
Arjuna tidak menyangka jika Luna akan melakukan hal yang seberani itu; menghampirinya dan tiba-tiba menciumnya seolah Luna sudah biasa melakukan hal demikian pada pria asing lainnya.
Arjuna mundur selangkah, menjauhkan tubuhnya dari tubuh Luna.
"Ada apa?" tanya Luna, yang terlihat bingung karena Arjuna menghindarinya. "Aku kurang seksi?" Luna bertanya sembari menaikan sebelah alisnya. "Perlu kubuka piyamaku?" tanyanya lagi, lalu dengan cepat Luna melepas kancing piyama yang ia kenakan hingga terlihat pakaian dalam wanita itu yang berwarna ungu, kontras sekali di kulitnya yang seputih susu.
Arjuna menghampiri Luna, menghentikan gerak tangan wanita itu dan berkata, "Kancing yang benar sebelum kamu masuk angin."
Luna tertawa. "Jadi Anda ingin kita bercinta tanpa melepas pakaian? Selera yang aneh."
"Aku tidak ingin melakukannya denganmu?" Arjuna menjawab singkat.
"Kenapa? Apa karena aku kurang cantik, kurang seksi, atau mood Anda sedang tidak baik?"
"Kenapa kamu terlalu banyak bertanya?" Arjuna terlihat kesal sekarang, karena Luna ternyata cerewet sekali.
"Aku banyak bertanya karena Anda menolak. Padahal, lebih cepat kita lakukan akan lebih baik." Luna kembali meletakan tangannya di pinggang Arjuna. "Ayo kita lakukan."
Arjuna mendorong Luna dengan kasar. "Aku bilang tidak, ya, tidak! Aku tidak mencintaimu dan aku sudah beristri."
Sekarang Luna tertawa terbahak-bahak. Meskipun begitu, ia tidak menyangka bahwa jawaban itulah yang akan keluar dari bibir seorang Arjuna. Bagaimana bisa pria yang rutin datang ke tempat pelacuran masih mementingkan rasa cinta dalam hubungan intim yang dilakukannya.
"Tidakkah Anda terlalu munafik, Pak?" tanya Luna setelah tawanya mereda.
Dikatai munafik tentu saja membuat Arjuna merasa tersinggung. "Munafik katamu? Tahu apa kamu tentang diriku?"
Luna mengedikkan kepala. "Tidak banyak, tapi aku tahu sedikit lebih banyak." Luna tersenyum, lau mengancingkan kembali piyamanya dan segera melangkah menuju ranjang, mengibaskan kelopak mawar merah yang betaburan di atas seprai putih polos, menarik seprai dan selimut hingga berantakan dan melepas sarung bantal sebelum melempar bantal itu ke lantai.
Arjuna menatap Luna dengan tatapan bingung. "Apa yang kamu lakukan? Menyalurkan hasrat dengan cara membuat kamar ini menjadi kapal pecah?" tanyanya.
Luna menghentikan kegiatan tarik-menarik seprai yang sejak tadi ia lakukan, kemudian ia menatap Arjuna dan berkata, "Lebih berantakan lebih baik, istri Anda harus mengira bahwa kita menghabiskan malam dengan penuh gairah, paham?!" Setelah mengatakan itu, Luna segera berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Arjuna menggelengkan kepala melihat tindakan wanita itu, yang menurutnya sangat tidak terduga. "Tidak sekalian kamu melukai tanganmu dan mengusap darahnya sedikit di seprai?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Sekadar bocoran saja bahwa aku sudah tidak perawan."
***
Keesokan paginya Luna lebih dulu terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia menggeliat sembari merentangkan tangan. Sudah lama sekali ia tidak tidur di ranjang yang begitu empuk, hingga ia merasa jika semalam adalah tidur terbaiknya setelah seumur hidup ia mendiami bumi.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan di pintu mengejutkan Luna. Ia segera turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika ia menyadari bahwa Arjuna tidur di sofa semalaman, bukannya di sampingnya.
"Luna, apa kamu sudah bangun?" Suara Anyelir membuat Luna panik.
Luna segera menghampiri Arjuna dan mengguncang tubuh pria itu dengan kuat.
"Argh, pergilah. Jangan ganggu aku." Arjuna mendorong Luna, lalu menutup kepalanya dengan selimut.
Luna tidak menyerah. Ia menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Arjuna dan menarik lengan pria itu agar terbangun. "Istri Anda ada di depan pintu. Bangunlah dan pindah ke ranjang. Jangan sampai dia tahu kalau kita tidur terpisah semalam."
Luna memutar bola matanya dengan malas. "Kenapa Anda baru protes sekarang? kemarin-kemarin tidak! Ayo, cepat, jangan banyak alasan, Pak. Istri Anda bisa marah padaku nanti." Luna kembali menarik lengan berotot Arjuna.
Arjuna mengeluh, tetapi tetap saja pria itu bangkit dan berpindah ke ranjang sesuai dengan perintah Luna. Setelah Arjuna berbaring di ranjang, Luna langsung melangkah menuju pintu dan membuka pintu dengan cepat.
"Ck, kenapa lama sekali, sih?" keluh Anyelir, begitu pintu terbuka.
"Maaf, aku masih tidur tadi." Luna menjawab seadanya.
Seperti dugaan Luna, Anyelir menggeser tubuhnya mendekati pintu dan mengintip ke dalam kamar. Ia menahan napas begitu melihat kamar yang berantakan. Seprai dan selimut berhamburan tak keruan, dan sang suami terlihat masih tertidur di atas ranjang hanya dengan mengenakan jubah mandi.
"Kalian berdua menikmatinya?" tanya Anyelir.
Luna mengangguk. "Seperti perintah Anda, Bu, aku dan Pak Arjuna melakukan semua gaya yang Anda katakan."
"Haruskan kamu katakan itu padaku?!" bentak Anyelir. "Luna, aku hanya tidak ingin mendengar segala aktivitas ranjang yang kalian berdua lakukan. Hal itu sangat menyakitkan buatku."
__ADS_1
Luna mengangguk. "Maafkan aku, Bu, aku tidak akan mengatakannya lagi kalau begitu."
"Bagus. Sekarang aku akan kembali ke kota, kamu tetaplah di villa ini sampai seminggu kedepan. Setelah seminggu kita akan memeriksakanmu ke dokter kandungan apakah kamu hamil atau tidak."
Luna membelalak. "Seminggu? Mana bisa, Bu, aku harus pulang secepatnya. Lagi pula Zion tidak akan mau jika berlama-lama tinggal di sini."
"Jangan menbantahku, Lun. Lagi pula, Zion sudah kembali ke kota saat subuh tadi. Katanya ada sesuatu yang penting yang harus dilakukannya."
"Zion kembali?" tanya Luna. Ia begitu kecewa karena Zion tidak berpamitan padanya.
Anyelir hanya mengangguk, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Luna yang masih berdiri di ambang pintu, bergelut dengan rasa kecewa dan khawatir.
"Mungkin ada hal mendesak yang membuat Zion pergi sepagi itu." Luna bergumam, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Luna kembali berbaring di atas ranjang, memunggungi Arjuna, ia bahkan tidak peduli dengan kehadiran Arjuna yang juga ada di atas ranjang itu.
tidak lama kemudian terdengar suara isakan. Arjuna yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur segera membuka matanya dan mendapati punggung Luna gemetar.
"Hai, ada apa? Kamu menangis?" tanya Arjuna.
Akan tetapi, Luna diam saja. Ia tidak menanggapi pertanyaan Arjuna. Hatinya tiba-tiba saja merasa sedih begitu mengetahui Zion kembali tanpa dirinya. Bagaimana kalau Miss. Rana tahu bahwa ia pergi dari Rumah Merah atas bantuan Zion? Nyawa pria itu bisa terancam.
Mendengar suara isakan Luna yang semakin kencang, Arjuna menarik lengan wanita itu agar Luna menghadap ke arahnya.
"Ada apa denganmu? kenapa tiba-tiba kamu menangis?" tanya Arjuna. Ia memang paling tidak tahan melihat seorang wanita menangis. "Apa aku membuat kesalahan?"
Luna menggeleng. Entah kenapa ia semakin tidak bisa mengendalikan diri, mungkin karena ia merasa diperhatikan hingga suara tangisnya bukannya mereda malah semakin kencang.
Arjuna refleks menyentuh pipi Luna dan mengusap air mata yang membanjiri pipi wanita itu. "Shut, diamlah, diamlah. Cup, cup, cup."
Dada Luna bergemuruh mendapat perlakuan yang begitu manis dari Arjuna. Apalagi pria itu sekarang memeluknya, membuat tangis Luna semakin menjadi. Seolah baru pertama kalinya ia dapat melepas segala beban dalam bentuk tangisan di bahu yang tepat. Di bahu Arjuna.
Bersambung.
__ADS_1