
Anyelir tiba di rumah sakit beberapa saat kemudian. Ia memasuki ruangan tempat Luna dirawat dengan tergesa-gesa. Wajah cantiknya terlihat khawatir dan marah sekaligus. Anyelir tidak habis pikir, bagaimana bisa Luna membahayakan bayinya hingga hampir mengalami keguguran.
"Nye." Arjuna yang sejak tadi duduk di tepi ranjang Luna segera bangkit berdiri begitu Anyelir memasuki ruangan.
Akan tetapi, Anyelir tidak menghiraukan sapaan Arjuna. Ia langsung berhadapan dengan Luna dan menatap Luna dengan kesal. "Apa yang terjadi? Bagaimana bisa, Lun? Seharusnya kamu lebih berhati-hati lagi. Kalau sampai kamu keguguran bagaimana? Aku bisa kehilangan bayiku!" Anyelir mengomel, membuat perawat yang sedang ada di ruangan itu kebingungan atas pernyataan yang keluar dari bibir Anyelir.
"Nye, apa-apaan kamu ini? Bukannya menanyakan bagaimana keadaan Luna, kamu malah mengomel tidak jelas. Andai tahu kamu akan bereaksi seperti ini, aku tidak akan mengabarimu." Arjuna terlihat kesal atas sikap Anyelir yang tidak berempati sama sekali pada Luna.
"Ya jelas dong, Mas, kalau aku mengomel. Kita sudah beri Luna fasilitas yang mewah, mulai dari apartemen, pelayan, bahkan sopir. Tugas Luna cuma menjaga agar kandungannya tetap sehat dan aman, tapi lihatlah ... entah apa yang dia lakukan sampai-sampai mengalami pendarahan dan hampir saja keguguran." Anyelir tidak mau kalah.
"Kamu keterlaluan, Nye." Arjuna melempar tatapan kesal ke Anyelir yang balas menatapnya dengan kesal juga.
"Ehem, Bapak, Ibu, mohon jangan berdebat di depan pasien. Pasien bisa mengalami stress dan akan memengaruhi kondisi kesehatannya. Lagi pula, Bu Luna kan sedang Bedrest, suasana yang tenang sangat Bu Luna butuhkan, Pak, Bu," ujar perawat yang masih ada di ruangan itu.
"Ah, iya, maafkan kami, Sus," ujar Arjuna, menanggapi ucapan suster tersebut.
Sang suster hanya tersenyum ramah, lalu segera keluar dari ruangan.
"Nah, jadi katakan padaku apa yang terjadi sampai-sampai kamu pendarahan?" tanya Anyelir lagi, ia terlihat masih belum puas karena belum mendapatkan jawaban langsung dari Luna.
"Sudahlah, Nye, jangan terus-terusan dibahas." Arjuna mengambil segelas susu dan memberikannya ke Luna. "Sekarang kita pikirkan saja bagaimana agar Luna tidak mengalami hal seperti ini lagi," ujar Arjuna.
Anyelir mendengkus kesal. "Baiklah, akan aku pikirkan apa yang harus kita lakukan. Mungkin kita harus menambah jumlah pelayanan di apartemen Luna atau--"
"Tidak, Nye, bukan cara seperti itu yang aku inginkan. Aku sudah memikirkannya sejak tadi dan aku sudah mengambil keputusan juga." Arjuna memotong ucapan Anyelir.
Anyelir menyipitkan mata. Entah kenapa ia merasa tidak enak hati kali ini. Ia yakin jika Arjuna pasti memikirkan sesuatu yang bukan-bukan.
"Memangnya apa yang sudah Mas putuskan?" tanya Anyelir, penasaran.
Arjuna diam sejenak sambil menatap Anyelir lekat-lekat. Ia tahu jika Anyelir pasti tidak akan setuju akan keputusannya, tetapi semua demi Luna. Ia tidak ingin Luna tinggal terpisah dengannya sehingga sulit baginya untuk menjaga Luna yang juga merupakan istrinya, apalagi di saat kondisi Luna sedang sakit seperti sekarang ini.
"Aku ingin Luna tinggal bersama dengan kita." Arjuna mengembuskan napas lega, akhirnya ia mengatakan apa yang sejak tadi ingin ia katakan.
Dan seperti dugaan Arjuna, Anyelir tidak setuju.
__ADS_1
"Tidak! Mana bisa Luna tinggal dengan kita, Mas. Bagaimana kalau orang tuamu datang ke rumah. Apa yang harus aku katakan pada mereka?"
"Aku bisa bilang kalau aku menumpang padamu karena suamiku sedang bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis." Luna menimpali, entah apa yang merasuki Luna hingga ia berani mengatakan semua itu pada Anyelir, yang berarti ia sangat setuju dengan usul dari Arjuna.
Arjuna tersenyum mendengar ucapan Luna.
Anyelir menggeleng. "Memangnya mama mertuaku akan percaya begitu saja pada alasan itu. Alasan itu terlalu dangkal dan tidak masuk akal. Mana ada seorang wanita menumpang di rumah temannya hanya karena ditinggal suami bertugas ke luar negeri." Anyelir mengomel. "Lagi pula, mama pasti akan bertanya tentang suamimu. Apa yang akan kamu katakan kalau mama bertanya apa pekerjaan suamimu? Mama mertuaku itu sangat mendetail jika mencari tahu sesuatu."
Luna mengangkat kedua bahunya. "Aku akan bilang kalau suamiku bekerja sebagai penjual sabu, dengan begitu mama Arjuna tidak akan banyak bertanya."
Arjuna tertawa terbahak-bahak kali ini, tetapi tidak dengan Anyelir yang terlihat kesal sekali karena sikap Luna dan Arjuna yang tidak serius menghadapi masalah kali ini.
"Luar biasa, Lun, bagaimana bisa kamu memikirkan jawaban separah itu?!" tanya Arjuna.
"Refleks," jawab Luna sambil tersipu.
"Kalian berdua ini sangat kelewatan!" cemooh Anyelir.
***
Luna memasuki kediaman Anyelir dan Arjuna sembari dipapah oleh Manda. Senyum semringah terukir di wajah Luna saat ia melihat Kevin yang tengah bermain di ruang tamu. Melihat senyum itu, Arjuna lantas berkata, "Jangan berpikir untuk menggendongnya. Tubuhmu belum cukup kuat untuk menggendong Kevin."
Luna melirik Arjuna. Ia bingung karena Arjuna mengetahui apa keinginannya saat ini. "Kamu bisa menebak isi kepalaku."
Arjuna hanya tersenyum, lalu menghampiri Luna. "Mari aku antar ke kamar." Arjuna menyentuh lengan Luna dan mulai menyeberangi ruang tamu menuju lantai atas di mana kamar Luna berada. "Aku akan meminta pelayanan untuk membersihkan dan menyiapkan kamar di bawah agar kamu tidak perlu naik turun tangga lagi."
"Terima kasih. Tapi tidak usah repot-repot. Aku rasa kamarku yang sebelumnya saja sudah cukup bagiku. Aku tidak perlu pidah kamar." Luna menanggapi perkataan Arjuna.
Melihat Arjuna bergandengan dengan Luna menuju kamar, hati Anyelir menjadi panas. Meski begitu ia berusaha agar tetap tenang. Toh, ia memiliki Zion sekarang. Cukup adil jika akhirnya Arjuna bermesraan dengan Luna, toh ia pun kerap melakukannya bersama dengan Zion.
Anyelir mengatur napas kemudian berbalik pergi. Ia tidak ingin melihat Arjuna dan Luna lebih lama lagi. Bisa-bisa dadanya semakin terbakar.
Sementara itu di dalam kamar, Arjuna membaringkan Luna dengan perlahan di atas ranjang, dan kemudian ia memilih untuk duduk di samping Luna dan menatap Luna dengan tajam.
"Ada yang ingin kubicarakan padamu," ujar Arjuna setelah beberapa saat.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku adalah tentang statusku sebagai pelacur? Apa kamu masih marah dan menganggap bahwa aku sengaja menipumu dan Anyelir? Apa kamu masih menganggap bahwa bayi ini bukan anakmu?"
Arjuna menggeleng. "Bukan itu, sungguh. Aku minta maaf jika saat itu reaksiku berlebihan. Aku sungguh terkejut saat itu dan tidak bisa berpikir jernih. Aku minta maaf, Luna, aku menyesal."
Luna menghela napas. "Aku memafkanmu," ujarnya, singkat.
Arjuna membelai wajah Luna dan kembali berkata, "Ini tentang Miss si pemilik Rumah Merah dan juga anak buahnya yang waktu itu kutemui di bar. Aku bertemu dengan pria itu saat terjebak macet tadi, dan dari pembicaraan yang kudengar mereka semua sedang mencari keberadaanmu, itulah sebabnya aku membawamu kemari."
Wajah Luna menengang. "Benarkah?'
Arjuna mengangguk. "Benar, tapi kamu jangan khawatir. Aku akan menjagamu. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Luna."
Luna mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Jika sampai Miss. Rana menemukannya, maka tamatlah riwayatnya.
Melihat wajah Luna yang semakin pucat, Arjuna mendekat, dan mengecup bibir Luna dengan lembut sembari membelai punggung wanita itu.
Luna sendiri tidak berusaha menghindar dari ciuman yang Arjuna berikan. Ia sudah lama merindukan Arjuna, dan ciuman Arjuna yang begitu lembut tidak mungkin ia lewatkan begitu saja. Ia membuka bibir, membiarkan bibir Arjuna menjelajah lebih ke dalam dan melum_at bibirnya hingga terasa kebas.
"Lun," ujar Arjuna di tengah-tengah ciuman mereka.
"Hem, ada apa?" tanya Luna.
Arjuna mengaitkan rambut Luna yang menjuntai di pipi ke belakang telinga Luna, kemudian ia berbisik. "Aku menciummu bukan sebagai pelanggan. Maafkan perkataanku kemarin. Aku menciummu kali ini karena kamu adalah istriku dan aku adalah suamimu." Arjuna kembali mendaratkan bibirnya di bibir Luna.
Luna menjauh sedikit. "Ya, aku mengerti. Cium saja aku, Juna, aku sangat menyukai saat-saat di mana bibirmu menyentuh bibirku."
Mendengar perkataan Luna, ada sesuatu di dalam diri Arjuna yang bangkit dan menegang. "Aku rasa saatnya sungguh tidak tepat," keluh Arjuna.
Luna tertawa ia tahu apa yang dimaksud oleh pria tampan itu. Luna menyentuh sesuatu yang menegang itu. "Aku bisa mengurusnya dengan cara lain."
Arjuna tersenyum miring. "Benarkah."
Luna mengangguk, lalu ia menarik Arjuna agar naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelahnya. "Serahkan saja padaku."
Bersambung.
__ADS_1