
Karna meskipun sudah berlalu, trauma tidak mengenal durasi waktu.
Apapun yang terjadi di hari itu, akan selalu teringat sampai aku menjadi abu.
Tak bisa ku paksakan hati ini berlabuh kepadamu, karna kini telah ku dapatkan cinta yang baru.
"Makasih udah mampir kesini buat menemui ibu" ucap Yuni mengantarkan kedua orang itu sampai ke depan rumah.
"Sama-sama, kami senang bisa bertemu ibu lagi. Sehat-sehat, nanti kami kesini lagi"
"Iya, nak Jihan. Sering-seringlah kesini, tapi jangan dipaksakan kalau lagi sibuk, sekarang Lucia ada temannya jadi jangan khawatir juga"
"Baik kalau gitu, kami pamit sekarang, kalian juga istirahat lah. Maaf kami jadi mengganggu waktu istirahat kalian, apalagi ibu" Jihan tidak enak hati.
"Enggak kok, kalian juga hati-hati dijalan. Nak Ghani jangan ngebut-ngebut nyetirnya ya" ibu beralih pada sang menantu, memberi wejangan sebelum mereka pulang.
Ghani segera menyalimi Yuni lagi, sekaligus pamit pada sang mertua.
"Tentu, bu. Terimakasih atas jamuannya, kalau ada apa-apa kalian bisa hubungi saya"
"Iya, tenang saja" balas Yuni.
Wanita paru baya itu mengernyitkan alisnya ketika Lucia hanya diam, perempuan muda itu hanya berdiri tegak tanpa melakukan apa-apa.
"Cia, kok malah diam?" Seru Yuni membuat Lucia menengok heran.
"Kenapa, Bu?" Tanya Lucia bingung.
"Salim sama suamimu, dia mau pulang"
"Hah?" Lucia ternganga, seumur-umur ia tidak pernah melakukan itu pada Ghani. Meski perintah sang ibu adalah hal yang baik, tetapi Lucia risih jika harus melakukan hal tersebut.
"Kok bengong? Ayo, Cia"
Lucia menatap wajah Ghani sebentar, pria itu hanya diam tidak menyanggah ucapan ibunya, Ghani juga seperti menunggu moment ini.
Lucia perlahan melangkah pelan ke arah Ghani, selanjutnya mengangkat tangan kanannya pada pria yang berstatus suaminya itu, dan Ghani langsung menerima uluran tangan Lucia.
Dalam sekejap Lucia mencium punggung tangan suaminya, untuk pertama kalinya bibir Lucia menyentuh kulit tangan Ghani.
Dan sentuhan itu membuat Ghani merasa sensasi yang mengalir ke seluruh tubuhnya, menyengat sampai membuat Ghani meremang.
Tak mau berlama-lama, Lucia buru-buru melepas lengannya dan kembali mundur.
Setelah saling berpamitan akhirnya Ghani dan Jihan benar-benar pergi dari sana, mereka sudah tenang telah bertemu dengan ibu Lucia, terutama Ghani, yang sudah mengungkapkan permintaan maaf kepada mertuanya.
***
"Cia, didepan ada mobil. Itu jemputan kamu?" Yuni agak berteriak sambil memasuki kamar anaknya, Lucia tengah bersiap-siap memasukkan barang ke dalam tas.
"Iya, Bu. Supir Nyonya antar-jemput aku ke kampus. Aku berangkat dulu ya Bu" Lucia berpamitan, tak lupa mencium pipi sang ibu.
__ADS_1
"Iya, hati-hati. Pulang jam berapa?" Seraya mengekori Lucia hingga ke teras rumah sambil membawa sapu di tangannya.
"Siang Bu, tapi nanti kalau tiba-tiba ada kelas tambahan aku kabarin ibu lewat telpon"
"Iya, ya udah cepetan masuk nanti telat"
"Pak, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya ya. Saya titip Lucia" pinta Yuni kepada sang supir yang langsung diangguki.
"Iya Bu, siap"
Mobil pun melaju menuju tempat perguruan tinggi yang memakan waktu sekitar sepuluh menit, Lucia melambaikan tangan pada Yuni sebelum sosok sang ibu menghilang dari pandangan.
Hari ini perasaan Lucia benar-benar sedang bagus, keberadaan ibunya sangat membawa suasana yang positif. Sarapan pun ia makan masakan yang sangat-sangat Lucia rindu, semua keperluan lainnya pun Yuni yang menyiapkan sehingga Lucia sangat terbantu sekali.
Mobil terparkir tepat di depan gedung fakultas, Lucia turun dari kendaraan beroda empat itu setelah mengucapkan terimakasih pada yang sudah mengantarnya.
Di ujung tangga atas Lucia bisa melihat seorang laki-laki yang tengah tersenyum kepadanya, dan berakibat menular pada gadis cantik tersebut.
Lucia berjalan mendekat hingga berada di ujung tangga yang sama.
"Pagi, cantikku...." Sapa Fabio sedikit memelankan suaranya.
Lucia merasa makin berbunga-bunga, tetapi sebisa mungkin ia tidak menampakkan kebungahannya.
"Pagi juga, kak. Tumben disini?"
"Nungguin ayang lah, apa lagi emang?"
Dan Fabio pun terbahak mendengar respon wanitanya.
"Eh, gimana ibu kamu? Udah dateng?" Mengalihkan topik pembicaraan.
"Udah, kemarin. Ibu datang mendadak"
"Jadi pingin ketemu ibu kamu deh" sahutnya.
"Kakkkk......"
"Hehe... Iya-iya, aku ngerti kok" kata Fabio cepat, ia tidak bermaksud mengungkit masalah itu lagi.
Mereka pun berjalan ke dalam beriringan, sambil terus berbincang-bincang.
"Berarti tadi malem... Suami kamu mampir ke rumah?"
Lucia menelan ludahnya mendapat pertanyaan seperti itu, pasti kalau ia jujur Fabio akan kesal dan berubah mood, tapi kalau ia tidak jujur akan lebih buruk lagi.
"Emm... Itu.... Iya, tapi cuma sebentar kok!" jawab Lucia memilih jujur.
"Nginep juga?"
Lucia menggeleng sambil melambaikan tangan ke kanan dan kiri, "Enggak! Tuan datang sama Nyonya juga, jadi gak sendiri. Udah itu pulang lagi"
__ADS_1
"Ohh...." Fabio ber-oh ria.
Lucia mengigit bibir bagian bawahnya, apakah sekarang Fabio marah? Lucia jadi campur aduk begini.
"Kak? Gak baik lho pagi-pagi marah-marah"
"Siapa yang marah?" imbuh Fabio menaikkan satu alisnya ke atas.
"Itu...! Muka kakak langsung berubah merah" tunjuk Lucia.
"Enggak marah, cuma agak gerah aja kok pagi-pagi gini rasanya panas banget ya?" alasan Fabio sembari mengibas tangannya bak kipas manual.
Lucia mendengus kala mengetahui arti dari kata-kata tersebut, sungguh amat mudah dicerna otak.
"Ya udah deh, aku minta maaf kalau udah bikin mood kakak down" Lucia mengalah, tak mau Fabio terus-menerus dihinggapi emosi.
"Gak usah minta maaf, kamu gak salah kok"
"Tapi kakak jutek banget ekspresinya, kan aku jadi takut" ungkap Lucia.
"Ya udah aku senyum nih biar gak nakutin" memamerkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.
"Makin serem!" Lucia mengatai.
Fabio pun menutup kembali mulutnya rapat-rapat.
"Nanti pulang bareng kan?"
"Enggak bisa kak, nanti ibu bisa tau"
"Ya udah sebelum pulang temenin aku makan es krim"
"Es krim? Emang kakak beneran lagi kepanasannya?" dengan polosnya Lucia mengira ucapan Fabio sebelumnya adalah serius.
"Bukan, gak tau juga kenapa tiba-tiba kepingin makan es krim, lagi ngidam kali"
Lucia melongo tak percaya.
"Emang ibu hamil pake acara ngidam segala"
"Ya pokoknya jangan dulu pulang sebelum temenin aku makan es krim. Titik!" tak mau dibantah, Fabio merajuk seperti anak kecil yang mengancam ibunya membeli mainan.
"FABIO!!"
Suara dari arah belakang membuat keduanya menoleh, Bisma muncul dan melambaikan satu tangannya.
"Haisss.... Ada Bisma, Ayo kita buruan pergi dari sini"
Lucia menurut, Lucia segera masuk ke dalam kelas sedangkan Fabio berlari menuju lift.
"WOYYY TUNGGUIN GUE" Teriak Bisma tak ada yang menghiraukannya.
__ADS_1