
Arjuna dan Zion menatap Luna dengan kedua mata yang membelalak. Mereka berdua sangat terpesona akan kecantikan Luna yang sekarang tengah memakai gaun pengantin sederhana berwarna putih. Wajahnya yang memang sudah cantik, semakin cantik dengan make up minimalis yang dipoles pada wajahnya.
Rambut panjang Luna digelung sedemikian rupa, dan disisakan beberapa helai di samping kanan dan kiri telinganya, membuat Luna terlihat semakin manis.
Luna mengangkat ujung gaunnya yang tidak terlalu panjang, lalu melangkah menghampiri Zion dan Arjuna.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Luna pada Zion dan Arjuna.
"Aku sedang menunggu kekasihku, tentu saja." Zion menjawab.
"Dan aku menunggu pengantinku." Arjuna menjawab sembari mendelik ke Zion.
Keduanya memang telah menunggu Luna di depan ruang make up sejak beberapa menit lalu. Kehadiran Zion sebenarnya karena ia ingin minta maaf pada Luna atas sikap kasarnya beberapa saat lalu. Sedangkan kehadiran Arjuna di depan ruang make up hanya karena iseng saja, karena jika terus berada di sekitar Anyelir, ia dan Anyelir akan terus berdebat mengenai kejadian beberapa malam lalu di bar.
Luna mengibaskan tangan di depan wajah, tidak peduli dengan alasan kedua pria di hadapannya.
"Katakan padaku, di mana ijab kabulnya?" tanya Luna pada Arjuna.
"Di ruang tengah. Ayo." Arjuna kemudian mengulurkan tangan untuk menggandeng Luna, tetapi Luna menolak. "Dasar sok jual mahal," gerutu Arjuna.
Arjuna dan Zion pun mengekor langkah Luna hingga mereka tiba di ruang tengah. Sudah terdapat beberapa tamu di sana, dan juga penghulu yang duduk di balik meja kecil berhiaskan kelopak mawar putih yang indah dan wangi.
Luna lagi-lagi mengangkat ujung gaunnya dan duduk di depan meja yang telah disediakan dengan gerakan yang tidak anggun, membuat Anyelir berdeham untuk memperingatkan Luna agar lebih menjaga sikap, karena tamu yang hadir mulai memperhatikan tingkah Luna yang terlalu ... barbar mungkin kata yang tepat.
Luna menarik sudut bibirnya sedikit, lalu mulai bersikap anggun sesuai keinginan Anyelir. Tidak lama kemudian Zion duduk di sebelah kiri Luna, dan di sebelah kanannya Arjuna.
"Yang mana pengantin prianya?" tanya penghulu yang terlihat bingung.
__ADS_1
Anyelir segera menarik lengan Zion agar pria itu tidak duduk terlalu dekat dengan Luna, apalagi Zion memakai setelan jas yang sama persis dengan yang dipakai Arjuna. Entah dari mana Zion mendapatkan jas itu, Anyelir pun tidak tahu.
Zion menggeser duduknya dengan terpaksa dan membiarkan Luna menjadi milik Arjuna saat pria itu mulai berjabat tangan dengan sang penghulu dan akad nikah pun terucap.
***
Tamu undangan telah pergi sejak beberapa menit yang lalu. Seketika Luna menjadi gugup saat hanya tinggal mereka berempat di dalam Villa itu. Itulah sebabnya Luna sengaja berlama-lama saat mengganti pakaian. Ia tidak peduli dengan ketukan di pintu yang sejak tadi terdengar. Luna pun tidak peduli siapa yang mengetuk, degup jantungnya saja sudah sangat berisik, hingga suara berisik yang berasal dari tempat lain tidak begitu ia pikirkan.
Buk!
Pintu di dobrak, dan Arjuna terlihat berdiri di ambang pintu dengan wajah khawatir.
"Anda mengejutkanku, Pak!" seru Luna, yang buru-buru menarik handuk yang tergantung di dinding untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang telanj_ang.
"Setidaknya jawab ketukanku. Kamu membuatku khawatir. Dasar gila!" Arjuna kemudian menutup pintu itu kembali dan segera meninggalkan Luna.
Setelah mengenakan piyama, Luna lantas keluar dari dalam kamar ganti dan melangkah menuju ruang tengah, di mana Anyelir sedang duduk santai dengan ponsel ditangan.
"Lun, kemari sebentar." Anyelir melambaikan tangan, meminta agar Luna mendekat.
"Nah, duduk sini, Lun." Anyelir menepuk bantalan sofa di sebelahnya.
Luna menurut.
"Ada apa, Bu, tanya Luna?"
"Lihat ini." Anyelir mendekatkan ponselnya pada Luna. "Aku sedang membaca artikel tentang posisi berhubungan badan yang memberikan peluang besar agar kamu lekas hamil. Lihat, Lun, ada posisi missionary, ***** *****, dan juga posisi misionaris dengan kaki terangkat. apa kamu tahu semua gaya itu? Jika tidak, biar aku cari gambarnya di internet."
__ADS_1
Luna menyingkirkan ponsel Anyelir dari hadapannya. "Anda nyaman membahas semua ini padaku? Anda sama sekali tidak merasa sedih atau merasakan hal lain yang normalnya pasti dirasakan seorang istri pada umumnya. Seolah Anda tidak mencintai suami Anda."
Anyelir mendengkus. "Semakin cepat terjadi, semakin cepat selesai, Lun. Justru aku membahas hal ini padamu supaya kamu lekas mengandung dan tidak terlalu sering menghabiskan malam dengan suamiku." Anyelir menjelaskan dengan kedua mata yang mulai berembun.
"Maafkan aku, Bu." Luna seketika merasa bersalah karena mengira Anyelir tidak mencintai suaminya. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Anda tenang saja."
Anyelir mengusap sudut matanya sembari tersenyum. "Aku percaya padamu. Aku serahkan padamu."
Tidak jauh dari tempat Anyelir dan Luna berdiskusi, Arjuna berdiri di bawah bayang-bayang rak buku yang tinggi menjulang. Ia mendengar semua percakapan antara kedua wanita itu. "Anye, Anye, pintar sekali kamu memosisikan dirimu sebagai istri yang menderita dan bijaksana."
***
Setelah membahas banyak hal dengan Anyelir, Luna segera melangkah menuju kamar di mana Arjuna sudah ada di dalam kamar itu dan menunggu kehadirannya.
Luna mengatur napas agar kegugupannya sedikit berkurang. Memang bercinta bukanlah hal yang asing baginya. ia telah melakukannya beberapa kali karena tuntutan pekerjaan, tetapi sebagai seorang istri yang dituntut agar lekas mengandung, kali ini adalah kali pertama.
Luna meletakan tangan di knop pintu, lalu membuka pintu dengan perlahan. Seketika aroma mawar menyeruak memasuki indera penciuamannya.
"Selamat datang istri sementara." Arjuna menyapa dari dalam kamar. Pria itu terlihat duduk dengan santai di sofa sembari membaca majalah dewasa yang pada sampulnya dipenuhi gambar wanita-wanita berbikini.
Luna melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan perlahan. Ia dapat melihat Arjuna dengan jelas sekarang, pria itu hanya mengenakan jubah mandi berwarna putih, rambutnya yang basah membuatnya terlihat semakin tampan dan seksi.
"Sudah siap untuk main kuda-kudaan?" tanya Arjuna.
Luna tersenyum sinis. Ia tahu jika Arjuna sangat menikmati pernikahan kedua yang baru saja pria itu lakukan. Toh Arjuna memang tipe pria mata keranjang dan suka mengobral kejantanan. Toh buktinya beberapa waktu yang lalu Arjuna datang ke Rumah Merah dan membayarnya melalui Miss. Rana, beruntung saat itu dirinya tidak muncul. Bisa gawat kalau sampai Anyelir tahu bahwa ia adalah seorang wanita panggilan.
Luna maju menghampiri Arjuna, ketika tiba di hadapan Arjuna, Luna tanpa ragu memeluk pinggang pria itu kemudian berjinjit dan detik berikutnya Luna mendaratkan bibirnya di bibir Arjuna.
__ADS_1
Bersambung.