LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
JATUH SAKIT


__ADS_3

Berenang ternyata bukan hal yang mudah. Setelah berulang kali mencoba, Luna akhirnya menyerah. "Aku lelah. Aku rasa sudah cukup, Pak." Luna memegang tepi kolam renang dengan napas yang terengah-engah.


Arjuna menghampiri Luna. "Itu karena kamu kurang berusaha saja, Lun, ayolah sebentar lagi."


Luna menggeleng, sembari mengusap wajahnya yang basah. "Tidak, Pak. Aku tidak bisa membuat tubuhku mengambang seperti Anda."


Arjuna menarik lengan Luna, kemudian menyentuh pinggang Luna dengan kedua tangannya. "Kita nikmati saja kebersamaan kita kalau begitu." Arjuna berkedip nakal, sembari menggelitik pinggang Luna, membuat Luna kegelian, hingga wanita itu tertawa terbahak-bahak.


Di kejauhan, Anyelir melihat kedekatan yang terjalin begitu cepat antara Arjuna dan Luna, membuat dadanya kembali merasakan sakit seperti yang pagi tadi ia rasakan saat mendengar Arjuna memanggil Luna dengan sebutan sayang.


***


Tiga hari kembali berlalu dengan begitu cepat. Anyelir dan Arjuna harus mulai aktif ke kantor dan meninggalkan Luna seorang diri di villa hanya ditemani oleh beberapa pelayan.


Tidak mudah memang bagi Arjuna untuk mengambil waktu libur yang begitu lama, mengingat dirinya adalah seorang pimpinan di perusahaan besar.


Saat akan meninggalkan Luna, ada rasa tidak nyaman di dada Arjuna. Tinggal bersama dengan Luna selama hampir satu bulan nyatanya membuat pria itu terbiasa dengan kehadiran Luna, apalagi di setiap malam, ia dan Luna selalu menyempatkan diri menghabiskan waktu bersama, hingga rasanya Arjuna tidak mempu untuk meninggalkan wanita itu.


"Aku pasti akan merindukanmu," ujar Arjuna, saat ia akan memasuki mobil.


Luna yang mengantar Arjuna hingga ke depan pintu mobil pria itu hanya tersenyum. Ia juga sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama, tetapi tidak ia katakan, karena hingga saat ini Luna masih berusaha menjaga hatinya agar hatinya tidak benar-benar jatuh cinta pada Arjuna.


"Berhati-hatilah, Pak," ujar Luna, sembari menjauh dari Arjuna.


Arjuna menarik lengan Luna, dan memeluk pinggang wanita itu. "Bukan seperti itu caranya melakukan salam perpisahan," desis Arjuna, lalu ia mendaratkan bibirnya di atas bibir Luna dan ********** dengan penuh nafsu.


Luna menikmati apa yang Arjuna lakukan, ia bahkan menyentuh kepala Arjuna dan menekan kepala pria itu agar bibir Arjuna lebih menempel di bibirnya.


Setelah beberapa saat keduanya memisahkan diri dengan napas yang terengah-engah.


"Jika saja aku tidak terlambat, mungkin aku akan menarikmu masuk ke dalam mobil saat ini juga."


Luna tertawa. "Jangan."


Arjuna mengangguk. "Ya, tidak akan untuk saat ini, tapi lain kali aku tidak akan berpikir dua kali. Sampai jumpa kalau begitu." Arjuna mengecup puncak kepala Luna, lalu masuk ke dalam mobil.


Luna menatap kepergian mobil Arjuna dengan mata yang berembun. Ia merasa bahwa hidupnya begitu sempurna saat ini. "Andai semuanya nyata dan akan berlangsung selamanya," gumam Luna.


***


Pagi ini Luna bangun lebih awal, karena ia merasa begitu lapar. Setibanya di dapur, Luna menyiapkan roti tawar dan selai seperti biasanya, tetapi ketika hendak memakan roti yang telah ia siapkan, tiba-tiba saja ia merasa mual.

__ADS_1


Luna segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


"Nak Luna, ada apa? Apa Luna sakit?" tanya Mbok Darmi yang mengikuti Luna berlari ke kamar mandi.


Wajah wanita tua itu sangat khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada istri muda tuanya, apalagi tuannnya terlihat lebih sayang pada Luna dibandingkan Anyelir, jika Luna sampai kenapa-kenapa, maka habislah para Pelayan yang saat ini diserahkan tugas untuk menjaga dan merawat Luna.


"Entahlah, Mbok, mungkin aku memang masuk angin." Luna menjawab pertanyaan Mbok Darmi sembari menekan perutnya yang masih terasa mual. "Jangan terlalu khawatir, Mbok."


"Biar Mbok telepon tuan, ya, dan mengabari tuan."


"Jangan, Mbok, dia pasti khawatir. Bisa-bisa Pak Arjuna meluncur kemari saat ini juga." Luna tertawa. Ia tahu benar jika Arjuna pasti akan langsung datang begitu mendengar bahwa dirinya sedang sakit.


Luna keluar dari kamar mandi dan memilih untuk beristirahat di kamar. "Aku akan ke kamar saja, Mbok."


"Nak Luna tidak jadi makannya?" Mbok Darmi kembali bertanya.


"Nanti agak siang setelah mualnya hilang, aku akan makan yang banyak. Mbok masak saja yang enak-enak, ya." Luna tersenyum ke arah Mbok Darmi agar wanita itu tidak terlalu khawatir, kemudian ia segera berjalan menuju kamar.


Akan tetapi, hingga sore hari mual yang Luna rasakan tidak kunjung hilang, ia bahkan muntah berulang kali, padahal perut Luna belum terisi makanan apa pun. Hal itu tentu saja membuat tubuh Luna menjadi lemas.


Sementara itu di kantor Arjuna, Anyelir datang membawa sekotak cake cokelat. Anyelir meletakan cake itu di atas meja kerja Arjuna.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Arjuna, melepas pandangannya sekilas dari layar laptop yang sejak tadinya pelototi.


"Aku sedang sibuk, Nye, letakkan saja di situ." Arjuna menolak.


"Itulah gunanya tanganku, aku kan bisa menyuapimu."


Arjuna mengalihkan pandangan dari layar laptop ke Anyelir sekarang. "Kenapa tiba-tiba menjadi istri yang perhatian? Bukankah sebelumnya kamu tidak pernah begini. Ada apa, Anye?"


Anyelir mendengkus kesal, lalu melempar potongan cake kembali ke dalam kotaknya.


Melihat apa yang Anyelir lakukan, membuat Arjuna tidak tahan untuk tidak berkomentar. "Menjadi istri penyabar yang memanjakan suami memang bukan keahlianmu."


"Aku sudah berusaha, 'kan? Tapi kamu membangun pagar beton di antara kita. Apa karena aku ini mandul?" Anyelir berkata dengan sengit.


"Jangan mulai, Anye, kamu yang paling tahu kalau aku tidak keberatan akan keadaanmu itu."


"Lalu, kenapa kamu bersikap bermusuhan denganku?" Anyelir mulai meninggikan suaranya.


"Aku? Bukankah kamu sendiri yang menciptakan jarak di antara kita, dan sekarang jarak itu semakin lebar karena kehadiran Luna."

__ADS_1


Anyelir mengernyitkan dahi. "Luna? Apa hubungannya semua ini dengan Luna?"


Arjuna diam saja. Ia sungguh tidak tahu kenapa ia mengatakan semua itu. "Lupakan saja, Anye."


"Kamu menyukainya, Mas? Benar?"


"Tidak!"


"Akui saja, Mas."


Arjuna memutar bola matanya dengan malas. Inilah yang tidak ia suka dari Anyelir. Anyelir selalu memaksanya untuk mengungkapkan sesuatu, dan kemudian membentuk opini sendiri yang pada akhirnya membuat Anyelir seolah-olah menjadi korban yang tersakiti. Padahal sebenarnya Anyelirlah yang selalu menjadi biang masalah di dalam rumah tangga mereka.


"Apa untungnya jika aku mengaku? Yang penting kan keinginanmu tercapai." Arjuna menjawab dengan sengit, lalu kembali sibuk dengan laptopnya.


Anyelir menutup layar laptop Arjuna dan kembali menatap Arjuna dengan tajam. "Kamu tidak boleh jatuh cinta padanya, Mas."


Belum lagi Arjuna memprotes tindakan yang Anyelir lakukan, ponselnya berdering dan nomor telepon villa tampak di layar benda pipih tersebut.


"Halo, Tuan. Ini Mbok Darmi." Suara dari seberang panggilan membuat Arjuna menegakkan duduknya. Tidak mungkin Mbok Darmi menelepon jika tidak terjadi sesuatu di sana.


"Ya, Mbok, ada apa?" ujar Arjuna.


"Hem, begini, Tuan, sebenarnya Nak Luna sudah melarang Mbok untuk menghubungi, Tuan, tetapi Mbok rasa keadaan Nak Luna semakin parah, Tuan."


Arjuna bangkit berdiri. "Ada apa, Mbok? Luna sakit?" tanya Arjuna, wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Iya, Tuan, sejak pagi Nak Luna terus-terusan muntah. Nak Luna bahkan belum makan apa pun sejak pagi."


"Kenapa Mbok baru sekarang menelepon. Sekarang di mana Luna, aku ingin bicara padanya."


"Maaf, Tuan, maafkan Mbok. Nak Luna sekarang sedang tidur di kamarnya, Tuan."


"Ya, sudah Mbok, tunggu aku, aku akan segera ke sana." Arjuna memutuskan panggilan dan segera membereskan berkas yang berantakan di atas meja kerja.


"Kenapa Luna, Mas?" tanya Anyelir, dengan wajah cemberut.


"Luna sakit. Aku harus ke sana."


"Teleponkan dokter saja, Mas, kamu tidak harus ke sana." Anyelir menahan tangan Arjuna.


Arjuna menepis tangan Anyelir. "Aku tetap harus ke sana, Nye. Aku harus melihat sendiri keadaan Luna, sorry!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2