
Setelah beberapa saat berpelukan, akhirnya Maria melepaskan kedua tangannya dari tubuh Luna. Ia menjauh dan memerhatikan Luna dengan saksama. "Aku rasa sudah cukup kebaikan hatiku hari ini."
Luna tersenyum sembari mengusap pipinya yang basah. Arjuna yang sejak tadi memerhatikan Luna mencoba semampunya untuk menahan diri agar tidak menghampiri Luna dan mengusap air mata wanita itu, lalu memeluk Luna di depan semua orang.
"Jadi, kapan kira-kira hari kelahiran bayimu tiba, Nak?" tanya Dermawan, setelah Luna terlihat lebih tenang dan tidak lagi terisak.
"Seharusnya kurang lebih empat bulan lagi, Om," jawab Luna.
Dermawan tersenyum. "Saat kamu merasakan sakit nanti, jangan segan-segan untuk menghubungi kami. Jika Arjuna sibuk dengan Anyelir dan suamimu belum kembali, maka telepon saja aku atau Siska. Aku pasti akan membantumu sebisaku."
Luna mengangguk. "Senang rasanya memiliki orang-orang yang sangat perhatian di sekitar kami." Luna mengelus perutnya, "Si bayi pasti bahagia sekarang."
"Tentu. Kita kan berteman. Kita harus saling tolong menolong." Anyelir menimpali.
"Keluarga poligami yang harmonis," celetuk Siska, membuat Maria kembali meradang dan langsung mencubiti pinggang putrinya itu sambil mengomel.
***
Miss. Rana berdiri di depan sebuah rumah mewah bergaya Eropa. Rumah yang memiliki banyak pilar dan memiliki banyak jendela berukuran besar itu terlihat begitu megah.
Seorang kepala pelayan yang berdiri di hadapannya meminta Miss. Rana menunjukan beberapa dokumen sebagai bukti bahwa kemampuan Miss. Rana telah diakui oleh pusat pelatihan asisten rumah tangga terbaik yang ada di kota itu.
"Bagus. Kamu lulus dengan nilai-nilai yang baik walaupun kamu tidak muda lagi," ujar si kepala Pelayan sembari memeriksa dokumen-dokumen milik Miss. Rana.
"Terima kasih," ujar Miss. Rana.
"Kalau begitu masuklah dan ikuti aku. Aku akan memberikanmu jadwal pekerjaan yang harus kamu lakukan. Sebenarnya Nyonya Luna sudah memiliki asisten kepercayaan, tetapi Tuan Arjuna merasa jika Nyonya harus memiliki satu asisten pribadi lagi," oceh si kepala pelayan sembari berjalan menyusuri lorong menuju bagian belakang rumah.
Miss. Rana sempat menahan napas saat ia mendengar kepala pelayan itu menyebut Luna dengan sebutan Nyonya.
Sesampainya di bagian belakang rumah yang ukurannya tidak kalah besar dibandingkan ruang tamu, kepala pelayan segera meraih sebuah jurnal dari dalam lemari dan memberikannya pada Miss. Rana. "Pelajari dan kamu harus mengingat kebiasaan Nyonya Luna. Nyonya tidak akan keluar dari kamar jika belum jam sepuluh pagi, saat dia keluar barulah kamu boleh masuk untuk membersihkan kamarnya dan mengambil pakaian kotor dari keranjang bajunya. Untuk urusan makanan dan bepergian, semua akan ditangani oleh Manda, dia asisten kepercayaan Nyonya Luna."
Miss. Rana mengangguk, ia tidak percaya jika Luna menjalani kehidupan yang begitu mewah dan menyenangkan. Berbanding terbalik dengan kehidupan Luna saat masih bekerja di Rumah Merah.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Miss. Rana.
__ADS_1
Kepala Pelayan itu mengangguk. "Yang baru kamu lakukan saja sudah bisa disebut dengan bertanya, 'kan?"
Miss. Rana terkekeh, lalu berkata, "Siapa saja yang tinggal di sini selain Tuan dan Nyonya?"
"Istri pertama Tuan Arjuna juga tinggal di sini. Namanya Nyonya Anyelir, dan ada Tuan Muda Kevin Junior yang merupakan putra angkat Tuan dan Nyonya Anyelir. Tapi kamu tidak harus mengurusi mereka juga. Di sini sudah banyak pelayan yang memiliki tugas masing-masing."
"Istri pertama!" Miss Rana berpura-pura terkejut. "Jadi Nyonya Luna itu istri kedua?"
"Ck, jangan ikut campur urusan Tuan dan Nyonya. Kita tidak dibayar untuk itu. Pokoknya apa yang terjadi di dalam rumah ini tidak boleh sampai terdengar keluar rumah, mengerti?!"
Miss. Rana, mengangguk.
"Baiklah. Ini kunci kamarmu, letakan barangmu di dalam kamar dan segera ganti pakaianmu dengan seragam yang ada di dalam kamar sebelum kamu bertemu dengan Nyonya Luna, aku akan meminta Manda untuk menemanimu." Kepala pelayan memerintah, lalu segera berbalik pergi meninggalkan Miss. Rana.
"Wah, luar biasa sekali Luna. Rupanya kamu hidup dengan nyaman di sini. Mari kita lihat, apakah kamu bisa merasa nyaman setelah kamu bertemu denganku," gumam Miss. Rana.
***
Sore hari tiba, Maria dan seluruh anggota keluarga Evan telah pamit undur diri sejak beberapa menit yang lalu.
Arjuna menggelengkan kepala begitu mendengar apa yang Anyelir katakan. "Kamu memang bukan tipe wanita yang akan puas pada sesuatu. Seharusnya kamu bersyukur karena mama bersikap lebih baik sekarang."
"Ck, iya, sih, Mas, tapi kalau mama datang terus rasanya melelahkan juga. Bayangkan kalau tadi aku tidak sempat bersembunyi, mama pasti akan melihat perutku yang rata ini."
Luna tersenyum sembari menepuk perut buatan Anyelir. "Itu berarti mulai sekarang jangan pernah lupa mengikat bantal jika tidak ingin ketahuan, karena mertuamu bisa muncul kapan saja."
Arjuna mengangguk setuju. "Dan jangan lupa ikat yang kencang agar tidak melorot," ujarnya sambil memperbaiki posisi perut Anyelir yang memang terlalu turun ke bawah.
"Ish, kalian berdua ini mengejekku terus," gerutu Anyelir. Ia lalu bangkit berdiri dan berkata, "Aku akan ke atas dulu untuk berganti pakaian." Setelah mengatakan itu Anyelir langsung melesat dengan cepat menuju tangga, sepertinya ia sudah sangat tidak nyaman dengan pakaiannya yang sangat kebesaran.
Sepeninggalan Anyelir, Arjuna langsung menarik pergelangan tangan Luna dan memeluk wanita itu dengan erat. "Sejak tadi aku ingin melakukannya," bisik Arjuna. "Aku ingin memeluk dan menenangkanmu saat kamu sedih dan menangis."
"Kenapa tidak lakukan kalau begitu?"
"Mana mungkin kulakukan di depan ayah dan ibu. Bisa-bisa mereka langsung terkena serangan jantung," jawab Arjuna, kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Luna dan menatap wajah Luna lekat-lekat. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"
__ADS_1
"Heem, baik."
"Kamu tidak sedih lagi?"
"Tidak. Apalagi ibumu dan ayahmu bersikap baik padaku tadi. Siska juga terlihat menyukaiku."
Arjuna tertawa. "Sejak awal bertemu denganmu, dia langsung menyukaimu, dia bahkan mengatakan padaku bahwa tidak masalah jika aku berpoligami," ujar Arjuna sambil menyentuh pipi Luna dengan lembut dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Luna.
"Tuan maaf menganggu adegan romantisnya, tapi ada sesuatu yang ingin saya bicarakan." Manda muncul langsung berujar tanpa melihat situasi.
Arjuna mendelik ke Manda. "Kamu ini mengganggu saja."
Manda terkekeh. "Ini penting, Tuan, pelayan baru untuk Nyonya Luna sudah tiba dan dia menunggu di ruang keluarga sekarang. Saya rasa Nyonya Luna dan Anda ingin bertemu dengannya. Dia sudah tua, tapi terlihat cekatan," ujar Manda, menjelaskan sesingkat mungkin.
"Oke, oke, aku dan Luna akan kesana. Ikutlah dengan kami," titah Arjuna, lalu ia menggandeng Luna melangkah menuju ruang keluarga.
"Padahal sudah kukatakan bahwa aku tidak membutuhkan pelayan lagi," ujar Luna, dalam perjalanan menuju ruang keluarga.
"Tidak apa-apa. Semua ini demi kamu, jika kamu memiliki satu pelayan lagi, maka Manda hanya akan fokus menjagamu, sementara pekerjaan lainnya biar dilakukan oleh pelayan baru. Aku dan Anyelir tidak ingin jika kamu kembali mengalami pendarahan seperti beberapa bulan lalu." Arjuna menjelaskan dengan sabar.
"Tapi sebenarnya semakin besar kandunganku, aku harus semakin banyak bergerak agar proses melahirkan nanti bisa berjalan dengan lancar, misalnya mengepel dan lainnya," ucap Luna. Ia pernah membaca hal tersebut di internet.
Arjuna tersenyum. "Kamu memang akan banyak bergerak nanti, tapi tidak dengan cara mengepel. Kamu akan bergerak di atasku."
"Uhuuk!" Manda terbatuk dengan sengaja. "Tolonglah, Tuan dan Nyonya, saya masih di bawah umur dan tidak pantas mendengar obrolan 21 plus."
Luna dan Arjuna tertawa.
"Nah, itu dia pelayannya." Manda menunjuk seorang wanita yang berdiri menghadap ke jendela, sehingga Luna dan Arjuna hanya melihat bagian punggung wanita tua itu.
"Rana, Tuan dan Nyonya Evan ada di sini," ujar Manda lagi.
Miss. Rana berbalik dan langsung melempar senyum liciknya ke Luna. "Hai, wanita 200 juta."
Bersambung.
__ADS_1