LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
RAHASIA YANG DIKETAHUI SABRINA


__ADS_3

Arjuna menatap ke arah pintu yang terbuka lebar dan ia sangat terkejut begitu melihat siapa gerangan yang telah menyerukan namanya dengan suara yang begitu keras.


Melihat keterkejutan di wajah Arjuna, Luna melepaskan bibirnya dari bibir Arjuna, lalu ia berbalik dan menghadap ke arah pintu.


"Ya, Tuhan!" seru Luna, sambil menjauh dari Arjuna. Wajahnya menegang dan kedua pipinya berubah menjadi merah padam. Ia malu, tentu saja.


Dermawan Evan melangkahi ambang pintu, menghampiri Jeremy dan Luna yang masih berdiri bagai patung dengan wajah bersalah. Tidak lama kemudian Bimo tiba di ruang tamu, ia melangkah sambil mengusap lengannya yang baru saja mendapat gigitan dari Luna sembari mengomel, sehingga ia tidak menyadari kehadiran Dermawan Evan yang sekarang tengah berdiri berhadapan dengan Arjuna dan Luna.


"Sial, pelacur sepertimu memang tidak tahu terima kasih, Luna. Tega sekali kamu menggigitku padahal aku sudah berusaha bersikap baik padamu dan ...." Bimo menggantungkan ucapannya. Ocehan yang menumpuk di bibirnya seketika menguap dan menghilang bagai tersapu oleh angin saat ia akhirnya melihat sosok tegas yang berdiri di hadapan Arjuna dengan mata melotot. "Om, Anda ...?"


"Ya, ini aku, Bimo. Siapa yang kamu sebut pelacur barusan? Dan jelaskan padaku apa yang telah kamu dan Luna lakukan, Arjuna!" Dermawan membentak Bimo dan Arjuna bergantian. Suaranya yang begitu keras dan penuh dengan kemarahan membuat Luna terperangah.


Arjuna menyentuh telapak tangan Luna dan menarik wanita itu agar mendekat ke arahnya. Ia tidak ingin Luna menjadi ketakutan karena amarah Dermawan.


Melihat apa yang Arjuna lakukan membuat Dermawan menarik satu kesimpulan, putranya pasti berselingkuh dari Anyelir.


"Tega sekali kamu Arjuna. Bagaimana bisa kamu mengkhianati istrimu!" bentak Dermawan.


"Ayah, biar aku jelaskan dulu. Duduklah dan mari kita bicara." Arjuna menyentuh pundak sang ayah dan berusaha menuntun Dermawan menuju sofa yang ada di tengah ruangan.


Akan tetapi, Dermawan menyentak tangan Arjuna dengan kasar. "Jangan sentuh aku. Aku tidak sudi memiliki anak yang pengkhianat sepertimu. Apa kamu tidak kasihan pada Anyelir?!"


Arjuna diam saja, ia tahu jika akan sulit sekali menjelaskan pada Dermawan tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena memang hubungan antara dirinya dan Luna begitu rumit. Semuanya persis seperti alur sebuah sinetron.


Melihat Arjuna tidak berusaha membela diri, Dermawan mengalihkan tatapannya ke Luna. "Dan kamu, Luna. Bagaimana bisa kamu membohongi Anyelir? Dia sudah membantumu dan mengizinkanmu untuk tinggal di rumahnya, tapi kamu malah membohonginya dan bermain gila dengan Arjuna yang bodoh ini! Kenapa bisa kamu setega ini, hah?!"


Luna diam saja, ia menundukkan wajahnya dengan begitu rendah hingga nyaris tak terlihat oleh Dermawan. Luna malu dan merasa bingung, ia tidak tahu harus berkata apa pada Dermawan. Apalagi Dermawan terlihat begitu marah dan kecewa padanya.


Melihat Luna tersudut, Arjuna pun berujar, "Luna tidak salah, Ayah, dia sama sekali tidak salah."


"Ya, dia memang tidak salah, tapi kalianlah yang salah. Kasihan Anyelir harus menikah dengan putraku yang bodoh dan pendusta, seolah semua kemalangannya itu belum cukup, Tuhan malah mengirimkan teman yang mengerikan seperti Luna di sampingnya, teman yang merusak rumah tangga Anyelir. Menjijikan sekali kalian berdua."


Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahan lagi dengan kesalahpahaman Dermawan. Apalagi sejak tadi Dermawan selalu menyalahkan dan menuding Luna sebagai perusak rumah tangganya dengan Anyelir. "Ayah, tolong dengarkan aku sekali saja. Justru Anyelirlah yang meminta Luna menikah denganku. Aku dan Luna sudah menikah dan pernikahan kami adalah atas desakan dari Anyelir."

__ADS_1


Dermawan Evan hampir saja terjatuh, seandainya Bimo tidak segera memegang lengan pria tua itu, dapat dipastikan bahwa tubuh Dermawan pasti akan tersungkur di lantai yang keras.


"Apa yang kamu katakan, Arjuna?" tanya Bimo, yang sejak tadi menyimak pertengkaran antara Arjuna dan Dermawan. "Kalian berdua menikah atas persetujuan Anyelir?"


"Dudukan aku, Bimo, kepalaku sakit sekali rasanya," titah Dermawan.


Bimo segera menuntun Dermawan menuju sofa yang ada di tengah ruangan dan mendudukkan pria tua itu dengan perlahan.


Luna memperhatikan, ia menjadi khawatir karena wajah Dermawan sekarang terlihat pucat.


"Apa ayahmu tidak akan kenapa-kenapa, Juna? Tidakkah sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit?" tanya Luna, dengan suara yang ia buat sepelan mungkin.


Arjuna menyentuh puncak kepala Luna dan mengusapnya perlahan. "Jangan khawatir, ayah tidak selemah itu. Justru aku mengkhawatirkan keadaanmu. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jeremy.


Luna mengangguk. "Aku tidak apa-apa."


"Hai, kalian berdua kemarilah! Apa yang kalian lakukan di sana sementara aku di sini!" Bimo berteriak, meminta Arjuna dan Luna duduk di hadapannya.


Arjuna menggeleng. "Apa kataku, ayah tidak selemah yang terlihat," ujarnya pada Luna. "Ayo!" Arjuna memegang pergelangan tangan Luna dan menuntun Luna ke sofa.


"Jelaskan padaku bagaimana semua ini bisa terjadi. Semuanya dari awal hingga akhir!" titah Dermawan, sambil memelototkan kedua matanya ke Lima dan Arjuna.


Arjuna menghela napas. "Baiklah, dengarkan aku baik-baik, Ayah, dan jangan menyela."


***


Anyelir kembali ke rumah setelah beberapa saat berdiam diri di hotel. Setelah kepergian Zion, sebenarnya Anyelir masih menunggu pria itu kembali, tetapi setelah beberapa saat Zion tak kunjung kembali membuat Anyelir memutuskan untuk kembali ke rumah.


Anyelir turun dari dalam mobil yang ia parkirkan di halaman rumah, dan melangkah dengan enggan menuju teras. Ia menendang krikil-krikil dengan malas hingga tiba di teras, dan sebuah suara mengejutkannya.


"Anyelir."


Anyelir menghentikan langkah, dan perlahan wajahnya yang menunduk seketika terangkat, menatap seseorang yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Sabrina!" seru Anyelir, sontak menutupi perutnya yang rata.


Sabrina menaikan sebelah alisnya dan senyum aneh tersungging di bibirnya yang merah merona.


"Apa yang terjadi? Kamu keguguran?" tanya Sabrina.


Anyelir panik. Ia bingung harus mengatakan apa pada Sabrina.


"Hai, Anye, aku bertanya padamu tentang perutmu." Sabrina mengibaskan tangan di depan wajah Anyelir yang pucat pasi.


"Sejak kapan kamu di sini dan ada urusan apa?" tanya Anyelir.


Sabrina menghampiri Anyelir, memangkas jarak di antara mereka. Kedua mata Sabrina yang bulat tidak pernah lepas dari bagian perut Anyelir, yang berusaha Anyelir tutupi dengan tas tangan.


"Tadinya aku ingin meminta nomor ponsel temanmu yang tinggal di luar negeri itu. Si tampan Zion Smith yang waktu itu bertemu denganku di mal. Tapi sekarang tidak jadi. Aku rasa ada hal yang lebih menarik selain nomor ponsel." Sabrina berhenti tepat di hadapan Anyelir, dan langsung menarik tas tangan Anyelir, melempar tas itu ke lantai sehingga ia dapat menatap perut Anyelir dengan lebih jelas. "Nah, perut ini lebih membuatku penasaran daripada nomor ponsel seorang pria." Sabrina tertawa.


Anyelir mendorong Sabrina menjauh. "Jangan ikut campur, Rin, ini bukan urusanmu."


Sabrina menggerutu. "Jelas bukan urusanku kalau aku tidak tahu, tapi karena aku sudah tahu maka mau tidak mau keanehan ini menjadi urusanku. Oh, ya, apa Tante Maria sudah tahu? Aku rasa belum, 'kan? Ah, biar aku yang beritahu kalau begitu."


Sabrina mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya, lalu dengan cekatan mencari nama Maria di daftar kontaknya.


Anyelir menjadi semakin panik. Ia tahu jika keadaan akan runyam kalau sampai Maria tahu tentang kebohongannya. Anyelir menghampiri Sabrina, berusaha merebut ponsel wanita itu dengan paksa, tetapi Sabrina tidak mau mengalah.


"Lepaskan aku dasar pembohong. Tega sekali kamu membohongi Tante Maria. Kamu memang tidak waras Anyelir," jerit Sabrina.


"Kamu yang tidak waras. Bagaimana bisa kamu selalu ikut campur dalam urusan rumah tanggaku dan Arjuna. Kamu perempuan murahan yang berusaha merebut semua yang kumiliki, termasuk Arjuna." Anyelir masih berusaha merebut ponsel Sabrina.


"Jangan sebut aku murahan. Kamu yang murahan. Dasar sial ... aaaaah!"


Anyelir tidak sengaja. Ia sungguh tidak sengaja mendorong tubuh Sabrina hingga Sabrina terjatuh dan kepala Sabrina membentur sudut tiang yang runcing.


"Astaga!" jerit Anyelir.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2