
Sabrina dan Maria tercengang begitu mendengar apa yang Anyelir katakan. Jika Sabrina terlihat kecewa, tidak demikian dengan Maria yang seketika terlihat begitu bahagia. Wanita tua itu segera bangkit berdiri dan menghampiri Anyelir yang masih berdiri di tengah ruangan dengan wajah merah karena amarah.
"Kamu serius, Nye, kamu benar-benar hamil?" tanya Maria, sembari menyentuh kedua telapak tangan Anyelir.
Anyelir mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain selain mengatakan apa yang baru saja ia katakan. Ia hanya ingin tidak terus dikatai dan dihina oleh orang tua suaminya. "Iya, Ma, Anye hamil."
"Oh, Tuhanku, oh terima kasih banyak Tuhanku!" Maria memeluk tubuh Anyelir yang berkeringat dingin. Ia sungguh bahagia karena penantian untuk menimang cucu yang selama ini ia impikan akhirnya akan terlaksana juga.
Sabrina menghampiri Anyelir dan Maria, dengan terpaksa ia menarik sudut bibir agar membentuk senyuman. "Selamat, Mba. Sungguh aku ikut bahagia," ujar Sabrina.
Anyelir tidak menanggapi apa yang Sabrina katakan. Ia terlalu bingung bagaimana caranya agar kebohongannya kali ini tidak ketahuan. Bagaimana caranya agar Luna segera mengandung dalam waktu dekat?
***
Sore ini Luna sedang sibuk menyirami tanaman bersama dengan seorang asisten rumah tangga bernama Mbok Darmi. Sesekali ia bahkan menggunting semak mawar yang tumbuh tidak beraturan, dan menanam kembali batang-batang yang telah ia potong di lahan yang kosong.
"Nyonya, aduh, Nya, tolong jangan begini. Kalau Nyonya Anyelir tahu, nanti Mbok bisa dimarahi," ujar Mbok Darmi, sembari merebut gunting dan beberapa tangkai batang bunga mawar dari tangan Luna.
Luna cemberut, lalu meninggalkan Mbok Darmi dan meraih selang yang tergeletak di atas tanah, kemudian mulai menyirami tanaman yang ada di taman.
"Nyonya, aduuh, Nyonya." Mbok Darmi lagi-lagi berteriak, berusaha merebut selang dari tangan Luna.
Luna tertawa. "Mbok, panggil saja namaku, jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya, aku bukan siapa-siapa di sini. Dan biarkan aku melakukan ini dan itu, ya, pliiiis!" Luna memohon, wajahnya yang memelas membuatnya terlihat semakin cantik. "Aku bisa bosan kalau seharian terus diam di dalam rumah tanpa melakukan apa pun, Bi."
"Tapi, Nyonya--"
"Luna, Mbok, Luna." Luna memotong ucapan Mbok Darmi. "Luna itu nama pemberian ibuku, dan aku senang saat orang lain memanggilku Luna, Luna, Luna ... seperti ada ibu di dekatku walaupun sebenarnya tidak ada."
Mbok Darmi menatap Luna dengan iba, karena sekarang kedua mata Luna mulai berembun, dan wanita itu terlihat susah payah menahan air matanya.
"Memangnya ibu Nyo ... hem, maksud Mbok, ibu Nak Luna ke mana? Apa tinggal di luar kota?" tanya Mbok Darmi.
Luna menggeleng, tangannya mulai menyentuh air yang sejak tadi mengalir dari selang yang ia pegang. "Andai saja begitu, Mbok, tapi sayangnya tidak begitu. Ibu pergi ke tempat yang begitu jauh. Baru tiga minggu lalu ibu meninggal dunia, dan sejak saat itu tidak ada lagi yang memanggilku dengan sebutan Luna, selain Zion. Tapi sekarang Zion pun jauh dariku."
"Baiklah, Nak, Luna. Mulai sekarang Mbok akan memanggil Nak Luna sesuai keinginan Nak Luna."
Luna tersenyum. "Terimakasih, Mbok." Luna mendadak memeluk Mbok Darmi, membuat wanita tua yang telah bekerja selama beberapa tahun di villa itu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Arjuna yang sejak tadi memperhatikan Luna dari balik semak Boungenville ikut tersenyum melihat kegembiraan yang terlihat jelas di wajah Luna. Ia tidak menyangka jika di balik sosok Luna yang terlihat kuat dan tegar, ternyata ada kesedihan yang begitu dalam yang berusaha wanita itu sembunyikan.
"Wanita yang sangat menarik," gumam Arjuna, sebelum ia memutuskan kembali masuk ke dalam villa.
***
Langit berangsur-angsur berubah warna. Dari biru terang, kemerahan, dan sekarang hitam pekat dengan titik-titik kecil yang bekerlap-kerlip indah.
Arjuna duduk di halaman samping villa tanpa mengenakan kursi ataupun alas lainnya. Pria itu duduk di atas rerumputan tebal sembari menyesap cokelat hangat buatan Luna beberapa saat lalu. Ponsel di sebelahnya yang sejak tadi berdering tanpa henti tidak ia hiraukan, begitu juga dengan satu ponsel lagi yang ia letakkan tepat di samping ponselnya, ponsel itu adalah ponsel milik Luna.
Nama Anyelir bergantian muncul di layar kedua ponsel itu, tetapi tidak sekali pun Arjuna menerima panggilan dari Anyelir.
"Ehem." Luna tiba di samping Arjuna dan ikut duduk di sebelah pria itu. "Biar kuterima." Luna mengulurkan tangannya, ingin mengambil ponselnya yang sejak tadi ditahan oleh Arjuna.
Arjuna menahan tangan Luna, dan menjauhkan tangan wanita itu dari ponselnya. "Biarkan saja. Dia akan membuat telingamu sakit saat kamu menerima panggilan darinya."
Luna mengerutkan dahi. "Dia istri Anda, Pak, kanapa Anda menjelek-jelekkan istri Anda?"
"Karena dia istriku, aku yang paling tahu bagaimana perangainya, dan aku merasa harus mengatakan yang sebenarnya pada istriku yang lain agar istriku yang lain ini mentalnya aman." Arjuna terkekeh, membuat Luna semakin memberikan tatapan yang aneh ke Arjuna.
"Santai saja, Luna, aku hanya tidak ingin dia mengomel padamu dan mendesakmu untuk melakukan ini dan itu." Arjuna menyerahkan cangkir cokelat panas miliknya. "Minumlah."
"Milikku adalah milikmu juga. Kamu istriku sekarang. Ambilah."
Luna menerima cangkir dari tangan Arjuna dan mulai menyesap cokelat panas itu. Entah kenapa sekarang rasanya menjadi begitu manis dan enak, padahal saat membuatnya tadi dan mencicipi, rasanya tidak seenak ini.
Arjuna mendongak menatap langit. "Bagaimana menurutmu?" tanya Arjuna tiba-tiba.
Luna menjauhkan cangkir dari bibirnya. "Apanya?"
"Langitnya. Memangnya apa lagi."
Luna mendongak dan menatap langit seperti yang Arjuna lakukan. "Indah, banyak ketombenya."
Arjuna tertawa. "Ketombe."
Luna mengedikkan bahu, lalu kembali menyesap cokelat panas di tangannya.
__ADS_1
"Aku suka memandangi langit malam hingga larut. Terkadang aku bisa menghabiskan waktu semalaman, membuat Anyelir marah dan mengatakan bahwa aku tidak ingin menghabiskan waktu dengannya. Padahal aku selalu mengajaknya duduk berdua di bawah taburan bintang, tetapi dia tidak mau. Selain banyak nyamuk, memandang langit adalah kegiatan tidak berguna, begitu katanya." Arjuna berujar, masih terus mendongak menatap langit di atasnya.
"Mungkin Bu Anye ingin perhatian yang lebih dari Anda. Lagi pula, untuk seorang wanita kelas atas seperti Bu Anye, memandang langit memang tidak berguna, 'kan." Luna membela Anyelir.
"Entahlah, tapi di dalam berumah tangga bukankah segalanya harus seimbang. Setelah aku menuruti segala inginnya, aku rasa tidak berlebihan jika dia menemaniku duduk di halaman rumah barang satu sampai dua jam. Seperti yang kamu lakukan denganku sekarang."
Luna tertawa. "Jangan bandingkan Bu Anye denganku, Pak. Aku tidak sehebat dia, maka seleraku pun tidak akan sebaik seleranya. Aku memang tidak masalah duduk di atas rerumputan, dan memandang langit semalaman. Hal seperti ini justru membuatku merasa tentram dan nyaman, tapi tidak bagi Bu Anye yang sudah terbiasa menjalani kehidupan glamor."
"Itulah maksudku, kenapa dia tidak mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih sederhana sedikit saja."
"Menurutku untuk wanita sehebat dia dan sekaya dia, dia sudah cukup sederhana." Luna menimpali.
"Ya, kamu belum begitu mengenalnya kalau begitu. Sekarang kemarikan cokelat panasku, aku rasa kamu sudah cukup meminumnya." Arjuna mengulurkan tangan ke Luna, meminta kembali cangkir cokelat panas miliknya.
"Astaga," gumam Luna, yang secara refleks menggigit bibir bawahnya. Hal itu jujur saja membuat Arjuna menjadi gemas.
"Ada apa?" tanya Arjuna.
"Aku tidak sengaja menghabiskannya, Pak." Luna terlihat bersalah. "Tunggu di sini, akan kubuatkan lagi."
Luna segera bangkit berdiri, tetapi Arjuna menarik pergelangan tangan wanita itu dan membuat Luna duduk kembali di atas rerumputan, kali ini dengan jarak yang begitu dekat dengan Arjuna.
"Tidak usah buat lagi, aku masih bisa melihat sisanya sedikit," ujar Arjuna.
"Benarkah. Di mana?" tanya Luna.
"Di sini ...." Detik berikutnya Arjuna mendaratkan bibirnya di bibir Luna yang memang terdapat sisa-sisa cokelat yang menempel.
Luna diam saja, ia tidak berusaha untuk menolak, justru Luna memilih untuk memejamkan mata, menikmati lembutnya bibir Arjuna di bibirnya yang terasa begitu lembut dan hangat.
Setelah beberapa saat, Arjuna menjauhkan bibirnya dari bibir Luna. "Entah kenapa cokelatnya terasa begitu manis."
Luna tersipu.
"Awal yang bagus, Luna, itulah yang kumaksud harus ada setidaknya sedikit kasih sayang antara aku dan dirimu, hanya dengan cara begitu seorang bayi manis akan hadir ke dunia. Seorang bayi harus lahir dengan penuh rasa sayang. Bukan karena keterpaksaan. Bisakah kita lanjutkan di tempat yang lebih tertutup?" tanya Arjuna, sembari membelai wajah Luna.
Luna mengangguk. Ia tidak pernah merasa kehabisan kata-kata seperti sekarang ini. Semua yang Arjuna lakukan terlalu manis, dan semua ini jujur saja membuat Luna menjadi serakah. Jikalau Arjuna terus bersikap seperti ini, tidak diragukan lagi, Luna pasti akan menginginkan Arjuna untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan membagi kasih sayang Arjuna untuk siapa pun, bahkan untuk Anyelir sekali pun.
__ADS_1
Bersambung.
Bersambung.