LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
CINTA DAN KASIH SAYANG


__ADS_3

Zion memutuskan untuk kembali ke kota setelah tengah hari. Walaupun ia masih sangat merindukan Luna dan ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Luna, tetapi ia mencoba untuk menahan diri.


Luna mengantar kepergian Zion hingga ke depan pintu. Saat pertama melihat kedatangan Zion, ia bertekad harus kembali ke kota bersama dengan Zion hari ini, tetapi hal itu urung ia lakukan, karena tanggung jawabnya pada Anyelir adalah prioritas utama yang harus ia selesaikan sebelum wanita itu menjadi semakin sedih dan kecewa.


"Berhati-hatilah. Aku pasti akan sangat merindukanmu." Luna memeluk Zion, saat keduanya telah tiba di teras.


Zion balas memeluk Luna. "Jangan terlalu sering mengaktifkan ponselmu, atau kalau perlu ganti saja nomor baru. Jangan sampai Miss bisa menghubungimu." Zion menasihati.


Luna mengangguk. "Ya, aku akan mengganti nomor baru jika sempat, dan aku akan langsung mengabarimu."


"Harus. Harus langsung mengabariku." Zion membelai puncak kepala Luna dan mengecup kening wanita itu. "Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa, Lun."


"Daah!" Luna melambaikan tangan. Menatap punggung Zion yang bergerak menjauh membuat hatinya menjadi sedih dan cemas. Ia takut jika ia tidak dapat melihat sosok itu lagi.


Luna menghela napas, kemudian berbalik hendak kembali ke dalam kamar. Namun, ia justru menabrak Arjuna yang sejak tadi ternyata telah berdiri di belakangnya tanpa suara.


"Ah!" Luna meringis, sembari mengusap keningnya. "Apa yang Anda lakukan, Pak?" tanya Luna.


"Aku sedang menonton adegan romantis antara istriku dan pacarnya." Arjuna menjawab dengan wajah masam.


Luna memutar bola matanya dengan malas. "Terserah Anda sajalah." Luna mengambil jalan di samping Arjuna, dan melangkah tanpa memedulikan Arjuna lagi. Namun, seketika langkahnya terhenti saat ia teringat bagaimana beberapa waktu lalu Anyelir menangis dengan perasaan kecewa di hadapannya.


Luna melangkah mundur, hingga tiba di tempatnya semula, yaitu di hadapan Arjuna. "Hubungan kita tidak akan berhasil jika kita terus bermusuhan," ujar Luna tiba-tiba.


Arjuna menaikan sebelah alisnya. "Bukankah kamu duluan yang mengibarkan bendera perang!"


"Ya, memang, tapi itu karena Anda tidak mau aku cium. Memangnya aku seburuk itu apa, sampa-sampai Anda menolak untuk kucium?"


Arjuna mengangkat kedua bahu. "Bukan begitu. Hanya saja aku tidak ingin berciuman dengan zombie."

__ADS_1


"Zombie. Maksud Anda, aku ini seperti Zombie?" Luna terlihat kesal, selama hidupnya belum ada orang yang mengatainya zombie. Baru Arjuna-lah yang begitu keterlaluan mengatai dirinya zombie.


Arjuna tertawa, tawa yang beberapa hari ini mampu membuat dada Luna bergemuruh saat mendengar tawa renyah itu. "Bukan begitu maksudku. Aku merasa dan melihat kamu hanya melakukannya begitu saja. Kamu hanya menciumku asal-asalan. kamu tidak menikmatinya, Luna, kamu terlihat tidak menginginkan ciuman itu."


Luna menelan saliva, ia tidak menyangka jika Arjuna akan mengungkapkan hal demikian. Memang benar apa yang pria itu katakan bahwa Luna hanya menciumnya begitu saja. Luna memosisikan Arjuna sebagai pelanggannya, dan bercinta dengan Arjuna adalah kewajiban karena suatu pekerjaan. Sehingga tidak ada emosi apa pun yang Luna rasakan saat bibirnya mulai menempel di bibir lembut Arjuna.


Luna mengatur napas, kemudian berkata, "Bukankah tidak perlu melibatkan perasaan di antara hubungan kita? Yang terpenting adalah tugasku selesai."


Arjuna menggeleng. "Bagimu mungkin sesederhana itu, tapi tidak bagiku. Aku ingin, saat kita melakukannya kamu pun menikmatinya. Aku ingin anak yang kamu lahirkan adalah hasil buah cinta, atau setidaknya ada sedikit rasa sayang yang tercurah dari kedua orang tuanya saat proses penciptaannya." Arjuna tersenyum sembari mengedipkan sebelah mata.


Sekarang giliran Luna yang tertawa. "Cinta dan kasih sayang!" Luna mengembuskan napas dengan kasar. "Pak, kita menikah hanya sementara. Apa Anda pikir aku akan siap berpisah dengan Anda jika aku mencintai Anda kelak? Apalagi jika aku melahirkan anak yang kucintai, dan aku juga mencintai ayah dari anak itu. Apa Anda pikir aku akan menyerahkan anak itu dan juga Anda kembali ke Bu Anye?"


Arjuna begitu terganggu dengan kalimat yang terucap dari bibir Luna. Entah mengapa ia berharap jika Luna tidak akan menyerahkan dirinya dan anak mereka kelak kembali ke Anyelir.


Arjuna mengulurkan tangan, lalu menyentuh wajah Luna. "Jika hal demikian terjadi, apa kamu akan terus berada di sisiku?"


Luna mundur selangkah, menghindari Arjuna. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan hal demikian terjadi. Untuk itu, mari kita jalani hubungan ini sebagaimana hubungan antara rekan kerja. Bekerjasalamalah denganku, Pak, agar semua ini segera berakhir. Aku tidak bisa terus berada di sisi Anda."


Setelah mengatakan itu, Arjuna berbalik pergi meninggalkan Luna yang entah mengapa dada Luna terasa begitu perih. Luna tahu, ada yang salah di dalam dirinya. Ada sesuatu yang tidak semestinya tumbuh di dalam dadanya.


"Sialan, aku rasa aku menyukainya."


***


Anyelir mengamuk di dalam kamarnya begitu ia tiba di rumah. Ia begitu sakit hati atas apa yang Arjuna katakan tentang dirinya yang tidak juga mengandung setelah lima tahun pernikahan.


"Kamu pikir aku menginginkan semua ini! Kamu pikir aku ingin, Mas! Anyelir berteriak, sembari membanting beberapa botol parfum yang ada di atas meja riasnya hingga botol-botol itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di lantai.


Tok, tok, tok.

__ADS_1


Suara ketukan di pintu membuat Anyelir menghentikan apa yang dilakukannya. Ia takut jika yang datang adalah Kevin, ia tidak ingin putranya melihat kekacauan yang ia lakukan.


Anyelir mengusap air matanya dan dengan cepat melangkah ke pintu. "Ya."


"Nyonya, si bawah ada Ibu Tuan Arjuna."


Ternyata yang mengetuk adalah asisten rumah tangganya.


Anyelir menghela napas. "Katakan padanya, aku akan turun sebentar lagi."


"Baik, Nyonya."


Setelah memantaskan diri untuk bertemu dengan mertuanya, Anyelir pun akhirnya turun ke ruang bawah. Dan hati Anyelir begitu hancur saat ia melihat dengan siapa sang mertua datang. Sabrina, mantan kekasih Arjuna.


"Ma," sapa Anyelir.


Maria menoleh dan menatap Anyelir dengan sinis.


"Mba, apa kabar?" Sabrina bangkit berdiri dan menyapa Anyelir dengan senyum manisnya yang memang sangat memikat.


"Baik. Untuk apa kamu datang ke sini setiap kali mertuaku juga datang ke sini, Rin?" tanya Anyelir dengan nada tajam yang tidak biasa.


"Hem, itu ... anu, Mba--"


"Ibu, yang ajak. Toh, Sabrina akan menjadi istri kedua Arjuna."


"Bu, jangan bicara seperti itu." Sabrina berujar, ia merasa tidak enak pada Anyelir.


"Biar saja. Biar perempuan mandul ini sadar diri kalau cepat atau lambat Arjuna memang harus menikah lagi. Kalau menunggu anak dari rahimnya, mau sampai kapan?!"

__ADS_1


Anyelir tidak tahan lagi. Ia tidak tahan teeus-terusan direndahkan hanya karena kondisinya. "Aku hamil, Bu! Aku hamil dan Mas Arjuna tidak akan menikah dengan siapa pun, bahkan dengan Sabrina sekalipun!"


Bersambung.


__ADS_2