LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
WANITA YANG MENGHILANG


__ADS_3

Luna bergumam kagum saat ia memasuki ruangan tempat Arjuna bekerja yang begitu mewah. Ia memang pernah berada di ruangan itu sebelumnya bersama dengan Anyelir, tetapi ia tidak terlalu memperhatikan karena saat itu ia sangat lelah setelah berlarian di jalan demi mengantarkan berkas milik Arjuna, dan kesal pada Arjuna yang meninggalkan dirinya begitu saja di Lobi, saat dirinya pingsan.


"Ruangan yang indah." Luna berkomentar.


Arjuna tersenyum melihat Luna begitu bahagia. "Aku yang menata semua benda yang ada di sini. Bahkan akulah yang menentukan semua warna cat dan perabotan yang ada di sini."


"Benarkah? Kalau begitu selera Anda bagus sekali, Pak." Luna menjawab dengan mata yang masih sibuk menyapu semua yang ada di ruangan itu.


Arjuna mengangguk. "Seleraku dalam hal apa pun memang bagus. Bukan hanya tentang interior dan eksterior, aku juga memiliki selera yang bagus dalam hal memilih wanita."


Wisnu yang juga ada di ruangan itu tertawa mendengar apa yang Arjuna katakan. "Ya, itu benar, Pak, lihat saja Bu Anye. Dia sungguh luar biasa, tidak ada yang bisa menandinginya terutama dalam hal memata-matai Anda."


Luna menahan tawa dengan susah payah mendengar komentar Wisnu yang menurutnya lucu. Wisnu secara terang-terangan mengolok-olok kebiasaan Anyelir yang sering memata-matai Arjuna.


"Anye memang wanita langka. Tapi mendapatkannya adalah suatu keberuntungan. Setidaknya aku belajar untuk menjadi suami yang setia dan tidak berani macam-macam."


"Ya, tapi tetap saja Anda bersikeras pergi ke Rumah Merah beberapa bulan lalu hanya demi seorang wanita." Wisnu mengerling nakal.


Wajah Arjuna berubah menjadi merah padam begitu mendengar apa yang Wisnu katakan. Ia malu pada Luna, bisa saja Luna salah paham atas niatnya pergi ke sana.


Sementara itu Luna tidak terlalu peduli, ia justru terlihat salah tingkah. Meski pun begitu, Luna berusaha agar tetap tenang dan berlagak bahwa ia tidak tahu apa itu Rumah Merah.


"Kamu kan tahu kalau aku ke sana bukan untuk macam-macam," gerutu Arjuna, sembari melempar tatapan kesal ke Wisnu yang terkekeh geli. Arjuna kemudian manatap Luna, dan berkata, "Aku sama sekali tidak melakukan apa pun di sana. Aku hanya mencari seorang wanita untuk memastikan apakah wanita itu baik-baik saja atau tidak."


Luna mengernyitkan dahi. "Memangnya Rumah Merah itu apa? Dan siapa yang Anda cari, Pak?" Luna berpura-pura tidak tahu. "Apa selingkuhan Anda?"


"Sungguh kamu tidak tahu apa itu Rumah Merah? Padahal tempat itu sangat terkenal di sini." Wisnu menjawab, lalu melanjutkan, "Rumah Merah adalah tempat pela_curan terbesar di kota ini. Semua wanita di sana adalah wanita terbaik dan ter-hot. Itulah yang dikatakan oleh temanku yang sering datang ke sana."


"Oh, ya." Luna bergantian menatap Arjuna dan Wisnu dengan wajah cemberut.


"Ya, begitulah. Dan Pak Arjuna terus memikirkan salah satu wanita yang pernah dilihatnya saat kami sedang berada di sana. Wanita itu mengganggu pikiran Pak Juna setiap detik."


Luna terlihat penasaran. Ia mendengarkan dengan baik setiap ucapan Wisnu dan memperhatikan Wisnu tanpa berkedip sekali pun. "Apa wanita itu cantik, atau mungkin seksi sekali sampai-sampai bos kita yang super duper tampan ini memikirkan wanita itu setiap saat?" Luna bertanya dengan sengit.


Menyadari kekesalan dalam suara Luna, Arjuna segera berkata, "Aku bukan tertarik karena dia cantik atau dia seksi, Luna."


"Lalu? Rasanya tidak mungkin sekali jika Anda memikirkan seorang wanita karena hal lain, selain karena wanita itu seksi dan cantik. Anda itu pria normal dan semua pria normal adalah pria mata keranjang." Luna terlihat semakin kesal. Sementara Wisnu terlihat sangat bingung karena Luna begitu berani pada Arjuna.


"Sudah aku bilang bukan seperti itu yang terjadi." Arjuna masih berusaha menjelaskan, tetapi percuma saja, Luna malah semakin cemberut, bahkan wanita itu sekarang terlihat ingin menangis.


Melihat hal itu, Arjuna menjadi bingung. Ia ingin menenangkan Luna dan meyakinkan Luna bahwa perasaannya kepada wanita misterius di Rumah Merah itu tidak seperti yang Luna pikirkan, tetapi keberadaan Wisnu membuat Arjuna tidak mungkin mendekat dan memeluk Luna seperti yang ia inginkan. Toh asistennya itu tidak tahu menahu tentang hubungan yang terjalin antara Luna dan dirinya.


"Aku permisi. Aku rasa aku ingin muntah sekarang!" Luna berbalik pergi meninggalkan Arjuna yang merasa sangat bersalah.


"Hem, Wisnu. Pergilah ke bagian HRD, dan bawakan beberapa berkas dari Pak Josef. Ada beberapa yang harus kuperiksa, dan ketika berpapasan dengan Luna minta dia untuk kembali kemari, ada berkas yang harus dia selesaikan." Arjuna memberi perintah pada Wisnu. "Dan jika kamu tidak berpapasan dengan Luna, cari dia dan bilang padanya kalau aku menunggu di ruanganku."


Wisnu mengangguk. "Baik, Pak, aku akan mencari karyawan baru itu." Setelah mengatakan itu, Wisnu segera keluar dari ruangan untuk menjalankan perintah Arjuna.


Sebelum menuju ke ruang HRD, Wisnu lebih dulu mencari keberadaan Luna. Ia memeriksa toilet, dan saat ia tidak menemukan Luna di sana, ia pun beralih menuju pantry yang ada di lantai tersebut, dan benar saja ia mendapati Luna di sana, wanita itu sedang duduk sembari melamun dan menusuk-nusuk meja dengan garpu.

__ADS_1


Tok, tok, tok!


Wisnu mengetuk pintu yang sudah dalam posisi terbuka, membuat Luna terkejut dan segera bangkit berdiri untuk menghampiri Wisnu.


"Ya, Pak," ujar Luna.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Bukannya kembali ke ruangan Pak Juna dan mulai bekerja, kamu malah asyik bersantai di sini," omel Wisnu.


"Aku butuh menyendiri sebentar saja. Entah kenapa aku ingin muntah setiap melihat wajah Pak Juna." Luna menjawab dengan santai. Terlihat tidak ada beban saat ia mengatakan hal itu.


Wisnu memelototi Luna. "Apa katamu? Kalau sampai Pak Juna dengar, dia bisa marah Memangnya ada apa dengan wajahnya sampai-sampai kamu mau muntah setiap melihatnya. Jangan mengada-ngada, Luna. Cepat kembali ke sana, dia menunggumu, banyak tugas yang harus kamu kerjakan."


"Tidak. Aku tidak mau!" Luna menolak. Ia tidak ingin kembali melihat wajah Arjuna yang sok polos itu, tapi ternyata diam-diam pria itu sangat hobi bermain hati dengan banyak wanita.


Wisnu kembali melotot. "Bagaimana bisa kamu tidak mau? Pak Juna itu bos kita. Astaga Luna, kamu harus bersikap lebih sopan sedikit jika ingin terus bekerja di perusahan besar seperti ini. Cepat ke sana!" bentak Wisnu, membuat Luna segera berlari menuju ruangan Arjuna. Ia tidak ingin mendapat omelan panjang lebar dari Wisnu yang memang terlihat begitu cerewet dan pemarah.


Setibanya di depan ruangan Arjuna, Luna langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan betapa terkejutnya Luna begitu melihat seorang pria yang tengah duduk di sofa bersama dengan Arjuna.


"Pak Bimo," gumam Luna.


Melihat Bimo tengah asyik berbincang dengan Arjuna, membuat tubuh Luna seketika gemetar. Saat ini kedua pria itu memang belum menyadari kehadirannya. Keduanya asyik mengobrol dan bercanda, terlihat begitu akrab sekali. Sesekali Arjuna melayangkan tinju di pundak Bimo, begitu juga dengan Bimo.


Luna mundur selangkah demi selangkah, berusaha tetap tak terlihat bagaimana pun caranya. Setelah tangannya dapat meraih gagang pintu, Luna segera berbalik dan keluar dari ruangan Arjuna.


***


"Anda ingin ke mana, Nona?" tanya si sopir begitu Luna telah duduk di dalamnya.


Luna terdiam sejenak, ia berusaha mengatur napas dan menetralisir keterkejutan yang masih begitu terasa. Kemudian ia menjawab. "Ke mana saja, Pak."


Si sopir mengangkat sebelah alisnya.


Melihat kebingungan di wajah sopir taksi tersebut, Luna meralat ucapannya. "Pantai saja. Tidak jauh dari sini ada pantai, 'kan?"


"Ya, Nona, di sekitar sini ada pantai. Aku akan mengantar Anda ke sana," ujar si Sopir taksi, yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Luna. Wanita itu sudah asyik dengan pikirannya sendiri yang membuatnya tidak memedulikan hal lain.


Luna menyandarkan kepala pada sandaran kursi penumpang, lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan angka satu yang langsung terhubung pada nomor Zion.


Luna berharap sekali dapat berbicara dengan Zion saat ini, tetapi setelah berulang kali menghubungi Zion, panggilannya tidak kunjung tersambung dan malah dialihkan ke pesan suara.


"Zi, ini aku Luna. Jika kamu mendengar pesan ini, jemput aku di kediaman Pak Juna. Aku harus pergi dari sana, Zi, dan jika kamu tidak menjemputku secepatnya, jangan salahkan aku kalau aku memutuskan untuk menyusul ibuku ke surga," ujar Luna sembari menangis. Ia lalu kembali berkata. "Aku bekerja di DD Group mulai hari ini sesuai keinginanmu. Tapi, tahukah kamu siapa yang kulihat di sana? Kamu tidak akan menyangka jika betapa pun aku berusaha untuk bersembunyi, aku tetap saja tidak aman tanpamu. Cepat jemput aku, sebelum aku membusuk dan hanya tinggal nama."


Luna memutus panggilan telepon dan memejamkan kedua matanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata Arjuna dan Bimo saling mengenal. Keduanya bahkan terlihat begitu akrab. Jika sampai Bimo melihatnya dan mengatakan siapa dirinya sebenar pada Arjuna, entah apa yang akan Arjuna lakukan. Akankah Arjuna sudi menjaganya dan anak mereka?


Memikirkan hal itu membuat hati Luna semakin sedih. Ia bahkan tidak peduli jika suara tangisnya terdengar oleh sopir taksi yang duduk di depannya. Ia tidak tahan lagi menahan kesedihan, dan menangis adalah satu-satunya cara agar dirinya dapat kembali tenang.


***


Arjuna berkeliling gedung DD Group untuk mencari keberadaan Luna, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Ia bahkan meminta agar seluruh karyawan membuka mata lebar-lebar untuk mencari keberadaan Luna.

__ADS_1


Wisnu dan Rayan mengekor di belakang Arjuna, keduanya mulai berkeringat dan kelelahan tetapi tetap tidak menemukan keberadaan Luna di mana pun.


"Pak, karyawan baru itu tidak ada di mana pun. Aku dan Rayan telah mencari berkeliling gedung. Kami bahkan turun ke gudang penyimpanan, tetapi Luna tidak ada di sana." Wisnu mengeluh.


"Apa kamu benar-benar melihatnya menuju ke ruanganku siang tadi?" tanya Arjuna pada Wisnu.


Wisnu mengangguk. "Ya, Pak, aku melihatnya berjalan ke ruangan Anda sebelum aku menuju bagian HRD. Tidak mungkin dia tidak muncul di ruangan Anda."


Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar khawatir sekarang karena Luna menghilang begitu saja. Wanita itu bahkan tidak memiliki uang sepeser pun.


"Mungkin dia pulang ke rumahnya tanpa mengabari Anda, Pak. Barangkali ada sesuatu yang mendesak dan mendadak." Rayan memberikan pendapat yang masuk akal.


Arjuna mengangguk. "Benar, mungkin dia pulang ke rumah. Biar aku telepon Anyelir dulu." Arjuna kemudian berlalu dari hadapan Wisnu dan Rayan.


"Bu Anye. Kenapa harus menelepon Bu Anye. Apa Luna tinggal bersama mereka?" tanya Wisnu pada Rayan.


"Mana aku tahu. Memangnya aku ini Tuhan yang tahu segalanya," jawab Rayan, sedikit sewot.


Tidak lama kemudian Arjuna kembali muncul di hadapan Rayan dan Wisnu. "Luna tidak pulang. Anyelir bilang dia tidak ada di rumah. Ayo kita cari lagi.


"Ya, Tuhan, kita mau cari dia di mana lagi. Seandainya saja aku bisa melihat seluruh gedung ini seperti CCTV." Wisnu merengek.


Mendengar rengekan Wisnu, Arjuna dan Rayan menghentikan langkah mereka, kemudian keduanya menjentikkan jari bersamaan. "CCTV!"


"Kenapa tidak terpikir sejak tadi," ujar Arjuna, yang segera melangkah dengan cepat menuju ruang kontrol di mana terdapat monitor-monitor untuk mengawasi setiap aktivitas di gedung tersebut yang telah terekam oleh kamera CCTV.


Akan tetapi, belum lagi mereka tiba di ruang monitoring, seorang sekuriti berlari ke arah Arjuna. "Pak, Pak, ada informasi bagus." Sekuriti itu berteriak dengan lantang.


"Ada apa?" tanya Arjuna.


"Di bawah ada sopir taksi yang sepertinya melihat Luna si karyawan baru itu, Pak," ujar si sekuriti.


"Benarkah? Ayo, kita ke bawah."


Sopir taksi yang beberapa waktu lalu mengantarkan Luna ke pantai terlihat gelisah saat melihat tiga orang pria tampan dan berpenampilan rapi menghampirinya bersama dengan seorang sekuriti yang beberapa waktu lalu ia temui.


"Saya Juna, saya pemilik DD Group. Benar Anda melihat Luna?" tanya Arjuna tanpa basa-basi begitu ia tiba di hadapan si sopir.


Sopir taksi mengangguk. "Ya, Pak. Saya kembali kemari dan melapor karena saya melihat wanita itu sangat putus asa. Dia menangis di taksi saya dan menelepon seseorang yang disebutnya Zi. Dia menyebutkan namanya seperti ini, ini Luna. Dia meminta dijemput dari rumah Pak Juna, kalau tidak maka dia akan menyusul ibunya ke surga. Itulah yang wanita itu katakan."


Arjuna terlihat benar-benar panik sekarang. "Di mana dia? Di mana Anda menurunkan Luna?"


"Di VitaminSea, Pak. Wanita itu meminta agar dirinya di antar ke pantai."


Arjuna memeluk si sopir. "Terima kasih, Pak, Terima kasih. Wisnu, Rayan, minta alamat bapak ini dan nomor teleponnya, aku akan mengurusnya nanti, sekarang aku harus menyusul Luna." Setelah memberi perintah yang tidak jelas, Arjuna segera berlari keluar gedung, dan meminta petugas valet untuk segera menyiapkan mobilnya


"Apa yang sebenarnya terjadi, sih? Aku bingung sekali." Wisnu berkomentar sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2