LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
BERPISAH


__ADS_3

Luna mengetuk pintu kamar Zion berulang kali saat ia telah tiba di rumah, sebenarnya ia bisa saja langsung membuka pintu itu jika ingin, tetapi Luna masih ingat terakhir kali Zion mengusirnya dari kamar, itulah sebabnya Luna enggan untuk menerobos masuk ke dalam kamar Zion. Bisa saja pria itu kembali mengusirnya.


"Masuklah!" Suara teriakan Zion dari dalam kamar membuat Luna bergegas membuka pintu dan berlari masuk ke dalam kamar.


Wajah Luna yang ketakutan, membuat Zion segera bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di atas ranjang dengan khawatir. "Ada apa, Lun?" tanya Zion.


"Aku bertemu dengan Felix, Aldo, Raymon dan dua orang lainnya yang aku lupa nama mereka siapa saja," ujar Luna, setelah ia duduk di hadapan Zion. "Mereka ada di sekitar sini, Zi, di pasar."


"Serius?" tanya Zion.


Luna mengangguk.


"Apa mereka melihatmu?" tanya Zion, yang seketika menjadi panik.


Luna menggeleng. "Aku rasa mereka tidak melihatku."


"Bagus. Jangan sampai mereka melihatmu." Zion kemudian menarik Luna ke dalam pelukannya dan memeluk wanita itu dengan erat. "Maafkan sikapku kemarin. Aku tidak bermaksud untuk marah padamu, aku hanya sedikit kesal karena sesuatu."


"Tidak masalah, Zi. Jangan minta maaf. Oh, ya, aku belum mengatakan kepadamu kan kalau aku sudah positif hamil. Aku akan punya anak, Zi." Luna tersenyum bahagia.


Zion sendiri tidak tahu harus mengatakan apa, haruskah ia bahagia atas kehamilan Luna, atau tidak. Jujur saja Zion takut jika kehamilan yang tengah Luna jalani akan membuat hubungan Luna dan Arjuna semakin dekat. Apalagi terlihat dengan sangat jelas kalau hubungan Arjuna dengan Anyelir tidaklah baik-baik saja. Terdapat banyak ruang kosong di antara suami istri itu yang pasti akan membuat rumah tangga keduanya goyah dan berakhir dengan mudah.


"Selamat kalau begitu. Semoga sehat hingga hari persalinan." Zion akhirnya mengucapkan kalimat itu dengan susah payah, sembari mengusap puncak kepala Luna. "Semakin kamu cepat memiliki anak, semakin cepat pula kita akhiri semua ini."


Luna mengangguk. Benar apa yang dikatakan Zion, semakin cepat dirinya melahirkan, semakin cepat pula hubungannya dengan Arjuna berakhir.


"Terima kasih, Zi. Kalau begitu istirahatlah lagi. Aku akan keluar. Oh, ya, kamu ingin makan apa? Biar aku minta Mbok Darmi untuk memasaknya." Luna bertanya, karena ia tahu jika Zion memang belum makan apa pun sejak kemarin.


Zion menggeleng. "Tidak perlu, lihat saja di meja sana." Zion mengedikan kepala ke arah meja yang terletak tidak jauh dari tempat tidur Zion. Terdapat beberapa macam makanan yang terlihat sudah mulai dingin di sana dan belum tersentuh sama sekali. "Bosmu yang memasak untukku."


Luna menyipitkan kedua matanya, tanda bahwa ia tidak percaya akan ucapan Zion. "Bu Anye?"


Zion mengangguk dengan senyum mengembang.


"Mana mungkin. Dia itu tidak terlalu suka memasak." Luna terlihat sangsi.


"Dia suka padaku. Aku rasa begitu. Itulah sebabnya dia rela memasak untukku."


Luna tertawa terbahak-bahak sekarang. Anyelir adalah wanita perfeksionis yang menyukai segala hal yang sempurna. Hidup yang sempurna, suami yang sempurna, pekerjaan yang sempurna, dan segala hal yang terjadi di sekitarnya haruslah sesuatu yang seimbang, indah, dan sempurna. Mana mungkin wanita seperti Bu Anye menyukai Zion yang berandal dan berantakan.


"Hai, Zi, setelah menikah dengan pria sempurna seperti Pak Juna, apakah menurutmu menyukaimu adalah hal yang masuk akal?" tanya Luna.


Zion cemberut, lalu memindai tubuhnya sendiri. "Apa yang salah denganku? Aku tampan dan lihatlah tubuhku, aku memiliki banyak otot yang bisa membuat wanita mana saja menjadi panas dingin, Lun. Jika tidak percaya, apa mau aku buktikan." Zion mendekat ke Luna. Ia bahkan dengan berani mengecup bibir Luna.


Luna menjauh, tidak ingin terjebak dalam. pesona seorang Zion yang memang tidak dapat diremehkan begitu saja. "Aku harus ke dapur. Aku lapar sekali. Daah, Zion, selamat beristirahat."


Zion menatap kepergian Luna dengan kecewa. "Lagi-lagi dia kabur. Dasar Luna."


***


Satu minggu kembali berlalu, dan suasana villa kembali menjadi sepi karena kedua orang tua Arjuna dan juga adik angkat Arjuna yang begitu cerewet telah kembali ke kota.


Hari ini Zion telah mengatur strategi agar Luna selalu berada di bawah pengawasan Arjuna. Hanya dengan berada di dekat Arjunalah Zion merasa jika Luna akan aman dan terhindar dari anak buah Miss. Rana yang berkeliaran di mana-mana.


Zion berada di dalam ruang kerja Arjuna sejak beberapa menit lalu. Keduanya asyik menyesap cappuccino hangat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi, padahal Zion datang ke ruangan Arjuna dengan penuh percaya diri dan berkata pada Arjuna bahwa ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Namun, setelah duduk berhadapan dengan pria bercambang tipis itu, Zion malah tidak mampu berkata apa-apa.


(Visula Zion 👇)

__ADS_1



Arjuna berdeham, pria tampan itu terlihat tidak sabar dengan apa yang ingin Zion katakan. Apalagi wajah Zion terlihat begitu serius.


"Jadi, apa yang ingin kamu katakan padaku, Zion?" tanya Arjuna setelah beberapa saat berlalu dalam keheningan.


Zion menegakkan duduknya. "Aku akan pergi dari sini besok. Aku rasa tidak pantas jika aku juga ikut tinggal di sini bersama dengan kalian."


Arjuna mengangguk. "Kamu memiliki harga diri yang cukup tinggi rupanya. Apa lukamu sudah sembuh? Jika belum, tinggalah lebih lama. Aku tidak ingin jika Luna mengkhawatirkanmu setiap saat."


"Aku baik-baik saja sekarang, terima kasih atas tawarannya. Tapi ada satu hal yang ingin kukatakan padamu dan aku ingin memastikan hal itu sebelum aku pergi."


"Apa itu?" tanya Arjuna.


"Ini tentang Luna. Tidak bisakah kamu menjadikan Luna sebagai karyawan di kantormu?" tanya Zion.


Arjuna terlihat bingung. "Untuk apa? Kenapa dia harus bekerja? Dia istriku sekarang, dan segala kebutuhannya akan aku penuhi tanpa dia harus bekerja."


(Visual Arjuna 👇)



"Aku tahu, aku tahu kalau kamu pasti akan bertanggungjawab memenuhi semua kebutuhan Luna. Tidak mungkin tidak, mengingat kamu adalah orang kaya dan terpandang. Hanya saja permintaanku ini demi kepentingannya juga. Aku hanya merasa dia akan aman jika dia terus berada di sisimu. Jika dia bekerja denganmu, dan juga tinggal denganmu, setidaknya kamu selalu ada di sekitarnya selama 24 jam untuk melindunginya."


Arjuna mengelus cabang tipisnya. "Apa dia sedang berada dalam bahaya? Ada apa sebenarnya?"


"Tidak, Juna, tidak begitu. Dia baik-baik saja, hanya saja aku ingin kamu selalu ada untuknya, hanya itu. Apa begitu sulit bagimu membawanya ke kantor, kemudian membawanya pulang kembali ke rumah?"


"Tentu tidak!" Arjuna menjawab dengan cepat.


Arjuna mendelik, tidak begitu suka pada ucapan Zion yang mengatakan akan membawa Luna.


"Baiklah, aku akan mengurus semua itu setelah kami kembali ke kota. Kamu tidak perlu khawatir, Luna akan selalu aman bersamaku." Arjuna berujar dengan tegas. Ia ingin Zion tahu bahwa dirinya akan melindungi dan menjadi suami yang baik bagi Luna.


Zion mengangguk. "Aku percaya padamu. Tolong jaga dia sampai tiba waktuku untuk menjemputnya kembali."


Setelah membicarakan tentang keselamatan Luna saat kepergiannya nanti, Zion akhirnya keluar dari ruang kerja dan langsung menghampiri Luna yang berdiri dengan cemas di depan ruang kerja Arjuna.


"Apa yang kamu lakukan di dalam?" tanya Luna.


"Dari mana kamu tahu kalau aku ada di dalam?" Zion balik bertanya.


"Dari siapa lagi memangnya. Tentu dari Mbok Darmi," ujar Luna.


Zion tertawa, lalu meletakan tangannya di pinggang Luna dan menuntun wanita itu ke halaman belakang villa yang terlihat begitu indah pada malam hari.


"Besok aku akan pergi," ujar Zion.


"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Luna. "Kamu tidak memiliki tempat untuk kembali, Zi. Miss sudah tidak percaya lagi padamu, dan kamu pun tidak memiliki rumah untuk ditinggali. Sama saja sepertiku, entah setelah semua ini berakhir aku pun tidak tahu akan hidup di mana."


Zion duduk di atas rerumputan sambil menyelonjorkan kedua kakinya, sementara kedua tangannya ia arahkan ke belakang untuk menopang berat tubuhnya.


"Aku akan mencari pekerjaan, kemudian menabung yang banyak agar setelah semua ini berakhir kamu bisa tinggal denganku." Zion menjawab sambil melempar senyum terbaiknya ke Luna.


"Zi--"


"Seharusnya kulakukan sejak dulu. Menabung yang banyak untuk masa depan. Tapi siapa yang menyangka jika hidup kita akan sekacau ini. Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya aku akan keluar dari Rumah Merah dan menjadi pengangguran. Tidak bisa dikatakan bahwa ini takdir yang buruk, toh tinggal di sana saja sudah merupakan sebuah keburukan. Hanya saja seperti yang kamu tahu, bahwa pekerjaan sebagai penjaga di Rumah Merah adalah pekerjaan yang pertama kelakuan dan bertahan hingga beberapa minggu lalu."

__ADS_1


Luna menunduk. Ia merasa bersalah sekali pada takdir yang menimpa Zion hanya karena pria itu berteman dengannya. Seharusnya Zion sekarang masih bekerja di sana, dan mendapatkan upah rutin setiap bulannya. Sekarang tidak lagi dan semua itu terjadi karena dirinya.


"Maafkan aku, Zi."


"Sudahlah, jangan minta maaf Aku tidak mau mendengar itu. Aku hanya ingin bilang padamu, jaga dirimu, Luna. Setelah kepergianku, aku ingin kamu bekerja dengan Arjuna di kantornya."


Luna terkejut. "Aku? Tapi kenapa?"


"Karena Arjuna akan melindungimu. Lagi pula, Arjuna adalah seorang pengusaha sukses yang bergaul dengan orang-orang penting, hingga sulit sekali masuk ke dalam lingkaran kehidupannya. Dengan kata lain, akan sulit bagi anak buah Miss. Rana untuk menemukanmu jika kamu terus berada di sekitaran Arjuna. Arjuna tidak akan pernah pergi ke tempat-tempat kumuh yang pasti akan menjadi tujuan utama Miss untuk mencarimu. Dan satu lagi, Luna, Miss pasti tidak akan mengira jika kamu bersembunyi di kalangan orang-orang terhormat."


Luna meneteskan air mata, ia tidak siap untuk berpisah dengan Zion. Ia bahkan tidak tahu akan ke mana Zion pergi.


"Jangan mulai menangis. Ingat, kamu itu sedang mengandung. Kalau kamu sedih maka bayimu pasti akan sedih juga." Zion mengusap pipi Luna yang basah.


"Aku pasti akan merindukanmu," lirih Luna.


"Ya, aku juga pasti akan merindukanmu. Kita bisa saling berkirim pesan dan melakukan panggilan video. Jadi, jangan terlalu cemas." Zion mencubit kedua pipi Luna sekarang. "Tetaplah menjadi Luna yang tegar. Ingat, Luna, ibumu pasti tidak ingin melihatmu menjadi Luna yang lemah. Selama ini kamu adalah putri yang kuat di mata ibumu. Jadi, tetaplah kuat agar ibumu tidak sedih di atas sana, oke."


Luna mengangguk.


"Peluk aku kalau begitu." Zion membuka lengannya lebar-lebar, dan Luna langsung memeluk pria itu tanpa ragu.


"Jaga dirimu, Zi. Jangan sakit, jangan terluka, dan jangan menghilang. Jika terjadi sesuatu, kembalilah padaku."


"Pasti, aku akan ingat semua itu."


Sementara Luna dan Zion saling berpelukan dengan erat di taman belakang, Anyelir dan Arjuna berdiri tidak jauh dari keduanya sejak beberapa menit lalu. Tidak cukup lama untuk dapat mendengar semua ucapan Zion dan Luna, tetapi cukup untuk membuat Anyelir cemburu karena Luna ternyata dicintai dengan cinta yang begitu besar oleh Zion. Sementara Arjuna, tentu saja merasakan cemburu karena Luna yang merupakan istrinya malah dipeluk oleh pria lain.


"Nye, sedang menonton drama romantis," bisik Arjuna di telinga Anyelir.


Anyelir terkejut, ia segera menarik tangan Arjuna untuk kembali masuk ke dalam rumah. "Jangan berisik di sana. Nanti mereka kira aku sedang menguping." Anyelir mengomel.


"Memang iya, 'kan?"


"Tidak, Mas, aku tadi hendak menutup pintu samping, ternyata ada Luna dan Zion di sana. Mana kau tahu." Anyelir berkilah.


Arjuna duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa yang empuk. "Aku sempat mendengar sedikit obrolan mereka. Aku tiba saat Luna sedang menangis. Mereka itu saling mencintai. Aku menyesal karena telah membuat mereka menjauh satu sama lain."


Anyelir menyusul dan duduk di samping Arjuna. "Jangan terlalu dipikirkan, setelah Luna melahirkan, mereka akan kembali bersama."


"Bagaimana jika tidak, Nye?" tanya Arjuna.


"Memangnya kenapa harus tidak? Mereka pasti akan bersama lagi, aku yakin itu."


Arjuna memijat pelipisnya. "Entahlah, hanya saja perasaan seseorang mudah berubah. Aku takut jika Zion tidak lagi menginginkan Luna setelah Luna melahirkan. Bisa saja Zion cemburu atau merasa tidak nyaman dengan status Luna, dan pada akhirnya pria itu meninggalkan Luna."


Anyelir menggeleng. "Tidak mungkin begitu. Mereka itu saling mencintai, seperti katamu tadi." Anyelir menyentuh tangan Arjuna dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Bagaimana denganmu, Mas? Apakah kamu masih menginginkanku setelah kamu banyak menghabiskan malam bersama dengan Luna?" tanya Anyelir, dengan suara parau, sementara tangannya sekarang mulai menggerayangi gundukan di balik celana Arjuna.


"Tentu. Katakan saja jika kamu menginginkan sesuatu dariku." Arjuna berbisik di telinga Anyelir. Meskipun hasratnya tidak begitu menggebu seperti saat ia berada di dekat Luna, tetapi Arjuna adalah suami Anyelir juga. Dan melayani Anyelir adalah suatu kewajiban yang harus dilakukannya."


"Tidurlah denganku malam ini, Mas." Anyelir memohon.


"Tentu sayang." Arjuna lalu bangkit berdiri dan


menuntun Anyelir menuju kamar utama untuk menghabiskan malam dengan wanita itu. Toh bercinta pasti akan lebih baik, daripada harus memikirkan keromantisan antara Luna dan Zion yang membuatnya menjadi sebal setengah mati.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2