LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
TIDURLAH DENGANKU


__ADS_3

Darah segar mengalir dari pergelangan tangan Anyelir saat wanita itu nekat mengiris pergelangan tangannya dengan pisau dapur. Ia tidak merasakan sakit sama sekali. Tidak ada rasa sakit yang bisa dirasakannya sekarang, karena luka di hatinya lebih banyak dan lebih menyakitkan daripada luka fisik yang sekarang ia derita.


Melihat darah yang begitu banyak menetes di lantai tentu saja membuat Luna dan Arjuna terkejut. Luna segera menghampiri Anyelir dan menekan luka di tangan Anyelir dengan tangannya sendiri agar darah tidak terus mengalir, sementara Arjuna segera menghubungi dokter lalu melepas dasinya dan mengikatkan dasi tersebut pada pergelangan tangan Anyelir yang terluka.


"Kita harus bawa Bu Anye ke rumah sakit," ujar Luna, sambil memperhatikan Arjuna yang wajahnya terlihat khawatir.


"Aku sudah menghubungi dokter," jawab Arjuna singkat.


"Kita tidak bisa menunggu lebih lama. Aku rasa lukanya sangat dalam, dia bisa kehilangan nyawa jika tidak ditangani dengan segera. Kita kan tidak tahu kapam dokter akan datang." Luna mendesak. Ia tidak setuju dengan keputusan yang Arjuna ambil, yaitu menunggu dokter tiba. "Ayolah, Pak, kenapa Anda lelet sekali." Luna membentak Arjuna, saat Arjuna tidak menanggapi ucapannya, membuat pria itu terkejut bukan kepalang, karena baru kali ini ada seseorang yang berani membentaknya.


"Oke, oke. Ayo kita ke mobil." Arjuna bangkit berdiri dan segera melangkah keluar dari dapur.


"Hai, Pak, apa Anda tidak punya otak!" Luna kembali berteriak.


"Apa lagi sekarang? Bukannya kita harus ke rumah sakit?" Arjuna terlihat kesal karena Luna sejak tadi bersikap terlalu berani padanya.


"Aku tidak mungkin menggendong Bu Anye, 'kan? Anda yang harus menggendongnya!" omel Luna, sembari memelototi Arjuna. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa seorang suami bersikap begitu dingin pada istrinya, padahal istrinya sedang sekarat sekarang. Jangankan menggendong, memapah pun tidak.


Arjuna mengatur napas, sebelum akhirnya ia menghampiri Anyelir dan menggendong wanita itu menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan.


***


Fajar menyingkir, memunculkan gurat kemerahan pada langit senja yang terlihat begitu indah.


Luna berdiri di balkon lantai sepuluh sebuah rumah sakit swasta terbesar di kota itu. Ia terlihat serius memperhatikan matahari yang perlahan menenggelamkan diri dengan anggun. Ia bahkan tidak peduli pada ponselnya yang swjak tadi berdering, dan nama Miss. Rana berulang kali muncul di layar benda pipih tersebut. Luna hanya melirik ponselnya sekilas tanpa berniat untuk menerima panggilan itu.


Suasana di rumah sakit yang sekarang ia rasakan sangat tenang, sehingga ia tidak ingin merusak ketenangan itu dengan berbicara pada iblis seperti Miss. Rana.

__ADS_1


Alih-alih menerima telepon dari Miss. Rana yang pasti ingin menanyakan kapan ia kembali ke Rumah Merah dan kembali bekerja, Luna malah mengaktifkan mode pesawat di ponselnya lalu sibuk memotret sunset yang memanjakan mata.


Saat sedang asyik memotret terdengar suara seseorang berdeham di belakangnya. Luna menghentikan kegiatannya dan menoleh untuk melihat siapa yang datang, ternyata Arjuna.


Luna segera mengantongi kembali ponselnya dan membungkuk hormat pada Arjuna walaupun sebenarnya ia enggan.


"Bagaimana keadaan Bu Anye?" tanya Luna.


"Dia baik-baik saja, besok dia sudah boleh pulang," ujar Arjuna.


"Syukurkah." Luna mengelus dada dan ia benar-benar terlihat lega.


Melihat ketulusan yang tergambar di wajah Luna membuat Arjuna penasaran pada hubungan pertemanan istrinya dengan Luna, karena selama menikah dengan Anyelir ia sama sekali belum pernah melihat Luna.


"Apa kalian sudah lama bersahabat?" tanya Arjuna.


Arjuna menaikan sebelah alisnya. "Baru dua bulan, tetapi dia sudah begitu percaya padamu untuk tidur denganku? Seolah kamu tidak akan merebutku darinya."


Wajah Luna memerah mendengar ucapan Arjuna. Pria yang berdiri di hadapannya memang tampan, bahkan bisa dikatakan sangat memesona dengan kedua mata yang begitu sayu, hidung mancung, dan cambang tipis menghiasi wajahnya, sehingga berbicara pada Arjuna saat suasana hatinya sedang normal membuat dadanya tiba-tiba saja berdetak dengan kecepatan tidak normal. Namun, Luna dengan cepat menepiskan perasaan aneh itu dan membuang muka, kembali menatap langit yang sekarang sudah terlihat semakin gelap.


Bagi Luna, bagaimana pun tampannya seorang Arjuna Evan, tetap saja pria itu bukanlah suami ideal. Maka, mengabaikan wajah tampan pria itu adalah sesuatu yang wajib dilakukan.


"Namamu Luna, benar?" tanya Arjuna lagi, saat dilihatnya Luna diam saja.


Luna mengangguk, masih tidak menatap Arjuna, dan terus menatap langit.


"Aku ingin bertanya padamu, Luna, menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang? Anyelir bersikeras agar aku dan kamu tidur bersama lalu mencetak seorang anak untuknya. Apa kamu setuju?" tanya Arjuna, sembari melipat tangan di depan dada.

__ADS_1


Luna merasa jantungnya seperti sedang dipukul oleh seratus penabuh gendang sekaligus. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengatur napas sejenak sebelum memutuskan untuk menatap Arjuna dan menjawab pertanyaannya pria itu. "Jujur saja, Pak, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dan seharusnya aku tidak terlibat pada urusan rumah tangga kalian. Jika Anda tanya aku, apa yang harus kita lakukan, maka menurutku yang harus Anda lakukan adalah mengatakan pada ibu Anda bahwa Anda tidak ingin menikah lagi. Dengan begitu maka keadaan psikis Bu Anye tidak akan terganggu. Dia tidak akan bertindak nekat karena merasa tertekan. Hanya hal itu yang Anda perlu lakukan sebagai seorang pria dan sebagai seorang suami."


Arjuna mengelus cambangnya. "Ya, benar, terlihat sesederhana itu memang. Tapi ibuku tidak akan mau mengerti. Dia menginginkan seorang cucu, dan hal itu adalah hal mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Aku adalah putra satu-satunya dan keluarga besarku membutuhkan seorang pewaris."


Luna mendengkus kesal. "Anda lebih membela ibu daripada istri Anda, Pak."


"Bukan begitu. Aku mengerti apa yang dirasakan Anye, dan aku juga mengerti apa yang dirasakan ibuku. Aku tersiksa memikirkan mereka berdua. aku tidak tahu jalan apa yang harus kuambil. Aku tidak mungkin berpisah dari Anyelir, tapi aku juga tidak mungkin mengabaikan keinginan ibuku dan keluarga besar." Arjuna terlihatlah sedih, kedua mata sendunya berembun dan hal itu membuat Luna menjadi kasihan pada pria itu.


"Artinya, Anda akan tetap menikah?" tanya Luna, setelah beberapa saat ia membiarkan Arjuna tenggelam dalam kesunyian.


Arjuna menggeleng, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak."


"Lalu?"


"Aku tidak tahu."


Luna diam, ia kembali memandang langit yang sekarang telah benar-benar gelap.


"Maaf, Bu Luna dan Pak Arjuna, Ibu Anye ingin bertemu dengan kalian berdua." Seorang suster muncul tepat di belakang Arjuna dan Luna untuk menyampaikan pesan dari Anyelir.


Luna mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada suster yang menyampaikan pesan tersebut . Setelah suster itu berlalu dari hadapannya, Luna segera berbalik memunggungi Arjuna dan melangkah menuju kamar Anyelir. Namun, langkahnya terhenti saat Arjuna tiba-tiba menyusul dan menarik pergelangan tangannya.


"Tunggu, Luna. Ada yang ingin kukatakan padamu," ujar Arjuna.


"Apa itu, Pak? Katakan saja."


"Mari kita lakukan. Mari kita lakukan apa yang Anyelir inginkan. Tidurlah denganku."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2