
Mudah bagi Zion untuk mencapai langit-langit gudang tempatnya dikurung bersama dengan Arjuna. Ia hanya perlu memanjat sebuah kursi yang ditumpuk di atas meja, lalu menaikinya, menjebol plafon dengan linggis yang ada di gudang itu, kemudian ia memanjat. Hanya butuh beberapa menit, Zion sudah ada di atas plafon.
Akan tetapi, hal yang sangat mudah bagi Zion itu tidaklah mudah bagi Arjuna. Ya, Arjuna dan Zion memang berasal dari dunia yang sama, tetapi lingkungan keduanya sangat berbeda.
Jika Zion selama ini menjalani hidup yang begitu keras, sehingga membuatnya harus bisa melakukan segala cara agar bisa bertahan hidup, tidak demikian dengan Arjuna. Bukan berarti Arjuna tidak memiliki keterampilan dan kemampuan untuk bertahan hidup, hanya saja Arjuna bertahan hidup dengan menggunakan kecerdasannya. Apa pun yang ia lakukan selalu menggunakan kemampuan berpikirnya bukan kekuatan tubuhnya seperti Zion.
"Naiklah, cepat!" desis Zion pada Arjuna yang masih ada di bawah.
Arjuna menggeleng. "Kamu pergi saja, lalu bukakan pintu untukku."
Zion memukul dahinya dengan keras. "Kamu ini bodoh atau apa? Kamu pikir di depan sana tidak ada yang menjaga?! Bisa-bisa kita malah tertangkap. Cepatlah naik ke sini!"
Arjuna masih berdiri dan menatap kursi dan meja yang menumpuk di depannya. "Apa ini aman?" tanyanya kemudian.
"Astaga, kenapa kamu ini manja sekali! Tentu aman. Cepatlah!"
"Oke, oke, santai saja! Aku akan segera naik," ujar Arjuna, lalu mulai memanjat meja dengan kakinya yang gemetar, dan kemudian memanjat kursi yang tersusun secara asal di atas meja.
"Kalau aku jatuh dan mati, maka kamu harus menyelamatkan Luna dengan cara apa pun. Pokoknya harus."
Zion menahan tawa. "Apa ini semacam wasiat? Ayolah, jangan berlebihan. Kamu tidak akan mati hanya karena jatuh dari ketinggian yang tidak seberapa ini."
Arjuna diam saja, sedikit lagi ia akan mencapai puncak kursi. Namun, tiba-tiba saja pintu gudang mulai bergerak, dan terdengar suara beberapa pria dari luar gudang.
"Sial, mereka datang." Zion mengeluh. "Ulurkan tanganmu!" titahnya, pada Arjuna.
Arjuna mengulurkan tangannya pada Zion, dan Zion langsung menarik Arjuna dengan kuat sementara Arjuna mulai menaikan sebelah kakinya ke tepi plafon.
"Tendang tumpukan kursi itu sebelum kamu menaikan satu kakimu,oke," titah Zion lagi.
Arjuna mengangguk dan langsung menendang tumpukan kursi sebelum menaikan sebelah kakinya ke tepi plafon.
__ADS_1
Bruk!
Suara berisik yang disebabkan kursi-kursi membuat penjaga bergegas membuka pintu.
"Ayo, kita harus bergegas!" seru Zion, setelah menutup plafon dengan sebuah lempengan seng yang ada di dekatnya.
Zion dan Arjuna merangkak sepanjang plafon, di pimpin oleh Zion yang sudah hafal letak setiap ruangan yang ada di Rumah Merah.
"Kamu yakin kita tidak akan tersesat?" tanya Arjuna.
"Tentu tidak, aku sudah sering melakukan ini saat keadaan genting. Saat Alula sedang butuh pertolongan, aku pasti akan menjebol plafon dan menggagalkan transaksi yang telah disetujui Miss," jawab Zion, masih terus merangkak melewati belokan-belokan di depannya.
"Transaksi?"
"Ya, Transaksi. Kebanyakan Miss melakukan transaksi dengan para laki-laki hidung belang untuk menjual Luna tanpa sepengetahuan Luna. Semua transaksi itu tentu saja tidak pernah Luna harapkan, sehingga aku tahu jika Luna selalu butuh pertolonganku."
"Bagaimana caramu kemudian menolongnya? Maksudku apa yang akan kamu dan Luna lakukan pada pria-pria yang sudah membayar pada Rana untuk menghabiskan waktu dengan Luna?" tanya Arjuna lagi. Ia sungguh penasaran pada kehidupan Luna yang tidak banyak ia ketahui.
Zion berhenti sejenak, lalu menyeka keringat yang membasahi wajahnya. "Dengan suntikan obat penenang, atau obat tidur dosis tinggi. Biasanya aku merangkak seperti ini untuk mencari tahu dimana kamar yang Luna gunakan, setelah itu aku akan langsung menjebol plafon, dan muncul seperti pahlawan dari atas plafon kemudian menyuntik pria yang sedang bersama dengan Luna. Setelah pria itu pingsan, aku dan Luna akan melucuti pakaian si pria, lalu membuat seprai berantakan, seolah mereka memang telah bercinta habis-habisan." Zion mengakhiri penjelasannya sambil terkekeh.
"Semua karena keadaan. Orang kaya seperti kalian mana tahu masalah hidup orang seperti kami. Terkadang kami tidak punya banyak pilihan, dan harus menjalani apa yang tidak kami suka hanya untuk bertahan hidup, atau untuk melindungi orang-orang yang kami sayang. Tidak masalah bagiku, karena aku seorang pria, tetapi Luna beda lagi. Dia sangat cantik, siapa pun ingin menyentuhnya dan memilikinya, sulit sekali menjaga kehormatannya di tempat yang seperti ini."
Arjuna menghela napas, membayangkan semua yang baru saja ia dengar membuat dadanya menjadi sesak. Ia merasa bersalah karena sempat menghina Luna dan mengatai-ngatai Luna saat pertama kali ia tahu bahwa Luna adalah pelacur. Ia menghakimi Luna begitu saja tanpa mendengarkan segala hal yang membuat Luna harus hidup sebagai seorang pelacur.
"Jika kamu benar-benar ingin memiliki Luna selamanya, kamu harus menjaganya dengan sungguh-sungguh dan membahagiakannya. Luna sudah lama hidup menderita."
Arjuna mengangguk. "Aku akan menjaga, sebagaimana kamu menjaganya selama ini, Zion."
Zion mengedip-ngedipkan matanya yang mulai panas. "Ah, aku sangat terharu. Ayo, kita lanjutkan. Aku yakin, Luna ada di kamar Miss sekarang."
***
__ADS_1
Luna menahan rasa mulas di perutnya yang semakin terasa. Ia bergelung di atas ranjang Miss. Rana, sambil meremas seprai dengan kuat.
Setelah Zion diseret dari ruang cuci, anak buah Miss. Rana memindahkan Luna ke kamar Miss. Rana, dan kemudian beberapa pelayan wanita memasuki kamar, lalu memaksa Luna meminum sesuatu. Awalnya Luna menolak, tetapi saat ia dipaksa membuka mulut, dan kedua tangannya dicengkeram dengan begitu kuat, ia sungguh tidak berdaya.
Sejak saat itu ia merasakan rasa panas di perutnya, dan semakin lama rasa panas itu berubah menjadi rasa mulas yang luar biasa, seolah-olah ada puluhan tinju yang mengarah ke dalam perutnya dan membuat isi perutnya hancur.
"Argh! Sakit sekali," Luna merintih.
Tidak lama kemudian Miss. Rana memasuki kamar dan melempar sebotol air mineral ke Luna.
"Jangan manja dan cepat minum itu. Nanti juga sakitnya akan hilang," komentar Miss Rana, sambil menghampiri sofa yang ada tengah kamar.
Luna berusaha untuk duduk agar dapat menatap Miss. Rana. "Apa yang Miss berikan padaku? Kenapa perutku jadi sakit begini?" tanya Luna.
"Hanya obat agar kamu bisa cepat mulai bekerja lagi. Kamu tidak mungkin bekerja dengan perut sebesar itu. Itulah sebabnya aku memberimu obat."
Tubuh Luna menegang, ia paham apa maksud Miss. Rana. "Obat? Apa Miss memberiku obat penggugur kandungan?"
Miss Rana yang telah duduk di sofa dan mulai membuka sebotol anggur hanya tersenyum, lalu menuang anggur di gelas berkaki.
Melihat anggukan Miss. Rana, seketika air mata Luna menetes. Ia tidak menyangka jika Miss. Rana akan setega itu.
"Aku akan menuntutmu! Aku akan menuntutmu. Dasar biadab. Kenapa kamu membunuh bayiku, Miss? Kenapa?" Luna histeris, ia tidak ingin kehilangan bayi yang selama ini telah mendiami rahimnya. Luna lalu menyentuh perutnya dan menekan perutnya kuat-kuat agar tidak terus berkontraksi. "Jangan pergi, Nak, jangan pergi. Bertahanlah, aku mohon bertahanlah," ucap Luna pada perut besarnya.
"Ckckck, kasihan sekali bayi yang kamu kandung. Seandainya si bayi tinggal dan tumbuh di rahim yang tepat, di rahim wanita baik-baik, si bayi pasti tidak akan mengalami semua ini. Si bayi akan lahir dan tumbuh sehat. Sayang sekali dia tumbuh di rahim pelacur macam dirimu, Luna. Itulah sebabnya sebagai seorang pelacur, kamu harus menjaga diri agar tidak hamil." Miss tertawa, wajahnya yang tidak manusiawi terlihat senang melihat Luna menderita.
"Jahat! Dasar wanita jahat! Setelah membunuh ibuku, sekarang kamu membunuh bayiku. Lihat saja, Miss, aku akan membalasmu nanti."
"Waah, aku takut. Aku sungguh takut pada ancamanmu. Tapi biar kuingatkan kembali padamu Luna, bahwa kamu sudah menyetujui semua yang kulakukan padamu. Bukankah kamu sudah menandatangani ini." Miss. Rana memperlihatkan selembar kertas yang beberapa waktu lalu telah Luna tandatangani. Kertas itu sekarang telah terisi oleh baris-baris tulisan yang tidak bisa Luna baca.
"Salah satu yang kamu setujui di sini adalah menggugurkan kandunganmu," ucap Miss. Rana.
__ADS_1
Luna menggeleng. "Tidak mungkin," gumam Luna. "Sama sekali tidak mungkin."
Bersambung