
Di dalam kamar tamu yang akan Alula tempati, Bimo telah bersiap. Ia meminta seorang pelayan untuk menyiapkan segelas jus jeruk yang kemudian jus tersebut ia masukan beberapa butir obat perang_sang. Selain jus, Bimo juga menyiapkan pengaman, dan juga tali. Ia berencana untuk mengikat tangan Alula di tiang-tiang ranjang saat mereka berci_nta nanti agar Alula tidak memiliki akses pada tubuhnya sementara Alula menggila karena pengaruh obat.
"Ah, pasti akan seru sekali," gumam Bimo, sambil terkekeh dan mengelus sesuatu yang sejak tadi berkedut dan tegang di bagian bawah tubuhnya.
Setelah selesai mempersiapkan benda-benda yang menurutnya sangat penting untuk sesi berci_ntanya dengan Alula, Bimo segera keluar dari dalam kamar dan melangkah menuju ruang tamu untuk menunggu Alula sembari membawa jus jeruk.
Setibanya di ruang tamu, Bimo langsung duduk di sofa, dan tidak lama kemudian Alula terlihat muncul dari salah satu lorong yang ada di ruangan itu. Alula berjalan menghampiri Bimo sambil sesekali menyentuh perut buncitnya.
"Ada apa? Apa perutmu sakit?" tanya Bimo, berpura-pura khawatir pada Alula.
Alula menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja, terima kasih," jawab Alula.
"Syukurlah kalau begitu. Aku pikir kamu sedang sakit atau apa. Si Arjuna itu memang kurang ajar sekali. Bisa-bisanya dia mengusirmu dari rumahnya setelah dia bosan denganmu. Padahal kamu sedang dalam keadaan mengandung seperti ini." Bimo mengomel, seolah ia mengetahui apa yang sedang menimpa Luna, padahal tidak.
Luna diam saja, ia tidak ingin membahas hal apa pun dengan Bimo, apalagi membahas hubungannya dengan Arjuna.
Melihat Luna diam saja, Bimo segera menyodorkan jus jeruk pada Luna. "Minumlah, kamu pasti haus."
Luna mengangguk, dan segera meraih gelas jus dari atas meja. Namun, saat hendak meminumnya tiba-tiba saja ia merasakan mual yang parah. Luna segera bangkit berdiri dan berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu yang bergolak di dalam perutnya.
Melihat hal itu, Bimo langsung cemberut. "Sial, rencanaku tidak akan berhasil jika dia muntah-muntah, apalagi dia tidak meminum jus ini," gerutu Bimo.
Bimo lalu bangkit berdiri dan menyusul Luna ke kamar mandi. Ia sudah tidak tahan lagi, mana mungkin ia menunda hasratnya yang sejak tadi sudah berusaha ia singkirkan sejenak, ia sungguh tersiksa, dan ia tidak ingin tersiksa lebih lama lagi.
Sesampainya di depan kamar mandi, Bimo mengetuk pintu kamar mandi yang masih tertutup.
"Luna, kamu tidak apa-apa?" teriak Bimo dari depan pintu kamar mandi. "Apa aku perlu memanggil dokter?"
Luna yang mendengar suara Bimo di balik pintu kamar mandi yang tertutup merasa panik seketika. Ia bersandar di pintu dan mengunci pintu perlahan, ia takut jika Bimo mendadak masuk dan berbuat jahat padanya.
__ADS_1
Bimo tertawa sinis saat ia mendengar suara pintu yang dikunci. "Ayolah, Luna, apa yang kamu lakukan di dalam sana. Keluarlah dan minum jus yang kuberikan tadi. Aku tidak memiliki niat jahat padamu. Aku hanya berniat untuk menolongmu yang pasti akan menjadi gembel di jalanan tanpa bantuan dariku. Keluarlah dan jangan merasa aman di dalam sana, karena aku memiliki kunci duplikat yang bisa kugunakan untuk membuka pintu kamar mandi."
Luna meringis dan menepuk dahinya. Tidak terpikir olehnya jika Bimo pastilah memiliki kunci duplikat pintu kamar mandi. Luna mengatur napas, dadanya semakin berdebar sekarang, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang demi bayi di dalam kandungannya. Ia tahu jika dirinya panik, maka si bayi akan merasa tidak nyaman.
"Tidka apa-apa, Nak, tidak apa-apa. Ayahmu akan segera datang," gumam Luna sambil mengelus perutnya.
Buk! Buk! Buk!
Bimo meninju dan menendang pintu kamar mandi sambil berteriak tak keruan. Ia merasa kesal sekali karena Luna tidak bersikap baik padanya.
Luna terkejut mendengar suara ketukan yang begitu keras di pintu.
"Dasar pelacur tidak tahu terima kasih. Aku sudah menolongmu, tetapi kamu malah bertingkah seperti ini. Di mana sopan santunmu, Luna?!" teriak Bimo. "Sekarang cepat keluar sebelum aku membuka paksa pintu ini dan menarikmu dengan paksa juga dari dalam sana."
Tubuh Luna gemetar. Ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku cardigannya, dan kembali menelepon Arjuna.
"Oke kalau itu maumu. Kamulah yang memaksaku, Luna," desis Bimo, lalu menghampiri lemari yang terletak tidak jauh dari kamar mandi.
Mendengar suara bising dari lubang kunci, Luna menjadi semakin ketakutan. Tangannya gemetar hingga ponsel yang ia pegang terjatuh dari tangannya. Dan tidak berapa lama kemudian pintu terbuka, memperlihatkan Bimo yang tersenyum penuh kemenangan.
"Ckckc, padahal aku sudah berusaha untuk bersikap baik padamu, Lun, tapi kenapa kamu ini sombong sekali," ujar Bimo.
Luna mundur menjauh dari Bimo. "Pergilah, aku butuh privasi."
"Tidak akan." Bimo menarik lengan Luna keluar dari dalam kamar mandi, membuat Luna menjerit karena terkejut, dan jeritan Luna terdengar oleh Arjuna yang baru saja menerima panggilan dari ponsel Arjuna.
Mendengar jeritan Luna, Arjuna semakin melajukan mobilnya. Ia bahkan menerobos lampu merah dan tidak memedulikan sekumpulan polisi yang sedang mengawasi arus lalu lintas sore itu.
"Astaga, dasar orang kaya. Seperti jalanan ini milik nenek moyangnya saja!" seru seorang petugas polisi lalu lintas.
__ADS_1
Arjuna tiba di depan pagar rumah Bimo setelah beberapa saat. Ia langsung turun dari mobil dan berlari menuju pagar tersebut, di mana terdapat sebuah pos jaga.
"Aku harus masuk," ujar Arjuna pada sekuriti yang bertugas.
Sekuriti yang kebetulan mengenal Arjuna, langsung membuka pagar dan mempersilakan Arjuna untuk masuk. "Silakan, Tuan."
Arjuna membiarkan mobilnya berada di luar pagar, ia memilih berlari melintasi halaman hingga tiba di bangunan utama. Ia langsung membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci dan berteriak-teriak memanggil nama Luna.
"Luna! Luna!" seru Arjuna.
Luna yang sedang berada di lorong yang memisahkan antara kamar mandi dan ruang tamu segera menggigit lengan Bimo, membuat Bimo terkejut hingga pegangannya pada lengan Luna melonggar. Di saat Bimo masih terkejut, Luna segera berlari menuju ruang tamu, di mana terdengar suara Arjuna yang masih menyerukan namanya.
"Juna! Arjuna." Luna berteriak, lalu langsung menghampiri Arjuna dan memeluk tubuh pria itu. "Syukurlah kamu datang, syukurlah." Luna menangis lega, ia sangat bersyukur karena Arjuna tiba tepat waktu.
Arjuna membalas pelukan dari Luna, dan mengecupi puncak kepala Luna. Ia bersyukur karena Luna terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka di tubuh wanita yang ia cintai itu, hanya wajah Luna saja yang terlihat pucat dan ketakutan.
"Kamu tidak apa-apa! Apa yang telah Bimo lakukan padamu? Di mana dia? Biar aku hajar dia," tanya Arjuna, sambil mengusap kedua pipi Luna yang basah karena air mata wanita itu.
Luna menggeleng. "Tidak perlu menghajarnya. Bukan salahnya sampai aku ada di sini. Akulah yang ikut dengan sukarela dengannya."
Arjuna terkejut begitu mendengar ucapan Luna. "Apa yang kamu katakan, Luna? Kenapa kamu begitu gegabah?!"
"Semua karena kamu tidak mau ikut denganku, dan karena kamu tidak langsung menyusulku," ujar Luna sambil cemberut. "Kamulah semua penyebab kekacauan ini, Arjuna."
Arjuna mendengkus kesal sekaligus begitu gemas melihat wajah Luna yang sedang marah. Tanpa pikir panjang Arjuna langsung menangkup kedua pipi Luna dengan tangannya dan mendaratkan kecupan di bibir Luna.
"Maafkan aku kalau begitu. Sekarang kembalilah denganku, Lunaku," ujar Arjuna, di sela-sela ciuman mereka.
Di saat bersamaan, Dermawan Evan yang kebetulan memiliki urusan pekerjaan yang ingin dibicarakan dengan Bimo muncul di ambang pintu. Ia begitu terkejut begitu melihat Luna dan Arjuna berciuman di ruang tamu.
__ADS_1
"Arjuna, apa yang kamu lakukan?!"
Bersambung