
Anyelir meletakan tangannya di pinggang saat melihat Arjuna dan Luna masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan. Wajah Anyelir yang cemberut membuat Luna merasa tidak enak. Ia pun menjauh dari Arjuna yang sejak tadi mengenggam tangannya.
"Dari mana saja kamu, Luna? Mas Juna meneleponku dan bertanya tentang keberadaanmu. Apa kamu berusaha melarikan diri?" tanya Anyelir.
Luna menggeleng. "Tidak, Bu, Aku hanya jalan-jalan sebentar tadi. Maaf karena telah membuat kalian khawatir."
Anyelir diam saja. Ia malah berbalik pergi setelah melempar tatapan sengit ke Luna dan melangkah menuju lantai atas di mana kamarnya dan Arjuna berada.
Luna memandang punggung Anyelir yang bergerak semakin menjauh dan hilang di ujung anak tangga. Melihat sikap Anyelir yang berubah 360 derajat membuat Luna merasa sedih. Ia merasa kehilangan sosok Anyelir yang selama ini menjadi teman baiknya.
"Tante, Luna!" Kevin Junior, putra angkat Arjuna dan Anyelir berlari menghampiri Luna begitu ia melihat Luna tiba di rumah.
Kevin memang memiliki hubungan yang dekat dengan Luna. Walaupun baru mengenal Luna selama kurang lebih tiga bulan, anak laki-laki itu sudah menganggap Luna seperti tantenya sendiri, bukan orang lain.
"Hai, Kevin." Luna menunduk dan merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk menerima pelukan dari Kevin dan menggendong anak kecil itu seperti yang biasa ia lakukan. "Apa Kevin sudah makan?" tanya Luna, setelah Kevin berada di gendongannya.
Kevin menggeleng. "Kevin maunya makan sama Tante Luna."
Luna tersenyum dan mengecup pipi Kevin. "Oke, kalau begitu ayo kita makan yang banyak!" Luna mencubit pipi Kevin dengan gemas, dan menggelitik perut Kevin membuat Kevin tertawa karena merasa geli.
"Berikan dia padaku, Luna, kamu tidak boleh menggendongnya. Ingat, kamu sedang hamil." Arjuna mengulurkan tangan, meminta Kevin dari gendongan Luna.
Luna memberikan Kevin pada Arjuna, lalu keduanya melangkah menuju dapur bersama-sama. Anyelir yang memperhatikan dari lantai atas bagaimana kebersamaan antara suaminya dan juga Luna tentu saja merasa sedikit kesal. Tadinya ia berharap Arjuna akan menyusulnya ke atas, karena memang biasanya seperti itu. Sepulang kerja Arjuna akan memeluknya dan kemudian mereka akan menghabiskan banyak waktu di dalam kamar.
Merasa tidak dihiraukan, Anyelir pun kembali turun ke bawah dan segera menuju ke ruang makan.
"Ehem." Anyelir berdeham, lalu bergabung dengan Luna dan Arjuna yang telah duduk di hadapan meja makan.
"Bu, Anye, Anda mau makan apa, biar aku ambilkan?" tanya Luna, yang segera berdiri begitu melihat kedatangan Anyelir.
Anyelir menggeleng. "Tidak, Luna, duduk saja dan makanlah."
Luna mengangguk, lalu segera menyiapkan sereal untuk Kevin, sementara Arjuna mengupas buah untuk Luna.
"Oh, ya, Mas, tadi ada yang mengantarkan undangan ke sini. Aku letakan di meja kerjamu," ujar Anyelir.
__ADS_1
"Benarkah? Pasti dari si pembuat onar itu." Arjuna tersenyum.
Anyelir memutar bola matanya dengan malas. "Ya, memang dari dia. Temanmu yang suka bergonta-ganti wanita itu. Baru saja beberapa bulan yang lalu dia menikah, sekarang sudah bercerai, dan kudengar sekarang dia akan menikah lagi. Parah sekali dia."
"Ya, sejak masih kuliah di luar negeri bersama, dia memang selalu memecahkan rekor dalam hal merayu wanita. Bayangkan saja, Nye, dia bisa berpacaran dengan lima gadis sekaligus." Arjuna tertawa, tatapannya menerawang, membayangkan kembali masa-masa saat dirinya masih menjadi mahasiswa di Universitas ternama di luar negeri.
"Dan dia bangga akan hal itu. Menjijikan sekali dia." Komentar Anyelir sambil bergidik. "Itulah sebabnya aku tidak terlalu suka jika kamu bergaul dengannya, dia itu Casanova sejati. Aku takut kamu tertular sikap buruknya yang menjijikan itu. Sebentar tidur dengan ini, sebentar tidur dengan itu. Pria seperti hanya akan menularkan penyakit kelamin ke pasangannya selanjutnya."
"Jangan bicara begitu, Nye, ucapan adalah doa. Jadi ucapkan yang baik-baik saja untuknya." Arjuna menanggapi ocehan Anyelir sambil menyerahkan sebuah apel yang telah dikupasnya untuk Luna.
"Terima kasih," ujar Luna.
"Pokoknya kamu jangan sampai menjadi seperti dia, Mas. Aku tidak mau." Anyelir masih belum mau berhenti membicarakan teman Arjuna.
"Tidak mungkin aku begitu. Aku bahagia dengan hidup yang kujalani. Aku merasa semuanya sudah cukup, Nye, ada kamu, Kevin sehat, apalagi sekarang Luna sedang mengandung, tidak ada yang lebih kuinginkan sekarang ini selain terus bersama dengan semua orang yang kusayang."
"Termasuk Luna?" tanya Anyelir dengan tatapan menyelidik.
Arjuna melempar tatapan sendunya ke Luna, kemudian ia berkata, "Ya, termasuk Luna."
Luna berdiri di belakang Anyelir dan Arjuna dengan dada yang berdebar. Ia merasa begitu gugup saat ini, karena sebelumnya Luna sama sekali tidak pernah menghadiri pesta yang diadakan oleh orang-orang kalangan menangah atas.
Saat ini ketiganya tengah berada di sebuah pesta yang diadakan oleh teman Arjuna. Tadinya Luna menolak untuk ikut, tetapi Arjuna terus memaksa karena pria itu tidak mau meninggalkan Luna sendirian di rumah walaupum terdapat bayak pelayan di rumah itu.
"Lun, jangan berdiri terlalu di belakang kami. Kamu terlihat seperti pelayan. Kemarilah." Anyelir menarik lengan Luna agar Luna berdiri tepat di sampingnya.
Luna menurut, ia segera maju selangkah dan berdiri di samping Anyelir.
Arjuna melempar senyum manisnya ke Luna, lalu berkata, "Jangan gugup, kamu terlihat sangat sempurna," ujar Arjuna sambil mengacungkan ibu jarinya ke Luna, membuat Luna tersenyum dan seketika kedua pipinya merona merah.
"Dan kamu, Mas, jangan terus menatap Luna. Bisa-bisa orang lain akan curiga, atau lebih buruk lagi mereka akan mengataimu mata keranjang." Anyelir menutupi pandangan Arjuna agar suaminya itu tidak terus menatap Luna.
Luna memang terlihat cantik malam ini. Wanita itu begitu anggun dengan gaun malam berwarna lilac dan rambut yang dibiarkan tergerai indah. Pria mana pun yang memandang Luna sudah pasti akan langsung jatuh hati pada wanita itu.
Arjuna mencubit hidung Anyelir. "Kamu cemburu? Bukankah kamu sendiri yang menjodohkan suamimu yang tampan ini dengannya."
__ADS_1
"Ish, Mas, jangan membicarakan hal itu di sini. Kalau ada yang dengar bagaimana." Anyelir menutup mulut Arjuna dengan tangannya.
"Aduh, aduh, pasangan yang serasi ini selalu saja membuat kami iri." Beberapa orang wanita berpenampilan elegan menghampiri Anyelir dan Arjuna.
"Hai, Anita. Lama tidak bertemu." Anyelir berjabat tangan dengan wanita yang baru saja menghampirinya, kemudian keduanya berpelukan.
Anita yang merupakan teman lama Anyelir dan Arjuna tertawa, ia membalas rangkulan dari Anyelir lalu mulai asyik mengobrol dengan Anyelir dan beberapa wanita lainnya. Sementara itu Arjuna pun terlihat sedang serius mengobrol dengan beberapa tamu undangan yang sepertinya adalah teman baik Arjuna.
Luna menyingkir ke sudut ruangan megah tersebut, lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding dingin yang ada di belakangnya. Luna merasa seperti orang asing sekarang. Tidak ada yang ia kenal, dan tidak ada juga yang berusaha untuk bersikap ramah padanya.
"Ingin minum sesuatu, Nona?" seorang pelayan pria yang membawa sebuah nampan berisi beberapa macam jus menghampiri Luna dan menawarkan Luna minuman.
Luna menggeleng tanpa menatap wajah pelayan itu. Namun, si Pelayan enggan untuk pergi dari hadapan Luna, pria itu malah mengangkat segelas jus jeruk dan memaksa Luna untuk menerima gelas tersebut.
"Minumlah, kalau tidak mau, aku akan mencium Anda, Nona." si Pelayan berkata dengan santai
Luna mengangkat wajahnya untuk melihat wajah si pelayan yang berani berkata kurang ajar padanya.
"Zion!" pekik Luna.
"Halo, selamat bertemu kembali." Zion tersenyum, membuat Luna secara refleks ikut tersenyum dan membuka lengannya lebar-lebar. Ia ingin sekali memeluk Zion saat ini.
"Jangan bertingkah begitu, Lun. Mana ada wanita yang elegan sepertimu memeluk seorang pelayan."
Mendengar ucapan Zion yang memang ada benarnya juga, Luna pun mengurungkan niatnya untuk memeluk Zion.
"Aku bahagia sekali bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu, Zi?" tanya Luna.
"Aku baik. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Zion.
"Tidak begitu baik." Luna menjawab singkat.
"Aku tidak dak yakin. Kamu kelihatan baik-baik saja. Lihatlah penampilanmu sekarang. Kamu begitu berbeda, Lun. Kamu cantik, anggun dan seksi."
Luna tertawa, suara tawanya yang renyah dan sedikit serak menarik perhatian beberapa orang yang berdiri dekat dengannya, tidak terkecuali Arjuna dan Anyelir, dan satu orang lagi yang kehadirannya di pesta itu adalah sebagai tuan rumah. Orang itu adalah Bimo Arkana, pria yang selama ini mencari keberadaan Luna. Pria yang rela membayar dua ratus juta demi dapat tidur dengan Luna, si pela_cur termahal di Rumah Merah.
__ADS_1
Bersambung.