
Bukan hanya Arjuna yang terkejut atas permintaan Luna, tetapi Anyelir juga. Wanita itu bahkan harus menarik lengan Luna dan meminta Luna mengatakan sekali lagi syarat yang baru saja Luna ucapkan. Ia ingin memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar.
"Aku ingin suami Anda menikahiku, Bu."
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Luna. Anyelir refleks melakukannya, ia tidak tahan mendengar kalimat itu keluar dari bibir Luna, orang yang ia percaya untuk tidur dengan suaminya malah berniat untuk merebut suaminya.
"Kenapa Anda menamparku?" tanya Luna pada Anyelir.
"Agar kamu sadar bahwa ucapanmu itu telah melukai hatiku." Anyelir kembali mengangkat tangan, ia terlihat belum puas jika hanya menampar Luna satu kali.
Beruntung, Arjuna menahan tangan Anyelir di udara, agar wanita itu tidak kembali menampar Luna. "Cukup, Anye, kita harus dengar alasannya memintaku menikah dengannya. Karena temanmu ini tidak terlihat tertarik padaku sama sekali. Saat aku meneleponnya pagi tadi saja dia mencaciku habis-habisan karena aku tidak becus menjagamu, " ujar Arjuna.
Luna merasa tidak enak mendengar ucapan Arjuna. Pagi tadi ia memang mencaci Arjuna karena pria itu tidak menjaga Anyelir dengan baik, hingga Anyelir hampir saja kehilangan nyawa untuk yang kedua kalinya.
"Maafkan aku soal yang tadi pagi. Aku hanya panik," ujar Luna.
Anyelir menghela napas, berusaha menetralisirkan amarah yang menumpuk di dadanya. Setelah lebih tenang, Anyelir pun bertanya, "Kenapa kamu ingin menikah dengan Mas Juna? Apa karena uang? Jika itu yang kamu pandang, aku akan menyewa rahimmu dengan harga berapapun yang kamu mau. Tidak perlu menikah kurasa."
Luna menggeleng. "Ini bukan masalah uang, Bu, tapi ... entahlah, aku hanya merasa sangat bersalah pada anak yang akan kulahirkan jika anak itu lahir tanpa status yang jelas."
"Dia akan jadi anakku dan Mas Juna, apanya lagi yang kurang jelas, Lun?" Anyelir berteriak.
"Ya, Bu, aku tahu. Tapi di mata Tuhan bagaimana? Apa statusnya di mata Tuhan?" Luna terdiam sesaat. Ia tahu dirinya bukanlah orang yang bersih dari dosa, tapi dulu, jauh sebelum ayahnya meninggal, keluarganya adalah keluarga yang harmonis dan taat pada agama. Luna paham bagaimana status seorang anak yang lahir di luar pernikahan. "Aku hanya tidak ingin menyusahkan anakku di kemudian hari."
__ADS_1
Menarik. Arjuna tidak menyangka jika Luna memiliki pemikiran yang sejauh itu, padahal wanita itu belum menikah dan belum memiliki anak. Arjuna menegakkan duduknya, dan mulai menatap Luna dengan penuh perhatian.
Merasa diperhatikan, Luna kemudian mengalihkan tatapan matanya ke Arjuna. "Apa Anda setuju, Pak, Bu, jika Anda berdua setuju, aku ingin pernikahan dilakukan besok. Bukankah lebih cepat, lebih baik. Aku tidak ingin permasalahan ini menjadi beban yang berlarut-larut."
"Beban? Bagimu permintaan istriku adalah sebuah beban?" Arjuna bertanya.
Luna mengangguk. "Ya, apakah Anda tidak memikirkan perasaanku dan juga hubungan asmaraku."
"Kamu memiliki kekasih?" tanya Arjuna lagi.
"Ya, Pak, apa aku terlihat seperti wanita yang tidak laku?" Luna menjawab dengan sinis. Ia sengaja memberi kesan demikian, agar Anyelir tidak salah paham atas permintaannya untuk menikah dengan Arjuna.
Anyelir memijat pelipisnya, ia benar-benar tidka menyangka jika keinginannya untuk memiliki anak malah membuat kehidupan asmara Luna kacau. Sebenarnya ia ingin membatalkan niatnya itu, tetapi urung ia lakukan karena kesempatan untuk menemukan wanita seperti Luna tidak akan datang dua kali.
"Pernikahan akan dilakukan nanti malam dengan sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa orang saksi. Mari kita lakukan di villa kita, Mas." Anyelir memutuskan.
"Ya, Villa. Jika kita lakukan di sini, akan sangat beresiko. Bagaimana kalau ibu atau adik angkatmu yang suka cari muka itu tiba-tiba saja datang. Bisa ketahuan semuanya. Lebih baik kita lakukan di Villa. Jika kita berangkat setelah tengah hari, kita akan tiba di sana sebelum senja. Aku akan menghubungi pengurus Villa dan meminta mereka mempersiapkan segalanya, termasuk penghulu dan saksi-saksi." Anyelir menjelaskan. Ia lalu menatap Luna dan berkata. "Ini hanyalah pernikahan sementara, Lun, setelah kamu melahirkan, kamu akan berpisah dengan Mas Juna."
Luna mengangguk. "Tentu, aku sangat mencintai kekasihku. Tidak mungkin aku meninggalkannya hanya demi pria seperti suami Anda, Bu."
Arjuna terperangah. "Wah, apa maksudnya itu? Memangnya aku ini pria seperti apa menurutmu, hingga kamu begitu mudah membandingkanku dengan kekasihmu?"
"Kekasihku adalah pria baik dan hangat. Dia sempurna pokoknya."
Anyelir tersenyum. Ia lega karena Luna dan Juna memang terlihat tidak memiliki kecocokan satu sama lain. keduanya sering berdebat, dan Luna memang sering kedapatan menatap Juna dengan tatapan sinis. Hingga sangat tidak mungkin jika keduanya akan terlibat cinta sungguhan selama masa pernikahan sementara.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu ajak kekasihmu itu ke Villa. Aku tidak tahu ini bijak apa tidak, tapi bukankah lebih baik jika dia ikut dan kamu bisa memberitahu segalanya pada kekasihmu itu kalau pernikahan ini hanyalah pernikahan sementara."
Luna mengangguk cepat. "Tentu, aku akan mengajaknya sekalian kalau begitu," ujarnya dengan yakin, padahal ia tidak tahu apakah Zion mau berpura-pura menjadi kekasihnya dan mengizinkannya menikah dengan Arjuna.
***
"Tidak! Aku tidak memberimu izin untuk menikah, mengandung, menyerahkan anakmu, lalu bercerai. Apa-apaan semua itu, Luna? Kenapa hidupmu sinetron sekali, hah?" Zion mengomel begitu Luna menjelaskan segalanya pada pria itu.
Luna menghampiri Zion dan menarik lengan Zion agar pria itu menghadap ke arahnya dan menatap wajahnya. "Ayolah, bantu aku. Ikutlah denganku dan jadilah kekasihku untuk sementara."
Zion tersenyum miring. "Aku harus menjadi kekasih sementara di depan suami sementaramu? Aduh, Lun, kenapa ribet sekali? Aku tidak mau, dan kamu tidak boleh pergi ke mana pun. Apalagi menikah. No way!"
Luna berlutut di hadapan Zion, agar hati Zion melunak dan mau membantunya memulai sandiwara kelas dunia yang akan ia perankan. "Jika aku menolak, bosku mungkin akan kembali mencoba untuk bunuh diri. Dia begitu mengharapkan kehadiran bayi yang merupakan darah daging suaminya, agar dirinya tidak terus-terusan ditindas oleh mertua dan keluarga besar Pak Juna."
"Ck, bosmu itu ribet sekali. Kenapa tidak bercerai saja, sih? kenapa malah menyusahkanmu, keterlaluan sekali."
"Dia mencintai suaminya, bagaimana bisa kamu menyarankan perceraian. Dasar egois!" Luna membentak Zion, lalu melangkah menuju ranjang dan duduk dengan wajah cemberut di atas ranjang reyot tersebut.
Melihat kemarahan Luna, Zion pun melunak. Ia tahu Luna tulus hendak menolong Anyelir, maka mau tidak mau Zion merasa jika dirinya harus setuju.
"Baiklah, aku setuju. Aku kalah, dan kamu menang. Puas?" Ujar Zion, sembari mengangkat kedua tangannya ke atas, persis seperti seorang korban perampokan yang menyerah karena ditodong oleh senjata api.
Mendengar apa yang Zion katakan, Luna lantas berlari ke arah Zion dan memeluk pria itu dengan erat. "Trims, Zi, aku tahu kamu pasti tidak keberatan."
"Ck, siapa bilang aku tidak keberatan. Aku keberatan. Aku setuju karena aku terpaksa." Zion mengoreksi ucapan Luna.
__ADS_1
"Ya, tidak apa-apa, yang penting kamu setuju." Luna tertawa sembari mencubit hidung mancung Zion dengan gemas.
Bersambung.