LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
TIDAK SALING BERTEMU


__ADS_3

Hubungan antara Arjuna dan Luna tidak kunjung membaik. Bahkan setelah satu bulan lebih berlalu.


Luna menuruti perintah Arjuna untuk tinggal di sebuah apartemen yang Arjuna beli untuk wanita itu, karena ia tidak ingin terus melihat Luna yang pasti akan membuat amarahnya kembali muncul.


Sementara Anyelir tidak banyak bertanya kenapa Arjuna menempatkan Luna di sebuah apartemen. Ia hanya sempat bertanya satu kali, dan jawaban yang didapat dari Arjuna cukup menenangkan, membuat Anyelir tidak lagi banyak berkomentar.


"Aku hanya tidak ingin kita tinggal satu rumah dengan wanita lain. Walaupun dia itu adalah istriku, tapi dia hanya wanita pengganti yang bertugas mengandung bayiku, bukan untuk tinggal denganku." Itulah yang Arjuna katakan.


Arjuna bahkan jarang mengunjungi Luna, hanya Anyelir yang sesekali melihat keadaan Luna yang perutnya sudah semakin membesar, memang belum terlalu besar, tetapi Anyelir bahagia melihat perkembangan janin di dalam kandungan Luna.


Seperti sore ini, Luna sedang duduk di dalam kamarnya sambil membaca buku ketika ia mendengar suara bel di pintu. Luna bangkit perlahan dan melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Taraaa, aku bawakan buah-buahan." Anyelir tersenyum semringah.


Belakangan ini Anyelir memang terlihat berbeda. Ia lebih bahagia dan lebih sering bercanda daripada sebelumya. Tidak ada satu orang pun yang tahu penyebab perubahan yang terjadi pada diri Anyelir selain Anyelir sendiri dan satu orang lagi. Seseorang itu adalah Zion.


Ya, Zion dan Anyelir rutin bertemu setiap satu minggu dua kali. Terkadang Zion yang menentukan tempatnya, terkadang Anyelir yang menentukan hotel mana lagi yang akan mereka jadikan tempat untuk memadu kasih.


Tidak disangka, kehadiran Zion dapat memberi warna baru dalam kehidupan Anyelir, baik kehidupan sehari-harinya hingga kehidupannya di atas ranjang.


Bagi Anyelir, Zion sangat mahir dan jantan sekali. Tidak pernah sekali pun Anyelir tidak merasa puas saat bercinta dengan Zion. Zion mengerti apa yang Anyelir inginkan, hingga rasanya sulit sekali menghabiskan waktu satu minggu tanpa mengundang Zion ke atas ranjangnya.


"Anda tidak perlu repot-repot, Bu," ujar Luna.


"Ah ini tidak repot kok. Oh, ya, Lun, bagaimana kalau mulai sekarang kamu memanggilku dengan sebutan nama saja. Aku merasa tua sekali jika kamu memanggilku dengan sebutan, Bu. Apa aku memang terlihat tua?" tanya Anyelir sambil mengedipkan matanya.


"Tidak, Bu, Anda sama sekali tidak terlihat tua. Bukankah kita seumuran," ujar Luna.


"Nah, maka dari itu panggil saja aku dengan sebutan Anyelir. Supaya aku tidak terlihat tua." Anyelir mengulum senyum manisnya.


Luna tertawa. "Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggil Anda dengan sebutan Anye."


Anyelir mengangguk. "Itu baru keren."


Luna tersenyum, lalu menerima buah dari tangan Anyelir. "Kamu terlihat lebih bahagia belakangan ini. Apa ada kabar bahagia?" tanya Luna.


Anyelir mengangguk, dan seketika pipi Anyelir berubah warna menjadi semerah tomat. "Aku sedang berada di fase paling bahagia dalam hidupku sekarang ini."


"Oh, ya? Aku turut bahagia untukmu." Luna berujar dengan sungguh-sungguh.


"Terima kasih," ujar Anyelir. "Aku harap suatu hari nanti kamu juga akan merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan."


Luna mengangguk, kemudian Luna dan Anyelir menyantap buah yang Anyelir bawa. Dalam keheningan ingin sekali Luna bertanya pada Anyelir tentang kabar Arjuna, karena pria itu sudah tidak pernah lagi mengunjunginya sejak Arjuna tahu bahwa dirinya adalah seorang pelacur. Namun, dengan susah payah Luna tidak mengajukan pertanyaan itu. Toh percuma saja menanyakan kabar seseorang yang tidak mencintainya dan menganggap bahwa dirinya adalah kotoran yang menjijikan.


"Oh, ya, Lun, besok aku berencana untuk mendaftarkanmu ke kelas ibu hamil," ujar Anyelir setelah beberapa saat.

__ADS_1


"Tidak usah, aku sehat dan tidak butuh kelas ini dan itu." Luna menjawab dengan enggan. Luna malas sekali jika harus bertemu dengan orang-orang. Sejak tanpa sengaja bertemu dengan Bimo, Luna lebih nyaman jika mengurung diri di dalam kamar. Ia takut jika ia bertemu dengan seseorang yang mungkin saja pernah melihatnya di Rumah Merah.


Anyelir berdecak. "Ini bukan untukmu, tapi untuk si bayi. Kelas ibu hamil itu bagus untuk kesehatan ibu dan bayi. Besok aku juga akan membawa kaset yang berisi musik klasik yang cocok untuk ibu hamil. Kamu harus dengarkan setiap malam menggunakan earphone dengan cara meletakkan earphone itu di perutmu."


"Kalau aku ketiduran bagaimana?" tanya Luna, yang memang sering tertidur semenjak kehamilannya menginjak trimester kedua.


"Ya, jangan sampai ketiduran. Pokoknya kamu harus rutin mendengarkan musik klasik agar si bayi cerdas." Anyelir memperingatkan Luna dengan mata melotot.


Luna tertawa. "Baiklah, baiklah. Itu berarti aku mempunyai banyak jadwal mulai besok. Kelas hamil, musik klasik, lalu apa lagi?"


Anyelir menggeleng. "Untuk sementara itu saja. Berterima kasihlah padaku, Lun, karena aku memberimu kesibukan. Apa kamu tidak bosan terus mengurung diri di dalam kamar?"


"Siapa bilang aku mengurung diri. Aku bersenang-senang, aku bahkan jalan-jalan setiap sore--"


"Ck, jangan bohong. Aku tahu kalau kamu tidak pernah ke mana pun. Pelayan yang bekerja di sini mengatakan semuanya padaku bahwa kamu selalu berada di dalam kamar dari pagi hingga pagi lagi. Kamu hanya keluar jika hari sedang hujan dan malah hujan-hujanan di balkon. Kamu ini aneh sekali. Bagaimana kalau kamu sakit?" Anyelir mengomel.


Luna diam saja, ia sibuk mengunyah buah yang terasa hambar di mulutnya. Sejak Arjuna marah padanya, tidak ada makanan yang terasa enak di mulutnya, kegiatan pun tidak ada yang menarik baginya selain hujan-hujanan. Karena hanya saat hujan ia bisa menangis sepuasnya. Air matanya tidak akan terlihat oleh siapa pun karena tersapu oleh tetes air hujan.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit, Lun. Besok aku ke sini lagi. Sampai jumpa." Anyelir melambai, kemudian segera keluar dari dalam apartemen.


Setelah dirinya hanya tinggal seorang diri di dalam apartemen, air mata Luna kembali menetes. Selalu seperti itu setiap hari.


"Aku merindukan Arjuna," gumam Luna, lalu meringkuk di atas sofa hingga jatuh tertidur.


***


"Hai, Juna!" Suara teriakan seseorang yang memanggil nama Arjuna membuat langkah Arjuna, Wisnu, dan Rayan terhenti.


Ketiganya berbalik dan mendapati Bimo sedang melangkah menghampiri mereka.


"Kalian naik saja duluan. Aku akan menyusul nanti." Arjuna memerintah Wisnu dah Rayan, lalu memutuskan panggilan telepon yang sejak tadi dilakukannya.


Wisnu dan Rayan mengangguk, lalu segera undur diri dari hadapan Arjuna


"Ada apa?" tanya Arjuna, ketika Bimo telah tiba tepat di hadapannya.


Bimo menyunggingkan senyum yang amat menyebalkan, membuat Arjuna ingin melayangkan tinjunya ke wajah Bimo. Apalagi jika ia ingat bahwa Bimo pernah menghabiskan malam dengan Luna-nya.


"Di mana kamu sembunyikan pelacur itu?" Bimo bertanya dengan suara yang cukup keras, membuat para karyawan yang kebetulan berada di lobi langsung menoleh ke arah Arjuna dan menatap Arjuna dengan tatapan terkejut.


"Jaga mulutmu Bimo, jika tidak ingin lehermu patah." Arjuna mengancam Bimo.


Bimo tertawa. "Kamu pikir aku takut pada ancaman kosongmu itu? Aku tidak takut sama sekali, Juna. Kedatanganku ke sini hanya ingin mengatakan bahwa pemilik Rumah Merah sudah kuberi tahu tentang keberadaan Luna. Katakan pada Luna untuk bersembunyi sebisa mungkin, karena jika tidak Miss. Rana dan anak buahnya pasti akan menemukan Luna dan menyiksa diri Luna karena telah berani melarikan diri dari Rumah Merah," ujar Bimo, sembari tersenyum penuh kemenangan.


Arjuna mencengkram kerah kemeja Bimo dengan kuat dan menarik tubuh pria itu agar mendekat ke tubuhnya. "Jangan macam-macam kamu, Bimo. Kalau sampai Luna kenapa-kenapa, aku pasti akan mencarimu dan menghajarmu habis-habisan! Jika perlu, aku akan membunuhmu sekalian."

__ADS_1


Bimo tertawa, dan tawa pria itu semakin membuat Arjuna marah. Arjuna segera melayangkan tinjunya ke wajah Bimo hingga Bimo terjatuh ke lantai.


"Arjuna! Apa yang kamu lakukan?!" Dermawan Evan yang kebetulan memasuki lobi bersama dengan asisten pribadi dan seorang pengawal segera berteriak saat dilihatnya Arjuna meninju Bimo.


Arjuna dan Bimo menoleh ke asal suara.


"Jangan katakan apa pun pada ayahku jika kamu masih ingin menghirup udara hingga besok," ancam Arjuna pada Bimi, sebelum sang ayah tiba di hadapannya.


Bimo hanya tersenyum sinis, kemudian ia bangkit berdiri dan memberi hormat pada Dermawan Evan.


"Selamat Sore, Om," sapa Bimo.


"Ya, selama sore, Bimo. Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian berdua tidak malu bertengkar di depan banyak orang? Kalian berdua bukan lagi anak kuliahan seperti dulu yang bebas bertengkar di mana pun dan kapan pun!" Dermawan memelototi Bimo dan Arjuna bergantian.


"Maaf, Ayah, aku tidak sengaja meninjunya," ujar Arjuna.


"Dan aku tidak sengaja membuatnya marah, Om, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Bimo nyengir.


Dermawan hanya mengangguk, berusaha memaklumi apa yang baru saja terjadi, karena memang sejak dulu Arjuna dan Bimo sering sekali berbeda pendapat dan akhirnya keduanya bertengkar hingga saling melayangkan tinju seperti yang barusan Dermawan saksikan.


"Baiklah, kalian berdua cepat menyingkir dari lobi jika belum puas berkelahi, jika tidak, maka aku yang akan menghukum kalian berdua seperti dulu," ujar Dermawan, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja pria itu yang ada di lantai atas.


Setelah Dermawan pergi, Arjuna segera menarik Bimo mendekat ke arahnya. "Jika sampai kamu macam-macam pada Luna, aku pastikan bahwa akulah yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa untukmu."


Bimo tertawa. "Aku takut sekali, benar-benar takut! Entah kenapa kamu begitu bodoh hingga jatuh cinta pada seorang pelacur," ujar Bimo, kemudian ia berbalik pergi meninggalkan kantor sambil bersiul penuh kemenangan karena ia telah berhasil membuat Arjuna khawatir.


***


Di kediaman Arjuna, Anyelir sedang panik setengah mati karena tiba-tiba saja Maria datang bersama dengan Sabrina. Entah apa yang ingin sang ibu mertua lakukan karena datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan.


Beruntung Anyelir melihat mobil Maria memasuki halaman depan, hingga ia sempat berlari ke kamar dan memanggil seorang pelayan ke kamarnya.


Sekarang Anyelir tengah berdiri di depan cermin di dalam kamarnya dan meminta seorang pelayanan untuk mengikat bantal berukuran kecil pada perutnya.


"Untuk apa semua ini, Nyonya?" tanya si pelayan yang terlihat kebingungan.


"Sudahlah, jangan banyak tanya. Pokoknya lakukan saja apa yang kuperintahkan," ujar Anyelir.


"Anyelir, Anyelir! Mama sejak tadi memanggilmu di bawah tapi kamu tidak datang. Ngapain, sih, di kamar?"


Anyelir membeku saat pintu kamarnya terbuka dan Maria berdiri di ambang pintu sambil menatap lurus ke tempatnya berdiri.


"Aduh, sial!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2