Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Pesanan Istriku


__ADS_3

Fabio menghentikan kendaraan di sebuah restoran bintang lima, tempat yang pernah ia datangi dan makanannya tentu tidak ada tanding.


Karena itulah Fabio ingin mengajak Lucia kemari, sebab ia yakin Lucia tak pernah datang ke tempat seperti ini.


"Kak, kita kok ke restoran?" Tanya Lucia melihat tempat makan di depannya, belum apa-apa sudah cari makanan saja.


"Ya makan dong sayang, masa mau berakk" selalu diiringi gurauan jenaka.


"Tapi aku udah kenyang, tadi di rumah udah makan"


"Gapapa makan lagi aja, lagian di restoran mewah begini makannya gak bikin kenyang. Jadi aman" Fabio menuturkan.


Lucia tidak protes lagi, ia hanya mengikuti saja kemana Fabio membawanya, toh bukan ia juga yang bayar. Hihi


Ketika keduanya sudah turun dari motor, Lucia mendadak menyadari sesuatu.


"Kak, tunggu!"


"Kenapa?"


"Aku cuma pake dress rumahan, emang gak masalah?"


"Ck, gak lah. Walau pake baju gembel sekalipun kalau di pake kamu mah cantik-cantik aja" sambil mencolek dagu Lucia, menggodanya.


"Ish, kak. Aku serius, emang kakak gak malu bawa aku begini"


Dan itu membuat Fabio memegang kedua bahu Lucia, menatap intens perempuan yang sedang dilanda keraguan itu.


"Sayang hey, kalau aku malu gak akan dong aku ajak kamu kesini dari awal. Udah aja makan di angkringan"


Lucia melepas kedua tangan Fabio yang bertengger di bahunya.


"Apa sih kak sayang sayang mulu" kedua pipi Lucia terasa panas ketika Fabio memanggilnya dengan sebutan seperti itu, pasti wajah Lucia bersemu kemerahan sekarang.


"Sengaja biar orang ngira kita ini pasangan beneran" ucap Fabio seraya menaikturunkan alisnya.


Sepertinya Fabio memang pakar dalam membuat seseorang salah tingkah, semakin lama Lucia disini bisa-bisa ia overdosis dengan rayuan Fabio.


"Ya udah ayok"


Lucia spontan melingkari tangannya di lengan Fabio, entahlah dengan seperti ini ia seolah mendapatkan perlindungan.


"Cieee udah berani pegang-pegang" ledeknya.


"Stop bercanda, kak!" Lucia mencubit lengan Fabio sampai lelaki itu memekik.


"Iya iya sayangku"


"Kak!"


"Apa sayang?"


"Ihh kakak!"


Keusilan Fabio berhenti ketika mereka sudah duduk di kursi, saling berhadap-hadapan di meja khusus dua orang yang disediakan restoran untuk konsumen pasangan.


Pelayan membagikan buku menu kepada masing-masing, tapi karena hanya ada tulisan saja membuat Lucia kebingungan ditambah lagi ia belum tau seperti apa makanan tersebut.


"Yang lagi best seller nya apa, mas?" Tanya Fabio tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu.


"Menu best seller Minggu ini ada Chicken Cordon Bleu, Steak Tenderloin, Striploin atau Ribeye dan juga Lamb Chop" ucap pelayan menyebut menu terbaik satu-persatu.


"Kalau gitu saya mau Steak Tenderloin sama Chicken Cordon Bleu"

__ADS_1


"Baik, ada lagi?"


"Kalau kamu mau pesen apa?"


Lucia yang masih bingung dan belum tau akhirnya bertanya pada Fabio.


"Emm... Yang porsinya kecil kira-kira yang mana kak?"


"Waktu itu aku pernah nyoba Lasagna sama Tiramisu, Mau? Enak juga kok"


"Ya udah yang itu aja kak"


"Jadi yang mana mas mbak?" Pelayan memastikan.


"Istri saya jadinya pesan Lasagna sama Tiramisu ya mas"


"Oh baik, silahkan ditunggu sebentar ya"


Sepeninggalan sang waiters Lucia langsung mengalami serangan dadakan, aliran darahnya seperti berhenti manakala Fabio menyebut Lucia istrinya, bukan cuma wajah yang memerah saat ini, tapi jantungnya seperti akan meledak dan memberhentikan sistem saraf tubuh.


"Hey, kenapa muka kaget gitu?"


Masih nanya pula!!! Ini gara-gara kamu tau!"


Namun pita suaranya tercekat untuk mengeluarkan sepatah kata pun.


"Hey Lucia...." Fabio melambaikan tangan tepat di depan muka si wanita.


"Lucia kamu baik-baik aja?"


"Lucia? Kamu kenapa?"


***


Keduanya menikmati makan malam dengan tenang, aroma lilin yang menyala di atas meja mereka semakin mempercantik suasana.


"Gak ah, ini aja udah kenyang" menolak sebab perutnya mulai terasa begah.


"Satu gigitan aja, seenggaknya kamu tuh harus coba makanan kayak gini sekali seumur hidup" memaksa Lucia untuk melahap daging tersebut.


Karena tak mau berdebat akhirnya Lucia pun melahap satu suap menu yang dipesan Fabio.


Daging yang amat empuk dengan cita rasa yang belum pernah ia coba memanjakan indera perasanya, kalau saja Lucia tidak kekenyangan mungkin ia ingin meminta Fabio untuk memesankannya menu ini.


"Besok kan masih weekend, kamu ada acara kemana?"


"Besok? Belum tau" jawab Lucia.


"Lah, kok belum tau?"


"Ya belum tau aja, soalnya kalau Minggu kadang aku pergi ke suatu tempat, tapi gimana besok ajaa soalnya lagi males"


Apa mungkin ke tempat yang sama seperti waktu Lucia tidak ada di rumahnya? Sebenarnya kemana wanita ini pergi?


"Emang kemana sih? Jadi kepo aku"


"Ada deh... Pokoknya aku gak mau orang lain tau"


"Dih kenapa emang?"


"Soalnya biar gak banyak orang yang tau tempat itu, kalau rame jadinya kurang deh vibes nya"


Penjelasan Lucia sungguh membuat Fabio penasaran, haruskah ia membuntutinya? Tapi itu akan membuat Lucia seakan tidak memiliki privasi tersendiri.

__ADS_1


"Kamu kesana sama siapa? Bahaya lho kalau pake kendaraan umum"


"Sendirian, naik bis"


"Sendirian aja, kirain sama...." Fabio tak melanjutkan kalimatnya,


"Sama siapa?"


"Sama yang suka anter jemput kamu akhir-akhir ini" lanjut Fabio.


Seketika Lucia menghentikan aktivitas makannya, ia memandang Fabio yang memasang ekspresi masam.


"Emang kenapa? Kok kakak kayak gak suka gitu?" Bertanya apa adanya, bukankah harusnya Fabio senang jika kini Lucia mulai diperhatikan oleh suaminya?


Fabio seketika mengangkat pandangannya, ia merasa suami Lucia menjadi orang ketiga disini, padahal dalam kenyataannya dirinya lah orang ketiga itu.


"Aku emang gak suka, orang yang udah nyakitin kamu tiba-tiba ada terus sekarang" jujurnya.


"Gak tiap hari kok, itu juga karena Nyonya lagi sibuk terus supirnya juga ada urusan. Jadi ya terpaksa deh"


"Sampe kapan? Kalau terus-terusan nanti gak ada waktu buat aku main sama kamu"


"Ada lah, sekarang kita ngapain? Main kan"


"Masa cuma weekend doang, kurang dong. Biasanya juga setiap hari" Fabio merajuk, makanan yang ia santap pun hanya dipandanginya dengan sebal.


"Doain aja semoga urusan Nyonya sama supirnya bisa segera selesai"


***


Mereka akhirnya pulang ketika jam menunjukkan pukul sepuluh, di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun membasahi isi bumi.


"Yah, hujan. Kita mau neduh dulu?" ujar Fabio.


"Gak usah kak sebentar lagi nyampe"


"Ya udah aku ngebut dikit gapapa ya?"


"Iya kak"


Dan tidak sampai lima menit mereka tiba di rumah Lucia, sayangnya hujan semakin deras dan diiringi petir kecil.


"Hujannya makin gede kak, kakak bawa jas hujan?"


"Gak bawa, soalnya punya ku robek belum sempat beli. Kamu punya gak? Aku pinjem atasnya aja"


"Aku juga gak punya, adanya payung"


Melihat hujan yang sepertinya akan lama membuat Fabio memutuskan.


"Aku pulang sekarang aja, gapapa deh sambil hujan-hujanan. Kayaknya hujan gak akan berhenti sampe besok"


Mendengar itu Lucia sontak menghawatirkan Fabio, mengendarai motor di kondisi hujan seperti ini sangat berbahaya dan tentu beresiko.


"Jangan kak, bahaya nyetir motor pas jalanan licin"


"Terus aku harus gimana?"


Setelah dipikir-pikir Lucia memutuskan untuk menyuruh Fabio singgah dulu di dalam rumahnya hingga hujan sedikit mereda.


"Diem dulu kak di dalem, seenggaknya sampe hujannya gak gede-gede amat"


"Emang boleh?" Fabio memastikan.

__ADS_1


"Iya boleh"


Dan mereka pun masuk ke dalam rumah sampai menunggu awan berhenti menangis semalaman.


__ADS_2