
luna tidak habis pikir bahwa Arjuna akan mengatakan hal seperti itu padanya. Bagaimana bisa Arjuna mengajaknya tidur bersama, padahal mereka berdua bahkan belum saling mengenal.
Ya, hal seperti ini memang bukan kali pertama bagi Luna, toh ia memang bekerja di dunia malam yang erat kaitannya dengan ***, ia bebas bercinta dengan siapa saja jika ia ingin dan ia mendapatkan keuntungan akan hal itu, seperti bayaran berupa uang atau benda-benda berharga. Namun, Arjuna yang merupakan suami dari kenalannya merupakan sebuah pengecualian. Ia tidak mungkin menghabiskan malam dengan Arjuna dan kemudian mengandung anak pria itu. Sama sekali tidak mungkin.
Luna menyentak genggaman tangan Arjuna dari pergelangan tangannya. Kemudian tanpa berkata-kata ia segera berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang VVIP tempat Anyelir dirawat.
Sesampainya di depan ruang VVIP, Luna tidak langsung masuk ke dalam kamar. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak di dinding samping pintu, kemudian tangannya memegangi dada dan memukul-mukul dengan pelan. Ia benci pada degup aneh di sana saat Arjuna menyentuhnya, apalagi saat Arjuna mengatakan ingin tidur bersamanya. Sungguh ada gelenyar aneh yang membuat Luna tergiur akan tawaran pria itu. Ia penasaran bagaimana rasa bibir Arjuna di atas bibirnya, lalu bagaimana rasa lengan kekar pria itu saat menyentuh dan meraba bagian tubuhnya. Semua hal itu menari-nari di dalam kepala Luna, padahal sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal seperti itu.
"Belum masuk?" Sebuah suara mengejutkan Luna, dan ternyata suara itu adalah suara Arjuna.
Luna menggeleng. "Aku baru saja mau masuk," ujarnya, lalu ia segera membuka pintu dan menutup kembali pintu dengan keras di hadapan Arjuna. Ia tidak ingin jika Arjuna ikut masuk juga, karena pengaruh pria itu pada dirinya sangat aneh dan luar biasa.
Anyelir tersenyum begitu melihat Luna memasuki kamar dan menghampirinya, tidak lama kemudian pintu kembali terbuka dan Arjuna terlihat mengekor langkah Luna.
"Mas sudah membujuk Luna?" tanya Anyelir, tanpa berbasa-basi.
Luna memejamkan mata dan mengatur napas, ternyata apa yang barusan dilakukan Arjuna di luar sana atas perintah Anyelir.
Arjuna mengangguk. "Sudah, tapi dia tetap pada pendiriannya."
Luna memiringkan kepalanya sedikit agar dapat melihat wajah Arjuna.
"Tolonglah, Lun, bantu aku." Anyelir kembali memohon.
Luna diam sejenak, pandangannya terfokus pada perban yang melingkar di tangan Anyelir. "Jika aku tetap menolak, apa yang akan terjadi, Bu?"
Anyelir mengangkat tangannya dan memperlihatkan perban yang melingkar di sana. "Setelah ini, mungkin aku akan melakukan yang lebih parah." Anyelir menjawab dengan tegas, terlihat tekad yang begitu kuat di kedua matanya.
__ADS_1
Kedua lutut Luna melemas, ia tidak mungkin menolak, karena penolakan darinya akan sangat membahayakan keselamatan Anyelir, tetapi ia tidak mampu untuk menerima permintaan Anyelir untuk menghabiskan malam dengan suami Anyelir hingga dirinya mengandung.
"Beri waktu aku untuk berpikir, Bu. Sekarang aku harus pulang, sudah malam," ujar Luna.
Anyelir tersenyum. "Maaf merepotkanmu, Lun, aku harap kamu benar-benar mempertimbangkan permohonanku."
Luna menyentuh punggung tangan Anyelir. "Istirahatlah, Bu, akan aku kabari besok. Bye."
***
Gerimis menemani setiap langkah Luna kembali menuju Rumah Merah. Saat tiba di perhentian bus terakhir, Luna memang memilih untuk berjalan kaki sedikit agar dirinya tidak lekas tiba di tempat mengerikan yang selama ini membuatnya hidup bagai di penjara.
Lampu berwarna-warni terlihat menggelantung indah di tiang-tiang tinggi sepanjang jalan setapak menuju Rumah Merah.
Luna menghentikan langkah, lalu berpikir sejenak. Tubuhnya sangat lelah, ia tidak siap untuk memulai pekerjaan malam ini, baik ia diminta untuk menjaga meja bar, atau melayani tamu. Tidak ada satu pun yang bisa dilakukannya. Maka Luna memutuskan untuk mengambil jalan samping yang akan membawanya langsung ke gudang bawah tanah.
"Lun. Astaga, aku mengkhawatirkanmu!"
Luna terkejut akan kehadiran Zion di dalam kamarnya. Begitu ia membuka pintu, tiba-tiba saja Zion muncul dari balik pintu.
"Zi, sedang apa kamu di sini?" tanya Luna.
"Aku menunggumu, memangnya apa lagi! Kamu dari mana saja? Ponselmu bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali." Zion mengomel.
Luna tersenyum agar pria itu tidak lagi khawatir pada keadaannya. "Bosku sakit, aku harus mengantarkannya ke rumah sakit, lalu menemaninya di sana sebentar. Itulah sebabnya aku pulang terlambat."
"Bosmu itu pria?" tanya Zion yang terlihat penasaran sekali.
__ADS_1
Luna menggeleng, sembari melangkah menuju ranjang dengan kaki pincang. "Bosku seorang wanita karir yang sukses. Namanya Anyelir, dia kaya, cerdas, anggun, dan cantik. Wanita yang sangat sempurna sekali."
Zion menghampiri Luna dan duduk di samping wanita itu. "Kenapa kakimu?" tanya Zion. Ia tidak peduli bagaimana rupa dan kehidupan bos Luna, begitu melihat Luna berjalan dengan kaki yang pincang, tiba-tiba saja rasa cemas kembali merayapi dadanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya terjatuh tadi karena tidak berhati-hati."
Zion mengetuk kepala Luna dengan punggung tangannya. "Dasar ceroboh. Tunggu di sini, akan aku obati. Lihatlah caramu memasang perban saja miring begini. Kalau lukanya tidak tertutup sempurna, bisa-bisa lukamu infeksi." Zion mengomel.
Saat Zion bangkit berdiri dan bersiap untuk meninggalkan Luna, Luna menahan langkah pria itu. Luna menarik pergelangan tangan Zion hingga pria itu kembali duduk di sebelahnya.
"Aku tidak apa-apa, Zi, aku sungguh tidak apa-apa. Peluk saja aku. Aku ... aku merindukan ibu." Luna menangis, ia memang sangat merindukan Ayura. Kembali berada di dalam kamar dan duduk di atas ranjang tempat biasanya ibunya berbaring membuat pertahanan diri Luna runtuh.
Zion mengulurkan tangan dan mengusap air mata Luna, lalu ia melakukan apa yang Luna pinta.
Luna menenggelamkan wajah di dada Zion saat pria itu merangkulnya. Detak jantung Zion terdengar begitu jelas di telinga Luna, dan entah apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba saja Luna merasa takut. Luna takut jika suatu saat ia tidak lagi dapat mendengar detak itu. Bagaimana jika suatu saat Zion menghilang dan pergi selamanya seperti Ayura.
Luna mendongak agar dapat memandang wajah Zion, tetapi hal itu adalah sebuah kesalahan. Wajah Zion dan wajahnya berada sangat dekat, hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan saat Luna mendongakkan kepala.
Luna menjadi canggung, tetapi ia tidak berusaha untuk menjauh dari Zion. Entah apa yang merasukinya hingga ia tidak merasa terganggu akan posisi tubuh mereka yang tidak semestinya.
Zion sendiri begitu terhipnotis akan kecantikan Luna, dan berada sedekat ini dengan Luna bukanlah momen yang mungkin akan terjadi lagi di kemudian hari.
Zion memberanikan diri menyentuh wajah Luna, jemarinya bergerak dari pipi hingga ke bibir, lalu tanpa meminta izin dari Luna, Zion mendaratkan bibirnya di sana. lembut, hangat, dan basah, sungguh memabukkan.
Melihat tidak adanya penolakan dari Luna, Zion semakin menjadi. Ia meletakkan tangan di belakang kepala Luna dan menekan kepala wanita itu agar posisi wajah mereka semakin dekat.
Luna sendiri menerima dengan senang hati pada tindakan yang Zion lakukan padanya. Ia memeluk pinggang Zion dan membuka mulutnya agar Zion dapat menjelajahi setiap lekuk bibirnya. Ia butuh pelarian, pelarian dari perasaan cemas yang menumpuk. Dan ternyata berciuman dengan Zion adalah bentuk pelarian yang sempurna.
__ADS_1
Bersambung.