LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
MENOLONG LUNA


__ADS_3

Luna tidak percaya jika Miss. Rana akan menuliskan kalimat seperti itu pada kertas kosong yang telah ia tandatangani. Menggugurkan kandungan adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Ia sangat mencintai bayinya, sebesar ia mencintai Arjuna. Tidak mungkin ia membunuh bayinya dengan begitu mudah. Sama sekali tidak mungkin.


Luna berusaha untuk bangun dari tempat tidur yang mulai basah karena rembesan darah yang mengalir dari kema-luannya. Ia merintih saat kakinya telah menyentuh lantai, kemudian perlahan ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu yang tidak tertutup.


Setiap langkah Luna terasa amat mengerikan, karena ia merasa ada sesuatu yang akan jatuh dari perutnya dan menggelinding di lantai yang ia pijak. Namun, ia berusaha tetap berpikir positif, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa bayinya baik-baik saja dan ia pun akan baik-baik saja.


Miss. Rana yang melihat usaha Luna untuk keluar dari tempat itu hanya bisa menggeleng sambil tertawa. Ia tahu bahwa Luna sangat keras kepala, tetapi ia tidak menyangka jika Luna akan sekeras kepala ini. Bisa-bisanya Luna masih berusaha untuk melarikan diri di saat nyawanya sendiri sedang berada di ambang pintu neraka.


"Ckck, Luna, Luna. Kamu ini dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Apa kamu pikir akan mudah keluar dari sini dengan kondisimu yang seperti itu," celoteh Miss. Rana, lalu menghabiskan tegukan terakhir anggur yang masih ada di gelasnya.


Miss. Rana kemudian bangkit berdiri setelah mengosongkan gelasnya, dan mendahului Luna menuju pintu, setelah itu ia menutup pintu. "Nah, kamu tidak bisa keluar sekarang."


Di saat bersamaan terdengar suara gaduh dari kamar mandi yang ada di dalam kamar Miss. Rana, dan ....


Bruk!


Bruk!


"Ah, Arjuna, kamu menindih bokongku!"


"Ah, maaf, maaf."


Miss. Rana mengernyitkan dahi begitu mendengar suara seorang pria dari dalam kamar mandinya.


Belum lagi ia sempat memeriksa ke kamar mandi, Zion terlihat keluar dari dalam kamar mandi bersama dengan Arjuna. Penampilan keduanya terlihat parah, selain penuh luka, wajah dan pakaian Arjuna serta Zion juga dipenuhi oleh debu dan sarang laba-laba yang pasti mereka dapatkan saat sedang merangkak di plafon.


"Kalian! Sialan kalian berdua. Bagaimana bisa kalian masuk ke dalam sini, hah?!" teriak Miss. Rana.


Zion melambaikan tangannya ke Miss. Rana. "Hai, Miss, aku merindukanmu," ucap Zion, sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu langsung menghampiri Miss. Rana dan memukul bagian punggung wanita tua itu hingga pingsan.

__ADS_1


Luna yang melihat kehadiran Arjuna dan Zion langsung menangis sejadi-jadinya. Ia merasa senang dan terharu, karena Zion dan Arjuna datang untuk menolongnya.


"Sayang, maaf aku datang terlambat," ujar Arjuna yang langsung menghampiri Luna dan memeluk Luna dengan begitu erat.


"Tolong aku, Juna. Anakku ... Anakku." Luna menangis, dan semakin lama suaranya semakin terdengar begitu lemah.


Arjuna melepas rangkulannya dari tubuh Luna dan memeriksa perut Luna, seketika itu juga ia menyadari kalau Luna mengeluarkan banyak darah.


"Zion, kita harus segera keluar dari sini. Luna berdarah."


Mendengar hal itu, Zion langsung memandang Luna, dan benar saja, ia melihat banyak darah yang mengalir dari kedua kaki Luna.


"Tunggu sebentar. Aku harus mengikat wanita gila ini dulu." Zion berujar, sembari mengikat tangan dan kaki Miss. Rana yang masih pingsan, serta menyumpal mulut Miss. Rana menggunakan gumpalan kain.


"Bertahanlah, Luna, kita akan ke rumah sakit sebentar lagi. Kamu akan baik-baik saja. Sungguh, kamu akan baik-baik saja," gumam Arjuna, yang kembali memeluk Luna yang semakin lemas, dan tanpa sadar Arjuna pun menangis.


Setelah mengikat Miss. Rana, Zion segera menghampiri Arjuna dan Luna. "Ayo, kita bisa lewat pintu belakang," ujar Zion. "Luna, bertahanlah. Aku akan mengeluarkanmu dari sini," lanjutnya, yang langsung berlari menuju pintu untuk membuka pintu tersebut, sementara Arjuna menggendong Luna.


"Tidak mungkin tidak ketahuan, karena penjaga berjaga hampir di setiap lorong. Tapi, tenang saja, aku akan menembak siapa pun yang menghalangi jalan kita," ujar Zion, lalu membuka pintu sebuah lemari yang ada di dekat pintu keluar. Lemari itu berisi senjata api, dan Zion mengambil empat senjata api sekaligus, lalu menyelipkan senjata api itu di balik kaosnya, di balik sepatu, dan dua lainnya ia genggam di kedua tangannya.


"Luar biasa. Rana bahkan memiliki benda itu." Arjuna berkomentar.


Zion tersenyum miring. "Miss gila itu bukan sembarang germo. Ayo, cepat!"


Zion memimpin Arjuna keluar dari kamar, lalu mulai menyusuri lorong yang berpencahayaan remang menuju bangunan bagian belakang, di mana terdapat pintu menuju keluar Rumah Merah.


"Hai, berhenti kalian!" teriak salah seorang penjaga yang melihat kedatangan Zion dan Arjuna.


Detik berikutnya terdapat tiga penjaga yang menghalangi langkah Zion dan Arjuna. Zion tidak ingin membuang waktu. Ia langsung menembak kaki ketiga penjaga itu dan menendang wajah mereka semua hingga ketiganya tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Kamu membunuh mereka semua?" ujar Arjuna.


"Tidak ... belum!" Zion, melanjutkan langkah, dan mulai menghadapi beberapa penjaga lagi yang berdatangan karena suara tembakan dari pistol Zion.


Setelah melewati rintangan yang lumayan merepotkan, Arjuna dan Zion akhirnya tiba di bagian luar gedung. Keduanya terlihat lega, tetapi saat menyadari bahwa mereka tidak memiliki kendaraan untuk membawa Luna, Zion dan Arjuna kembali mengeluh.


"Sial! Tidak ada mobil di sini," keluh Zion.


"Tidak masalah. Kita bisa mencari taksi saat kita tiba di jalan besar. Ayo!" Arjuna terlihat lebih optimis, karena ia tidak ingin membuang waktu untuk mengeluh. Toh, setiap detik amat sangat berharga bagi Luna yang sekarang telah benar-benar tidak sadarkan diri.


Akan tetapi, nasib mujur masih berada di pihak Arjuna dan Zion. Baru saja mereka melewati gerbang utama Rumah Merah, sebuah mobil menghampiri mereka dan langsung membunyikan klakson.


"Masuklah, cepat!" Anyelir berteriak melalui kaca jendela mobil yang terbuka.


"Syukurlah Anye!" Zion berseru, lalu segera membuka pintu bagian belakang mobil untuk Arjuna dan Luna, sementara ia sendiri duduk di bagian depan, bersama dengan Anyelir yang mengemudi.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Anyelir, sambil memutar balik mobilnya dan langsung meluncur ke rumah sakit.


"Apa kami terlihat baik-baik saja?" Zion balik bertanya, sambil menyeka darah dari pelipisnya.


Anyelir menoleh ke samping untuk melihat keadaan Zion, ia sedih sekali melihat keadaan Zion yang terluka, tetapi di saat yang bersamaan ia merasa lega juga karena Zion tidak mati seperti yang ia takutkan sejak tadi.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Zion.


Anyelir tersenyum, lalu mendongak untuk menahan air matanya yang hendak menetes. "Aku hanya lega, karena kamu masih hidup, Zi. Jujur saja, aku takut sekali saat melihat video yang dikirim ke ponsel Luna. Aku takut kalau kamu tidak bisa bertahan dari siksaan wanita gila itu." Anyelir mengatakannya dengan suara yang bergetar.


Zion menjadi salah tingkah begitu mendengar apa yang Anyelir ucapkan, apalagi ada Arjuna juga di dalam mobil.


"Terima kasih karena telah mengkhawatirkan diriku," ujar Zion.

__ADS_1


Arjuna yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, mulai mengerti pada apa yang tengah terjadi. Ia tahu, walaupun belum terlalu yakin, bahwa ada cinta yang tumbuh di antara istrinya dan Zion, tapi anehnya ia tidak merasa terganggu sama sekali. Ia tidak cemburu dan tidak menganggap Anyelir dan Zion mengkhianati dirinya. Ia justru senang, karena selama ini ia tidak mencintai Anyelir seperti yang seharusnya, sehingga Anyelir banyak menderita karena terjebak dalam pernikahan yang tidak ada rasa apa pun di dalamnya, kecuali kewajiban.


Bersambung.


__ADS_2