LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
KERTAS BERMATERAI


__ADS_3

Dua orang penjaga menyambut kedatangan Luna di pintu masuk utama. Kedua penjaga itu menatap Luna dengan tatapan lapar, seolah Luna adalah santapan yang menggiurkan. Luna yang sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu tidak terlalu peduli. Toh hidupnya selama ini memang selalu dikelilingi oleh para pria-pria hidung belang yang tidak bisa melihat wanita cantik sedikit saja.


Luna memantapkan langkahnya dan berhenti di depan kedua penjaga. "Katakan pada miss, kalau Luna sudah tiba," ujar Luna, tanpa berbasa-basi.


Salah satu penjaga mendekat ke Luna, lalu membelai leher jenjang Luna. "Perut besarmu tidak mengurangi kecantikanmu sama sekali," bisik penjaga itu di telinga Luna.


Luna mundur selangkah, sambil tersenyum miring ia berkata, "Hati-hati. Kamu sedang menyentuh wanita 200 juta. Kalau miss sampai tahu, tanganmu bisa dipotong karena terlalu lancang."


Penjaga itu tertawa. "Jangan bercanda. Kamu sudah bukan wanita 200 juta lagi, lihat saja bentuk tubuhmu. Mana ada yang mau membayarmu dengan harga segitu."


Luna memutar bola matanya dengan malas, lalu membelai perutnya dengan gerakan yang menurutnya sudah sangat sensual. "Kamu tidak tahu jika kebanyakan pria berimajinasi dapat menikmati tubuh seorang wanita hamil, terutama wanita hamil yang cantik dan seksi. Aku jamin, saat aku mengenakan gaun malamku, jangankan 200 juta, 300 kita pun akan dengan mudah kudapatkan. Kamu harus tahu bahwa aku sangat ahli." Luna menjulurkan lidah dan menj_ilat ujung jari penjaga yang berdebat dengannya.


Penjaga itu menelan ludah, sensasi yang diberikan oleh indera perasa Luna sangat menggoda hingga membuat tubuhnya gemetar.


Luna tersenyum nakal melihat efek yang ia timbulkan pada penjaga kurang ajar di hadapannya. "Cepatlah katakan pada miss kalau aku sudah datang. Aku sudah cukup lelah terus berdiri seperti ini." Luna cemberut.


Si penjaga mengangguk dan langsung meraih telepon yang terdapat di atas meja dan segera melakukan panggilan ke dalam ruangan Miss. Rana. "Halo, Miss, dia sudah datang."


Luna menunggu, sementara si penjaga masih menelepon di balik meja yang ada di dekat pintu masuk. Dada Luna berdebar tak keruan, ia memang berhasil berpura-pura terlihat tegar dan berani, padahal yang sedang ia rasakan justru bertolak belakang dari yang ia perlihatkan. Luna ketakutan saat ini, karena ia tahu bahwa keputusannya untuk kembali ke Rumah Merah akan membawa perubahan besar di dalam hidupnya. Ia yakin, setelah ini ia tidak akan bisa kembali ke dalam pelukan Arjuna.


Membayangkan kemungkinan itu membuatnya sedih. Luna mulai memikirkan bagaimana nasib anak yang tengah dikandungnya, apakah anaknya bisa lahir dengan selamat dan tumbuh besar secara normal seperti anak-anak kebanyakan.


"Miss memintamu langsung naik ke ruang cuci. Akan ada penjaga yang menjemputmu di ujung bar dan mengantarmu ke sana."


Suara si penjaga mengejutkan Luna. Luna yang tanpa sadar telah meneteskan air mata buru-buru mengusap sudut matanya yang basah, lalu dengan cepat meninggalkan si penjaga yang masih menatapnya dengan tatapan mesum.


***

__ADS_1


Zion kehabisan napas, ia mulai meronta di dalam air karena penjaga tidak kunjung menarik tuas hingga tubuhnya terus tenggelam.


Penjaga sengaja tidak menaikkan Zion ke permukaan, karena Miss.Rana memerintahkan demikian.


"Biarkan dia terus di dalam sana sampai Luna tiba. Luna harus melihat betapa menderitanya Zion gara-gara tingkahnya yang sok itu," ujar Miss. Rana.


"Tapi, Miss, dia bisa mati," ucap si penjaga.


"Tidak, dia tidak akan mati. Sebentar lagi Luna akan tiba di sini ... nah, itu dia."


Suara gaduh mulai terdengar di tangga, dan benar apa yang dikatakan Miss. Rana, detik berikutnya Luna muncul dengan napas yang terengah-engah.


"Di mana? Di mana dia?" tanya Luna yang langsung berlutut di hadapan Miss. Rana. Kedua tangannya meremas lutut Miss. Rana yang duduk di satu-satunya kursi kayu yang ada di ruangan itu.


Luna tahu jika situasi sedang sangat genting saat ini, percuma saja berbicara dengan angkuh pada Miss. Rana dan berdebat jika nyawa Zion sedang dalam bahaya. Lebih baik ia mengemis, dan itulah yang sedang dilakukannya sekarang--mengemis belas kasihan dari Miss. Rana.


Luna memandang salah satu bak penampungan air. Ia bangkit berdiri dan langsung berlari ke bak tersebut. Ada tangga yang terdapat di depan bak, tangga yang bisa digunakan untuk memanjat, karena sangat mustahil masuk ke dalam bak penampungan air itu tanpa menggunakan tangga.


Luna memegangi perutnya, mengelusnya dengan lembut agar si bayi merasa tenang, lalu ia mulai memanjat tangga tersebut hingga ia tiba di tepi bak. Saat tiba di atas bak penampungan, Luna melihat dengan jelas tubuh Zion yang tenggelam.


Air mata Luna kembali menetes melihat Zion diperlakukan dengan begitu kejam. Hanya karena menginginkan dirinya, Miss. Rana tega menyiksa Zion sedemikian rupa.


"Rana sialan," gumam Luna, lalu tanpa pikir panjang Luna melompat ke dalam bak penampungan air dan segera melepaskan tali yang mengikat tubuh Zion, sesekali Luna muncul di permukaan untuk menghirup udara, sebelum akhirnya ia kembali menyelam.


Setelah beberapa saat akhirnya Luna berhasil melepas tali yang mengikat kaki dan tangan Zion, kemudian dengan susah payah Luna naik ke permukaan sambil menarik tubuh Zion.


"Zion, bagunlah, Zi, bangun, Zi!" Luna mengguncang tubuh Zion, tetapi Zion tidak juga kunjung membuka mata.

__ADS_1


Luna lalu memelototi penjaga yang berdiri di tepi bak penampungan dan berteriak pada penjaga itu. "keluarkan dia dari sini. Dia kedinginan!"


Si penjaga tidak melakukan perintah Luna. Alih-alih mengeluarkan Zion dari dalam bak penampungan, si penjaga justru mengalihkan pandangannya ke Miss. Rana, menunggu perintah selanjutnya dari wanita bertubuh kurus tersebut.


"Keluarkan dia dari sana!" seru Miss. Rana.


Si penjaga mengangguk, lalu segera menarik tubuh Zion ke atas dan membawanya turun melalui tangga untuk kemudian dibaringkan di lantai.


Luna menyusul, ia dapat dengan mudah naik kembali ke tepi bak penampungan dan turun ke bawah menghampiri Zion yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


"Lakukan sesuatu, dokter atau apa pun yang bisa menyelamatkan Zion," pinta Luna, sambil memberikan pertolongan pertama pada Zion dengan cara menekan dada Zion dan memberikan napas buatan untuk Zion. Namun,semua usahanya itu tidak membawa hasil apa pun dan akhirnya hanya membuatnya frustrasi.


"Aku akan memanggil dokter untuk Zion, tapi ada syaratnya, Lun, tidak ada yang gratis di dunia ini," ujar Miss. Rana, dengan santainya, seolah keselamatan Zion hanyalah sebuah permainan bagi Miss. Rana.


Luna mengangguk. "Apa pun, apa pun akan aku lakukan asal Zion selamat."


Miss. Rana tersenyum puas. "Good Girl. Seharusnya kamu melakukan ini sejak awal, agar Zion tidak menderita seperti ini. Sekarang cepat keringkan tanganmu dan tanda tangani kertas ini." Miss. Rana melemparkan handuk dan selembar kertas bermaterai juga pena ke Luna.


"Kertas kosong. Apa yang akan Miss tulis di sini?" tanya Luna, saat ia melihat ternyata kertas yang Miss. Rana berikan padanya adalah selembar kertas kosong yang sudah dibubuhi materai.


"Bisa apa saja. Tergantung moodku." Miss. Rana nyengir, memperlihatkan giginya yang kuning menjijikan. "Cepatlah, sebelum Zionmu mati."


Luna mengambil kertas dan pena itu setelah sebelumnya ia mengeringkan tangan dan meletakan handuk di pangkuannya agar kertasnya tidak mejadi basah. Detik berikutnya, Luna sudah membubuhkan tanda tangannya di atas kertas sesuai permintaan Miss. Rana. Ia hanya tinggal menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.


Seperti apa yang Miss. Rana katakan, bisa apa saja. Dan 'apa saja' itu membuat Luna sangat was-was.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2