LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
PENDARAHAN


__ADS_3

Arjuna memasuki rumah mewahnya dengan langkah gontai. Setelah tiba di kamar, ia langsung berbaring di atas ranjang dan mengeluarkan hasil print USG dari saku celana yang ia kenakan.


Saat sedang memandangi hasil print USG tersebut, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Anyelir muncul dari balik pintu sembari tersenyum lebar. senyum yang belakangan ini memang selalu terukir di wajah cantik Anyelir.


"Sudah datang sejak tadi?" tanya Anyelir pada Arjuna yang tidak mengubah posisinya sama sekali.


"Ya, setelah memastikan Luna sampai di apartemen dengan selamat, aku langsung pulang." Arjuna menjawab pertanyaan Anyelir tanpa memandang wajah Anyelir. Perhatiannya masih terfokus pada hasil print USG yang ada di tangannya.


"Oh," ujar Anyelir. "Apa hanya sampai di situ? Apa kalian tidak melakukan sesuatu? Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu."


Arjuna segera bangkit dari posisi berbaringnya, lalu menautkan alis dan menatap Anyelir dengan tajam. "Apa maksud pertanyaanmu?"


Anyelir kemudian duduk di samping Arjuna dan menyentuh bibir pria itu. "Maksudku, apakah kamu tidak berciuman dengan Luna, Mas? Atau lebih dari itu, bisa saja kalian bercinta, 'kan? Kalian dulu begitu dekat, entah kenapa beberapa bulan ini kamu seperti menjaga jarak dari Luna. Aku penasaran."


"Aku tidak akan mengatakan padamu tentang keintiman hubungan kami, sama seperti aku tidak akan mengatakan pada Luna tentang keintiman hubungan kita." Arjuna kemudian bangkit berdiri, lalu melangkah keluar dari kamar.


Anyelir menatap kepergian Arjuna dengan wajah cemberut. "Keintiman hubungan kita bagaimana? Kamu saja jarang menyentuhku," gumam Anyelir, lalu mengeluarkan bantal yang terikat di perutnya dan melempar bantal itu ke sudut ruangan.


Tok, tok, tok!


Suara ketukan di pintu kamar Anyelir membuat wanita itu kesal setengah mati. Baru saja ia ingin istirahat, tetapi ada saja gangguan yang datang.


"Masuklah," titah Anyelir.


Pintu terbuka dan seorang pelayan berdiri di bingkai pintu.


"Ada apa lagi, Bi?" tanya Anyelir.


"Mertua Anda datang, Bu."


Anyelir menghela napas, ia kelihatan begitu kesal karena semenjak ia berpura-pura mengandung, Maria selalu saja datang ke rumahnya setiap saat. "Ambil bantal itu dan bantu ikat di perutku!"


***


Luna merasa kesepian sekarang. Kehadiran Arjuna beberapa saat lalu mampu membuat hatinya kembali melemah. Padahal ia butuh waktu berminggu-minggu untuk membuat hidupnya terbiasa tanpa Arjuna dan untuk membuat hatinya menjadi kuat tanpa Arjuna, dan semua usahanya itu kacau balau saat Arjuna tiba-tiba muncul kembali di dalam hidupnya dan memberi kenikmatan luar biasa pada dirinya.


Luna tanpa sadar menyentuh bibirnya di mana Arjuna mengecup bibir itu dengan lembut beberapa saat lalu. Rasa bibir Arjuna masih begitu terasa dan tiba-tiba saja ia menginginkan Arjuna kembali berada di sisinya, memeluknya saat ia tertidur dan ikut berendam dengannya di bathtub.

__ADS_1


Menyadari bahwa pikirannya terlampau jauh, Luna segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menyingkirkan bayangan nakal di dalam kepalanya dan memutuskan untuk berpakaian, toh sekarang ia masih mengenakan jubah mandi setelah berendam hampir satu jam lamanya.


Setelah selesai berpakaian dan memoles make-up tipis di wajah cantiknya, Luna pun melangkah menuju dapur untuk mengambil susu dan roti tawar yang akan dibawa ke dalam kamarnya. Sembari melangkah ke dapur, Luna tidak henti-hentinya mengelus perut yang sudah semakin membuncit. Ia sudah tidak sabar menunggu kelahiran si bayi yang diperkirakan akan lahir enam bulan lagi.


"Nyonya ingin makan apa siang ini? Biar saya buatkan," tanya Manda yang melihat Luna melangkah memasuki dapur dan sibuk menyusun susu juga roti di atas nampan.


Luna terkejut mendengar suara Manda. Ia kemudian menggeleng sambil tersenyum kepada pelayanan muda itu. "Tidak usah, Manda. Aku rasa susu dan roti sudah cukup untuk siang ini."


"Tapi Tuan Juna memintaku untuk melayani Anda dengan baik. Jika Anda hanya makan roti seharian dan setiap harinya, hal itu tidak terlalu baik untuk perkembangan bayi Anda Nyonya."


Luna melamun, dan tangannya refleks kembali mengelus perutnya. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Manda ada benarnya. Tidak baik jika ia makan roti terus-terusan, sedangkan si bayi harus tercukupi segala nutrisinya.


"Baiklah, buatkan aku bubur sayur saja. Aku ingin makan itu," ujar Luna, lalu melangkah keluar dari dapur.


"Baik, akan saya buatkan untuk Nyonya," ujar Manda, yang terlihat begitu bersemangat.


Akan tetapi, belum lagi kaki Luna tiba di luar dapur, ia merasakan nyeri yang teramat sangat pada perut bagian bawahnya. Nyeri itu terasa begitu menusuk hingga ia meringis dan terjatuh ke lantai.


"Aaah," rintih Luna, kedua matanya mulai berair sekarang, dan ia terlihat begitu kesakitan


Melihat Luna terjatuh, Manda segera berlari menghampiri Luna. "Nyonya! Ya, Tuhan, Nyonya, Anda berdarah." Manda memekik, wajahnya terlihat ketakutan dan khawatir.


"Telepon dokter, Man, cepat," titah Luna dengan suara gemetar karena menahan tangis.


Manda mengangguk dan segera meraih gagang telepon yang terletak di samping meja makan.


"Halo, Dokter, saya Manda asisten pribadi Nyonya Luna Evan. Tolong ke apartemen sekarang, Nyonya mengalami pendarahan."


***


Maria mengeluarkan berbagai macam oleh-oleh untuk Anyelir seperti biasanya. Senyum indah tersungging di wajah keriputnya saat melihat aneka camilan dan pakaian ibu hamil yang ia beli khusus untuk Anyelir. Ia bahkan membelikan kalung berlian untuk Anyelir kali ini, yang menurut Arjuna terlalu berlebihan.


"Mama tidak seharusnya membawakan semua ini untuk Anyelir. Dia bisa beli sendiri jika dia mau. Lagi pula, baru kemarin mama datang, kenapa sekarang sudah datang lagi." Arjuna berujar, sembari menatap berbagai macam makanan dan aksesoris yang memenuhi meja tamu.


Maria mendelik. "Kamu tidak suka kalau mama datang setiap hari ke sini?"


Arjuna menggeleng. "Bukannya tidak suka, Ma, tapi--"

__ADS_1


"Hai, Ma!" Anyelir menyapa Maria begitu ia tiba di samping Maria. Sebelah tangannya berada di pinggang, sementara sebelahnya lagi sibuk mengelus perut buatannya yang berisi bantal.


"Hai juga menantu mama yang paling cantik." Maria berdiri dan mengecup pipi Anyelir. "Duduklah, Nye, lihat mama bawa apa."


"Wow, ini berlian sungguhan, Ma?" tanya Anyelir, terlihat begitu bahagia mendapat hadiah yang luar biasa dari ibu mertuanya yang sebelumnya tidak pernah bersikap sebaik ini padanya.


"Iya, Sayang, mana mungkin mama beli berlian palsu. Itu asli dan sudah ada sertifikatnya. Kamu suka?" tanya Maria.


Anyelir mengangguk, dan langsung mengenakan kaling berlian itu ke lehernya. "Waah, luar biasa, mana mungkin aku tidak suka."


Arjuna menggeleng melihat tingkah Anyelir. "Seperti tidak punya kalung berlian saja," komentar Arjuna.


"Ish, kamu ini bagaimana, sih, mas, setiap perempuan pasti suka perhiasan, karena sejatinya perempuan itu menyukai kemewahan. Walaupun sudah punya beberapa, tetap saja aku merasa senang karena punya satu lagi. Apalagi kalung ini pemberian mama." Anyelir membela diri.


Arjuna menghela napas. "Tidak semua perempuan menyukai kemewahan."


"Perempuan seperti itu biasanya perempuan munafik, Jun," ujar Maria, yang disambut anggukan setuju oleh Anyelir.


Arjuna diam saja, ia tidak ingin mendebat Anyelir dan Maria, karena ia pasti akan kalah telak. Saat sedang menonton Anyelir dan Maria memuji-muji kalung berlian yang Maria bawa, ponsel Arjuna berdering dan nomor telepon apartemen Luna terpampang dengan jelas di layar ponselnya.


"Tunggu sebentar, aku angkat telepon dulu," ujar Arjuna pada Maria dan Anyelir.


"Halo, Tuan, cepatlah kemari, Tuan ... nyonya, nyonya, Tuan." Suara Manda yang panik langsung menembus gedang telinga Arjuna.


"Pelan-pekan, Manda, bicaralah dengan jelas," ujar Arjuna.


Hening beberapa saat, hanya terdengar suara deru napas Manda yang sepertinya berusaha meredam kepanikannya.


"Halo, Tuan."


"Ya, Manda, sekarang katakan ada apa?" tanya Arjuna.


"Nyonya pendarahan, Tuan. Saya sudah memanggil dokter dan dokter sedang menuju kemari," ujar Manda.


Arjuna diam mematung. Ia tidak tahu apa artinya pendarahan yang sedang terjadi pada Luna, karena sebelumnya ia tidak pernah mengalami situasi demikian.


"Tuan! Halo, Tuan, Anda tidak pingsan, 'kan?" Manda berteriak dari sebarang panggilan. "Tuan cepatlah ke sini."

__ADS_1


"Ehm, baik, aku akan segera ke sana. Katakan pada Luna kalau aku ke sana sekarang juga."


Bersambung ....


__ADS_2