LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
DESAKAN DARI ANYELIR


__ADS_3

Luna menegang saat dilihatnya wajah Anyelir yang merah padam. Luna tahu bahwa wanita cantik dan berkelas di hadapannya saat ini pasti sangat marah, bagaimana tidak jika suami yang sangat disayangi oleh wanita itu memanggil wanita lain dengan sebutan sayang.


Akan tetapi, tidak demikian dengan Arjuna yang terlihat santai. Pria itu bahkan tidak terkejut sama sekali saat melihat Anyelir berdiri di hadapannya sembari melempar tatapan marah dan kecewa.


"Kapan kamu datang, Nye?" tanya Arjuna, ia tidak memedulikan pertanyaan Anyelir sebelumnya.


"Semalam. Aku tiba sejak semalam dan menunggumu dikamar sampai aku tertidur, tetapi kamu tidak juga datang."


"Kamu menyetir malam-malam? Sendirian?"


"Aku tidak punya pilihan lain. Kalian berdua tidak menerima teleponku, dan telepon di sini pun tidak dapat dihubungi, pelayan bilang--"


"Ya, aku melepas kabelnya. Dan aku juga melarang Luna menerima telepon darimu. Kita berdua sangat sibuk, Anyelir. Maaf karena aku tidak datang ke kamarmu, lagi pula aku tidak tahu kalau kamu ada di sini."


Anyelir membuang muka. Ia tahu apa yang dimaksud Arjuna dengan kata 'sibuk.'


"Baiklah kalau begitu Anda sarapan saja dengan Pak Juna, Bu, aku pergi dulu," ujar Luna setelah beberapa saat. Wanita itu berbalik hendak meninggalkan dapur, rasanya tidak nyaman sekali berdiri di antara Arjuna dan Anyelir.


Akan tetapi, Arjuna menahan langkah Luna. Pria itu menarik pergelangan tangan Luna.


"Sarapanlah dengan kami. Kamu belum makan sejak semalam," ujar Arjuna.


"Tidak, Pak, terima kasih. Aku masih kenyang, sungguh." Luna menolak.


"Ck, setahuku bercinta tidak membuat kenyang, Lun." Arjuna tidak mau kalah.


Luna meringis saat mendengar perkataan Arjuna, bagaimana bisa pria itu mengatakan tentang hal yang begitu intim saat Anyelir ada di tengah-tengah mereka.


"Bu--"


"Benar apa yang dikatakan Mas Juna, lebih baik jika kita makan bersama. Aku sudah menunggu sejak tadi." Anyelir berbalik memunggungi Luna saat wanita itu hendak bicara padanya, dan segera melangkah menuju meja makan.


Luna menghela napas, dan mengikuti langkah Anyelir. Toh, ia tidak bisa melarikan diri dari sana, karena Arjuna terus menggenggam tangannya hingga mereka tiba di meja makan minimalis yang ada di tengah dapur.


Roti tawar, salad sayur, oat, dan dada ayam rebus menjadi menu utama pagi ini. Semua terlihat lezat, tetapi tidak ada satu pun makanan yang mampu Luna nikmatu dengan baik. Hatinya terlalu cemas, ia takut jika kedekatannya dengan Arjuna akan membuat hubungannya dengan Anyelir menjadi retak.

__ADS_1


"Ada yang ingin kubicarakan, Mas, itulah sebabnya aku datang ke sini semalam," ujar Anyelir, setelah beberapa saat mereka bertiga terjebak dalam keheningan yang membuat canggung.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, Nye, tidak bisakah ditunda sampai pagi ini? Tidak seharusnya kamu berkendara seorang diri."


Anyelir tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Mas. Seperti yang Mas lihat aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah khawatir padaku."


"Ya, aku takutnya jika ada yang merampok dan membawa lari mobilmu. Mobil itu kan mobil mahal, Nye."


Anyelir dan Luna bersamaan menatap Arjuna dengan mata melotot dan mulut yang sedikit terbuka. Keduanya tidak percaya jika Arjuna lebih mengkhawatirkan mobil daripada keselamatan Anyelir.


"Ada apa dengan kalian berdua? Seperti baru melihat hantu saja," komentar Arjuna, sembari mengoles selai pada roti tawarnya.


"Anda ini keterlaluan sekali," gumam Luna.


Arjuna hanya melirik Luna sekilas, kemudian kembali fokus pada aktivitasnya.


"Semalam ibu ke rumah kita, Mas." Anyelir memutuskan untuk melanjutkan apa yang sejak tadi tidak sempat ia katakan.


"Oh, ya, ada perlu apa ibu datang? Padahal aku sudah mengatakan kalau aku sedang tidak di rumah."


"Benarkah?"


Anyelir mengangguk. "Aku mengatakan pada ibu dan Rina kalau aku sedang mengandung sekarang ini."


Arjuna tersedak roti yang baru saja ia masukan ke mulut. Apa yang Anyelir ucapkan sungguh membuatnya terkejut.


Luna buru-buru mengambil segelas air dan memberikannya ke Arjuna, tidak lupa wanita itu menepuk-nepuk punggung Arjuna. "Minum perlahan, Pak."


"Terima kasih, Lun," ujar Arjuna, setelah ia menghabiskan segelas air yang Luna berikan, lalu beralih menatap Anyelir. "Kenapa kamu berkata sembarangan, Anye?"


"Aku terpaksa, Mas. Ibumu dan Sabrina terus menghinaku, mengataiku yang tidak-tidak, jadi wajar saja jika aku terpancing emosi dan akhirnya aku mengatakan itu." Anyelir membela diri.


Arjuna menghela napas, lalu bersandar pada sandaran kursi. Selera makannya hilang seketika, ia bahkan tidak merasa lapar sama sekali. "Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana, Nye?"


"Apanya yang bagaimana, Mas? Sudah jelas kan kalau Luna harus segera hamil agar sembilan bulan dari sekarang akan ada bayi yang lahir dan bayi itu memiliki wajah seperti wajahmu."

__ADS_1


Arjuna memukul meja di hadapannya dengan keras. "Hamil tidak semudah itu, Nye. Seharusnya kamu sadar akan hal itu." Arjuna kesal sekali, karena Anyelir terlalu memaksakan kehendak.


"Itulah sebabnya kalian harus berusaha lebih kuat. Terutama kamu, Luna. Makanlah makanan yang bisa menyuburkan kandunganmu. Jika kamu bisa mengandung tepat waktu, aku akan memberimu bonus."


Luna tidak menjawab. Ia memilih untuk diam dan tidak terlibat perdebatan antara Anyelir dan Arjuna.


"Luna, aku sedang bicara padamu!" Anyelir mengibaskan tangan di depan wajah Luna.


Luna mengangkat wajahnya yang sejak tadi sibuk memandangi salad sayuran di atas piringnya. "Kita serahkan saja pada Tuhan, Bu. Aku bisa berusaha, tetapi aku tidak bisa menentukan."


Anyelir mendengkus. "Terserah kamu sajalah," ujarnya, kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan meja makan.


Luna menatap kepergian Anyelir dengan perasaan campur aduk. Jika awalnya ia merasa iba pada Anyelir hingga akhirnya setuju pada keinginan gila bosnya itu, sekarang tidak lagi. Melihat kemarahan Anyelir padanya, kecemburuan Anyelir dan juga desakan-desakan dari Anyelir membuat dirinya merasa dimanfaatkan saja.


"Jangan hiraukan dia. Makan saja yang banyak, dan kita akan melanjutkan usaha kita setelah sarapan." Arjuna terkekeh, ia berusaha mencairkan suasana tegang yang tengah menyelimuti Luna.


Luna tersenyum sembari menatap Arjuna. Ia tahu bahwa Arjuna sama seperti dirinya, sedang berusaha semaksimal mungkin menuruti keinginan Anyelir.


"Makanlah juga," ujar Luna, mengambil sesendok salad dan meletakan di atas piring kosong, lalu memberikannya ke Arjuna.


"Maafkan ucapan istriku yang terlalu kasar tadi," ujar Arjuna di sela-sela waktu makan mereka.


Luna yang duduk di samping Arjuna melirik sekilas ke pria itu kemudian berkata, "Tidak masalah, Pak, jangan minta maaf."


"Bagaimana kalau aku menebusnya? Katakan saja apa keinginanmu, maka aku akan menurutinya."


"Tidak usah, Pak."


"Ayolah, Lun, aku suamimu sekarang. Jangan sungkan. Bukankah kita memang harus lebih mengakrabkan diri. Sembilan bulan bukan waktu yang sebentar," ujar Arjuna, sambil merobek sepotong roti tawar dan menyuapkan ke mulut Luna.


Luna menerima suapan Arjuna, seolah hal itu sudah sewajarnya terjadi.


"Baiklah, Pak. Bagaimana kalau Anda mengajariku berenang. Aku lihat di belakang ada kolam renang, tapi aku tidak bisa berenang sama sekali."


Arjuna tersenyum miring. Senyum yang begitu menawan. "Tentu aku akan mengajarimu berenang. Mari kita lakukan sore nanti."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2