dengan pembuktian saja.


Dipandanginya foto profil lelaki tersebut, Fabio tidak memasang fotonya sendiri, melainkan sebuah gambar macam tutul betina yang sedang mengandung dia jadikan profil WhatsApp.


Fabio memang orang yang susah ditebak, bahkan ditanya pun kadang tidak menjawab, sangat tertutup sebenarnya, tapi banyak tingkah sehingga membuat penasaran orang lain seketika bisa teralihkan.


"Hah? Online???"


Lucia terkejut melihat nomor WhatsApp Fabio tengah aktif, kira-kira sedang bertukar pesan dengan siapa? Tidak mungkin Fabio sedang mengirim Lucia pesan, sebab tidak ada pemberitahuan sedang mengetik.


Lucia tersenyum hambar, "Mungkin lagi chat an sama gebetannya kali"


Lucia mendadak malas membuka ponsel, membayangkan itu membuat mood nya jelek,


Lucia mengambil guling dan mencoba memejamkan mata.


Akan tetapi denting bel membuat Lucia kembali terjaga.


Ting Tong!


Siapa yang datang? Tidak mungkin Jihan karena wanita itu sudah memberitahunya tidak akan bisa datang karena masih disibukkan dengan pekerjaan.


Atau mungkin...


Dengan langkah semangat Lucia keluar dari kamar, ia membuka kunci pintu dan melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Selamat malam mbak" seorang kurir berdiri tepat di depan Lucia, sambil membawa kantong plastik besar di tangannya.


"Benar ini dengan mbak Lucia?" Tanya sang kurir membaca nama penerima pesanan.


Lucia masih bingung, ia tidak memesan apapun, dan tidak pernah memesan lewat online. Tapi jelas pria ini menyebut namanya.


"Iya, saya sendiri" balas Lucia.


"Ini ada pesanan atas nama mbak dan alamatnya sudah betul, mohon diterima ya mbak" mengasongkan kantong plastik tersebut kepada Lucia.


"Eh mas, tapi saya enggak pesan apa-apa. Ini... Dari siapa?"


"Maaf mbak disini enggak tertera dengan jelas nama si pemesan"


"Terus.... Ini pesanan apa?"


"Martabak, mbak"


Mendengar itu Lucia langsung membuka kresek tersebut, dan benar saja ada satu box martabak didalamnya.


"Ini... Udah dibayar kan, mas?"


"Udah mbak"


"Y-ya udah, makasih ya mas"


"Sama-sama, mari mbak" kurir tersebut pun pamit undur diri.


Lucia masih penasaran siapa yang mengiriminya martabak malam-malam begini, tapi dugaannya tertuju kepada Fabio.


Lucia segera masuk kembali ke dalam rumah, ia membuka makanan tersebut di ruang tamu, sebuah martabak manis semakin mengingatkan Lucia ketika Fabio membawakannya makanan satu ini.


"Ini.... Pasti dari dia kan?"


"Tapi kak Fabio gak bilang apa-apa" lanjutnya bingung.


Dipikir-pikir malah membuatnya lapar, Lucia mengambil satu slice martabak itu, apalagi ketika perutnya kembali kosong begini Lucia jadi menikmati saja cemilan berat tersebut.


Suasana hatinya jadi sedikit membalik, sepertinya besok ia harus bertemu lelaki itu untuk menanyakan kenapa Fabio tiba-tiba mengiriminya makanan satu ini.


"Huh.... Dasar" cetus Lucia, namun lengkungan diujung bibirnya menandakan perasaan yang lain.





__ADS_1



__ADS_2