
Zion datang terlambat, ia tiba di kediaman mewah Arjuna tepat saat mobil Bimo meninggalkan tempat itu, sehingga ia tidak dapat bertemu dengan Luna dan tidak melihat kehadiran Bimo sama sekali.
Setibanya di depan pagar besar kediaman Arjuna, Zion langsung menemui sekuriti yang berjaga, sekuriti yang sama saat ia datang mengunjungi Arjuna beberapa waktu lalu.
"Aku ingin bertemu dengan Arjuna," seru Zion.
Si sekuriti langsung membuka pagar dan mempersilakan Zion untuk masuk. Zion berlari dengan cepat melintasi halaman berumput hijau hingga tiba di teras. Baru saja ia menjejakkan kaki di tangga pertama menuju pintu utama, Arjuna terlihat keluar dari dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa. Namun, begitu melihat Zion ia langsung menghentikan langkah.
"Di mana Luna?" tanya Zion.
Arjuna telihat khawatir sebelum bertanya, "Luna! Kamu tidak berpapasan dengannya? Dia baru saja keluar sambil membawa koper, aku hendak menyusulnya sekarang."
Buk!
Zion tidak dapat menahan amarah yang mendadak muncul di dalam dadanya, sehingga ia langsung melayangkan tinjunya ke wajah Arjuna, membuat Arjuna terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arjuna, sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Aku meninjumu barusan, apa kamu tidak tahu? Dasar bodoh!" teriak Zion, lalu ia menambahkan, "Apa yang telah kamu lakukan pada Luna sampai-sampai dia pergi dari rumah ini?"
Arjuna yang sudah terlanjur marah pada Zion, tidak lagi berusaha untuk menerima kehadiran Zion dengan baik. Ia mendelik dan menatap Zion dengan tatapan tajam. "Bukan urusanmu," ujarnya, lalu melewati Zion dan berlari-lari kecil menuju garasi.
Zion menyusul langkah Arjuna dan menarik lengan pria itu, lalu kembali melayangkan satu tinju lagi ke wajah Arjuna. Kali ini tepat mengenai pelipis Arjuna yang langsung mengeluarkan darah segar.
"Kamu pasti memarahinya, 'kan? Kamu pasti menyakiti hatinya. Jika tidak, Luna tidak akan sampai pergi dari rumah ini. Sialan kamu, Arjuna!"
Buk!
Satu tinju lagi mendarat untuk Arjuna, dan Arjuna hanya diam saja. Arjuna menepiskan tangan Zion dari lengannya dan mendorong Zion menjauh darinya.
__ADS_1
"Aku tidak mencaci Luna apalagi marah padanya. Mana mungkin aku melakukan itu semua pada wanita yang kucintai," ujar Arjuna.
Zion terdiam mendengar apa yang Arjuna katakan.
"Cinta," gumam Zion. Ia lalu tersenyum sinis dan menarik kerah kemeja yang Arjuna kenakan. "Jangan bersandiwara. Aku tahu kamu tidak mencintai Luna. Kamu hanya menginginkan bayi yang dikandungnya. Kamu sama saja dengan istrimu yang munafik itu. Dasar orang kaya sialan, sampah!"
Arjuna menepis tangan Zion dari kerah kemejanya, lalu berkata, "Jika aku tidak menghargai Luna, dan jika aku tidak mencintai Luna, tidak mungkin kamu sekarang masih berdiri di sini dalam keadaan baik-baik saja setelah kamu berani memukulku. Aku tahu kalau Luna pastilah tidak mau jika aku membalas setiap tinju yang kamu berikan padaku. Aku tahu, Luna pasti akan sedih jika aku berani memukulku. Itulah sebabnya aku tidak membalasmu sejak tadi."
Setelah mengatakan hal itu, Arjuna langsung memunggungi Zion dan menuju garasi di mana mobilnya terparkir. Sementara Zion hanya bisa diam setelah mendengar ucapan Arjuna yang terdengar sungguh-sungguh. Ia merasa posisinya tidaklah aman sekarang, bagaimana pun juga ia ingin Luna hanyalah menjadi miliknya seorang, bukan pria lain, apalagi Arjuna Evan.
***
Luna turun dari mobil Bimo saat mobil itu berhenti di halaman luas kediaman Bimo. Bimo dengan cekatan menyusul Luna dan segera mengeluarkan koper Luna dari bagian belakang mobil.
"Silakan masuk," ujar Bimo, sembari melempar senyum liciknya ke Luna.
Luna memandang bangunan di hadapannya dengan perasaan gugup. Ia mulai menyesal sekarang karena menerima ajakan Bimo untuk tinggal di rumah pria tersebut, padahal ia tahu jika Bimo memiliki kelainan se_ks yang mengerikan.
"Aku perlu ke toilet," ujar Luna.
Bimo mengangguk. "Toilet ada di dalam, Lun."
"Baiklah. Terima kasih." Luna kemudian melangkah menuju teras, dan langsung masuk ke ruang tamu yang begitu luas dan di penuhi dengan barang-barang mewah.
Bimo yang sejak tadi mengekor langkah Luna tidak henti-hentinya menatap bok_ong dan pinggul Luna yang begitu menggoda. Bimo bahkan mulai membayangkan bagaimana kenikmatan yang akan ia dapatkan saat pinggul itu bergerak di atas tubuhnya. Membayangkannya saja mampu membuat sesuatu di bawah tubuh Bimo menegang.
"Di mana kamar mandinya?" tanya Luna, membuat bayangan indah Bimo memudar.
Bimo menunjuk ke arah lorong yang ada di seberang ruangan. "Di sana ada toilet, tapi jika kamu ingin buang air di dalam kamar juga bisa, karena setiap kamar di sini memiliki kamar mandi di dalamnya."
__ADS_1
Luna menggeleng sambil sedikit tersenyum. "Tidak usah, rasanya tidak sopan sekali jika aku langsung masuk ke kamar."
melihat senyum yang tersungging di bibir Luna membuat dada Bimo jungkir balik. Ia merasa jika Luna memberinya lampu hijau. Itu berarti nanti malam ia bisa menghabiskan waktu dengan Luna, bergulat di atas ranjang hingga ia merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Bimo setengah mati menahan agar ia tidak langsung menyeret Luna ke dalam kamarnya sekarang. Ia memutuskan untuk melakukan pendekatan secara baik dengan Luna untuk kali ini, tidak seperti sebelum-sebelumnya, apalagi saat ia menyadari bahwa ia sangat menginginkan Luna, dan Luna sangat berarti baginya. Hanya Luna yang bisa memberikan kepuasan luar biasa untuknya, padahal ia telah ber_cinta dengan puluhan wanita selama hidupnya. Namun, tidak ada yang sehebat dan semenawan Luna.
"Aku ke kamar mandi dulu," ujar Luna, lalu mulai melangkah menuju lorong yang Bimo tunjukkan.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Luna segera mengeluarkan ponsel yang ia simpan di saku bagian dalam cardigan yang ia kenakan, dan dengan cepat ia langsung menghubungi Zion. Namun, ponsel Zion tidak aktif. Luna menjadi bingung, ia tidak mungkin menunggu lebih lama, karena ia tahu bahwa bahaya sedang mengancamnya dengan nyata saat ini.
"Ah, bodohnya aku. Kenapa juga aku ikut ke sini," gumam Luna, sambil menggeser layar ponselnya, berusaha mencari nomor lain yang bisa ia hubungi.
Akan tetapi, Luna sadar bahwa percuma saja menghubungi orang lain jika orang itu bukan Zion atau Arjuna, karena orang yang datang menjemputnya haruslah orang yang pandai berkelahi sehingga bisa melawan Bimo. Maka, mau tidak mau Luna pun menelepon Arjuna.
"Halo, Luna! Astaga, Luna, kamu di mana, Sayang? Aku mencarimu sejak tadi. Maafkan aku karena telah membuatmu marah, tapi tolong jangan begini. Jangan tinggalkan aku, Luna. Katakan padaku kamu sekarang ada di mana, hah?"
Arjuna menerima panggilan dari Luna pada dering pertama dan suaranya yang terdengar begitu khawatir membuat Luna merasa bersalah dan juga merasa bahagia.
"Aku di rumah Bimo. Tolong jemput aku," lirih Luna.
"Bimo?! Apa yang kamu lakukan di sana?" Arjuna berteriak dari seberang panggilan. "Baiklah, tunggu aku, aku akan segera ke sana."
Luna mengangguk "Cepatlah, aku takut." Tanpa sadar Luna menangis. Ia memang menjadi lemah dan cengeng saat berhadapan dengan Arjuna.
"Aku akan segera sampai. Tunggulah aku, aku tidak akan lama. I love you, Lun," ujar Arjuna, berusaha menenangkan Luna.
Luna diam saja, ia semakin menangis mendengar Luna menyatakan cinta padanya.
"Aku tunggu di sini, dah." Luna memutuskan panggilan dan segera mengusap air matanya sebelum keluar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung.