
Miss. Ranna belum bisa mengatasi keterkejutannya setelah ia mengetahui bahwa Luna ternyata sekarang telah menjadi simpanan seorang pria kaya. Pantas saja jika ia dan anak buahnya tidak menemukan keberadaan Luna setelah mereka semua mencari selama berbulan-bulan. Apalagi Miss. Rana menargetkan lokasi-lokasi kumuh Dan tidak terlalu populer untuk mencari Luna. Memangnya mau pergi ke mana seorang pelacur kalau bukan ke tempat-tempat terpencil di kota.
Akan tetapi, ternyata Miss. Ranna salah. Informasi terakhir yang ia dapatkan dari seorang teman membuatnya sedikit lebih bersemangat untuk mencari keberadaan Luna dan memperluas area pencarian.
Beberapa hari lalu seorang teman lama bernama Angel mengatakan pada Miss. Rana bahwa ia melihat Luna berkeliaran di sebuah butik ternama, dan Angel juga mengatakan pada Miss. Rana jikalau Luna diantar oleh seorang sopir yang mengendarai sedan mewah. Luna juga berpenampilan lebih rapi dan terlihat berbeda. Itulah sebabnya hari ini Miss. Rana mengirim beberapa anak buahnya untuk datang ke tempat di mana Luna terakhir kali terlihat dan meminta anak buahnya untuk melakukan penyisiran di sana.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan di pintu membuat Miss. Rana terperanjat, ia segera bangkit dari kursi yang didudukinya dan berdiri di tengah ruangan sebelum ia meminta siapa pun yang mengetuk untuk masuk.
"Miss," ujar Boy begitu pria itu memasuki ruangan.
"Bagaimana?" tanya Miss. Rana yang terlihat begitu bersemangat. Kali ini ia memang memiliki harapan yang lebih besar untuk dapat menemukan Luna dibanding hari-hari sebelumnya.
Boy menggeleng dengan gugup sebagai jawaban dari pertanyaan Miss. Rana padanya.
"Sialan! Sialan! Dasar tidak berguna! Apa-apaan kamu ini, Boy! Kenapa mencari satu orang saja tidak bisa." Miss. Rana berteriak dan melempari Boy dengan benda apa saja yang ada di dekatnya.
Boy menghindar. Ia menyingkir dari depan pintu tepat ketika pintu berayun membuka dan Bimo muncul.
"Argh!" rintih Bimo, wajahnya terkena lemparan lipstik yang mendarat tepat di pipinya.
"Astaga. Maaf, Pak, maaf, aku sungguh tidak sengaja." Miss. Rana membungkuk meminta maaf, kemudian menghampiri Bimo yang masih berdiri di ambang pintu sambil mengelus wajahnya.
"Aku tidak datang hanya untuk dilempar!" gerutu Bimo.
Miss. Rana mengangguk. "Maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud untuk melempari Anda. Aku tadinya sedang memarahi pria tidak berguna itu yang sampai saat ini tidak dapat menemukan keberadaan Luna. Jadi, Pak, jika kedatangan Anda kemari untuk mencari Luna, aku mohon maaf karena aku belum menemukannya," cicit Miss. Rana, sembari melempar tatapan kesal ke tempat Boy berdiri.
__ADS_1
"Oh, Luna, ya. Sebenarnya aku tahu di mana dia," ujar Bimo.
Kedatangan Bimo ke Rumah Merah hari ini memang dimaksudkan untuk memberitahukan kepada Miss. Rana tentang keberadaan Luna. Jika sebelumnya ia hanya menggertak Arjuna dengan mengatakan bahwa ia telah membocorkan keberadaan Luna pada pemilik Rumah Merah, hari ini ia berniat untuk sungguh-sungguh membocorkan informasi tentang Luna. Toh, ia dapat dengan mudah mengakses Luna jika Luna telah berada kembali di Rumah Merah dibanding jika Luna berada di bawah perlindungan Arjuna.
Kedua mata Miss. Rana yang licik membelalak begitu mendengar apa yang Bimo katakan. "Benarkah?" tanyanya pada Bimo.
Bimo terkekeh kemudian mengangguk dan melangkah menuju sofa. "Ya, aku tidak mungkin berbohong. Aku tahu di mana pelacur termahalmu itu tinggal. Aku bisa saja mengatakan padamu sekarang, tapi--"
"Katakanlah padaku, Pak, aku akan memberi Anda balasan yang setimpal jika Anda mengatakan di mana Luna tinggal." Miss. Rana memohon. Ia terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Bimo melipat tangan di depan dada, kemudian berkata, "Setimpal bagiku adalah memiliki Luna selama dua bulan penuh hanya untuk diriku sendiri. Setelah itu aku akan mengembalikannya padamu, bagaimana?"
Miss. Rana tercengang. "Dua bulan itu bukanlah waktu yang sebentar, Pak!"
Melihat keberatan dari Miss. Rana, Bimo hanya mengangkat kedua bahu. "Semua itu terserah padamu," ujarnya, lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu keluar.
Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Miss. Rana berdecak kesal. "Oke, deal, tapi hanya satu setengah bulan. Tidak lebih!"
Bimo terkekeh. "Itu lebih baik daripada tidak sama sekali."
Miss. Rana mendengkus. "Kalau begitu katakan padaku di mana Luna tinggal."
Bimo tersenyum lebar, kemudian berkata. "Dia menjadi istri kedua seorang CEO sekarang. Mendekatlah, akan kuberitahu detailnya!"
***
Luna terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kondisinya terlihat sedikit lebih baik setelah sebelumnya dokter memeriksa keadaan Luna dan juga keadaan bayi di dalam kandungan Luna menggunakan mesin USG.
__ADS_1
Sejak dokter melakukan pemeriksaan hingga akhirnya Luna dipindahkan ke ruang rawat inap, Arjuna tidak pernah jauh dari Luna. Arjuna bahkan tidak segan-segan untuk menggenggam tangan Luna dan sesekali pria itu mengecup punggung tangan Luna. Tidak sekali pun Arjuna meninggalkan Luna.
Semua perlakuan Arjuna yang begitu perhatian padanya membuat Luna merasa nyaman dan tidak lagi merasa panik seperti saat ia berada di apartemen di apartemen. Walaupun saat itu ada Tirta dan Manda di sampingnya, tetap saja ia merasa seolah hanya seorang diri.
"Dokter bilang tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatir," ujar Luna, saat Arjuna kembali mendaratkan kecupan di punggung tangan Luna.
"Kamu hampir saja kehilangan nyawa, bagaimana aku tidak khawatir. Aku samasekali tidak tahu kalau pendarahan adalah masalah yang serius bagi ibu hamil. Maafkan aku karena tidak menjagamu dengan baik," ujar Arjuna, sambil menatap lurus ke dalam mata Luna.
"Jangan minta maaf padaku. Justru seharusnya akulah yang minta maaf karena tidak bisa menjaga bayimu dengan baik."
"Shuut." Arjuna meletakan jari telunjuk di bibir Luna. "Bayi kita, bukan bayiku. Kamu yang mengandungnya dan harus rela mengalami semua rasa sakit ini demi melahirkan bayi untukku."
Mendengar apa yang Arjuna katakan, seketika itu juga Luna menangis. Hatinya begitu sedih jika ia kembali mengingat tujuan pernikahannya dengan Arjuna. Walaupun Arjuna mengatakan bahwa bayi yang sedang ia kandung adalah bayinya juga, tetap saja pada akhirnya ia harus meninggalkan bayi itu dan menyerahkan si bayi pada Anyelir dan Arjuna.
Melihat Luna menangis, Arjuna segera mengulurkan tangan dan mengusap air mata Luna. "Apa yang membuatmu menangis? Apa kamu marah padaku?"
Luna menggeleng. "Tidak, aku tidak marah padamu. Aku hanya ...." Untuk sesaat Luna berpikir ingin mengatakan pada Arjuna tentang perasaannya, perasaan sesak di dada karena hari di mana bayinya lahir nanti, maka hari itu adalah hari terakhirnya bersama dengan Arjuna. Ia akan berpisah dengan Arjuna suka atau tidak suka. Namun, Luna mengurungkan niatnya itu dan memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.
"Apa? Katakan saja?" Arjuna mendesak.
"Tidak, tidak jadi." Luna menggeleng, dan Arjuna terlihat memaklumi keputusan Luna.
Arjuna mengusap puncak kepala Luna, mengecup dahi Luna dengan lembut kemudian bangkit berdiri untuk meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. "Aku lupa mengabari Anyelir. Dia bisa marah kalau tidak kita kabari," ujarnya, lalu segera melakukan panggilan telepon.
Luna menghela napas dengan berat. Melihat Arjuna bergerak menjauh sembari menelepon Anyelir membuatnya sadar bahwa Arjuna bukanlah miliknya. Selalu ada Anyelir di antara mereka. Toh, Anyelir adalah yang utama, sementara dirinya hanyalah wanita pengganti yang bertugas untuk mengandung dan melahirkan.
"Bodohnya aku karena sempat berpikir untuk memilikinya hanya untuk diriku sendiri," gumam Luna.
__ADS_1
Bersambung.