
Maria menghentikan gerak tangannya yang sejak tadi ingin menjambak rambut Anyelir. Tubuhnya tiba-tiba saja menjadi lemas, dan lidahnya kelu. Banyak yang ingin ia katakan dan tanyakan pada Jeremy, tetapi tidak bisa. Alih-alih menuntut penjelasnya dari Jeremy, Maria justru terjatuh. Beruntung Luna dengan cepat menahan tubuh Maria, dan membantu Maria untuk duduk di sofa tepat di samping Anyelir.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Luna, pada Maria.
Maria mengangguk lemah. Ia menatap wajah Luna sejenak, lalu beralih ke perut Luna yang buncit.
"Ambilkan air, Juna," pinta Luna.
"Biar aku saja. Kak Juna jaga saja Kak Luna, aku takut mama akan kembali mengamuk," ujar Siska sebelum bangkit berdiri dan mengambil satu botol air mineral yang ada di rak buku di sudut ruangan.
Arjuna mengangguk. Ia lalu berlutut di hadapan Maria. "Ma, Mama baik-baik saja?" tanya Arjuna.
"Dia tidak baik-baik saja, Juna. Bagaimanapun juga mamamu pasti terkejut. Semua ini sungguh di luar dugaan." Dermawan berkata.
Beberapa saat kemudian, Siska kembali dan menyerahkan sebotol air mineral ke Maria, yang langsung diteguk Maria sedikit demi sedikit. Setelah Maria merasa lebih tenang, ia menegakkan duduknya dan mulai mencerca Jeremy dengan berbagai macam pertanyaan.
"Istri kedua bagaimana maksudmu, Juna? Dan kapan kalian menikah? Kenapa kamu menikah dengannya? Kamu mengkhianati Anyelir kalau begitu, benar?" tanya Maria.
Arjuna tersenyum dan menyentuh tangan ibunya. "Tidak, Ma, aku tidak mengkhianati Anyelir. Anyelir lah yang memintaku untuk menikah dengan Luna."
Maria mengernyitkan dahi. "Anyelir ... tapi kenapa? Kenapa harus wanita ini, sementara ada Sabrina yang selama ini mencintaimu dengan tulus, Arjuna. Mama sungguh tidak habis pikir dengan cara pikir kalian."
"Simpel saja sebenarnya, kenapa harus Luna, dan bukannya Sabrina."
Anyelir ikut menyimak, karena ia memang merasa jika Arjuna tidak semata-mata menuruti kehendaknya saat memutuskan untuk menikahi Luna.
"Aku tertarik pada Luna sejak pertama aku bertemu dengannya. Dan saat Anyelir memintaku menikah dengan Luna, tentu saja aku tidak menolak, walaupun awalnya aku terkejut dan berusaha untuk menolak, tetapi pemikiran tentang Luna yang ditakdirkan untukku perlahan memenuhi dada dan pikiranku sehingga aku rasa tidak ada salahnya jika aku menikah dengannya."
Maria menyentuh kepalanya yang berdenyut. "Astaga, pemikiran macam apa itu, Arjuna!" serunya.
Sementara itu Dermawan tertawa. "Sudah kutebak hal itu sejak awal. Tidak mungkin kamu menikah lagi dengan alasan apa pun jika kamu tidak tertarik pada wanita yang akan kamu nikahi."
Kedua pipi Luna merona karena malu, ia tidak menyangka jika Arjuna akan mengatakan hal demikian di depan banyak orang.
__ADS_1
Detik berikutnya Arjuna mulai menjelaskan pada Maria tentang segalanya. Tentang permintaan Anyelir dan Awal pernikahannya dengan Luna. Maria mendengarkan dengan saksama, ia tidak memotong ucapan Arjuna sekali pun.
".... ya, begitulah, Ma, kejadiannya. Luna istriku sekarang, dan dia sedang mengandung anakku." Arjuna mengakhiri penjelasannya.
Hening.
Tidak ada yang bersuara, seolah semua yang ada di ruangan itu menanti reaksi Maria. Luna bahkan merasa jika keheningan yang terjadi sungguh membuatnya sesak napas. Ia merasa jika keheningan ini menipu, membuat dirinya seolah merasa tenang, padahal detik berikutnya mudah saja bagi Maria untuk menendangnya keluar dari ruangan itu dan mencaci makinya habis-habisan. Namun, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Maria menarik Luna ke dalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu di pundak Luna.
"Terima kasih, terima kasih karena kamu telah bersedia memberiku cucu. Terima kasih, Luna," lirih Maria.
Luna ikut menangis, ia tidak menyangka jika kekhawatirannya tidak terjadi. Maria tidak mengusirnya dan mencacinya, justru Maria memeluknya dan mengucapkan terima kasih.
'Wah, luar biasa,' batin Luna.
***
Zion berdiri di depan bangunan megah Rumah Merah dengan perasaan gugup. Sudah lama sekali ia tidak menatap bangunan itu secara langsung, dan sulit sekali berusaha untuk kembali ke sana, sesulit saat ia memutuskan untuk melarikan diri dari sana.
Zion mengatur napas, lalu meregangkan otot-ototnya. Ia tahu jika ia memutuskan masuk, itu berarti ia harus siap menghajar beberapa orang dan juga dihajar oleh beberapa orang. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa baginya, asalkan ia bisa bertemu kembali dengan Luna.
Zion lalu melanjutkan langkah memasuki bangunan Rumah Merah. Kedatangannya langsung disambut oleh beberapa penjaga yang berjaga di pintu masuk utama.
"Di mana Miss. Rana?" tanya Zion pada pria muda yang berjaga.
"Ada keperluan apa kamu mencari Miss?" tanya penjaga itu.
Zion mengernyitkan dahi, ia kemudian memperhatikan pria di hadapannya yang ternyata belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Kamu penjaga baru di sini?" tanya Zion.
Pria itu menggeleng. "Tidak, aku sudah tiga bulan di sini."
Zion memutar bola matanya dengan malas begitu mendengar jawaban dari pria di hadapannya. "Ck, itu artinya kamu baru di sini. Aku sudah di sini sejak usiaku masih 19 tahun. Sekarang minggirlah, aku harus menemui Miss."
__ADS_1
Si penjaga merentangkan tangan, masih berusaha menghalangi langkah Zion. "Kamu tidak boleh masuk tanpa kartu anggota, karena jam operasional baru belum dimulai."
Buk!
Zion meninju wajah pria muda itu, hingga pria itu jatuh tersungkur. "Kamu ini menjengkelkan sekali," ujar Zion, lalu ia melangkahi tubuh si pemuda yang masih berbaring di lantai.
Setelahnya Zion tidak mendapat gangguan apa pun lagi hingga ia tiba di aula utama. Dan di seberang aula, di mana terdapat meja baru yang penuh dengan berbagai macam minuman keras terlihat Miss. Rana tengah duduk di sebuah kursi bersaudara tinggi sambil menyilangkan kakinya, seolah ia sudah tahu bahwa Zion akan datang.
"Miss, Anda siaga sekali," komentar Zion.
"Aku memperhatikan monitor CCTV di depan gerbang, dan aku melihatmu berdiri di sana selama berjam-jam. Aku penasaran, apakah kamu akan masuk atau tidak, tetapi ternyata kamu masuk. Maka aku berusaha untuk menyambutmu dengan hangat, Zi," ujar Miss. Rana, sambil menjulurkan lidah, seolah ia ingin menjilati Zion dengan rakus.
Zion bergidik. Ia tahu bagaimana rasanya bercinta dengan Miss. Rana, ia pernah beberapa kali melayani wanita itu, dan ia sangat tidak menikmati kebersamaan mereka.
"Aku ingin bicara, Miss," ujar Zion.
"Bicaralah setelah kita bercinta, Zion, aku meridukanmu. Beruntung kamu tidak mati saat Boy kuperintahkan untuk menghabisimu."
Zion tertawa sinis. "Tidak tahu malu sekali," gumam Zion. "Langsung saja, Miss, apa Luna ada di sini? Aku ingin bertemu dengan Luna. Katakan, di mana dia?"
Miss. Rana memasang tampang cemberut yang membuat Zion ingin muntah. Wanita tua itu lalu turun dari kursi yang ia duduki dan menghampiri Zion.
"Aku terluka sekali. Aku pikir kedatanganmu ke sini karena merindukanku, dan menginginkan pekerjaanmu kembali, tetapi ternyata kamu datang hanya untuk mencari Luna. Ah, sial, Luna memang secantik itu sampai-sampai kamu pun terpesona padanya," ujar Miss. Rana.
Zion mundur, menjauh dari Miss. Rana yang sekarang telah berdiri di hadapannya.
Miss. Rana, menepuk tangannya beberapa kali, dan detik berikutnya beberapa penjaga bermunculan dari sudut ruangan yang gelap dan tanpa menunggu perintah selanjutnya para penjaga itu menghampiri Zion, menahan lengan Zion, mengikat, dan meninju saat Zion mulai berontak.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" Zion berteriak, bibirnya dan hidungnya mengeluarkan darah, tetapi ia tidak terlihat kesakitan sama sekali.
"Aku akan melepaskanmu setelah aku memanfaatkan keadaanmu," ujar Miss. Rana dengan malas.
"Apa maksudmu?" tanya Zion.
__ADS_1
"Luna. Aku ingin Luna kembali, dan dia hanya akan kembali jika melihat kamu tersiksa, Zi, aku tahu itu." Miss. Rana tertawa, kemudian ia memberi perintah pada penjaga yang menahan tubuh Zion. "Bawa dia ke ruang cuci, dia harus dibuat tenggelam agar Luna sialan itu datang."
Bersambung.