LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
PERTEMUAN PANAS ARJUNA DAN LUNA


__ADS_3

Anyelir terbatuk begitu mendengar apa yang baru saja Luna katakan. Ia kemudian melirik Arjuna yang berdiri di sebelahnya, dan suaminya itu tidak kalah terkejut sama seperti dirinya.


"Kamu menyumpahiku agar segera mati?" tanya Arjuna yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap cuek yang sejak tadi Luna perlihatkan padanya.


Luna menggeleng. "Tidak. Mana berani aku menyumpahi Anda, Pak. Anda itu suami Anyelir, kalau aku menyumpahi Anda, maka sama saja aku menyumpahi Anyelir."


"Tapi barusan kamu bilang--"


"Aku sedang membicarakan suamiku," potong Luna dengan sengit. "Apa Anda tidak dengar kalau aku membicarakan suamiku


"Tapi aku kan suamimu juga!" Arjuna tidak sadar jika suaranya mulai meninggi, membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka sontak menatap mereka bertiga dengan bingung.


Anyelir yang menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian segera mengambil tindakan. Ia cepat-cepat memeluk Luna dan berkata, "Aku turut berduka cita atas meninggalnya suamimu, Lun, semoga dia tenang di alam sana."


Luna menepuk punggung Anyelir. "Terima kasih. Tidak masalah juga sebenarnya, karena aku suka dia akhirnya mati."


Arjuna melotot mendengar apa yang Luna katakan, sementara Anyelir berusaha untuk tidak tertawa. Istri mana yang bahagia saat suaminya meninggal dunia. Dasar Luna.


***


Kelas ibu hamil pun berakhir setelah lebih dari dua jam mereka mendengarkan penjelasan seputar kehamilan, kemudian perkenalan dan akhirnya mereka diizinkan untuk pulang.


Arjuna yang sejak di dalam kelas terus-terusan menguap karena merasa bosan kembali menguap saat mereka telah tiba di luar gedung pelatihan.


"Mas, kamu itu kenapa menguap terus? Kamu ngantuk?" tanya Anyelir.


"Tidak, aku hanya bosan. Pembahasan yang barusan itu membosankan sekali. Untuk apa repot-repot menjelaskan panjang lebar jika informasi itu semua bisa didapatkan di internet. Buang-buang waktu saja," ujar Arjuna.


"Tidak semua orang mau repot-repot membaca di internet, Mas. Kamu ini penggerutu sekali." Anyelir mencubit pinggang Arjuna, membuat pria itu meringis kesakitan.


"Sekarang kalian mau ke mana? Biar aku antar, toh aku tidak mungkin datang ke kantor di jam segini," ujar Arjuna, sambil menatap Anyelir dan Luna bergantian.


"Aku ingin ke mall, ada beberapa barang yang harus kubeli," jawab Anyelir. "Ah, tapi tunggu di sini sebentar, aku harus ke toilet untuk mengencangkan ikatan bantal ini." Anyelir terkekeh, lalu segera berlari masuk ke dalam gedung.


"Hati-hati, Sayang, jangan lari-lari, nanti perutmu jatuh!" Arjuna berteriak, sambil menatap punggung Anyelir yang semakin menjauh.


Luna menggeleng. "Mana bisa perut terjatuh," gumam Luna.


Luna kemudian melangkah menuju kursi yang berjejer di dekat pintu masuk, dan perlahan duduk sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri. Sejak memasuki bulan ketiga kehamilannya, Luna memang sering merasa nyeri pada bagian bawah perutnya.


Arjuna memperhatikan dari jauh, dan ia langsung menghampiri Luna saat dilihatnya wanita itu meringis kesakitan, kemudian duduk di sebelahnya.


"Ada yang salah?" tanya Arjuna tanpa basa-basi


"Ya, kamu yang salah!" Luna menjawab dengan sengit.


Arjuna berdecak. "Maksudku perutmu. Apa ada yang sakit?"


"Biasanya tidak, tapi begitu melihatmu perutku tiba-tiba saja sakit dan mual, rasanya aku ingin sekali muntah di wajahmu."


Arjuna menyerah, ia tidak lagi berusaha untuk berbicara dengan ramah pada Luna yang terus membentengi diri dan bersikap bermusuhan padanya.


"Ayolah, Luna, jangan bersikap kekanakan--"


"Aku kekanakan atau kamu yang kekanakan?" Luna segera bangkit berdiri dan menatap Arjuna dengan kedua mata yang mulai berair.


Melihat Arjuna kembali setelah hampir dua bulan lamanya membuat hati Luna seperti dipermainkan. Saat ia jauh dari Arjuna, ia sangat merindukan kehadiran pria itu. Namun, saat akhirnya ia bertemu dengan Arjuna, amarah tiba-tiba menguasai dirinya.


Luna masih ingat dengan jelas hari terakhir pertemuan mereka. Saat itu Arjuna marah dan mengatakan akan melakukan tes DNA begitu bayi yang dikandungnya lahir ke dunia. Perkataan Arjuna saat itu membuat hati Luna terluka, tetapi walaupun hatinya terluka tetap saja ia merindukan Arjuna, terutama saat malam hari, di mana ia membutuhkan sebuah sentuhan dan pelukan untuk mengantarkannya tidur.


"Luna, aku tidak ingin bertengkar. Maafkan aku. Aku tidak akan bicara padamu lagi." Arjuna berbalik pergi dan kembali ke tempat semula yang ia tinggalkan tadi.

__ADS_1


Luna tersenyum sinis saat dilihatnya Arjuna menjauh. Bukannya berusaha membujuk dirinya, pria itu malah meninggalkannya. "Dasar sialan," gumam Luna.


***


Perjalanan menuju mal tidaklah membutuhkan waktu yang terlalu lama, tetapi tetap saja Luna tertidur di kursi belakang saat dalam perjalanan.


"Aku tidak tega membangunkannya. Dia kelihatan lelah sekali, lihatlah wajahnya saja pucat begitu," ujar Anyelir, saat akhirnya mereka tiba di basement sebuah pusat perbelanjaan.


"Kita tinggalkan saja dia kalau begitu." Arjuna memberi saran.


"Kamu memang tidak punya hati, Mas. Tidak heran jika waktu itu kamu meninggalkan Luna yang pingsan di lobi kantormu begitu saja. Bagaimana bisa sekarang kamu ingin meninggalkan Luna di dalam mobil seorang diri. Dia pasti akan sesak napas karena terkunci."


"Kita bisa membiarkan pintunya terbuka--"


"Tidak, Mas, itu terlalu beresiko. Bagaimana kalau ada orang jahat yang masuk dan menganggu Luna."


"Kalau begitu kita pulang saja, kenapa jadi ribet sekali," ujar Arjuna.


Anyelir menatap suaminya dengan mulut terbuka. "Yang benar saja, Mas? Kamu yang paling tahu kalau aku sangat hobi berbelanja. Aku tidak mungkin pulang sekarang padahal kita sudah sampai sejauh ini."


Arjuna terlihat lelah. Ia menghela napas kemudian bertanya, "Lalu, apa maumu, Anyelir?"


Anyelir tersenyum. "Mauku adalah, aku akan tetap turun, sementara Mas Antar saja Luna pulang. Nanti aku akan pulang menggunakan taksi."


Arjuna menatap Luna sekilas yang tidur dengan sangat nyenyak. "Tidak mau. Aku tidak mau mengantarnya."


"Mas!" Anyelir melotot.


"Oke, oke, turunlah kalau begitu." Arjuna mendorong Anyelir dengan kasar agar wanita itu segera keluar dari dalam mobil, lalu menutup pintunya dan kembali menjalankan mobil tersebut keluar dari basement.


Anyelir mengomel melihat tingkah suaminya. Namun, kekesalannya itu tidak bertahan lama, sesaat setelah mobil Arjuna tidak lagi terlihat, Anyelir segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya dan menghubungi seseorang.


"Hai, aku merindukanmu. Bisa kita bertemu?"


***


Tidak berapa lama kemudian, akhirnya Arjuna sampai di tempat tujuan. Ia langsung memasuki area parkir gedung. Setibanya di area parkir, Arjuna turun dari mobil dan memasuki bagian belakang mobil di mana Luna terlihat tidur dengan nyenyak.


Arjuna kemudian membangunkan Luna, tetapi wanita itu tidak terbangun sama sekalinya Tubuhnya hanya menggeliat sedikit sebelum akhirnya kembali diam tak bergerak.


"Bangunlah, Luna, apa kamu mau kugendong jika kamu tidak segera bangun." Arjuna mengguncang tubuh Luna, tetapi lagi-lagi wanita itu hanya menggeliat.


Arjuna menyerah, ia duduk sejenak di samping Luna yang kepalanya bersandar pada kaca jendela mobil. Berada sedekat ini dengan Luna membuat tangan Arjuna gatal. Sudah lama ia tidak menyentuh Luna, dan ia penasaran sekali pada ukuran perut Luna. Sudah sebesar apa perut wanita itu.


Perlahan tangan Arjuna terulur untuk menyentuh perut Luna, dan ia merasakan sensasi yang luar biasa saat ia menyentuh perut Luna yang memang berukuran lebih besar daripada terakhir kali dilihatnya.


Tidak lama kemudian, sebuah tendangan kecil yang berasal dari dalam perut Luna membuat Arjuna terkejut.


"Apa yang barusan itu adalah tendangan si bayi?" tanya Arjuna pada diri sendiri.


Tubuh Luna kembali menggeliat dan kepala wanita itu terkulai ke pundaknya sekarang.


Arjuna menyentuh wajah Luna yang terlihat lebih tirus dan pucat, padahal perut wanita itu ukurannya semakin besar.


Setetes air mata mendadak turun dari kedua mata Arjuna. Ia merasa bersalah karena telah membuat Luna sakit hati dan bersedih selama ini. Wanita itu pastilah melewati hari-hari yang berat karena dirinya.


Arjuna kemudian menyentuh bibir Luna, lalu perlahan wajahnya mendekat ke wajah Luna, dan ....


Cup!


Arjuna tidak bisa berhenti. Begitu bibirnya dan bibir Luna bersentuhan, gai_rah di dalam diri Arjuna meningkat dengan cepat. Arjuna melu_mat bibir Luna dengan rakus, sementara tangannya mulai menggerayangi tubuh Luna dengan kasar hingga Luna terbangun.

__ADS_1


"Kamu! Apa yang ... mmph!" Luna tidak dapat kembali berbicara karena bibir Arjuna terus menempel di bibirnya dan menggigit hingga membuatnya kesulitan bernapas.


"Diamlah, Lun, aku sedang mengambil hakku sebagai suamimu," bisik Arjuna, lalu mulai mendaratkan bibirnya di leher Luna.


Luna mendorong Arjuna menjauh. "Suami? Kamu bukan suamiku! Suami macam apa yang tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil."


Arjuna tersenyum miring. "Jika tidak mau menganggapku sebagai suami, anggap saja aku ini pelangganmu," ucap Arjuna.


Luna merasakan perih di hatinya begitu mendengar ucapan Arjuna. "Maksudmu?"


"Bukankah kamu itu pelacur? Layani aku." Arjuna berbisik di telinga Luna. "Layani aku sebagaimana kamu melayani pelangganmu?"


Deg!


Hati Luna semakin hancur sekarang. Namun, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan bagaimana perasaannya saat ini pada Arjuna, toh Arjuna yang kurang ajar itu tidak akan perduli pada perasaannya.


Alih-alih menangis dan pergi meninggalkan Arjuna, Luna memilih untuk mengikuti permainan pria itu.


"Baiklah, jika kamu datang sebagai pelanggan, aku bisa apa?" ujar Luna, yang segera melepas sweater yang ia kenakan, sehingga tubuhnya yang polos terlihat jelas oleh Arjuna.


Jauh di lubuk hatinya, Arjuna merasa kecewa, karena Luna tidak berusaha menampik tudingannya yang mengatai bahwa Luna adalah seorang pelacur. Namun, nasi sudah menjadi bubur sekarang, ia tidak dapat menarik kata-katanya yang terlanjur menyakiti hati Luna, maka menikmati kesempatan yang Luna berikan adalah yang terbaik yang bisa dilakukannya sekarang. Apalagi gai_rah sudah menguasai dirinya.


Arjuna menyentuh tubuh Luna yang tanpa busana, lalu melepas celana yang masih Luna kenakan. Dengan gesit, Luna mengubah posisinya, sekarang ia duduk di pangkuan Arjuna dengan posisi menghadap ke wajah pria itu hingga wajah Arjuna sekarang berada tepat di hadapan dada Luna.


Arjuna melepas b_ra Luna, membuat Luna semakin polos sekarang. Tidak adanya sehelai benang pun yang menempel di kulit Luna membuat Luna terlihat semakin se_ksi.


"Letakan bibirmu di sana, Pak," bisik Luna, sambil menyentuh kepala Arjuna dan mengarahkan kepala pria itu ke dadanya yang menantang.


"Begini kah caramu melayani tamu?" tanya Arjuna, yang bibirnya mulai menyentuh kulit putih Luna dan meninggalkan jejak kemerahan di sana. Sulit bagi Arjuna untuk tidak menggigit-gigit kecil kulit tubuh Luna yang lembut dan halus.


"Biasanya lebih dari ini. Karena sekarang kita sedang berada di dalam mobil, aku tidak bisa leluasa bergerak," ujar Luna, sambil mulai bergerak di atas pangkuan Arjuna, membuat Luna mendes_ah kenikmatan.


Detik berikutnya Luna dan Arjuna mulai bergelut, menghabiskan waktu di dalam mobil yang bergoyang cepat. Luna bergerak, mende_sah, dan merintih setia saat, membuat Arjuna semakin menggila dan semakin mengeksplore bibirnya di setiap senti kulit Luna.


Keduanya bermandi keringat sekarang, rambut Arjuna yang biasanya tersisir rapi kini terlihat berantakan karena Luna terus meremas rambut itu tadi, begitu juga dengan Luna yang masih bergerak lincah di pangkuan Arjuna, rambut panjang Luna berantakan dan menempel di sekitar leher. Hal itu tentu saja membuat Luna semakin terlihat cantik di mata Arjuna. Luna terus bergerak, sementara Arjuna mengikuti gerakan Luna hingga akhirnya Luna dan Arjuna sama-sama mencapai puncak.


"Argh, argh, sial, kenapa kamu luar biasa sekali, Lun?" Arjuna memeluk pinggang Luna yang ramping dan masih berada di pangkuannya, lalu kembali mendaratkan kecupan di bibir Luna.


Luna menjawab sambil perlahan turun dari pangkuan Arjuna. "Itulah kenapa aku memiliki tarif yang mahal, 200 juta."


***


Anyelir tidak menyangka jika Zion akan datang secepat itu ketika ia panggil. Pria yang selama beberapa bulan ini telah membuat Anyelir mabuk kepayang terlihat sedang berjalan menuju tempat Anyelir berdiri.


Sesampainya di hadapan Anyelir, Zion tersenyum dan tanpa ragu megecup bibir Anyelir.


"Shut, jangan sembarangan, bagaimana kalau ada yang lihat," ujar Anyelir yang terkejut akan tindakan Zion.


Zion menyentuh pergelangan tangan Anyelir dan mulai menuntun wanita itu berkeliling mal.


"Kenapa kita harus bertemu di tempat seramai inj, Anyelir. Aku lebih suka jika kita bertemu di hotel dan kemudian kita berdua bercinta hingga kehabisan napas, itu saja." Zion mengeluh.


Anyelir tertawa mendengar ucapan Zion. "Kita jalan-jalan dulu, setelah itu barulah kita ke hotel. Aku juga sudah sangat merindukan sentuhan lembut tanganmu di tubuhku, Zi."


Zion mengecup punggung tangan Anyelir. "Aku akan memuskanmu nanti, tenang saja sayang."


"Anye! Sedang apa kamu di sini? Dan dia siapa?" Suara seorang wanita mengejutkan Anyelir yang refleks melepas tangan Zion dari tangannya.


Anyelir menoleh ke asal suara dan air wajahnya menjadi pucat pasi saat ia melihat Sabrina berdiri tepat di belakangnya sambil membawa kantong belanja. Wajah wanita itu kebingungan dan menatap bergantian antara Anyelir dan Zion.


"Sial! batin" Anyelir.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2