LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
WANITA TANPA EMOSI


__ADS_3

Arjuna membiarkan Luna tertidur di dalam pelukannya. Wanita yang sejak tadi menangis itu akhirnya dapat terlihat tenang saat kedua matanya mulai terpejam dan ia pun jatuh tertidur.


Arjuna memperhatikan wajah Luna dengan seksama. Dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja ia merasa iba pada wanita itu. Ia mulai bertanya-tanya, kesedihan apa yang Luna simpan begitu dalam hingga wanita itu menangis tersedu-sedu. Kedua mata Luna terlihat bengkak dan sembab, dan masih ada sedikit jejak air mata di kedua pipi Luna yang tirus.


Setelah puas memandangi Luna yang merupakan istri barunya sejak semalam, Arjuna perlahan melepas pelukannya dari tubuh Luna, karena ia harus memeriksa apakah ada surel dari asistennya.


Bagaimanapun juga tugasnya di kantor tidak boleh ia tinggalkan. Jika bukan demi rencana gila Anyelir yang memaksanya untuk menikah lagi demi seorang bayi, ia tidak mungkin membolos, walaupun dirinya adalah seorang pemimpin di perusahaan tersebut.


Arjuna menjauh dari ranjang yang berantakan. Senyum merekah di bibirnya yang merah dan tebal saat ia melihat selimut dan seprai yang berhamburan hingga ke lantai, ia masih ingat bagaimana Luna mengacaukan kamar mereka semalam agar terlihat bahwa mereka telah bercinta dengan penuh gairah. Padahal mereka berdua tidak melakukan apa pun.


sama sekali. Ya, kecuali ciuman singkat yang Luna daratkan di bibirnya.


Sebenarnya Arjuna tidak ingin menolak ciuman dari Luna. Bibir Luna yang begitu penuh dan hangat terasa sangat lembut saat menempel dengan bibirnya sendiri, membangkitkan gairah yang sudah lama tidak bergejolak di dalam dirinya. Sulit untuk menolak ciuman yang berasal dari wanita secantik Luna, tetapi tatapan Luna yang kosong dan terlihat mati tidak dapat Arjuna abaikan. Ia tidak nyaman dengan tatapan Luna, ia tidak nyaman dengan sikap wanita itu yang terlihat bahagia padahal sebenarnya tidak. Ia tidak ingin berciuman dengan wanita yang tidak memiliki emosi. Ia ingin wanita yang menciumnya dapat menikmati ciuman mereka, bukannya hanya sekadar saling menempelkan bibir.


Arjuna menghela napas, lalu berjalan menuju sofa dan meraih laptop yang ada di atas meja. Beberapa surel masuk, Arjuna membukanya dan ternyata surel itu dari ibu, ayah, dan juga adik angkatnya.


Arjuna, kamu di mana? Mama ke rumahmu semalam, tapi kamu tidak ada?


Arjuna, di mana kamu, Nak. Mamamu mengomel padaku karena kamu tidak ada di rumah dan ponselmu tidak aktif. Dia panik sekali dan jika kamu tidak segera menelpon, jangan salahkan ayah kalau wajahmu terpampang di daftar orang hilang.


Kak. Kakak di mana? Mama memintaku mencari keberadaan Kakak. Kalau tidak dapat, aku tidak boleh pulang.


Arjuna tertawa, ia tidak menyangka jika ibu dan ayahnya akan seheboh itu hanya karena ponselnya tidak aktif beberapa jam.


Arjuna membalas satu per satu email tersebut, kemudian kembali menutup laptopnya. Arjuna memang sengaja tidak mengaktifkan ponselnya karena ia tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari orang-orang tentang keberadaannya. Ia tidak i gin terus berbohong, ia sudah lelah dan merasa bosan terus-terusan hidup dalam kebohongan.


"Astaga. Bisakah kamu bersuara?" Arjuna terkejut, karena ternyata Luna telah bangun dan sekarang wanita itu sedang duduk di lantai tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Aku lapar," ujar Luna, dengan wajah memelas sembari mengelus perutnya.


Arjuna yang masih mengelus dada karena terkejut segera bangkit berdiri. "Pergilah ke dapur. Aku rasa pelayanan sudah menyiapkan sarapan."


Luna mengangguk, lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Arjuna mengekor tepat di belakang Luna hingga mereka tiba di dapur. Dan benar saja, di atas meja makan telah penuh dengan hidangan yang beraneka ragam.


Luna duduk di salah satu kursi, mengambil selembar roti tawar dan mengolesnya dengan mentega lalu mengigit roti tersebut sedikit-sedikit.


"Makan yang benar. Kenapa hanya makan roti jika di depanmu ada begitu banyak makanan," ujar Arjuna, saat dilihatnya Luna mengunyah dengan malas, tatapan wanita itu kembali kosong seperti yang sebelumnya Arjuna lihat.


Luna diam saja. Hingga suara seorang pelayanan yang berlari ke dapur sembari membawa gagang telepon memecah keheningan.


"Nyonya, Nyonya, ada telepon untuk Anda," ujar pelayanan itu dengan napas terengah-engah.


Luna terkejut. "Untukku?"


Luna meraih gagang telepon itu. "Halo."


"Luna, ini aku Zion." Suara Zion terdengar dari seberang panggilan.


"Zion." Luna memekik. Ia lalu bangkit berdiri dan menjauh dari meja makan agar pembicaraannya dengan Zion tidak terdengar oleh Arjuna. "Kamu dimana? Kenapa kamu kembali tanpa mengabariku. Kenapa tidak menugguku. Aku sendirian di sini." Luna mengomel.


"Maafkan aku, Lun, tapi Miss terus meneleponku. Dia mencarimu. Aku terpaksa harus kembali ke bar." Zion menjawab pertanyaan Luna.


"Lalu, bagaimana? Apa Miss marah?"

__ADS_1


"Bukan marah lagi, tapi dia mengamuk. Untunglah dia tidak mencurigaiku, karena dia tahu bahwa aku sering menghabiskan malam dengan Laura di gudang samping. Dia pikir aku tertidur di sana."


Luna tertawa. Ia lega karena Zion baik-baik saja. Kebiasaan Zion bercinta dengan sembarang wanita di gudang samping akhirnya dapat menyelamatkan pria itu dari kemarahan Miss. Rana.


"Kapan kamu akan kembali?" tanya Zion lagi.


"Bu Anye memintaku kembali ke kota seminggu lagi. Dia ingin memastikan apa aku sudah hamil atau belum?"


"Dan apakah kamu sudah hamil?" tanya Zion.


Sebenarnya Zion sangat penasaran apakah Luna semalam telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Mana mungkin aku hamil. Kami bahkan tidur terpisah. Pak Arjuna tidak ingin menyentuhku karena dia tidak mencintaiku."


Zion tertawa. "Dasar munafik."


"Ya, itu juga yang kukatakan padanya, tapi dia marah padaku."


"Baguslah. Jangan mau disentuh olehnya, Lun. Aku tidak begitu setuju kamu menikah dengannya. Dia itu terlihat arogan sekali dan juga sok tampan. Ciih, dasar pria sok oke." Zion mengomel dari seberang panggilan.


Omelan Zion yang mencaci maki Arjuna, tidak dipungkiri dapat menyingkirkan kesedihan Luna. Luna tertawa terbahak-bahak, apalagi saat Zion mengatakan bahwa Arjuna seperti kerbau yang lehernya diikat dengan tali oleh Anyelir. Hingga apa pun yang Anyelir perintah Arjuna pasti menurut.


"Selesaikan makanmu." Arjuna muncul di belakang Luna dan merebut gagang telepon di tangan Luna, lalu meletakan gagang telepon itu di telinganya. "Istriku sedang makan. Jika ingin menelepon, telepon nanti saja!" Arjuna lalu memutus panggilan.


"Kami masih bicara!" seru Luna.


"Sekarang tidak lagi." Arjuna melambaikan telepon di tangannya, membuat Luna kesal setengah mati.

__ADS_1


Luna menatap Arjuna dengan wajah cemberut, kemudian ia kembali ke meja makan, tidak lupa saat melewati Arjuna, Luna menyempatkan diri untuk menginjak kaki pria itu dengan kuat, hingga Arjuna meringis kesakitan.


Bersambung.


__ADS_2