
Arjuna mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju villa yang jauh dari perkotaan. Kabar yang baru saja Mbok Darmi katakan tentang Luna yang sakit entah mengapa sangat memengaruhi Arjuna. Padahal selama ini yang Arjuna lakukan pada Luna, segala kebaikan dan perhatian yang pria itu berikan hanya agar Luna merasa tidak terlalu terpuruk dan tertekan. Ia tidak ingin orang lain ikut menderita karena permasalahan rumah tangganya dengan Anyelir, sang istri.
Akan tetapi, sepertinya ada sesuatu yang tumbuh di dalam hati Arjuna. Sesuatu yang tidak ia sadari kehadirannya, dan sesuatu itu adalah hal terlarang.
Ya, sesuatu itu adalah cinta. Memang benar jika Luna adalah istri sahnya di mata agama, tetapi ia pernah berjanji pada diri sendiri bahwa ia tidak akan mencintai wanita lain selain Anyelir. Bagaimana pun juga ia menyayangi Anyelir dan tidak ingin membagi kasih sayang itu pada wanita lain. Walaupun ia sedikit menyadari bahwa sejak Luna hadir di dalam hidupnya, entah mengapa ia merasa Luna lebih penting dibandingkan segalanya, termasuk Anyelir.
Arjuna menggelengkan kepala, berusaha membuyarkan pikiran aneh yang mulai menggerogoti isi kepalanya. "Tidak, tidak. Mana mungkin aku jatuh cinta secepat itu. Aku masih punya harga diri," gumam Arjuna, kemudian kembali fokus pada jalanan di hadapannya.
***
Suara bel yang sejak tadi berbunyi tanpa henti membuat Luna mau tidak mau turun dari ranjang dan segera berjalan menuju ruang tamu. Saat ini memang hanya ada dirinya di villa, sedangkan para pelayan, termasuk Mbok Darmi pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan yang memang stoknya mulai menipis di kulkas.
Luna membuka pintu dengan perlahan, dan senyum di bibirnya seketika mengembang saat dilihatnya Zion berdiri di teras.
"Zion!" seru Luna, ia segera memeluk Zion. "Aku merindukanmu."
Zion tersenyum dan membalas senyum Luna, tetapi senyum itu tidak menutupi raut kekhawatiran yang terlihat dengan jelas di wajah tampannya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Zion, memindai wajah Luna dengan seksama.
"Aku baik. Kamu sendiri?" Luna balik bertanya.
"Tidak begitu baik, Lun."
Luna menyadari bahwa Zion terlihat begitu pucat dan sedikit kurus. Luna bahkan dapat melihat lebam yang mulai memudar di wajah pria itu serta luka sobek yang mulai mengering di pelipisnya.
"Ayo kita bicara di dalam." Luna meraih pergelangan tangan Zion dan menuntun pria itu untuk masuk ke ruang tamu.
Setibanya di ruang tamu, Zion dan Luna duduk bersebelahan di sofa. Masih menggenggam tangan Zion, Luna mulai bertanya, "Katakan padaku, ada apa?".
Zion meremas telapak tangan Luna. "Miss marah besar. Dia sekarang ini sedang gencar-gencarnya mencarimu, Lun. Aku sarankan padamu, agar kamu tetap berada di sini hingga aku kembali datang membawa kabar selanjutnya. Jika memang orang kaya ini ingin agar kamu kembali karena kamu tidak kunjung mengandung atau apalah, beri aku kabar secepatnya. Aku akan mencari tempat persembunyian untukmu. Jika perlu, kita bisa pergi berdua. Melarikan diri entah kemana mana agar Miss tidak dapat menemukanmu."
Luna menegang begitu mendengar apa yang Zion katakan. Ia bukannya khawatir pada keselamatannya, toh ia sudah tidak peduli pada dirinya sendiri semenjak sang ibu pergi meninggalkannya untuk selamanya. Yang membuat Luna khawatir saat ini adalah keselamatan Zion. Zion pasti menjadi target Miss. Rana selanjutnya jikalau sampai ia tidak muncul untuk menemui wanita jahat itu.
"Apa semua ini karena aku?" tanya Luna, sembari menyentuh luka gores di pelipis Zion, serta lebam di wajah pria itu.
"Bukan, ini bukan karena kamu. Aku habis berkelahi beberapa malam yang lalu dengan seorang pengedar obat-obatan di gang dekat bar."
"Jangan bohong. Aku tahu kalau ini semua pastilah perbuatan anak buah Miss. Maafkan aku, Zi, karena aku, kamu jadi menderita. Aku akan kembali dan meminta maaf pada Miss."
Zion meraih tangan Luna yang masih berada di wajahnya. "Kedatanganku ke sini untuk memintamu bersembunyi. Bagaimana bisa sekarang kamu mengatakan ingin kembali ke sana?"
Luna menggeleng. "Tidak ada cara lain. Aku sungguh tidak mau kehilangan dirimu. Cukup sudah aku kehilangan ibuku, jika aku sampai kehilanganmu juga, entah bagaimana aku dapat menjalani hidupku." Luna mulai menangis.
"Ck, kenapa sekarang jadi cengeng begini, sih. Luna yang aku kenal adalah Luna yang kuat dan tegar. Luna yang aku kenal jarang sekali menangis. Apa Luna itu sudah tidak ada?" Zion mencubit hidung Luna dengan gemas, lalu mengusap air mata wanita itu yang turun semkin deras dari kedua mata indahnya.
Luna tertawa. "Berjanjilah padaku, Zi, jika terjadi sesuatu, cepat kabari aku. Jangan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi. Jika kamu pergi, maka aku akan mati saat itu juga."
"Shuut! Apa yang kamu katakan." Zion meletakan jemari telunjuknya di bibir Luna. "Jangan membahas kematian, Lun, apalagi kematianmu. Aku tidak bisa mendengarnya. Sungguh aku tidak bisa." Zion kemudian menarik Luna ke dalam pelukannya dan memeluk wanita itu dengan erat.
Keduanya begitu larut dalam dunia mereka sendiri, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi dari celah pintu, dan pemilik sepasang mata itu sekarang sedang merasa sakit yang luar biasa di dadanya. Pemilik sepasang mata itu adalah Arjuna.
***
Arjuna memilih kembali ke mobilnya dan duduk di dalamnya dengan tenang. Ia berusaha mengatur napas agar emosinya mereda. Ia tidak menyangkal jika Luna saat ini sedang kedatangan tamu penting.
__ADS_1
"Bodohnya aku. Seharusnya aku sadar bahwa Zion pasti akan datang. Luna pasti lebih memilih untuk menelepon pria itu daripada aku." Arjuna memukul roda kemudi di hadapannya untuk melampiaskan kemarahan yang masih memenuhi dada.
Setelah puas memukuli roda kemudi hingga menimbulkan lecet di tangannya, Arjuna berhenti. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menghitung mundur dari angka sepuluh hingga satu.
"Jika sampai angka satu mereka masih ada di dalam, aku akan menerobos masuk." Arjuna bergumam.
Pria itu mulai menghitung dengan tidak sabaran. "Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam ... satu!"
Tiit!
Tiit!
Arjuna menekan klakson pada mobilnya berulang kali, dengan maksud agar Luna dan Zion yang keluar terlebih dahulu. Ia tidak ingin melihat adegan mesra begitu ia masuk ke dalam villa.
Benar saja, beberapa saat kemudian Zion dan Luna muncul di ambang pintu. Keduanya berga dengan tangan berjalan menuju halaman, di mana mobil Arjuna terparkir.
Arjuna meraoikan dasinya, dan berusaha memasang wajah santai yang sebenarnya sulit sekali dilakukannya saat ini.
"Oh, hai, kita kedatangan tamu, Lun?" tanya Arjuna, sembari turun dari mobil.
Kuna mengangguk. "Zion baru saja datang, Pak. Anda sendiri kenapa kemari tanpa memberi kabar?"
Arjuna menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa harus memberi kabar? Ini kan rumahku."
Kuna mengangguk perlahan.
"Baiklah, Lun, karena Pak Juna sudah datang, aku pamit dulu. Ingat apa yang kukatakan tadi. Jaga dirimu, Luna." Zion kemudian mendaratkan kecupan di puncak kepala Luna, lalu memeluk wanita itu dengan erat. "Jangan pergi ke mana pun tanpa ditemani siapa pun, oke."
Luna mengangguk, dan di saat bermain ia pun menangis. Suara isaknya terdengar oleh Zion dan Arjuna.
"Ck, jangan menangis, aku akan sering berkunjung jika ada kesempatan." Arjuna mengusap pipi Luna yang basah. "Aku titip Luna, Pak, tolong jaga dia." Zion berkata dengan wajah yang begitu serius ke Arjuna. Membuat Arjuna merasa jika ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
Zion melepas pelukannya dari tubuh Luna, lalu ia berbalik dan mulai berjalan menjauh dari wanita itu. Setibanya di gerbang masuk, Zion berbalik dan melambai.
"Hati-hati. Aku menyayangimu, Zi!" Luna berteriak, sembari melambaikan tangan ke Zion yang detik berikutnya sudah tidak lagi terlihat.
Arjuna menatap Luna yang berdiri di sampingnya. Wanita itu masih terus menangis bahkan setelah Zion tidak lagi terlihat di depan gerbang utama.
"Ayo kita masuk." Arjuna meraih pergelangan tangan Luna dan menuntun wanita itu untuk masuk ke dalam villa.
Luna mengekor langkah Arjuna hingga mereka tiba di dalam kamar. Tidak ada alasan bagi Luna untuk tetap berdiri di halaman seorang diri.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu dengan Zion lagi, Pak?" tanya Luna tiba-tiba.
"Kalian pasti bertemu lagi. Aku hanya meminjammu sebentar, setidaknya sampai kamu hamil dan melahirkan anak untukku dan Anyelir, setelah itu kalian berdua bisa hidup bahagia selamanya seperti sepasang kekasih Romeo dan Juliet." Arjuna menjawab asal, sambil melepas jas dan kemeja yang ia kenakan, lalu berganti pakaian yang lebih santai.
"Romeo dan Juliet tidak hidup bahagia, Pak! Mereka harus menikah diam-diam, dan menjalin hubungan diam-diam sampai mereka mati. Jullie bahkan harus meminum racun agar bisa menyusul Romeo ke akhirat."
Arjuna menaikan sebelah alisnya seperti biasa saat ia tengah kebingungan. "Benarkah seperti itu ceritanya? Aku tidak tahu, aku tidak pernah membaca kisah itu, aku hanya pernah dengar dari seseorang, maafkan aku."
Luna diam saja. Ia melangkah menuju jendela besar dan membuka tirai jendela tersebut yang langsung menyuguhkan pemandangan indah taman dan kolam ikan yang ada di halaman samping villa.
"Aku pasti akan meminum racun seperti Julliet jika sampai Zion pergi lebih dulu." Luna kembali berkata.
Arjuna memutar bola matanya dengan malas. Ia tidak percaya jika Luna masih saja terus membahas tentang Zion. "Begitu penting dirinya buatmu? Kamu sangat mencintainya?" tanya Arjuna.
__ADS_1
Luna menggeleng. "Akubyidak tahu apakah cinta dan sayang itu sama, tapi, ya, aku menyayangi Zion. Ibuku menyayangi Zion. Zion menyayangiku dan juga ibuku. Kami bertiga saling menyayangi. Aku rasa, aku tidak bisa hidup tanpa Zion."
Deg.
Arjuna merasa seperti baru saja dihantam menggunakan batu besar. Dadanya sakit dan sesak. Perasaan aneh ini tentu saja membuatnya merasa sangat terganggu. Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Seolah Luna mematahkan hatinya dengan begitu kejam.
Arjuna tahu seharusnya ia menjauh dari Luna saat ini, membiarkan Luna seorang diri di dalam kamar, memberikan waktu untuk wanita itu menyendiri agar perasaan Kuna menjadi lebih tenang. Namun, kata hati Arjuna mengatakan hal lain. Meskipun saat ini pikiran Luna sedang terpaku pada Zion, Arjuna tidak peduli. Ia ingin membuat Luna merasa tenang, dan ia juga ingin menghabiskan waktu dengan Luna sore ini selagi ia berada di villa.
Arjuna menghampiri Luna dan memeluk wanita itu dari belakang. "Tenangkan dirimu, Zionmu tidak akan pergi ke mana-mana." Setelah mengatakan itu, Arjuna mengecup bagian belakang leher Luna, membuat Luna bergidik karena embusan napas Arjuna terasa begitu menggelitik di kulitnya.
Luna berbalik dan mendongak agar dapat menatap Arjuna. Wajah Arjuna yang tampan, hidungnya yang mancung, bibirnya yang sensual dan cambang tipisnya membuat Luna tidak mampu berkata-kata saat ini.
Jika berada dekat dengan Zion tidak menimbulkan efek apa pun, berbeda saat tubuhnya berada begitu dekat dengan Arjuna. Jantung Luna seketika berdetak lebih cepat daripada sebelumnya dan ia ingin agar Arjuna menyentuhnya lagi, lagi, dan lagi
Seperti mengetahui apa keinginan Luna, Arjuna menyentuh wajah wanita itu dengan gerakan yang begitu lembut. Belaian Arjuna turun hingga ke bibir Luna dan dalam sekejap Arjuna telah menenggelamkan bibirnya di bibir Luna.
Ciuman yang begitu lembut selanjutnya terjadi selama beberapa saat, hingga Luna merasakan sakit yang luar biasa pada kepala dan perutnya.
"Ah." Luna menjauhkan wajahnya dari Arjuna dan ia pun meringis sembari memegangi perutnya.
Melihat wajah Luna yang kesakitan, Arjuna seketika menjadi panik. Kecemburuan yang ia rasakan akibat kehadiran Zion membuat Arjuna lupa akan niat kedatangannya ke villa.
"Aku akan memanggil dokter," ujar Arjuna, lalu menggendong Luna menuju ranjang dan membaringkan wanita itu di sana. "Tunggu di sini, Lun."
Luna hanya mengangguk, dan memperhatikan Arjuna yang mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, lalu pria itu melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Suara Arjuna terdengar di telinga Luna, tetapi samar, dan perlahan suara Arjuna tidak lagi terdengar saat Luna jatuh pingsan.
Luna sadar beberapa saat kemudian. Seorang dokter muda duduk di kursi yang terletak di samping tempat tidurnya, sementara Arjuna yang terlihat khawatir duduk di tepi ranjangnya.
"Maaf merepotkan," ujar Luna, sembari berusaha bangkit untuk duduk.
"Jangan minta maaf. Bagaimana keadanmu, Lun? Bagian mana yang sakit?" tanya Arjuna.
"Sudah tidak terlalu sakit, Pak, Anda tenang saja," jawab Luna.
"Bagaimana aku bisa tenang jika Dokter Tirta tidak mau memberitahukan apa pun padaku. Dokter kurang ajar ini sengaja membuatku cemas." Arjuna melemparkan bantal ke wajah Dokter Tirta.
"Astaga, Pak, Anda tidak boleh begitu." Luna terkejut dan terlihat tidak enak pada dokter yang tengah duduk di sampingnya. Bagaimana bisa Arjuna bersikap begitu kasar pada seorang dokter.
Akan tetapi, Dokter Tirta tidak terlihat marah. Dokter muda itu hanya tertawa terbahak-bahak. "Jangan terlalu tegang, Luna, kami berteman sejak SMP," ujar Dokter Tirta, berusaha menenangkan Luna yang terlihat malu dan tidak enak hati.
Luna menghela napas lega. "Syukurlah."
"Nah, karena kamu sudah sadar ... hem, izinkan aku menggunakan bahasa nonformal padamu, Lun, agar kita lebih akrab kedepannya," ujar Tirta.
Luna mengangguk. "Tidak masalah, Dok."
"Baiklah, aku lanjutkan. Karena Luna sudah sadar, aku akan memberi kalian berdua surat rujukan."
"Rujukan? Apa aku sakit parah? Aku akan segera mati?" Luna terlihat panik.
"Shut, jaga bicaramu, Luna. Aku tidak ingin menduda." Arjuna menyentuh telapak tangan Luna, membuat Luna ingin jungkir balik karena bahagia.
"Tidak, Luna, kamu tidak sakit parah. Hanya saja kamu harus ditangani oleh dokter yang tepat. Yaitu dokter spesialis obgyn." Dokter Tirta menjelaskan.
"Dokter obgyn?" kedua mata Arjuna membulat sempurna. "Itu berarti ... jangan bercanda, Tir, atau akan kuhajar wajah sok tampanmu itu."
__ADS_1
Tirta tertawa. "Aku tidak bercanda. Istrimu ini sedang hamil."
Bersambung.