LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
RINDU


__ADS_3

Maria memasuki kamar dan menghampiri Anyelir yang berdiri di depan cermin. Sebisa mungkin Anyelir membuat tubuhnya tak terlihat dan tertutupi oleh si pelayan yang masih berdiri di depannya.


Maria semakin mendekat, sementara Anyelir masih berusaha merapatkan ikatan bantal di tubuhnya.


"Ma, kapan datang?"


Suara Arjuna tiba-tiba terdengar dari ambang pintu kamar, membuat langkah Maria terhenti dan segera menoleh ke Arjuna sambil tersenyum. Sementara itu Anyelir menghela napas lega sambil meminta pelayan mempercepat pekerjaannya.


"Baru saja, Sayang. Mama mampir setelah pergi arisan dengan Sabrina." Maria menjawab.


"Oh begitu." Arjuna menanggapi singkat penjelasan Maria, lalu ia masuk ke kamar. "Nye, sedang apa?" tanya Arjuna yang masih belum melihat tubuh sang istri dengan jelas.


"Sebentar, Mas, Ma, aku sedang memperbaiki bajuku. Sletingnya macet," ujar Anyelir.


Beberapa saat kemudian Anyelir meminta pelayan untuk pergi dari kamarnya, dan di saat itulah Arjuna dan Maria melihat Anyelir yang tampil anggun dengan dress berukuran sedikit besar dan perut yang agak membesar juga.


"Hai, Ma." Anyelir menghampiri Maria dan segera menyalami tangan Maria.


Maria tersenyum bahagia saat melihat perut Anyelir yang mulai membuncit, tetapi tidak dengan Arjuna. Pria itu terlihat bingung kenapa tiba- tiba perut Anyelir menjadi besar.


"Mama membawakan kamu cake, buah-buahan, dan makanan lainnya di bawah. Ayo, lihat." Maria menuntun Anyelir menuruni tangga menuju ruang keluarga.


Arjuna mengekor langkah keduanya sambil sibuk memperhatikan perut Anyelir. Anyelir yang merasa sedang diperhatikan oleh sang suami segera mengedipkan mata dan memberi isyarat agar Arjuna bersikap biasa saja. Arjuna mengerti dan menuruti apa yang diinginkan Anyelir.


Beberapa saat kemudian mereka bertiga tiba di ruang keluarga di mana Sabrina sedang duduk dan menunggu Maria dengan sabar.


"Hai, Nye, hai, Mas." Sabrina berdiri dan menyapa Arjuna dan Anyelir.


"Hai, Rin, duduklah," ujar Anyelir, lalu ia pun duduk di sofa bersebelahan dengan Maria.


Setelahnya, mereka semua sibuk mengobrol tentang berbagai macam hal seputar kehamilan. Dan selama pertemuan berlangsung, Maria bersikap sangat baik pada Anyelir, hal yang dulu tidak pernah Maria lakukan.


"Jadi, waktu mama dulu hamil Arjuna dan Siska juga begitu, Nye. Waktu awal kehamilan, mama tidak bisa makan apa pun karena selalu ingin muntah, tapi saat trimester kedua, mama jadi rakus sekali. Papa Arjuna sampai bingung karena mama lihat apa saja maunya dibeli. Dan mama juga mendadak suka main hujan-hujanan. Setiap hujan turun, mama akan berlari ke teras dan mandi hujan. Papa dan pelayan sampai bingung dan memaksa mama masuk ke rumah, tapi mama menolak." Maria tertawa. "Ibu hamil memang sering melakukan hal-hal tak terduga dan konyol."


Anyelir kemudian menimpali ucapan Maria dengan Antusias. "Benar, Ma? Anye juga begitu sejak memasuki trimester kedua kehamilan. Anye jadi suka makan apa saja, terutama buah semangka dan juga jadi suka main hujan."


Arjuna menaikan sebelah alisnya begitu mendengar ucapan Anyelir, karena tidak pernah sekali pun Arjuna melihat Anyelir bermain hujan dan makan semangka. Semua hanya karangan Anyelir semata, sama seperti perut istrinya itu yang mendadak buncit tanpa sebab.


"Benarkah, semangka itu buah kesukaan Arjuna. Pasti bayi kalian nanti mirip dengan Arjuna. Oh, ya, Nye, mama sudah mendaftarkanmu untuk ikut kelas ibu hamil. Itulah sebabnya mama mampir ke sini, karena mama mau mengantarkan kartu anggota ini untukmu." Maria mengeluarkan kartu berwarna merah muda dari dalam tas tangannya dan menyerahkan kartu itu ke Anyelir.


Anyelir menerima kartu dari Maria dengan tangan gemetar. "Ma, Anye bisa daftar sendiri dan--"


"Kelas ibu hamil ini milik teman Sabrina. Akan lebih mudah mengawasimu di sana karena Sabrina juga sering berada di sana. Iya kan, Rin?" tanya Maria pada Sabrina.


"Iya, Tante."


"Nah kalau begitu mama pamit dulu. Ingat, ya, makanannya dihabiskan, dan jangan lupa besok kelas hari pertama. Pastikan kamu dan Arjuna hadir."


"Aku juga, Ma? Yang hamil kan Anye, kenapa aku yang ikut kelas?" Arjuna menggeleng. Ia tidak mau diikutsertakan pada kelas konyol yang dihadiri oleh istri konyol macam Anyelir.


"Ck, kamu itu kan suaminya. Kamu harus temani istrimu dong. Awas memang kalau besok kamu tidak hadir, aku akan meminta papamu untuk menutup kantor kalau sampai kamu tidak datang," ancam Maria sebelum wanita itu keluar dari rumah Arjuna.


Setelah Maria dan Sabrina pergi, Arjuna segera meremas buncit pada perut Anyelir. "Apa-apaan ini?"


Anyelir memukul tangan Arjuna yang meremas bantal di perutnya. "Ish, Mas, jangan kasar, aku kan sedang hamil." Anyelir nyengir, lalu duduk di sofa sambil menatap semua makanan yang memenuhi meja tamu.


"Bantal itu ... kenapa kamu mengikat bantal itu di perutmu? Aneh sekali," komentar Arjuna.


Anyelir menatap Arjuna sambil menggelengkan kepala. "Aku ini sedang hamil, Mas, tidak mungkin kan kalau perutku rata setelah usia kehamilanku memasuki tiga bulan, nanti mama bisa curiga. Aku memperhatikan Luna setiap kali aku datang ke apartemen, dan aku melihat ukuran perutnya sudah sebesar ini."


Mendengar nama Luna disebut, darah Arjuna berdesir dan detak jantungnya menjadi tidak normal. Sudah lama ia tidak menjenguk Luna dan ia sangat merindukan wanita itu.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Arjuna.


"Ya, mas, benar. Perut Luna sudah sebesar ini sekarang, dan apa kamu tahu, Mas, kalau Luna mempunyai kebiasaan yang sama seperti yang mama katakan tadi. Luna sangat suka makan semangka sekarang, padahal selama dia bekerja denganku setahuku dia tidak suka buah itu karena terlalu berair, dan Luna juga selalu main hujan-hujanan setiap hujan turun. Pelayan yang bekerja di sana bilang padaku, setiap hujan turun Luna pasti akan berlari ke balkon dan membiarkan tubuhnya basah kuyup karena hujan." Anyelir kemudian bangkit berdiri. "Aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan semua makanan itu ke apartemen Luna, Mas, tidak mungkin aku yang makan, nanti berat badanku bisa naik."


"Terserah kamu saja," ujar Arjuna, lalu Arjuna menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil mengusap wajah dengan kasar. "Aku merindukanmu, Lun."


***


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Anyelir sudah sibuk melakukan panggilan video dengan Luna. Ia bahkan belum turun dari ranjang, begitu juga dengan Arjuna yang masih berbaring di sebelah Anyelir.


"Lun, bersiaplah jam sembilan, aku akan menjemputmu di apartemen. Ah, tidak-tidak, kita tidak boleh berangkat bersama. Hem, biar sopir yang menjemputmu setelah aku tiba di kelas. Nanti kita atur supaya terlihat kita tidak sengaja bertemu di sana."


"Bukankah sudah kukatakan kemarin kalau aku tidak ingin ikut kelas, Bu, ah maksudku, Anye." Luna menjawab di seberang panggilan, suaranya begitu serak, menandakan bahwa wanita itu baru saja terbangun.


Arjuna yang mendengar suara Luna langsung membuka matanya lebar-lebar dan ikut mendengarkan obrolan Luna dan Anyelir. Beruntung lampu kamar dimatikan, sehingga Anyelir tidak tahu bahwa Arjuna telah terbangun. Hanya lampu tidur di samping Anyelir yang dinyalakan agar Luna dapat melihat wajah Anyelir dalam panggilan video.


"Ck, Lun apa kamu tahu kalau mertuaku mendaftarkanku ke kelas ibu hamil. Aku rasa aku tidak pantas untuk itu. kamulah yang pantas karena kamu yang sedang hamil. Itulah sebabnya aku mendaftarkanmu di kelas yang sama melalui internet kemarin dan pagi nanti adalah hari pertamamu."


"Ah, baiklah, Nye, terserah padamu saja." Luna menguap dan kemudian merintih. Suara rintihannya terdengar jelas di ponsel Anyelir, membuat tubuh Arjuna menegang karena khawatir.


"Lun, ada apa?" tanya Anyelir, yang terlihat khawatir.


"Aku rasa barusan bayinya menendang," pekik Luna. Luna terlihat sangat bahagia dan di saat yang bersamaan wanita itu menangis.


Melihat Luna menangis, Anyelir pun ikut menangis. "Sungguh si bayi menendang?"


Luna mengangguk. "Sungguh. Aku rasa dia calon pemain sepak bola, Nye, tendangannya lumayan membuatku kaget."


"Ya, Tuhan, aku iri sekali padamu, Lun, aku tidak akan pernah bisa merasakan hal yang kamu rasakan sekarang. Kamu beruntung sekali," ujar Anyelir.


"Jangan bicara begitu. Maaf kalau aku membuatmu sedih." Luna mengusap layar ponselnya, seakan ia bisa menghapus air mata Anyelir dari layar benda pipih tersebut.


"Tidak. Aku ini bahagia, bukannya sedih. Justru kamulah yang terlihat menyedihkan. Kamu hamil dan merasakan semuanya seorang diri di sana. Maafkan aku karena membuat kondisimu menjadi seperti ini. Nanti saat kamu telah melahirkan, aku sungguh berharap agar kamu segera mendapatkan jodoh yang baik, dan di kehamilanmu berikutnya kamu akan merasakan semua sensasi luar biasa di perutmu itu dengan didampingi oleh suami yang sempurna." Anyelir berkata dengan sungguh-sungguh.


Mendengar apa yang Luna katakan, membuat air mata Arjuna menetes. "Aku merindukannya."


***


Luna bangkit dari tempat tidur dengan malas tepat jam depalan. Ia bahkan mandi dengan enggan dan berpakaian seadanya. Jika bukan karena Anyelir memaksa, ia tidak mungkin bersedia meninggalkan tempat tidur hanya untuk pergi ke kelas ibu hamil.


Tok, tok, tok!


Pintu kamarnya diketuk dan sesaat kemudian seorang pelayanan membuka pintu dan tersenyum padanya.


"Selamat pagi, Nona, jemputan untuk Anda sudah datang," ujar pelayan itu.


Luna dengan cepat mengikat rambutnya asal-asalan, lalu segera keluar dari dalam kamarnya, menyeberangi tuang tamu dan keluar dari apartemen.


Sebuah sedan mewah menyambut kedatangan Luna di basemen lengkap dengan sopir yang membukakan pintu untuknya dan sedan itu segera meluncur menuju tempat yang telah ditentukan oleh Anyelir.


***


Di dalam aula berukuran besar yang setiap bagian dindingnya dipenuhi cermin terlihat puluhan pasang suami istri yang sedang asyik mengobrol.


Anyelir dan Arjuna menatap kerumunan di sekitar mereka dan mulai membaca jadwal latihan hari ini.


"Kelompok kita adalah kelompok baru, Mas, jadi hari ini kita tidak akan latihan," ujar Anyelir, sesaat setelah ia membaca jadwal yang ada di tangannya.


"Lalu, untuk apa kita ke sini kalau bukan untuk latihan?" tanya Arjuna dengan malas.


"Hari ini khusus untuk perkenalan dan sedikit edukasi tentang kehamilan. Lihatlah, di sini tertulis jika suami wajib mendampingi istri. Tidak rugi aku membawamu." Anyelir berkomentar sambil mencubit pipi Arjuna.

__ADS_1


Arjuna diam saja. Ia merasa bosan setengah mati sekarang, apalagi sejak pagi tadi moodnya telah rusak karena suara Luna yang didengarnya dari ponsel Anyelir.


Luna tiba setelah beberapa saat di gedung tempat latihan yang Anyelir tunjukan, dan seorang petugas menyambut Luna dengan ramah lalu mengantarkan Luna ke aula yang telah di siapkan.


"Untuk hari ini kita belum memulai senamnya, Bu, hari ini adalah hari khusus perkenalan. Dan semua peserta wajib didampingi oleh suaminya. Apakah suami ibu ikut kemari?" tanya petugas pelatihan sambil terus melangkah menuju aula utama.


Luna menggeleng. "Tidak, suami saya tidak ikut."


Si petugas menatap Luna sekilas dan kembali melempar senyum hangat pun ramah. "Tidak apa-apa, Bu, lain kali saja kita berkenalan dengan suami ibu."


Luna menghela napas lalu memasang wajah sedih yang meyakinkan. "Suami saya tidak akan pernah bisa datang?"


"Oh, ya, kenapa, Bu?"


"Dia sudah meninggal dunia," ujar Luna.


Si petugas menghentikan langkah, lalu menatap Luna dengan tatapan iba. "Ya, Tuhan, saya minta maaf, Bu, saya sama sekali tidak tahu."


"Tidak masalah. Saya sudah ikhlas dan semoga dia tenang di alam sana." Luna menutulkan sapu tangannya ke sudut mata, seolah sedang mengusap air matanya, padahal tidak.


***


Aula utama yang berisik seketika menjadi sunyi ketika seorang petugas bernama Kiren memasuki ruangan bersama dengan seorang wanita cantik yang berpenampilan berantakan.


Walau berantakan tetapi wanita itu terlihat bersinar, rambutnya yang diikat asal-asalan, wajahnya yang tanpa make up, dan kostum aneh yang menempel di tubuh rampingnya membuat wanita itu terlihat berbeda dari ibu hamil yang ada di dalam aula utama. Ya, wanita itu adalah Luna.


Luna terlihat biasa saja, tidak canggung dan malu meskipun dapat dikatakan jika dirinya salah kostum. Jika peserta lain menggunakan kaos senam yang ketat dan celana leging sepanjang lutut, Luna justru menggunakan sweater berlengan panjang dan celana joger sepanjang mata kaki.


Dada Arjuna berdebar tak beraturan semenjak kedua matanya menyorot Luna yang melangkah tepat di belakang Kiren.


"Luna!" Anyelir berteriak sambil melambaikan tangan.


Luna yang melihat Anyelir langsung menghampiri wanita itu dan mereka berpelukan. Meskipun tengah berpelukan dengan Anyelir, Luna berusaha untuk tidak menyapa Arjuna, padahal ia melihat dengan jelas bahwa pria itu berdiri di samping Anyelir dan terus menatapnya dengan tatapan tajam.


"Hari ini kita tidak senam, kita hanya melakukan perkenalan. Ah, buang-buang waktu sekali." Anyelir memberitahu Luna.


Luna mengangguk. "Ya, aku tahu. Petugas yang tadi sudah memberitahuku."


Anyelir kemudian memindai penampilan Luna dari ujung rambut hingga kaki. "Seharusnya kamu memakai pakaian senam, bukan sweater, Lun."


"Aku tidak punya pakaian senam."


"Bagaimana kalau kita beli nanti setelah pulang dari sini." Anyelir memberi saran.


"Terserah saja. Oh, ya, bagaimana caramu membuat perut sebuncit itu?" tanya Luna, sambil menunjuk perut Anyelir.


Anyelir terkekeh. " Dengan bantal."


Luna tertawa. "Kreatif sekali."


Arjuna berdeham berulang kali, berharap agar Luna mengajaknya bicara, atau paling tidak menatapnya, tetapi Luna tidak kunjung melakukan hal itu. Arjuna tahu, Luna pasti masih marah padanya.


"Oh, ya, Lun, semua yang hadir di sini harus membawa serta suami mereka. Aku tidak tahu peraturan itu, jika aku tahu aku tidak akan mendaftarkanmu di sini." Anyelir berbicara dengan suara pelan.


"Tidak masalah, aku juga sudah memberitahu petugas tadi bahwa suamiku tidak akan pernah bisa datang."


"Oh, ya, lalu apa katanya?"


"Tidak apa-apa. Kau tetap boleh itu senam tanpa suami!" Luna menekan kata suami, meskipun ia tidak menatap Arjuna, tetapi Arjuna dan Anyelir paham bahwa Luna sedang kesal sekarang.


"Apa kamu mengatakan kalau suamimu bekerja di tempat yang jauh?" tanya Anyelir lagi.

__ADS_1


Luna menggeleng. "Tidak. Aku hanya mengatakan bahwa suamiku sudah mati dan semoga suamiku tenang di alam sana."


Bersambung.


__ADS_2