LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
TEPI PANTAI


__ADS_3

Luna terpaku di tempat saat mendengar apa yang Arjuna katakan. Semua yang baru saja mencapai gendang telinganya begitu menyakitkan bagi Luna. Bagaimana bisa Arjuna meragukan bayi yang sedang Luna kandung, padahal selama satu bulan terkahir setelah pernikahan mereka di villa, Luna terus berada di villa, di bawah pengawasan Arjuna dan Anyelir.


Tanpa terasa setetes cairan bening menuruni pipi Luna, disusul oleh tetes-tetas lainnya yang kian deras. Hatinya sakit, tentu saja. Bagaimana tidak sakit jika Arjuna meragukannya.


Melihat Luna menangis, hati Arjuna terenyuh. Ia tidak tega, tetapi saat kembali teringat pada status Luna yang ternyata adalah seorang pelacur, membuat Arjuna merasa tertipu, meras amarah dan rasanya ia ingin menghajar pria mana pun yang pernah mencicipi tubuh Luna. Apakah Arjuna cemburu?


Ya, bisa saja Arjuna tengah cemburu sekarang ini. Namun, amarah dan rasa kecewa mengambil alih kecemburuan yang tengah dirasakan olehnya dan akhirnya hanya menyisakan kebencian yang teramat sangat untuk Luna.


"Sudah menemukan jawabannya? Bagaimana kamu membuktikan kalau anak di dalam kandunganmu adalah anakku?" Arjuna kembali bertanya setelah beberapa menit ia dan Luna terjebak dalam keheningan yang terasa tidak nyaman.


Luna mengusap pipinya yang basah, wajahnya yang terlihat lemah lembut kini mengeras, ia sadar jika ia benar-benar sendiri sekarang, dan tidak ada yang bisa membela juga menguatkan dirinya. Jika bukan dirinya sendiri, lalu siapa? Bahkan Arjuna, pria yang ia percaya selama ini balik memusuhinya saat mengetahui pekerjaan yang dilakukannya selama ini.


"bayi ini adalah bayimu. Aku mengandung saat aku sedang berada di villa, mana bisa bayi orag lain." Luna menjawab dengan ketus.


Arjuna ingin percaya, hati kecilnya pun mengatakan jika bayi yang tengah Luna kandung adalah anaknya. Namun, tiba-tiba bayangan Zion muncul dan sangat mengganggu pikirannya.


"Zion sering datang ke villa saat aku sedang tidak ada di sana." Arjuna maju selangkah demi selangkah mendekat ke Luna, lalu ia melanjutkan. "Bagaimana kalau bayi itu adalah bayi Zion. Dan kalian berdua berusaha menipuku agar anak kalian menjadi anakku lalu hidup dengan nyaman bersama denganku dan Anyelir. Hal seperti itu sudah sering terjadi kan?"


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Arjuna. Pria itu terkejut, tangannya mengepal karena merasa marah. Bisa-bisanya Luna berani menamparnya. Ia sama sekali tidak menyangka.


"Beraninya kamu!" Arjuna berteriak di hadapan Luna.


Luna mendorong Arjuna. "Jika kamu tidak percaya padaku, aku tidak peduli. Sekalian saja jangan pernah minta anak ini. Jangan pernah!" Luna kemudian melangkah menuju pintu. Ia tidak tahan lagi jika harus berada satu ruangan dengan Arjuna.


"Tidak ada salahnya kan kalau aku curiga dan lebih berhati-hati. Kamu itu pelacur."


Luna yang baru saja hendak memutar knop pintu, seketika berbalik dan menatap Arjuna dengan tajam. Arjuna dapat melihat kekecewaan di kedua mata indah itu.


"Ya, aku memang pelacur. Terima kasih karena sudah diingatkan," ujar Luna, lalu membuka pintu dan segera keluar dari dalam kamar.


Arjuna kembali mengamuk saat Luna sudah tidak ada lagi di dalam kamar. Ia sungguh bingung harus bagaimana bersikap pada Luna sekarang. Ia sungguh mencintai Luna dan menantikan kehadiran anak yang tengah Luna kandung. Tapi ada sedikit keraguan di dalam hatinya.


"Argh, sial. Kenapa harus pelacur? Kenapa, hah?!


***


Anyelir cemberut saat mengetahui jika Arjuna dan Luna telah pergi meninggalkan pesta tanpa dirinya. Anyelir bahkan menolak saat Rayan menjemputnya dan mengajukan diri untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


"Tidak, Rayan, pulanglah sendiri. Aku tidak ingin langsung pulang ke rumah."


"Tapi, Nyonya, Pak Arjuna meminta agar aku menjemput Anda. Ayolah, pulang denganku." Rayan memohon, ia tidak ingin Arjuna marah padanya karena tidak berhasil membawa Anyelir pulang ke rumah dengan selamat.


"Kalau aku bilang tidak, ya, tidak. Harus berapa kali kukatakan padamu, hah! Tinggalkan aku sekarang, biar saja Mas Juna bingung mencariku. Apa-apaan dia sampai tega meninggalkanku sendirian di sini!" Anyelir mendorong Rayan menjauh darinya, lalu kemudian ia melangkah menuju halaman luas kediaman Bimo dan terus melangkah menuju gerbang utama.


Rayan hanya bisa menghela napas dengan berat. Ia tahu seperti apa Anyelir. Anyelir adalah wanita paling keras kepala di muka bumi. Jika Anyelir bilang tidak, maka tidak.


Rayan kembali berjalan menuju ke mobilnya, laku menginjak pedal gas perlahan, dan saat mobilnya melewati Anyelir yang berjalan kaki di jalan besar, Rayan membuka kaca jendela mobilnya. "Kalau berubah pikiran silakan telepon aku, Nyonya. Aku takut kaki Anda akan lecet jika berjalan jauh." Setelah berkata demikian, Rayan langsung melajukan kendaraannya.


"Dasar keterlaluan. Bos dan Asistennya sama-sama kurang ajar."


Ciiit!

__ADS_1


Sebuah motor berhenti tepat di hadapan Anyelir. Membuat Anyelir terkejut dan hampir saja ia terjatuh karena tersandung ujung gaunnya.


Si pengendara dengan sigap menarik lengan Anyelir agar Anyelir tidak terjatuh.


"Lepas!" Anyelir berontak.


"Oke," ujar si pengendara motor yang kemudian benar-benar melepas tangan Anyelir dan membuat Anyelir terjatuh di atas aspal yang keras.


"Aah, kenapa kamu melepasku?" jerit Anyelir.


Si pengendara membuka helm yang terpasang di kepalanya dan berlutut untuk membantu Anyelir berdiri. "Bukankah kamu yang meminta untuk dilepaskan?"


"Zion!" Anyelir terkejut, karena ternyata pengendara motor yang kurang ajar itu adalah Zion.


"Ya, aku." Zion kemudian melepas sepatu high heels yang Anyelir gunakan, lalu meletakkan tangannya di lengan Anyelir, membantu Anyelir untuk berdiri. "Sepatu setinggi ini jika dikenakan di jalanan hanya akan membahayakan keselamatanmu."


Anyelir mendelik. "Jika bukan karena kamu, aku tidak mungkin terjatuh."


"Itu karena kamu menolak untuk kutolong."


"Aku pikir kamu orang asing," ujar Anyelir membela diri.


Zion tersenyum kemudian kembali naik ke atas motornya. "Ingin kuantar?"


Anyelir menggeleng. "Aku tidak ingin pulang."


"Jalan-jalan kalau begitu?" tawar Zion.


Anyelir diam sejenak. Ia ingin menolak, tetapi tawaran Zion sungguh menggoda. Siapa yang tidak ingin jalan-jalan dengan pria setampan dan se-cool Zion. Namun, jika ia menerima, apa yang akan orang-orang katakan? Apalagi kalau ada orang yang dikenalnya melihat dirinya sedang bersama dengan seorang pria selain Arjuna.


Zion mengangkat kedua bahu. "Oke, tidak masalah kalau tidak mau."


Saat Zion mulai menjalankan motornya, tiba-tiba saja Anyelir berteriak. "Tunggu. Aku ikut."


Zion tersenyum miring di balik helmnya. "Ayo kalau begitu."


Anyelir mengangguk, dan perlahan duduk dengan posisi menyamping di belakang Zion.


"Berikan tanganmu," ujar Zion.


"Untuk apa?"


"Ck, berikan saja." Zion meraih pergelangan tangan Anyelir dan melingkarkan tangan wanita itu di pinggangnya. "Jika tidak begini, kamu bisa jatuh nanti."


***


Suasana pantai yang tidak terlalu ramai membuat Anyelir merasa bebas. Ya, Anyelir tidak menyangka jika Zion akan membawanya ke pantai, ia pikir Zion akan membawanya ke sebuah kafe, restoran, mall, atau bioskop, tapi ternyata tidak. Dan jujur saja Anyelir sangat suka berada di tempat yang Zion tuju.


"Aku tidak pernah ke pantai sebelumnya," ujar Anyelir. Sambil menendang pasir putih yang terasa hangat dan halus.


"Oh, ya, padahal pantai kan merupakan tujuan semua orang saat sedang berlibur," ucap Zion, sambil memandang Anyelir yang terlihat kedinginan.


Melihat tubuh Anyelir gemetar karena kedinginan, Zion pun melepas jaket yang ia kenalan lalu meletakkan jaket tersebut di tubuh Anyelir.

__ADS_1


"Tidak usah," ujar Anyelir, yang terkejut atas tindakan Zion.


"Tidak apa-apa, aku tidak ingin kamu mati kedinginan di sini. Santai saja." Zion tersenyum, senyum yang membuat dada Anyelir berdebar tak keruan.


"Terima kasih kalau begitu."


"Sama-sama. Jangan terlalu sungkan padaku, anggap saja aku membalas budi sekarang ini."


Anyelir mengernyitkan dahi. "Balas budi untuk apa?" tanyanya.


"Karena kamu waktu itu menyelamatkanku. Andai saja kamu tidak membawaku ke villa, mungkin aku akan mati di jalanan. Terima kasih. Aku rasa aku belum mengucapkan Terima kasih, bukan?" Zion menatap Anyelir dengan intens, membuat dada wanita itu semakin jungkir balik dibuatnya.


"Tidak masalah. Aku memang harus menyelamatkanmu, karena kamu adalah kekasih Luna."


Zion kembali tersenyum, lalu duduk di atas pasir putih yang terasa halus. Anyelir ikut duduk di samping Zion, sesuatu yang sebelumnya belum pernah Anyelir lakukan.


"Sebenarnya Luna bukan kekasihku, meskipun begitu Luna adalah orang yang penting di dalam hidupku. Aku pasti akan terluka saat dia terluka, aku akan sedih saat dia sedih, dan aku akan sangat marah jika ada seseorang yang berani menghancurkan hati dan hidupnya," ujar Zion, setelah mereka duduk bersebelahan.


Anyelir terlihat bingung, karena selama ini ia pikir Zion dan Luna berpacaran. "Jadi dia bukan kekasihmu?"


"Bukan."


"Tapi kalian terlihat begitu dekat dan mesra," ujar Anyelir.


"Benarkah terlihat seperti itu? Aku memang suka memberi perhatian lebih padanya. Aku suka saat dia merasa tergantung padaku. Dan aku pun telah mengatakan padanya setelah dia melahirkan, aku tidak keberatan untuk menikah dengannya."


"Kamu melamar seorang wanita yang bukan kekasihmu?" tanya Anyelir. "Sungguh di luar dugaan, seolah kamu bisa melamar siapa pun sesukamu," komentar Anyelir, yang entah kenapa wanita itu merasakan nada sinis pada suaranya. Aneh sekali.


Zion tertawa. "Kenapa memangnya? Apa kamu juga ingin kulamar?"


"Jangan sembarangan!" Anyelir bangkit berdiri, berencana untuk kembali menyusuri bibir pantai, tetapi gaunnya yang panjang kembali terinjak oleh sebelah kakinya, sehingga lagi-lagi ia terjatuh.


Kali ini bukan aspal yang menjadi tempat tubuh Anyelir mendarat, tetapi Zion. Ya, tubuh pria itu sekarang tepat berada di bawah tubuh Anyelir.


"Kamu menindihku," bisik Zion.


"Ah, maaf, aku tidak sengaja." Anyelir berusaha untuk bangkit dan menjauh dari Zion.


Akan tetapi, pria itu malah menahan tangan Anyelir dan menukar posisi tubuh mereka. Sekarang tubuh Zion yang berada di atas tubuh Anyelir.


"Apa yang--"


"Shut." Zion meletakan jemarinya di bibir Anyelir. "Apa kamu tidak keberatan jika kucium?" tanya Zion.


"Aku keberatan." Anyelir melotot, bukan karena marah akan tindakan Zion, ia justru kesal karena Zion harus meminta izin sebelum menciumnya, padahal jika pria itu langsung menempelkan bibir di bibirnya, ia pun tidak akan menolak.


Zion tersenyum miring. "Baiklah, maafkan aku, aku hanya--"


Cup!


Anyelir menarik kepala Zion dan mencium bibir pria itu. Ia tidak tahan lagi, Zion begitu memesona dan sangat menarik baginya, sehingga akal sehatnya seolah tidak berfungsi dengan baik, karena yang ada di dalam otaknya sekarang hanyalah bibir Zion.


Zion tersenyum di tengah-tengah ciuman mereka, dan selanjutnya Zion menyambut ciuman dari Anyelir dengan begitu panas. Ia melu_mat bibir Anyelir dengan rakus hingga napas Anyelir terengah-engah.

__ADS_1


"Nikmatilah, Anyelir, aku akan membuatmu puas," bisik Zion di telinga Anyelir.


Bersambung.


__ADS_2