
Anyelir mengamuk saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri keberadaan Rayan dan Wisnu yang sedang berdiri di dekat meja bar dengan dikelilingi oleh beberapa wanita berpakaian seksi.
Ia bahkan meneriaki Wisnu berkali-kali untuk bertanya di mana keberadaan Arjuna. Namun, Wisnu yang memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan Anyelir membuat wanita itu semakin marah. Ia mendorong Wisnu dan Rayan bergantian, agar keduanya bersedia untuk memberitahunya di manakah keberadaan sang suami.
"Tidak mungkin Mas Arjuna tidak berada di sini juga. Baru beberapa menit yang lalu aku meneleponnya dan bertanya di mana dia. Dengan jelas Mas Wisnu berkata bahwa dia tengah menemui klien bersama dengan kalian berdua! Jadi di sini rupanya klien yang dia temui itu!"
Rayan dan Wisnu saling pandang dengan khawatir. Mereka bukannya tidak ingin memberitahu keberadaan Arjuna pada Anyelir, tetapi jika sampai Anyelir tahu di mana Arjuna dan sedang apa, bisa-bisa istri bos mereka menjadi salah paham.
"Sungguh, Bu, kami sama sekali tidak tahu. Kami hanya datang ke sini untuk melakukan kencan buta. Kami berdua kan jomlo, Bu, masa tidak boleh datang ke tempat seperti ini." Rayan mengarang cerita sebisa mungkin agar Anyelir percaya padanya.
Akan tetapi, keberuntungan tampaknya sedang tidak berpihak pada Arjuna. Seorang wanita berpakaian super seksi menghampiri Rayan dan menyerahkan sesuatu ke tangan pria itu. "Berikan pada bos Anda, Pak, barangkali dia membutuhkan ini. Terkadang beberapa pelanggan sering lupa membawanya. Kan berbahaya, kalau rekan kami sampai hamil, bagaimana?" ujar wanita itu, kemudian berbalik pergi meninggalkan Rayan dan Wisnu yang seketika wajah keduanya menjadi sepucat mayat.
Setelah kepergian wanita seksi itu, Anyelir segera merebut bungkusan kecil yang ada di tangan Rayan, lalu segera membukanya. "Ini kond_om!"
"Oh, God, matilah aku." Wisnu mengeluh.
Detik berikutnya Anyelir menarik
kerah kemeja Wisnu dan berkata dengan penuh amarah, "Katakan padaku. Kuberi kesempatan sekali lagi atau kalian berdua akan aku pecat. Kalian berdua tahu kalau aku bisa melakukan hal itu pada kalian, bukan?"
Wisnu mengangguk cepat. "Baiklah, baiklah, Bu, tapi tolong jangan katakan pada Pak Juna bahwa aku yang memberitahu Anda." Wisnu menyerah, ia tidak ingin sampai dipecat hanya karena menutupi keberadaan Arjuna.
Anyelir melepas cengkeramannya pada kerah kemeja Wisnu. "Ya, aku tidak akan mengatakannya."
Wisnu mendekat ke Anyelir, lalu membisikan sesuatu di telinga wanita itu. Anyelir mengangguk, kemudian ia menatap tajam ke Rayan yang sepertinya hendak menghentikan dirinya agar tidak menghampiri Arjuna.
"Jangan halangi aku, Rayan. Kalian berdua menjijikan sekali. Bagaimana bisa kalian membiarkan suamiku meniduri seorang pelacur. Sialan kalian!" omel Anyelir, kemudian ia segera berlalu dari hadapan Rayan dan Wisnu.
***
__ADS_1
Di dalam kamar, Arjuna terlihat gelisah. Ia beberapa kali mengecek ke lubang intip yang ada di pintu kamarnya untuk memastikan apakah wanita yang ditunggunya telah tiba atau belum. Namun, ia lagi-lagi harus menelan rasa kecewa ketika tidak ada siapa pun yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Arjuna yang sejak tadi duduk di sofa kemudian memutuskan untuk berbaring di atas ranjang. Ia sedikit mengantuk karena kelelahan bekerja seharian.
Baru saja ia membaringkan tubuhnya, pintu tiba-tiba terbuka. Arjuna segera mengambil posisi duduk, bibirnya menyunggingkan senyuman dan ia pun berkata, "Aku sejak tadi menunggu Anda--"
"Ya, dan aku sejak tadi mencarimu, Mas Arjuna!" Anyelir memotong ucapan Arjuna, membuat pria itu terkejut setengah mati.
"Anye," gumam Arjuna.
"Ya, ini aku, Mas! Teganya kamu melakukan hal ini di belakangku." Anyelir mulai menangis. Ia tidak menyangka jika sang suami tega mengkhianatinya. "Seharusnya katakan padaku kalau kamu sudah tidak mencintaiku. Aku bisa mundur dari pernikahan kita. Bukan begini caranya, Mas."
Arjuna menghampiri Anyelir. "Anye, dengarkan aku. Semua ini tidak seperti yang terlihat. Aku hanya--"
"Hanya apa? Apalagi memangnya yang dilakukan seorang pria di tempat pelacuran, di dalam sebuah kamar VVIP, dan dengan sebungkus kond_om!"
"Aku tidak membawa kond_om." Arjuna mengibaskan tangan di depan Anyelir, ia memang tidak membawa alat pengaman itu, lagi pula untuk apa? Toh kedatangannya kemari bukan untuk bercinta. Ia hanya penasaran dan merasa bersalah pada keadaan wanita yang terluka beberapa hari lalu.
Arjuna menatap bungkusan yang sekarang tergeletak di lantai tepat di samping kakinya. Ia meringis karena ternyata apa yang baru saja dilempar oleh Anyelir ke wajahnya adalah sebuah pengaman.
"Nye, mereka semua salah paham atas niatku datang ke sini. Itulah sebabnya mereka mengirimiku kond_om. Aku mohon percayalah padaku. Aku tidak mungkin mengkhianatimu!"
Anyelir mengusap air matanya. Ia sama sekali tidak percaya pada ucapan Arjuna. "Bersenang-senanglah."
***
Keesokan harinya, Luna bergegas menyambangi kediaman Anyelir setelah ia mendapat panggilan telepon dari Arjuna yang mengatakan bahwa Anyelir kembali melukai dirinya sendiri. Walaupun kali ini lukanya tidak terlalu parah karena Arjuna datang tepat waktu, tetapi tetap saja aksi nekat Anyelir mampu membuat Luna merasa cemas dan tidak habis pikir.
Setelah hampir setengah jam di perjalanan menggunakan taksi akhirnya Luna tiba di kediaman Anyelir. Sekuriti yang berjaga di pagar depan kediaman mewah Anyelir menyambut kedatangan Luna dengan ramah.
__ADS_1
Luna terus melangkah memasuki rumah hingga ia tiba di depan pintu kamar Anyelir yang terbuka lebar. Namun, Luna tidak asal masuk ke dalam kamar bosnya itu, karena ia dapat mendengar perdebatan sengit dari dalam kamar.
Luna mengelus dada. "Tidak diragukan lagi, mereka pasti bertengkar karena kejadian semalam," gumam Luna, kemudian ia mengatur napas lalu mengetuk daun pintu agar Arjuna dan Anyelir menghentikan perdebatan mereka.
Sesuai harapan Luna, suara cempreng Anyelir yang mengomel tanpa henti tiba-tiba saja tidak terdengar lagi.
"Ini aku, Bu." Luna berteriak dari luar pintu.
"Masuklah, Lun." Anyelir balas berteriak.
Luna menguatkan diri untuk dapat menerima apa pun yang akan terjadi di dalam sebelum ia mulai melangkah memasuki kamar megah tersebut.
Begitu tiba di dalam kamar, Luna melihat Arjuna yang sedang duduk di kursi berlengan yang letaknya tepat di samping ranjang. Wajah pria itu terlihat frustrasi, dan hal itu mampu membuat Luna menaruh iba pada Arjuna. Sungguh tidak masuk akal.
Sementara Anyelir berbaring di atas ranjang dengan sebelah tangan berbalut perban.
"Bu, apa yang Anda lakukan, kenapa Anda kembali melukai diri Anda. Apa untungnya coba, Bu?" Luna berkata sembari duduk di tepi ranjang dan menatap kedua pergelangan tangan Anyelir yang kini terbungkus oleh perban.
"Terima kasih karena telah kasihan padaku, Lun, tapi itu tidak penting sekarang. Bagaimana keputusanmu tentang permintaanku kemarin?" Anyelir bertanya tanpa berbasa-basi lagi. "Jika kamu menolak, maka aku akan memilih untuk bercerai dari suamiku."
Luna terkejut. Ia tidak menyangka jika Anyelir begitu sangat keras kepala. "Aku setuju, Bu, ini semua demi dirimu."
Anyelir tersenyum puas, sementara Arjuna menatap Luna dengan tatapan tajam sekarang, yang dibalas Luna dengan tatapan tidak kalah tajamnya.
"Tapi aku punya satu syarat, Bu, Pak," ucap Luna.
"Syarat?" Anyelir mengernyitkan dahi
Luna mengangguk. "Aku tidak ingin melahirkan bayi yang status orangtuanya tidak jelas. Aku tidak ingin bayiku lahir karena perbuatan haram yang kulakukan."
__ADS_1
"Katakan saja langsung apa yang kamu inginkan. Tidak usah berbelit-belit." Kali ini Arjuna yang bersuara.
Luna menegakkan duduknya, kemudian ia menatap Arjuna lekat-lekat langsung ke dalam mata pria itu. "Nikahi aku."