LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
PENGAKUAN ARJUNA


__ADS_3

Suara debur ombak yang datang dan pergi terdengar begitu syahdu di telinga Luna. Setidaknya dengan mendengar suara ombak dan merasakan bagaimana sejuknya angin yang memanjakannya membuat Luna melupakan sejenak masalah yang tengah ia hadapi. Ia dapat melupakan bagaimana rasanya kesepian, bagaimana rasanya merindukan sang ibu, dan bagaimana rasanya menjalani hidup yang kacau.


Luna menghela napas, lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang sejak tadi ia lipat sedemikian rupa.


"Kenapa selalu ada masalah di dalam hidupku?" Luna bergumam. Setetes cairan bening jatuh dari kedua pelupuk matanya. Ia tidak dapat menahan diri agar tidak menangis. Segala yang ia jalani terlalu berat dan membuatnya ingin menyerah.


Sesaat kemudian Luna merasakan sentuhan halus di puncak kepalanya. Ia mengangkat wajah dari kedua lutut, lalu mendongak untuk melihat siapa yang berani menyentuhnya.


"Pak, Anda di sini?" Luna terkejut begitu melihat siapa gerangan seseorang yang begitu berani menyentuh dan mengusap puncak kepalanya dengan begitu lembut.


"Aku mencarimu ke mana-mana, Lun," ujar Arjuna.Wajahnya yang masih terlihat khawatir berangsur terlihat lega.


Luna tahu jika Arjuna tidak berbohong. Tubuh pria itu berkeringat, padahal cuaca saat ini tidak panas, dan napas Arjuna yang terengah-engah membuktikan bahwa ucapan Arjuna benar. Pria itu pasti berlari berkeliling pantai untuk mencarinya. Untuk sesaat Luna merasa menyesal karena telah membuat Arjuna begitu khawatir.


"Dari mana Anda tahu kalau aku di sini?" tanya Luna.


Arjuna duduk di samping Luna sambil melipat kedua lutut, sama seperti yang Luna lakukan.


"Dari sopir yang mengantarmu kemari. Sopir taksi itu datang ke kantor dan--"


"Apa untuk meminta bayaran?" Luna memotong ucapan Arjuna. "Padahal sudah kukatakan besok saja datang ke kantor untuk mengambil bayarannya. Maaf, Anda jadi harus mengeluarkan uang karena aku. Nanti pasti aku ganti kalau aku memiliki uang."


Arjuna menaikan sebelah alisnya. "Kamu naik taksi tanpa membayar?" Arjuna berpura-pura terkejut.

__ADS_1


"Kenapa Anda terkejut? Bukankah bapak sopir itu sudah mengatakan segalanya pada Anda kalau aku tidak membayar ongkos taksinya."


Arjuna menggeleng. "Tidak. Sopir itu tidak mengatakannya padaku. Dia hanya datang dan berusaha untuk menemui seseorang yang bernama Pak Juna, dan mengatakan bahwa seorang wanita bernama Luna menangis di dalam taksinya dan meminta untuk dijemput oleh seseorang yang disebut Zi dari rumah Pak Juna."


Luna membuang muka. Ia menjadi salah tingkah sekarang karena sopir itu mengadukan apa yang ia ucapkan saat berada di dalam taksi.


Arjuna menghela napas, lalu menatap langit biru yang terlihat begitu cerah. "Apa kamu sangat tidak bahagia, Luna, sampai-sampai kamu menangis di dalam taksi dan meminta Zion untuk menjemputmu dari rumahku? Apa hidup denganku membuatmu tersiksa? Apa kamu membenciku dan juga pernikahan kita?" Arjuna mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada Luna.


"Tidak, Pak, sama sekali tidak. Aku bukannya membenci Anda dan juga semua yang Anda sebutkan tadi, aku hanya--"


"Berhentilah memanggilku dengan sebutan, Pak jika kita hanya berdua saja."


Luna mengangguk. "Maaf."


"Baik," ujar Luna lagi.


"Katakan padaku Luna, apa kamu marah karena ucapan Wisnu? Kamu marah padaku karena kamu tahu bahwa aku pernah datang ke Rumah Merah dan akhirnya aku tidak bisa melupakan seorang wanita yang ada di sana? Mungkin kamu berpikir bahwa aku telah tidur dengan wanita itu."


Luna diam saja. Ia tidak ingin repot-repot mengelak. Toh, semua yang Arjuna katakan benar adanya. Ia marah karena Arjuna memikirkan salah satu wanita yang ada di sana. Lagi pula, tidak mungkin jika Arjuna tidak tidur dengan wanita itu. Semua wanita yang ada di Rumah Merah adalah pela_cur, tidak mungkin jika Arjuna hanya mengobrol semalaman dengan wanita itu.


Arjuna menatap Luna tanpa berkedip. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke Luna dan berkata, "Tatap aku jika aku sedang bicara. Jangan menunduk seperti itu, aku jadi tidak bisa melihat wajah cantikmu."


Luna tidak menggubris ucapan Arjuna. Ia tetap menunduk seperti sebelumnya. Ia terlalu sakit hati dan juga cemburu. Jika sampai ia melihat wajah Arjuna saat ini, maka yang terlintas di dalam benaknya pastilah hal-hal negatif dan tidak senonoh.

__ADS_1


"Baiklah, akan kuceritakan sesuatu. Kamu boleh percaya atau tidak, tetapi perlu kamu ketahui bahwa berkata jujur saat ini." Arjuna menegakan duduknya, lalu mulai berkata, "Kurang lebih satu bulan yang lalu, aku bertemu dengan seorang teman lama di Rumah Merah. teman lamaku itulah yang meminta agar kami bertemu di sana. Sepertinya dia terlalu mabuk untuk dapat pergi ke tempat pertemuan kami yang sebelumnya telah kami atur." Arjuna berhenti sebentar, menunggu reaksi Luna, tetapi wanita itu tetap diam saja seperti sebelumnya.


Arjuna pun melanjutkan, "Saat berada di sana, aku melihat seorang wanita keluar dari sebuah ruangan. Wanita itu hanya mengenakan jubah mandi, dan wajahnya berdarah. Aku yakin sekali dia pasti sangat kesakitan saat itu. Aku ingin membantunya, tetapi entah mengapa tidak kulakukan. Dan hingga saat ini aku menyesal dan merasa bersalah. Terkadang muncul di dalam pikiranku, bagaimana keadaan wanita itu sekarang. Apa dia masih hidup atau sudah mati, apa dia sudah sembuh atau masih sakit, dan yang paling menghantui pikiranku adalah 'Wanita itu seorang sandera atau bukan?"


Luna terdiam. Ia tahu betul siapa wanita yang sedang Arjuna bicarakan. Wanita berjubah mandi dengan wajah penuh darah itu adalah dirinya saat baru saja melayani Bimo Arkana.


Mendengar apa yang Arjuna katakan membuat Luna menangis. Luna masih ingat saat itu memang terdengar suara seorang pria yang mengkhawatirkan dirinya, ia tidak menyangka jika ternyata pria itu adalah Arjuna.


"Maafkan aku, karena aku sempat berpikiran buruk tentang Anda ... hem, maksudku tentangmu."


Arjuna mengusap pipi Luna yang basah. "Kenapa malah menangis. Apa kamu sudah percaya padaku sekarang!


Luna mengangguk.


Melihat anggukan itu, Arjuna segera menarik Luna ke dalam pelukannya dan memeluk wanita itu dengan erat. "Mulai sekarang, percayalah padaku."


Luna mengangguk. Belum lagi ia bicara pada Arjuna, perut Luna tiba-tiba saja berbunyi karena kelaparan. Mendengar suara itu seketika Arjuna tertawa.


"Kamu lapar? Kamu boleh makan apa saja dan sebanyak yang kamu mau. Katakan kamu ingin makan apa?" tanya Arjuna dengan telapak tangan yang berada di perut Luna.


"Aku tidak ingin makan. Aku hanya haus." Luna menjawab dengan malu-malu.


"Baiklah, ayo kita kembali ke rumah. Hari sudah semakin sore, kamu butuh istirahat yang cukup juga agar bayinya tidak kelelahan."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2