
Arjuna kembali ke ruang keluarga, di mana Anyelir dan Maria masih asyik mengobrol dan membicarakan perihal berlian yang seolah tidak ada habisnya.
Melihat wajah Arjuna yang tegang, senyum di wajah Anyelir menghilang. Anyelir segera bangkit berdiri menghampiri Arjuna dan bertanya, "Mas, ada apa?"
Arjuna yang panik hampir saja langsung menjawab pertanyaan Anyelir bahwa Luna mengalami pendarahan. Beruntung ia kembali teringat akan kehadiran Maria di ruangan itu yang membuatnya tidak boleh sembarang berucap.
"Aku ada urusan penting di kantor. Ada beberapa hal yang harus kurus, Nye. Kalian lanjutkan saja mengobrolnya."
"Seperti di kantor itu tidak ada Wisnu dan Rayan saja, Juna." Maria menimpali. "Istri sedang mengandung begini tidak baik kalau terus ditinggal. Kalau ada apa-apa bagaimana?"
Arjuna menghela napas. "Di kantor memang ada Wisnu dan Rayan, Ma, tapi kalau semua pekerjaan kantor bisa mereka kerjakan, bisa-bisa mereka yang jadi CEO, bukan Juna. Lagi pula di rumah banyak pelayan yang bisa menjaga Anyelir."
"Ya sudah, Mas, berangkatlah. Hati-hati di jalan," ujar Anyelir, sambil mengecup pipi Arjuna.
Arjuna hanya mengangguk dan langsung berlari menuju pintu keluar tanpa membalas kecupan dari Anyelir.
***
Sedan mewah buatan Jerman yang dikendarai Arjuna melaju dengan cepat membelah ramainya jalanan ibu kota. Arjuna mengemudi dengan gesit, menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi jalannya agar ia dapat segera tiba di apartemen Luna.
Akan tetapi, nasib sial tidak dapat ia hindari ketika sedan yang ia kendarai terjebak kemacetan di sebuah jalan poros tidak terlalu jauh dari apartemen Luna. Arjuna meninju kemudi sambil mengumpat. Di saat bersamaan ponselnya berbunyi dan nama Manda kembali terpampang di layar benda pipih tersebut.
"Ya, Manda." Arjuna menjawab.
"Anda sudah di mana, Tuan?" Suara cempreng Manda langsung menyapa gendang telinga Arjuna.
"Aku terjebak macet beberapa blok jauhnya dari apartemen. Sepertinya sedang ada unjuk rasa atau apa, aku pun tidak tahu. Bagaimana keadaan Luna? Dia baik saja?" tanya Arjuna
"Dokter sedang memeriksa, saya rasa keadaan Nyonya cukup serius, Tuan, dan kita harus segera memeriksakannya ke spesialis kandungan," cicit Manda.
Arjuna semakin kesal pada keadaan, karena di saat Luna membutuhkannya, ia malah tidak ada di samping wanita itu.
"Tuan, jika saya boleh menyarankan, lebih baik Anda turun dari mobil dan minta sopir untuk mengambil mobil Anda nanti. Sebagai gantinya, Anda cari saja ojek." Manda memberi saran.
__ADS_1
"Begitu, ya?"
"Ya, Tuan, karena jika Anda terus berada di sana, Anda tidak akan tiba di sini sampai sore tiba."
Tanpa berpikir panjang, Arjuna segera menuruti apa yang Manda katakan, walaupun sebelumnya Arjuna tidak pernah naik ojek sama sekali.
"Aku sudah di luar mobil. Aku akan mencari tukang ojek dan langsung meluncur ke sana," ujar Arjuna, sembari menoleh ke sana-kemari untuk mencari tukang ojek.
"Baiklah, Tuan, jangan lupa dikunci pintunya dan semoga selamat sampai kemari." Manda memutus panggilan telepon dan beralih menatap Luna yang terbaring lemah di atas ranjang. "Tuanku itu mudah kebingungan jika panik."
Luna tersenyum. Ia dapat membayangkan wajah Arjuna saat ini yang sedang kebingungan mencari tukang ojek. Pria kaya raya yang besar dengan gelimpangan harta rela turun dari dalam mobil dan mencari tukang ojek demi dirinya.
"Di luar panas sekali, Mand. Siapkan jus, saat dia tiba banti dia pasti haus." Luna berujar sambil menatap ke luar jendela kamar yang terbuka lebar.
"Aku ragu dia akan minum jus yang Manda siapkan. Aku yakin dia akan langsung berlari ke sini untuk melihat keadaanmu, Lun," ujar Tirta, yang baru saja selesai memeriksa keadaan Luna. "Dia rela naik ojek saja sudah merupakan keajaiban menurutku."
Dokter Tirta secara khusus memang diminta oleh Arjuna untuk menjadi dokter pribadi Luna, sehingga mau tidak mau dokter muda itu harus berpindah tugas dari rumah sakit sebelumnya yang berada di dekat Villa milik Arjuna di desa.
Sementara itu di tengah jalan yang macet, Arjuna berdesakan, berusaha keluar dari kerumunan padat orang-orang yang sedang berunjuk rasa.
Di tengah keriuhan yang terjadi tanpa sengaja Arjuna berpapasan dengan seorang pria yang terasa tidak asing di matanya. Arjuna yakin pernah bertemu dengan pria itu, tetapi ia tidak ingat pasti di mana ia bertemu dengan pria bertubuh besar dengan kepala hampir botak itu.
Baru setelah pria itu berteriak pada salah satu pria lainnyalah Arjuna kembali mengingat di mana ia bertemu dengan pria itu.
"Bagaimana? Ketemu jejaknya?" teriak pria bertubuh besar yang sejak tadi Arjuna perhatikan.
"Tidak! Luna itu seperti hantu. Aku yakin kemarin ada yang melapor bahwa melihat Luna lewat di sekitar sini." Si pria satunya balas berteriak.
"Sial. Miss bisa mengamuk kalau Luna tidak kita temukan minggu-minggu ini."
Pria itu adalah Boy. Pria yang ditemui Arjuna di Rumah Merah beberapa bulan lalu saat ia mencari keberadaan seorang wanita berjubah mandi, yang ternyata wanita itu adalah Luna.
"Sial! Mereka mencari Luna sampai kemari," gumam Arjuna, yang mendadak merasa khawatir karena ternyata keselamatan Luna tidak begitu terjamin walaupun ia memilihkan kawasan elit untuk wanita itu tinggal.
__ADS_1
Arjuna segera mempercepat langkah menjauhi Boy dan rekannya hingga ia menemukan seorang pria berjaket hijau yang merupakan tukang ojek.
"Mas, Apartemen Diamond," ujar Arjuna, sambil menepuk pundak pria yang sedang asik duduk di atas motor sambil menonton aksi unjuk rasa.
"Rutenya agak susah, Pak, karena sedang macet begini--"
"Tidak masalah. Aku akan bayar lebih," ujar Arjuna, sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dengan nominal yang tidak akan mungkin ditolak oleh tukang ojek mana pun.
Si tukang ojek tersenyum lebar, lalu memberikan sebuah helm untuk Arjuna kenakan. "Baik, Pak, mari saya antar."
Arjuna mengangguk dan segera duduk di jok belakang sambil mengatur napas karena gugup, toh sebelumnya ia tidak pernah dibonceng menggunakan motor.
Setelah beberapa menit akhirnya Arjuna tiba di apartemen. Tanpa berlama-lama ia segera berlari menyeberangi lobi menuju elevator dan menekan angka 15, di mana unit apartemen Luna berada.
Saat berada di dalam elevator, Arjuna tidak lupa mengabari Manda. Ia ingin agar saat ia tiba, Manda sudah bersiap membuka pintu sehingga ia tidak harus menunggu lama.
Dan benar saja, begitu ia tiba di lantai 15 dan baru saja ia menekan bel, pintu apartemen tiba-tiba terbuka dan wajah Manda yang kelelahan menyambutnya. "Akhirnya Anda tiba, Pak."
"Di mana Luna?"
"Di kamarnya dengan Dokter Tir--"
"Oke." Arjuna memotong ucapan Manda dan segera berlari menuju kamar Luna.
"Lun!" seru Arjuna sambil membuka pintu kamar, lalu ia segera menghampiri Luna yang duduk di atas ranjang dengan wajah pucat. "Apa yang terjadi? Manda bilang kamu mengalami pendarahan." Arjuna menyentuh wajah Luna, lalu memeluk wanita itu dengan erat. Ia begitu khawatir saat melihat wajah Luna yang begitu pucat. Rasa takut kehilangan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan tiba-tiba saja memenuhi benaknya. Apalagi ia tidak tahu seserius apa kasus pendarahan yang Luna alami.
"Dia mengalami pendarahan, Jun, untuk lebih mengetahui apa penyebabnya dan penanganannya lebih lanjut, aku merujukmu untuk membawa Luna ke dokter spesialis kandungan. Semoga semuanya baik-baik saja, walaupun Luna mengeluarkan banyak darah barusan," ujar Tirta, menjawab pertanyaan Arjuna.
Arjuna mengalihkan pandangan ke Tirta. "Apa ada kemungkinan terburuk?"
Tirta mengangguk. "Aku harap tidak terjadi pada istrimu, tapi kebanyakan apa yang baru saja Luna alami adalah tanda awal keguguran."
Bersambung.
__ADS_1