
Luna terpaku di tempatnya berdiri saat ia melihat ruang utama dipenuhi dengan beberapa orang yang sebelumnya tidak pernah Luna lihat, kecuali seorang wanita tua bertampang judes yang Luna temui di kediaman Anyelir beberapa minggu lalu. Wanita tua itu adalah Maria, ibu dari Arjuna.
"Kamu," ujar Maria. "Ngapain kamu di sini?" lanjutnya, bertanya saat melihat Luna berdiri di ambang pintu yang membatasi antara ruang utama dan lorong-lorong di villa itu.
"Mama kenal dia?" Arjuna bertanya.
"Tentu mama kenal. Dia kan yang waktu itu di rumah kalian, temannya Anye."
Anyelir yang terlihat gugup segera menghampiri Luna dan menyentuh pundak wanita itu. "Benar, Ma, dia ini Luna, asisten pribadiku. Dia yang sering membantu pekerjaanku saat aku sedang sibuk sekali di kantor."
Maria mengangguk. "Oh, begitu. Oh, ya, Luna, bekerjalah dengan benar. Bantu Anyelir semaksimal mungkin, karena dia sedang hamil. Dia tidak boleh terlalu capek. paham?"
Luna mengangguk. "Baik, Bu."
"Wah, kalau asistennya Kak Anye cantik begini, apa Kak Anye nggak takut kalau nanti Kak Juna tahu-tahu suka sama asisten Kakak?" Adik angkat Arjuna yang bernama Tiara bertanya sembari terkekeh geli. Tiaralah yang pertama kali menyadari n kehadiran Luna dan menunjuk Luna sembari mengajukan pertanyaan, siapa dia?
Luna memang terlihat cantik pagi ini, apalagi sejak diketahui tengah mengandung, aura kecantikan Luna begitu terpancar, membuat Luna terlihat semakin lembut dan memesona. Anyelir bahkan buka apa-apa jika dibandingkan dengan Luna.
"Shut, pertanyaan macam apa itu, Tiara. Secantik apa pun seorang wanita, kalau pelayan, ya, tidak bisa dibandingkan dengan majikan." Maria berujar sambil menatap Luna dengan tatapan tidak suka.
Dermawan Evan, ayah Arjuna yang sejak tadi duduk di sofa sembari menyesap teh hangat memotong pembicara istrinya. "Apa yang membuat seorang pelayanan menjadi berbeda dengan majikan mereka, Sayang? Tidak ada. Jadi berhentilah mengoceh tentang kedudukan antara pelayan dan majikan," ujarnya, lalu ia menatap Luna dan meminta Luna untuk bergabung dengan mereka. "Kemarilah, Nak, duduklah bersama kami di sini. eh ini enak sekali," ujarnya lagi.
Luna menatap Arjuna sekilas, saat melihat anggukan kepala pria itu, ia lantas berjalan ke tengah ruangan dan menyalami Dermawan Evan. "Saya Luna, Pak."
"Nama yang cantik, secantik orangnya. Andai saja aku memiliki satu putra lagi, aku pasti akan memintamu untuk bersedia menikah dengan putraku." Dermawan terkekeh, tetapi tidak dengan Maria yang seketika menjadi semakin cemberut. Sepertinya ia tidak suka jika sampai memiliki menantu seperti Luna.
Luna tertawa mendengar ucapan pria tua itu. "Sungguh aku merasa sangat terhormat. Tetapi putra Anda pasti tidak ingin Anda menjodohkanku dengannya. Aku bukanlah siapa-siapa, Pak."
Dermawan tersenyum. "Semua orang awalnya bukanlah siapa-siapa, Nak."
Luna mengangguk. Ia senang sekali pada sifat Dermawan yang berbanding terbalik dengan sang istri. Dermawan begitu bijaksana. Sikapnya yang baik dan tutur katanya yang lembut membuat Luna merasa dihargai.
Tiara duduk di samping Luna, kemudian gadis itu mengulurkan tangan ke Luna. "Perkenalkan, aku Tiara, adik Kak Juna yang paling cantik."
"Luna," ujar Luna, menyambut uluran tangan Tiara sembari tersenyum.
"Senang berkenalan denganmu, Kak. Itu berarti selama menginap di sini aku akan memiliki teman untuk berjalan-jalan di danau yang ada di ujung jalan sana. Karena setiap kemari Kak Anye tidak pernah mau aku ajak ke sana. Panas dan debu selalu jadi alasan Kak Anye. Padahal selain danau, di sisi jalan satunya lagi terdapat taman bunga loh. Indah sekali."
"Di sana kan memang panas, Kalau aku, sih, tidak mau kulitku terbakar, kalau Luna mungkin tidak akan keberatan." Anyelir berkata dengan malas, ia memang tidak begitu suka dengan Tiara, wajar jika ia sering menolak ajakan gadis itu. Tiara terlalu liar dan heboh, membuat Anyelir merasa lelah. Mendengar ocehannya saja Anyelir sudah lelah.
"Tenang saja, Bu, aku pasti akan menemani adik Pak Juna ke mana pun dia pergi. Anda tidak perlu panas-panasan di luar," ujar Luna, menanggapi perkataan Anyelir.
Tiara bertepuk tangan. "Bagaimana kalau sekarang, Kak? Mumpung belum terlalu siang. Di sini ada pasar pagi yang menjual berbagai macam barang dan makanan, aku ingin sekali ke sana."
Luna mengangguk setuju, tetapi tidak dengan Arjuna. Pria itu berdeham, meminta perhatian Luna sembari menggelengkan kepala, lalu ia melangkah keluar dari ruangan utama.
Luna yang menangkap kode rahasia dari pria itu segera bangkit berdiri. Ia tahu jika Arjuna sekarang pasti sedang menuju kamarnya. "Aku ganti baju dulu kalau begitu, karena tidak mungkin aku ke pasar menggunakan dress, 'kan!"
Tiara tertawa. "Benar, Kak. Silakan."
Sepeninggalan Luna, Maria segera duduk di samping sang suami. Wajahnya yang memang sudah terlihat jahat, semakin terlihat jahat saat ia berkomentar tentang Luna. "Dia terlalu cantik untuk menjadi seorang asisten. Aku rasa dia ingin merebut Juna dari Anye. Anye saja yang bodoh karena tidak menyadari hal itu."
Anyelir menghela napas, ibu mertuanya memang memiliki kebiasaan mengatai dirinya bodoh secara terang-terangan, seolah bagi Maria menjaga perasaan seseorang bukanlah sesuatu yang harus dilakukan.
"Nye, jaga Arjuna. Jangan sampai dia selingkuh dengan pelayanan itu. Mereka tidak selevel."
"Ma, Sudahlah. Luna terlihat seperti wanita baik-baik, jangan menilai orang dengan sebelah mata. Tidak baik."
Maria mengerucutkan bibirnya. "Terserah papa sajalah," ujarnya.
Sementara itu di dalam kamar, Arjuna menutup pintu dan menguncinya sesaat setelah Luna masuk.
"Ada apa, Pak?" tanya Luna.
"Kamu sungguh akan bepergian dengan Tiara? Pasar, Danau dan segala macamnya tadi."
Luna mengangguk. "Iya. Jujur saja aku juga sudah tidak sabar. Selama ini aku tidak pernah ke mana-mana." Luna terlihat antusias, selama beberapa tahun terakhir ia memang hanya menghabiskan waktu di gudang bawah tanah Rumah Merah, jika tidak di gudang bawah tanah, maka ia akan berdiri di balik meja bar, melayani para pria hidung belang yang ingin menikmati minuman keras, dan tidak jarang ia menghabiskan waktu di dalam kamar, berbaring tanpa busana di samping pria asing yang membayarnya.
__ADS_1
Arjuna menghampiri Luna, kemudian menyentuh wajah gadis itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Kamu sedang hamil, jangan terlalu lelah, aku tidak bisa melarang jika kamu memang ingin."
"Aku tidak akan lelah. Anda tenang saja."
Arjuna kemudian memeluk Luna. "Tiara itu banyak bicara dan cerewet sekali. Aku harap kamu tahan dengannya, dan maafkan perkataan ibuku tadi. Tidak peduli bagaimana statusmu, bagiku kamu sangat istimewa."
Luna mengangguk. Ia tahu bahwa dirinya begitu istimewa, bagaimana tidak jika
saat ini ia tengah mengandung bayi Arjuna.
Tok, tok, tok.
"Mas, kamu di dalam?"
Ketukan di pintu yang diiringi dengan suara Anyelir membuat Arjuna terpaksa melepaskan Luna dari pelukannya, tetapi sebelum membuka pintu, Arjuna menyempatkan diri untuk mengecup singkat bibir Luna sembari menyentuh perut wanita itu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Anyelir dengan sengit, saat pintu terbuka dan dilihatnya Luna juga berada di kamar yang sama dengan suaminya.
"Kami sedang berunding, Nye." Arjuna menjawab.
"Berunding tentang apa yang dilakukan di dalam kamar berduaan? Tolong jaga batasan kalian berdua."
"Luna sedang hamil. Kami baru mengetahui kemarin saat aku datang dan memanggil Tirta untuk memeriksanya. Karena dia sedang hamil, aku memintanya untuk mempertimbangkan kembali permintaan Tiara, dia tidak boleh kelelahan, bukan?"
Anyelir sepertinya tidak terlalu memedulikan ocehan Arjuna. Wanita itu sekarang sedang menangis. Ia tidak percaya jika Luna akhirnya mengandung.
"Benarkah? Kalian berdua tidak bercanda, 'kan?"
Luna menggeleng. "Aku sungguh sedang hamil, Bu."
Anyelir segera menghampiri Luna dan memeluk Luna dengan begitu erat. Segala rasa cemburu yang terus ia rasakan seketika menghilang dan digantikan dengan perasaan bahagia yang membuncah.
"Luna, aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan terimakasih padamu." Anyelir memeluk Luna. "Kenapa tidak katakan sejak kemarin?"
"Terlalu banyak kejadian mengejutkan sejak kemarin, terutama kedatangan Zion yang penuh dengan luka, sehingga aku tidak sempat memberitahumu, maaf," ujar Arjuna pada Anyelir.
Anyelir mengangguk. Ia memaklumi hal itu, karena kejadian kemarin memang sangat merepotkan baginya. Ia lalu mengusap air matanya dan berkata pada Luna, "Jangan turuti permintaan Tiara kalau begitu. Kamu harus di rumah saja dan berbaring seharian. Jangan ambil resiko yang bisa membuat janinmu melemah atau tidak tumbuh dengan baik. Aku ingin bayi yang sempurna, jika tidak lebih baik aku tidak memilikinya sama sekali."
Ada perasaan tidak nyaman yang Luna rasakan saat mendengar ucapan Anyelir. Ia tiba-tiba saja menjadi takut, takut pada sifat asli Anyelir yang ternyata tidak terlalu baik. Wanita cantik itu terlalu banyak menuntut, dan juga terlalu mudah merendahkan sesuatu.
"Kenapa Anda berkata seperti itu, Bu? Bayi ini bahkan belum lahir."
"Justru karena belum lahir, kamu harus menjaganya dengan baik. Pokoknya jangan pergi ke mana pun dan tetap diam di sini, Luna. Aku tidak ingin jika usaha kita semua menjadi sia-sia."
Luna merasa kesal sekali mendengar omelan Anyelir. Ia segera berbalik dan berjalan menuju ranjang, lalu berbaring memunggungi Anyelir dan Arjuna.
"Kamu keterlaluan sekali, Nye. Jangan buat dia stres, dia sedang mengandung." Arjuna menarik lengan Anyelir dan membawa istrinya itu keluar dari dalam kamar Luna, membiarkan Luna beristirahat tanpa gangguan dari Anyelir yang cerewet.
***
Tiara merasa bosan sekali setelah menunggu Luna yang tidak kunjung menampakkan diri. Padahal asisten kakak iparnya itu sudah berjanji padanya akan pergi ke pasar bersama. Namun, hingga satu jam kemudian Luna tidak kembali terlihat. Begitu juga dengan Anyelir dan Arjuna, sementara kedua orang tuanya sudah pergi berjalan-jalan sejak tadi.
Karena merasa penasaran akan ketidakmunculan Luna, Tiara pun akhirnya memutuskan untuk mencari di mana Luna tidur.
"Ckck, kenapa ada banyak sekali kamar di villa ini." Tiara menggelengkan kepala saat ia berdiri di ujung lorong, di mana di lorong tersebut terdapat lima pintu yang semuanya merupakan kamar tamu.
Tiara menebak pastilah Luna tidur di salah satu kamar itu, karena Luna datang sebagai tamu.
Gadis berusia awal 20 tahun itu kemudian melangkah memasuki lorong dan mengetuk juga memutar knop pintu satu per satu. Namun, usahanya sia-sia saja, dari empat kamar yang coba ia ketuk dan buka, tidak ada tanda-tanda bahwa kamar-kamar itu berpenghuni.
"Tinggal satu kamar lagi," ujarnya.
Tiara lalu melanjutkan langkah, dan mengetuk pintu kelima. Setelah beberapa saat mengetuk, ia pun memberanikan diri untuk memutar knop pintu tersebut.
Ceklek!
Daun pintu berayun membuka.
__ADS_1
"Yes, berhasil. Pasti Kak Luna tidur di sini." Tiara pun melangkah masuk dan kembali menutup pintu.
Saat pintu sudah kembali tertutup, Tiara segera melangkah menuju ranjang dan melihat ada seseorang yang berbaring di atas ranjang dengan tubuh ditutupi selimut hingga ke kepala. Tiara yang memang memiliki sifat kekanakan, mudah bergaul dan tidak memiliki rasa segan pada siapa pun langsung melompat ke atas ranjang dan memeluk seseorang di balik selimut yang dipikirnya adalah Luna.
"Kak Luna kenapa berbohong padaku. Katanya hanya ingin berganti pakaian, tapi malah tiduran." Tiara menggerutu.
Sementara itu, Zion yang terkejut dan merasakan nyeri pada perutnya segera membuka selimut saat menyadari ada seseorang tak diundang yang membuat gaduh di dalam kamarnya. "Apa-apaan ini!"
Tiara terkejut. Ia segera bangkit untuk duduk, dan betapa malunya ia saat melihat pria yang sedang duduk di hadapannya menatapnya dengan mata melotot.
"Siapa kamu?" tanya Zion. "Apa kamu tahu, yang barusan kamu lakukan bisa membuat jahitanku sobek!"
Tiara segera turun dari ranjang, dan memindai tubuh Zion yang tanpa busana. Ia lalu meringis saat melihat perban di dada dan perut Zion yang mengeluarkan darah.
"Apa itu jadi berdarah gara-gara aku?" tanya Tiara, menunjuk luka Zion.
"Tentu saja. Sejak tadi aku berbaring tanpa bergerak agar lukanya cepat kering dan sembuh, tetapi kamu malah melompatiku! Jelas saja lukanya jadi berdarah lagi."
Tiara merasa sangat bersalah. "Maaf, aku sama sekali tidak sengaja. Aku pikir ini kamar Kak Luna, dan Kak Lunalah yang sedang berbaring di atas sana, tapi ternyata bukan. Aku sungguh minta maaf. Katakan padaku apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus menelepon dokter? Jika iya, aku akan menelepon Kak Tirta."
Melihat wajah Tiara yang begitu sedih dan terlihat menyesal, membuat amarah Zion mereda. Ia melunak dan kembali berbaring telentang. "Tidak usah. Cukup pergi saja dari hadapanku, aku perlu istirahat."
"Tapi lukamu--"
"Jangan pedulikan aku, Anak kecil. Kalau aku bilang pergi, ya, pergi." Zion mendesis.
"Anak kecil katamu! Aku bukan anak kecil!" Tiara merajuk, ia memelototi Zion, lalu keluar dari kamar itu sambil menghentakkan kaki dengan keras. "Enak saja dia mengataiku anak kecil. Dasar pria gila!" omelnya.
Sesampainya di ruang utama, Tiara berpapasan dengan Arjuna yang sepertinya hendak pergi keluar. Langkahnya cepat, sepertinya ia sedang terburu-buru.
"Kak Juna," panggil Tiara.
"Hai, Bawel."
Tiara cemberut. "Kak Juna mau ke mana?
"Kembali ke kantor, ada rapat penting yang harus aku hadiri di sana, Ra."
"Oh, begitu. Lalu, kak Luna mana? Apa dia tidak jadi pergi ke pasar denganku?"
"Sepertinya tidak. Dia tiba-tiba saja sakit kepala, dia menitipkan pesan untukmu, katanya dia akan pergi ke pasar denganmu besok pagi. Sekarang tidak bisa. Dia bahkan minta maaf." Arjuna berbohong.
"Ya, sayang sekali." Tiara terlihat kecewa.
"Siapa bilang tidak jadi. Jadi, kok. Sakit kepalaku sudah sembuh." Luna muncul di ruang utama. Kali ini wanita itu terlihat cantik dengan mengenakan kemeja putih polos berlengan panjang dan celana jeans yang pas ditubuhnya.
"Wah, seru sekali." Tiara bertepuk tangan.
"Lun, katamu kamu sakit kepala, 'kan?" tanya Arjuna.
"Tadi iya, sekarang tidak."
"Tapi, Lun--"
"Ayo, Tiara, kita jalan-jalan." Luna menarik lengan Tiara menuju pintu depan, melewati Arjuna yang terlihat keberatan karena Luna keluar dari kamar begitu saja.
Arjuna mengusap wajahnya dengan kesal, lalu menyusul Luna dan Tiara. Setibanya di samping Luna, Arjuna memegang lengan Luna dan menarik lengan wanita itu menuju ke mobilnya.
"Pak, apa-apaan." Luna menipis tangan Arjuna.
"Biar aku antar. Aku tidak mungkin membiarkan kalian berdua ke pasar tanpa pengawasan."
"Tapi, Kakak bilang ada rapat penting di kantor," ujar Tiara.
Arjuna mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, lalu melakukan panggilan. "Wisnu, batalkan semua jadwal rapatku hari ini. Aku sibuk dengan dua wanita hebat."
"Pak, tapi rapat itu kan penting." lirih Luna.
__ADS_1
"Tadi iya, sekarang tidak lagi! Aku membatalkan semua rapatku. Ayo, kita ke pasar."
Bersambung.