LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
TENGGELAM


__ADS_3

Mudah bagi Miss. Rana untuk menawan Zion. Hanya dibutuhkan bantuan dari beberapa anak buahnya, maka Zion akan langsung bisa dilumpuhkan.


sekarang, Zion tengah berontak. Berusaha melepaskan diri dari cengkeraman anak buah Miss. Rana yang bertubuh besar. Satu lawan satu tidak masalah bagi Zion, bahkan tiga lawan satu pun masih bisa ia tangani, tetapi jika dirinya harus melawan lima pria bertubuh besar sekaligus tentu saja ia kalah jumlah.


Zion sudah semakin babak belur saat dalam perjalanan menuju ruang cuci, karena ia berusaha untuk menendang, mengigit, bahkan mengantupkan kepalanya ke kepala pria yang sedang memelintir tangannya. Zion bukannya takut mati, tidak masalah baginya jika ia disiksa hingga meregang nyawa, yang membuatnya berontak adalah saat pikirannya melayang ke Luna. Ia takut jika ia tidak bisa menyelamatkan Luna. Dirinya pasti akan merasa sangat bersalah jika Luna kembali tertangkap dan harus menghabiskan hidupnya sebagai pelacur hanya karena ingin menyelamatkan dirinya.


"kamu ini berisik sekali, Zi. Diamlah jika tidak ingin wajahmu semakin berdarah," bentak Miss. Rana, yang sudah kesal sekali pada Zion karena sejak tadi Zion terus melawan dan menjerit, sehingga membuat telinganya sakit.


Zion tidak peduli pada peringatan yang Miss. Rana berikan. Ia masih menyentak, berusaha untuk melepaskan diri.


Buk!


Sebuah tinju mendarat di wajah Zion, membuatnya jatuh tersungkur di lantai yang basah. Kini mereka telah tiba di ruang cuci. Miss. Rana mendesah, sambil memutar bola matanya dengan malas. "Ikat dia!" perintah Miss. Rana pada anak buahnya.


Segera setelah mendengar perintah Miss. Rana, beberapa pria bertubuh besar yang bekerja pada Miss. Rana memaksa Zion untuk bangkit berdiri dan mengikat tubuh Zion pada tiang yang telah disiapkan di dalam sebuah bak penampungan air berukuran besar.


"Nyalakan airnya dan biarkan dia tenggelam," perintah Miss. Rana lagi, lalu ia menambahkan, "Oh, ya, rekam dan berikan padaku hasil rekamannya saat air sudah mencapai leher."


Zion memelototi Miss. Rana. "Hai, Rana sialan! Jangan macam-macam pada Luna! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Luna, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu!" Zion berteriak.


Miss. Rana yang sudah setengah jalan menuju pintu keluar segera menoleh dan tertawa. "Apa yang bisa kamu lakukan padaku, hah? Justru kamulah yang harus berhati-hati, Zi. Jangan sampai aku berpikir untuk memasukkan kabel ke dalam bak penampungan itu. Dasar sial!"


Setelah mengatakan itu Miss. Rana segera keluar dari ruang cuci, meninggalkan Zion yang putus asa. Sementara beberapa anak buah Miss. Rana yang masih berada di ruang cuci meletakan kamera di hadapan Zion yang mulai merekam, dan mengisi bak penampungan air dengan air yang perlahan pasti akan membuat Zion tenggelam.


"Jangan datang ke sini, Luna. Apa pun yang terjadi padaku, aku mohon jangan datang untuk mencariku." Zion bergumam, dan ia pun mulai menangis.

__ADS_1


***


Maria melepaskan pelukannya dari tubuh Luna, dan membelai rambut panjang Luna dengan penuh kasih. Ia tersenyum, lalu menatap perut Luna yang membuncit.


"Kembalilah ke rumah, dan beristirahatlah. Aku tidak ingin kamu kelelahan, Lun, karena hal itu akan berdampak tidak baik bagi bayimu," ujar Maria.


"Itu benar, Nak. Kembalilah ke rumah dengan Arjuna dan Anyelir. Aku tahu kamu pasti lelah. Kami akan menyusul setelah memastikan Sabrina baik-baik saja dan mendapatkan perawatan yang baik di sini." Dermawan menimpali.


Luna mengangguk sambil mengusap air matanya. Ia sangat terharu karena Maria dan Dermawan sangat baik padanya. Tidak ada yang marah padanya dan mencacinya karena ia menikah diam-diam dengan Arjuna.


Anyelir yang melihat semua itu merasa sakit hati. Ia merasa disingkirkan dengan mudah oleh Luna hanya karena Luna mengandung dan ia tidak. Ya, Lagi-lagi masalah anak, dan jika sudah menyangkut hal itu, Anyelir tidak bisa melakukan apa-apa, karena Tuhan memang tidak mentakdirkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.


Anyelir bangkit berdiri dan keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa. Ia bahkan tidak mengatakan apa pun pada Maria dan Dermawan. Apa lagi yang bisa aja katakan jika kedua mertuanya sekarang sedang sibuk memuja Luna.


Brak!


"Dasar tidak tahu diri. Apa yang barusan itu? Apa dia marah pada kita semua? Sudah bagus aku tidak menghajarnya habis-habisan karena dia berani menipuku," ujar Maria.


"Sudahlah, jangan diambil hati, biarkan saja dia." Dermawan menepuk pundak Maria.


Maria mengatur napas agar emosinya kembali stabil. Ia kemudian menatap Arjuna dan berkata, "Antar pulang Luna, Jun, biar dia istirahat di rumah. Jangan lupa beli makanan yang banyak agar Luna tidak kelaparan, dan belikan saja semua yang Luna mau. Pokoknya apa pun yang Luna mau."


Maria mengeluarkan kartu ATM dari dalam dompetnya dan menyerahkan kartu itu ke Luna. "Pin-nya 353133, ambilah."


Luna menggeleng. "Tidak usah, aku pikir--"

__ADS_1


Maria berdecak. "Ini hadiah, Lun, mana boleh kamu menolak hadiah. Bahkan jika aku bisa memberi nyawaku, pasti akan kuberi untukmu," ujar Maria, yang kedua matanya mulai berair. Ia bahagia sekali karena kehadiran Luna akan mengubah hidupnya. Ia sudah sangat tidak sabar untuk hidup dalam kerepotan, kerepotan mengurus cucu yang sebentar lagi akan dilahirkan oleh Luna.


Luna menerima kartu persegi itu dengan tangan gemetar. Ia juga merasa sama terharunya seperti Maria. "Terima kasih, Nonya."


"Ck, panggil aku mama. Aku mertuamu sekarang, dan kamu menantuku." Maria kembali memeluk Luna dan keduanya mulai menangis.


Arjuna dan Dermawan saling pandang sambil tersenyum. "Wanita memang berlebihan sekali," ujar keduanya berbarengan.


***


Air yang mengisi bak penampungan sekarang sudah mencapai pinggang Zion. Tidak lama lagi Pasti akan mencapai leher jika air dibiarkan terus mengalir, apalagi jika para penjaga menambah kecepatan laju air tersebut.


Tubuh Zion gemetar hebat, bukan karena rasa dingin yang sekarang menusuk hingga ke dalam tulangnya, melainkan karena rasa marah yang memenuhi dadanya. Ia kesal karena tidak bisa melakukan apa pun sekarang untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Zion masih ingat bagaimana dulu ia dan Luna terjebak dalam situasi yang sama. Saat itu Miss. Rana pun memasukannya ke dalam bak penampungan air hanya untuk menekan Luna agar Luna bersedia melayani Bimo, dan saat itu Luna masuk ke dalam perangkap. Luna yang tidak ingin jika Zion celaka akhirnya menyerah pada keinginan Miss. Rana, dan saat itu juga Luna jatuh ke dalam pelukan Bimo. Luna kemudian disiksa habis-habisan oleh Bimo yang memang memiliki kelainan ***. Semua itu terjadi karena Zion, dan Zion tidak ingin jika hal yang sama kembali terjadi.


"Bagian dramatisnya akan dimulai," ujar salah seorang penjaga, membuat lamunan Zion memudar.


Zion menggelengkan kepala, ia tidak sadar jika air sekarang sudah setinggi dadanya. "Shiiit! Kenapa cepat sekali," gumam Zion.


Penjaga terkekeh, lalu melepas kamera yang terpasang pada kaki-kaki di depan bak, dan membawa kamera itu mendekat ke Zion. "Katakan sesuatu, Zion, agar dia datang," titah penjaga itu.


"Bajingan! Berani semakin kamu memerintahku. Sekarang cepat lepaskan aku!" teriak Zion.


Penjaga di depan Zion kembali terkekeh. Masih sambil memegang kamera, ia berkata, "Kalau tidak mau, ya, tidak usah. Aku rasa si pelacur itu akan tetap datang walaupun kamu diam tak bersuara. Sekarang tarik napasmu dalam-dalam, Zi, tubuhmu akan benar-benar tenggelam."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2