
Bimo tersenyum sinis saat sepasang matanya mendapati Luna tengah berada di tengah-tengah pesta pertunangannya.
Wanita itu terlihat cantik dan menggoda seperti biasanya. Rambut Luna yang panjang, pakaian Luna yang menempel pas di tubuh sintalnya membuat sesuatu di dalam tubuh Bimo bereaksi lebih dari yang seharusnya.
Bimo masih ingat bagaimana kenikmatan yang didapatnya saat ia menghabiskan waktu bersama dengan Luna di atas ranjang. Ia seolah masih dapat membayangkan aroma tubuh wanita itu yang begitu menggoda. Membayangkannya saja mampu membuat Bimo meneteskan air liur. Ia rindu kehangatan yang dihasilkan oleh tubuh Luna, dan ia juga merindukan suara erangan wanita itu saat mereka bergulat di atas tempat tidur.
"Argh, sial." Bimo menggelengkan kepala. Berusaha menjauhkan bayangan tentang Luna yang begitu menggairahkan untuk sementara dari dalam kepalanya.
"Sayang, apa yang kamu lihat?" tanya Siska, wanita yang malam ini menjadi ratu di pesta yang Bimo selenggarakan.
Ya, Siska adalah tunangan Bimo. Wanita yang memiliki wajah cantik, tetapi tetap saja tidak secantik Luna. Tubuh Luna begitu menggoda, sementara Siska, wanita itu terlihat seperti sumpit di mata Bimo. Jika dibandingkan dengan Luna, tentu saja Siska tidak ada apa-apanya.
"Ah, tidak, Sayang. Lanjutkan saja menyambut teman-temanmu. Mereka pasti ingin melihat koleksi tas dan sepatumu yang ada di kamar. Perlihatkan, Sayang, perlihatkan. Tunjukan pada mereka kalau kamu adalah wanita yang paling bahagia di muka bumi ini." Bimo terkekeh pelan sembari meremas bokong Siska yang rata.
Siska tersenyum dan segera pergi meninggalkan Bimo. Sementara Bimo yang sejak tadi menahan diri untuk tidak menghampiri Luna segera menghampiri wanita itu, karena Luna sekarang hanya tinggal seorang diri. Pelayan yang beberapa waktu lalu berdiri di hadapan Luna telah pergi dari hadapan wanita itu.
"Halo, Seksi." Bimo meremas bokong Luna dengan kuat sesaat setelah ia tiba di samping Luna.
Luna tentu saja terkejut. Ia refleks menjauh dari pria yang begitu berani menyentuh bokongnya. Baru saja Luna ingin mengomel karena pria itu bertindak tidak sopan, tetapi tidak jadi. Bibir Luna tiba-tiba saja terkunci rapat, tidak ada satu kata pun yang bisa ia ucapkan begitu ia melihat siapa gerangan yang berani meremas bokongnya.
"Anda," lirih Luna.
"Ya, Cantik, ini aku." Bimo kembali menyentuh bokong Luna.
Luna menjauh, sekarang tubuhnya telah benar-benar menempel di dinding. Ia begitu ketakutan karena Bimo menatapnya dengan penuh nafsu seperti predator yang siap memangsa mangsanya. Seolah pria itu dapat menerkamnya kapan saja dan menariknya ke dalam ruangan tersembunyi untuk memaksanya melakukan hubungan badan.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Luna dengan suara yang gemetar.
Bimo tekekeh. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, Sayang, apa yang kamu lakukan di pestaku?"
"Pesta Anda?"
"Ya, Sayangku, pesta ini adalah pestaku. Kamu datang sendiri padaku setelah aku bersusah payah mencarimu. Mungkin inilah yang dinamakan takdir manis." Bimo tersenyum penuh kemenangan. Lalu dengan berani Bimo mengarahkan tangannya ke wajah Luna dan menarik wajah wanita itu agar mendekat ke wajahnya. "Ayo, habiskan sisa malam ini denganku. Ada banyak kamar kosong di sini, dan aku akan membayarmu tiga kali lipat dari yang sebelumnya."
Luna mendorong Bimo. "Tidak. Maaf, aku harus pergi."
Bimo menarik tangan Luna dan kembali berkata. "Jika kamu pergi selangkah saja dari hadapanku, aku akan mengatakan pada semua orang yang ada disini bahwa kamu adalah pelacur, Luna."
Tubuh Luna menegang. Matanya kemudian menatap Arjuna yang masih asyik mengobrol dan tidak menyadari bahwa ia sedang dalam bahaya dan butuh pertolongan.
Bimo mengikuti arah pandang Luna, dan ia bersiul pelan begitu ia melihat siapa yang Luna tatap sekarang.
"Arjuna ya? Jadi kamu datang kemari bersama dengan Arjuna. Sudah kuduga pasti ada seseorang yang membawamu kemari, karena tamu tidak akan bisa masuk tanpa undangan, dan aku tidak mungkin mengundang seorang pelacur secara terang-terangan. Jika aku ingin mengundangmu, tentu saja aku akan mengundangmu ke tempat tidurku, bukan ke pestaku."
Luna beralih menatap Bimo. "Aku mohon, biarkan aku pergi."
Bimo tersenyum miring. "Tentu, Sayang, tapi setelah kamu melakukan apa yang aku inginkan."
"Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau." Luna menggeleng, berusaha melepaskan genggaman tangan Bimo yang sekarang berada di pergelangan tangannya. Namun, percuma saja, karena Bimo terlalu kuat untuk ia hadapi seorang diri.
Bimo terus menarik tangan Luna melewati lorong rumahnya yang sepi. Acara yang terpusat di ruang utama tentu saja membuat para tamu tidak ada yang repot-repot menghabiskan waktu untuk menyusuri lorong atau menghabiskan waktu di ruangan lain selain di ruang utama.
Bimo kemudian menendang salah satu pintu yang terdapat di ujung lorong dan kembali menutup pintu itu dengan rapat. Setelah pintu tertutup, Bimo mendorong Luna ke atas ranjang yang ada di ruangan itu, karena ruangan itu memang merupakan kamar tamu.
Dengan cekatan, Bimo melepas jas, kemeja dan celana yang ia kenakan, kemudian ia menindih tubuh Luna hingga wanita itu mengerang karena merasakan nyeri di bagian perutnya.
"Ah, aku merindukan suara itu, Luna, sungguh," ujar Bimo, lalu ia mulai mengecup bibir dan leher Luna dengan rakus.
Luna berusaha menghindar. Wanita itu bahkan menangis, tetapi Bimo tidak peduli. Seperti singa yang sedang kelaparan, Bimo menikmati setiap sebti tubuh Luna dengan rakus. Ia bahkan menggigit telinga Luna.
__ADS_1
"Jangan! Aku mohon, Pak, jangan ... ah." Luna merintih saat ia merasakan tangan Bimo menyentuh **** ************* dengan kasar.
Mendengar rintihan Luna, Bimo semakin menggila, tetapi Luna justru tidak tinggal diam. Ia sadar bahwa apa yang akan Bimo lakukan padanya saat ini akan sangat berbahaya bagi janin yang ada di dalam kandungannya. Luna mengumpulkan tenaga dan keberaniannya yang tersisa, lalu mendorong tubuh Bimo dan kemudian menendang ******** pria itu dengan kuat.
"Argh!" Erangan Bimo memenuhi setiap sudut kamar.
Melihat Bimo kesakitan, Luna segera turun dari atas ranjang dan berusaha menggapai pintu, tetapi Bimo tentu lebih cepat. Bimo menarik rambut Luna dan mengantupkan kepala wanita itu di dinding hingga terluka.
"Sialan kamu! Aku ingin memberimu kenikmatan, tapi kamu malah menolak, hah?" teriak Bimo.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Luna, disusul dengan tamparan selanjutnya hingga bibir Luna pecah. Darah segar keluar dari bibir dan hidung Luna. Tamparan kesekian kali dari Bimo akhirnya membuat Luna jatuh tersungkur di lantai yang dingin. Luna merintih kesakitan, ia begitu lemah sekarang. Jangankan untuk berdiri, merangkak saja rasanya sulit sekali.
Bimo tertawa. Ia senang sekali melihat Luna tidak berdaya. Baru saja ia ingin kembali menikmati tubuh Luna, pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Arjuna berdiri di sana. Arjuna Terlihat bingung untuk sesaat, tetapi kebingungan di wajahnya berubah seketika menjadi amarah saat ia melihat Luna bersimpuh di lantai dengan wajah penuh luka.
"Apa yang terjadi?" tanya Arjuna.
Bimo bangkit berdiri dan terkekeh. "Maafkan aku karena tidak meminta izin untuk mencicipi wanitamu. Tapi, Juna, aku sudah membayar untuk tidur dengannya, aku membayar uang muka pada Miss yang memelihara Luna, tapi Luna malah tidak muncul." Bimo menarik Luna agar wanita itu berdiri, lalu ia kembali berkata, "Dia memang nikmat sekali, tidak heran jika kamu akhirnya memakainya juga. Selera kita sama."
Arjuna tidak mengerti sama sekali dengan yang Bimo ucapkan. Ia juga tidak ingin berusaha untuk mengerti, yang terpenting baginya sekarang adalah Luna. Kenapa Lunanya bisa terluka seperti itu dan berada di dalam kamar Bimo?!
"Jangan sentuh dia!" desis Arjuna.
Bimo tertawa. "Kamu kesal sekali, ya. Bagaimana kalau kita menikmatinya bersama-sama, hah? Aku tidak akan mengatakannya pada Anyelir asal kamu mau berbagi."
Arjuna maju menghampiri Bimo, lalu meraih pergelangan tangan Luna dan menarik Luna mendekat ke arahnya. Sesaat kemudian, Arjuna menyentuh bibir Luna yang berdarah, lalu mengusap darah yang keluar dari hidung Luna dan juga darah di kening wanita itu dengan sentuhan yang begitu lembut.
"Katakan jika aku harus membunuhnya?" tanya Arjuna pada Luna.
Suara Arjuna yang begitu lembut, serta sentuhan Arjuna yang menenangkan membuat Luna semakin menangis.
"Aku tidak ingin kamu berakhir di penjara," lirih Luna.
Arjuna menyentuh wajah Luna dan mengusap air mata wanita itu. "Baiklah, aku tidak akan membunuhnya, tapi biarkan aku memberinya sedikit pelajaran. Aku harus membalas rasa sakitmu."
Luna mengangguk.
Setelah mendapat persetujuan dari Luna, Arjuna tidak membuang-buang waktu. Ia segera menghampiri Bimo yang hanya mengenakan ****** *****, lalu mulai menghajar pria itu hingga babak belur.
Setelah dirasa cukup, Arjuna pun menghentikan tindakannya.
"Sialan kamu, Juna. Apa kamu begitu marah sampai-sampai kamu menghajarku seperti ini? Hanya karena pelacur sialan itu, hah.
Asal kamu tahu saja, Juna, aku sudah membayarnya 200 juta dengan pemilik Rumah Merah. Aku berhak atasnya, dan aku berhak bercinta dengannya!"
Arjuna diam mematung. Ia sungguh terkejut dengan apa yang Bimo katakan tentang pelacur, Rumah Merah, dan 200 juta. Namun, Arjuna tidak menunjukan keterkejutannya itu di mata Bimo. Alih-alih mendengarkan ocehan Bimo dan menanggapinya, Arjuna justru menghampiri Luna, dan memeluk tubuh wanita itu.
"Aku akan menggunakan pintu belakang rumahmu ini untuk membawa istriku pergi. Setelah itu anggap saja persahabatan kita selesai sampai di sini. Dan satu hal lagi, Bim, aku akan membatalkan semua kerjasama kita."
Bimo merangkak menghampiri Arjuna, dan dengan susah payah ia berusaha untuk bangun. "Istri katamu? Kamu menikah dengannya? Dengan pelacur ini?!"
"Dia bukan pelacur! Dia istriku, istriku!" Arjuna berteriak tepat di hadapan wajah Bimo yang penuh luka.
Melihat kemarahan di wajah Arjuna, Bimo pun tertawa. "Terserah apa katamu. Setidaknya aku sudah pernah tidur dengan istrimu itu, dan kuakui dia memang hebat di atas ranjang."
Buk!
Sebuah tinju kembali mendarat di wajah Bimo.
__ADS_1
"Sudah, Juna, plis." Luna menahan tangan Arjuna yang hendak kembali meninju Bimo.
Arjuna mengangguk, lalu segera menuntun Luna keluar dari dalam kamar. "Kita lewat pintu belakang."
"Bu Anye bagaimana?" tanya Luna, saat mereka telah berada di luar kamar.
"Aku akan meminta Wisnu atau Rayan untuk menjemputnya," jawab Arjuna.
"Bagaimana kalau Bu Anye marah?" Luna kembali bertanya.
Arjuna menghentikan langkah, kemudian menghadap ke Luna. "Kenapa kamu begitu mengkhawatirkan Anye. Seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri. Aku butuh penjelasan, Lun, penjelasan darimu!"
Luna menelan saliva. Ia tahu penjelasan apa yang Arjuna butuhkan darinya.
***
Kamar hotel bertipe Presidential Suite yang sekarang Luna masuki membuat Luna gugup setengah mati. Cahaya kekuningan dari lampu tidur yang menyala, serta ranjang berukuran King Size yang terletak di tengah-tengah kamar terlihat begitu menggoda untuk ditiduri.
Tubuh Luna yang memang terasa begitu nyeri membuat Luna ingin segera melompat ke atas ranjang dan meringkuk di balik selimut hingga pagi menjelang. Namun, Luna sadar jika hal itu tidak bisa dilakukannya sekarang karena Arjuna ada di sekitarnya. Pria itu baru saja menutup pintu dan meminta Luna untuk duduk di salah satu sofa yang terletak tidak jauh dari ranjang.
"Kenapa kita tidak pulang?" tanya Luna.
"Tidak. Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang."
"Kenapa?"
"Lihat wajahmu. Aku tidak ingin Anye banyak bertanya tentang kejadian yang menimpamu." Arjuna duduk di sofa tepat di depan Luna. Kedua mata Arjuna menatap Luna dengan tajam, membuat Luna menunduk karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Arjuna.
"Aku sudah menelepon dokter. Sebentar lagi dokter akan datang untuk merawat luka-lukamu."
Luna mengangguk. "Terima kasih."
"Tidak perlu, aku hanya menjalankan kewajibanku," ujar Arjuna. "Sekarang katakan padaku, Luna, apa maksud ucapan Bimo tadi. Kenapa dia mengucapkan semua itu padaku? Dia menyebutmu pelacur, dan dia bahkan mengatakan kalau dia pernah tidur denganmu."
Luna tidak berani mengangkat wajahnya. Jangankan untuk menatap Arjuna, bernapas saja rasanya sulit sekali sekarang.
"Aku pernah ke Rumah Merah, Lun, dan saat aku tiba di sana untuk bertemu dengan seorang wanita yang kukatakan padamu siang tadi di pantai, pemilik tempat itu menyebut nama yang memang mirip dengan namamu. Wanita yang kucari, wanita berjubah mandi itu bernama Luna, dan dia memiliki tarif paling mahal di sana. 200 juta untuk satu kali kencan."
Luna semakin menunduk mendengar setiap perkataan Arjuna.
"Tatap aku, Lun, dan katakan sesuatu. Aku benar-benar butuh penjelasan."
Luna mengangkat wajahnya perlahan agar dapat menatap Arjuna.
"Jujurlah padaku." Arjuna kembali berkata.
"Juna, wanita berjubah mandi yang saat itu kamu lihat, wanita yang wajahnya penuh luka yang saat itu kamu lihat, wanita itu adalah aku. Aku adalah Luna, si wanita 200 juta, dan saat itu aku baru saja melayani Pak Bimo. Dia membayarku untuk tidur dengannya."
Arjuna mendadak bangkit berdiri. Ia meninju sebuah cermin yang ada di meja rias hingga cermin itu retak, dan punggung tangan Arjuna mengeluarkan darah.
Melihat tangan Arjuna terluka, Luna segera bangkit berdiri dan menghampiri Arjuna. "Tanganmu," desis Luna, sambil menyentuh tangan Arjuna yang berdarah.
Arjuna menepis tangan Luna dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Kamu telah menipuku dan Anyelir. Bagaimana bisa kamu menyembunyikan statusmu dari kami?"
"Juna, maaf, aku--"
"Jika kamu adalah seorang pelacur. Bagaimana caramu meyakinkan aku dan Anyelir bahwa bayi yang kamu kandung adalah bayiku?"
Bersambung.
__ADS_1