
Zion tidak bisa berbuat banyak sekarang. Tubuhnya yang semakin menggigil dan sesekali kepalanya yang tenggelam membuatnya lemas karena kehabisan napas.
Zion baru tahu jika ternyata tiang yang digunakan untuk mengikatnya di bak penampungan air memiliki tuas yang dapat dikendalikan dari kejauhan, sehingga para penjaga yang mengawasi Zion dapat membuat tubuh Zion mengapung dan tenggelam dengan mudah. Tujuan Miss.Rana memang bukanlah membunuh Zion, tetapi menyiksa Zion untuk memancing kedatangan Luna. Maka seberapapun sering mereka menenggelamkan Zion, Zion tetap akan kembali ditarik ke permukaan.
Zion menarik napas dalam-dalam saat ia kembali muncul ke permukaaan setelah beberapa waktu berada di dalam air.
"Bagaimana rasanya, hah? Nikmat, ya?" tanya penjaga yang sejak tadi merekam penyiksaan Zion.
Zion menatap pria itu dengan kedua mata yang melotot. "Jangan kirim video apa pun ke Luna. Jika sampai kamu mengirim video ke Luna maka--"
"Aku sudah mengirimnya. Video yang kami rekam paling awal, adalah video yang kualitasnya paling bagus. Wajahmu terlihat ketakutan sekali saat itu, dan Miss menyukainya. Jadi, tanpa pikir panjang dan atas perintah Miss, aku pun mengirim video itu. Aku yakin si pelacur itu pasti telah melihat videonya. Dan jika dia memang peduli padamu, seharusnya tidak lama lagi dia datang," ujar penjaga itu sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Argh, sialan kalian! Kelewatan. Lepaskan aku! Cepat lepaskan aku." Zion berteriak sambil meronta, berusaha melepaskan diri. Namun, usahanya sia-sia belaka.
Si penjaga yang muak mendengar teriakan Zion, segera menoleh ke belakang, meminta rekannya yang bertugas mengendalikan tuas untuk kembali menenggelamkan Zion.
"Turunkan! Dia banyak mulut sekali," ujar si penjaga.
Tiang yang mengikat tubuh Zion mulai bergerak turun sedikit demi sedikit, dan air yang tadi hanya sebatas dada Zion, kini mulai menutupi leher, dagu, dan perlahan Zion kembali tenggelam.
***
Luna menjatuhkan ponselnya saat melihat video yang baru saja dikirim ke ponselnya. Tubuhnya gemetar dan dadanya terasa amat sesak saat ia melihat Zion yang terikat dalam keadaan pingsan dan wajah yang penuh dengan darah. Tidak lama kemudian Zion mulai tenggelam, dan video berakhir di sana.
"Ruang cuci," gumam Luna. "Zion disiksa di ruang cuci." Luna mulai menangis.
Anyelir yang juga telah melihat video itu ikut menangis bersama dengan Luna. Ia tidak tahan melihat Zion tersiksa. Bagaimana pun juga Anyelir memiliki hubungan rahasia dengan Zion, dan sudah banyak hari-hari indah dan penuh gairah yang ia lewati bersama dengan pria itu.
"Apa maksudnya ini? Siapa yang melakukan ini pada Zion?" tanya Anyelir pada Luna.
__ADS_1
Luna diam saja, ia masih gemetar dan terlihat ketakutan. Sejurus kemudian Luna menatap Arjuna. "Aku harus ke sana."
"Tidak! Kamu tidak boleh ke mana-mana." Arjuna melarang. "Biar aku yang mengurus ini semua. Bagaimana pun juga Zion sudah kuanggap seperti temanku."
Luna menggeleng. Sekarang air mata telah mengalir deras dari kedua mata indahnya.
"Tidak, aku tidak boleh diam saja di sini, Juna. Miss. Rana yang ada di balik semua ini. Aku tahu apa maksudnya. Miss. Rana ingin agar aku kembali ke sana, itulah sebabnya dia menangkap Zion dan menyiksa Zion."
"Tenangkan dirimu, Luna. Mungkin kamu salah menafsirkan niat si Rana itu. Bisa saja dia hanya hobi menyiksa, bukannya ingin agar kamu datang ke sana," ujar Arjuna. "Kamu diamlah di sini, biar aku yang ke sana. Aku akan membawa beberapa polisi juga."
"Hal seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya, Juna. Saat Bimo membayar untuk tidur denganku, aku melarikan diri dan berusaha menolak mati-matian, saat itu Miss tidak berusaha menangkapku, dia justru menangkap Zion dan menenggelamkan Zion di bak penampungan air, sama seperti sekarang. Jika sekarang pun Miss melakukan hal yang sama, maka niatnya pastilah sama seperti sebelumnya."
Anyelir yang mendengar ucapan Luna seketika menjadi berang. "Kamu memang pembawa sial, Luna. Kamu membawa nasib buruk pada semua orang yang ada di sekitarmu."
"Cukup, Anyelir," gumam Arjuna, tetapi Anyelir belum puas. Ia masih terus mengoceh dan mengatai Luna tanpa henti.
"Lihatlah Zion, dia hampir mati karena kamu! Atau mungkin dia sudah mati sekarang." Anyelir kemudian menyentuh kedua bahu Luna dan mengguncang tubuh Luna dengan kasar. "Seharusnya kamu yang di sana. Seharusnya kamu yang tenggelam dan mati di sana, bukannya Zion."
Arjuna mendaratkan tangannya di pipi Anyelir.
"Juna, kamu menamparku?" lirih Anyelir.
"Arjuna, apa yang kamu lakukan?" tanya Luna, yang terkejut karena Arjuna tidak bisa mengendalikan emosinya.
Arjuna sendiri terlihat menyesal, ia menatap telapak tangannya dan Anyelir bergantian. "Maafkan aku, Nye," ujarnya, lalu menambahkan. "Kalian tunggu di sini, aku akan menelepon polisi."
Setelah mengatakan itu, Arjuna langsung keluar dari dalam ruangan dan terus berlari menuju mobilnya, karena ia meninggalkan ponselnya di mobil sejak tiba dari rumah sakit beberapa saat lalu.
Arjuna menekan nomor kenalannya yang seorang polisi dan meminta bantuan agar temannya itu melakukan penggeledahan di Rumah Merah.
__ADS_1
"Harus ada surat izin resmi sebelum kami mulai menggeledah, Juna, tidak bisa sembarangan," ujar Nico, seorang teman Juna yang berprofesi sebagai polisi.
"Apa yang harus aku lakukan agar kalian menggeledah tempat itu? Aku bersumpah, di sana sedang terjadi penyiksaan. Seorang pria ditenggelamkan di sebuah bak air berukuran besar. Aku punya videonya," ujar Arjuna yang berusaha meyakinkan.
"Kalau begitu bawalah videonya kemari, atau kamu kirim saja melalui whatsapp. Aku akan buatkan laporan resminya dan mengirim beberapa kru ke sana."
"Baik, baik, aku akan kirimkan videonya. Aku tutup dulu."
Arjuna kemudian keluar dari mobil dan kembali berlari memasuki rumah, menyeberangi ruang tamu, menaiki tangga, dan terus berlari hingga tiba di depan ruang kerja Anyelir.
"Anye! Astaga, Anyelir apa yang terjadi?" Arjuna terkejut saat mendapati Anyelir terbaring di lantai dalam keadaan pingsan, dan di samping Anyelir tergeletak sebuah vas yang tadinya vas itu ada di atas meja.
"****! Luna!" Arjuna segera mengangkat tubuh Anyelir ke atas sofa dan meneriaki pelayanan agar mengurus Anyelir dan menelepon dokter, sementara ia sendiri langsung berlari menuju mobil. Arjuna tahu bahwa Luna yang keras kepala itu sekarang pasti sedang menuju ke Rumah Merah untuk menyelamatkan Zion.
***
Luna berlari sepanjang jalan tanpa mengenakan alas kaki. Setelah membuat Anyelir pingsan dengan cara memukul bagian punggung Anyelir dengan vas, Luna langsung keluar dari ruangan Anyelir dan berlari ke bagian belakang rumah, lalu kemudian memanjat pagar yang ada di bagian belakang gudang.
Luna melakukannya begitu saja tanpa pikir panjang, yang ada di dalam pikirannya saat itu hanyalah Zion, dan bagaimana caranya agar ia dapat menyelamatkan Zion secepatnya.
Sekarang Luna sudah hampir setengah jalan menuju jalan besar. Ia menghentikan mobil yang kebetulan melintas dan meminta tolong agar di antarkan ke SuperMart. Bangunan Rumah Merah memang terletak tidak jauh dari supermarket terbesar yang ada di kota itu, sehingga akan mudah bagi Luna untuk tiba di Rumah Merah jika ia mendapat tumpangan hingga ke SuperMart.
Beruntung mobil yang Luna hentikan bersedia untuk mengantar Luna. Luna segera naik sambil memegangi perutnya yang mulai terasa nyeri tak keruan.
"Bertahanlah, Nak, aku mohon bertahanlah. Ibumu ini harus menyelamatkan Zion bagaimana pun caranya." Luna membatin.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak lebih dari setengah jam, Luna akhirnya tiba di depan gedung SuperMart. Ia langsung masuk ke dalam gang sempit yang ada di samping bangunan besar tersebut dan terus berjalan hingga sebuah bangunan berwarna merah menyala yang terdiri dari lima lantai terlihat oleh pandangannya.
Luna menatap bangunan di hadapannya dengan dada berdebar. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang semakin sakit.
__ADS_1
"Rumah Merah, aku kembali."
Bersambung.