LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
HUBUNGAN RAHASIA


__ADS_3

Luna kembali memasang sweater dan celananya yang tercecer di bawah kursi mobil, begitu juga dengan Arjuna. Mereka berpakaian dalam diam hingga pakaian keduanya kembali terpasang dengan rapi.


Setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar mobil Arjuna, Luna segera keluar dari dalam mobil tanpa mengatakan apa pun lagi pada Arjuna. Arjuna menyusul dan mengekor langkah Luna hingga mereka tiba di depan unit apartemen Luna.


"Di sini saja. Aku tidak biasa membawa pelangganku masuk ke dalam rumahku," ujar Luna, mengadang langkah Arjuna yang tepat berasa di belakangnya.


Arjuna menaikan sebelah alisnya. "Ayolah, Luna, jangan begini. Aku ingin masuk dan kamu tidak bisa melarangku untuk itu."


Luna memelototi Arjuna yang keras kepala. "Kenapa tidak bisa? Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, karena ini adalah rumahku. Kamu tidak berhak memaksa untuk masuk ke dalam."


Arjuna menghela napas lalu berkata, "Ya, ini memang rumahmu, tapi aku yang membayar sewanya, jadi aku berhak masuk ke dalam bahkan tanpa persetujuanmu sekali pun," ujar Arjuna, lalu menekan bel yang terdapat di samping pintu, dan tidak lama kemudian pintu terbuka.


"Tuan, Nyonya," sapa Pelayan yang membukakan pintu untuk mereka.


"Hai, Man, buatkan aku teh, aku rasa aku akan lama berada di sini." Arjuna tersenyum setelah memberikan perintah pada pelayan yang masih berdiri di dekat pintu, kemudian dengan santainya ia melangkah memasuki unit apartemen Luna.


Luna menghela napas dengan kasar, kemudian mengekor langkah Arjuna yang langsung menuju tuang keluarga. "Sepuluh menit. Aku hanya mengizinkanmu berada di sini selama sepuluh menit. Setelah itu pulanglah, jika tidak aku pasti akan memanggil sekuriti untuk mengusirmu."


Arjuna merebahkan tubuhnya di atas sofa yang empuk, lalu menyelonjorkan kakinya. "Aku sedang lemas sekarang, Luna. Kan kamu tahu kalau aku baru saja mengeluarkan seluruh energiku, mana bisa aku langsung pulang. Aku butuh istirahat paling tidak tiga sampai empat jam sebelum tenang aku pulih kembali." Arjuna mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Luna tersenyum miring. "Jadi hanya segitu seluruh energimu? Lemah sekali! Durasinya bahkan tidak lama," ujar Luna dengan sinis.


Arjuna cemberut begitu mendengar komentar Luna. Ia lalu bangkit berdiri dan menghampiri Luna hingga jarak keduanya begitu dekat. "Aku sengaja tidak berlama-lama, karena situasi yang tidak memungkinkan. Aku bisa melakukannya lebih dari dua jam jika kita memiliki waktu yang tidak terbatas. Jika kamu tidak percaya, aku bisa buktikan bahwa aku tidak selemah yang kamu katakan."


Luna menatap Arjuna dengan penuh penilaian. "Tidak masalah, asal kamu bisa menyiapkan 600 juta untuk tiga jam." Setelah mengatakan itu, Luna langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia tidak ingin Arjuna menyusul dan ikut masuk ke dalam kamarnya, walaupun saat kedua matanya menatap ranjang yang empuk dan nyaman di tengah-tengah kamar, ia langsung membayangkan tubuhnya dan tubuh Arjuna bergelut di atasnya.


"Astaga, apa yang aku bayangkan!" seru Luna, sambil menggelengkan kepalanya dan ia segera melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. "Aku harus segera mandi keramas supaya kepalaku dingin," gumamnya.


Sementara Luna menghabiskan waktu untuk berendam di dalam bathtub, Arjuna sibuk memeriksa isi kulkas Luna, hingga makanan masak yang tersaji di atas meja makan, termasuk camilan yang biasa Luna makan dan juga susu untuk ibu hamil. Arjuna memeriksanya dengan benar, diikuti oleh pelayan yang mengekor di belakangnya.


Pelayan itu bernama Manda, seorang pelayan muda yang telah lama bekerja di kediaman Arjuna. Anyelir sengaja mengirim Manda untuk tinggal dengan Luna agar Manda dapat mengawasi Luna dan juga mengurus segala keperluan Luna dengan baik.


"Apa jam makan Luna selalu teratur, Man?" tanya Arjuna.


Manda menggeleng. "Tidak, Tuan, Nyonya Luna sulit sekali diminta untuk makan. Terkadang dia hanya makan beberapa sendok dan kembali masuk ke dalam kamar. Saat aku bertanya apa yang ingin dia makan, dia hanya diam saja dan tidak mengatakan apa pun."


Arjuna mengangguk. "Mungkin dia lebih nyaman menyantap makanannya di dalam kamar. Mulai sekarang antar saja makanannya ke dalam kamar, jadi dia tidak harus repot-repot pergi ke ruang makan."


"Baik, Tuan." Amanda membungkuk.


Arjuna kembali memeriksa rak yang berisi puluhan kotak susu ibu hamil dan segala macam vitamin yang masih bersegel.


"Dia tidak meminum susu-susu ini?" tanya Arjuna.


Manda menggeleng. "Tidak, Tuan, Nyonya akan langsung muntah jika dipaksa meminum susu kehamilan. Jadi dia hanya meminum susu UHT biasa."


"Akan aku beli susu UHT yang banyak kalau begitu."

__ADS_1


Manda tersenyum. "Anda memang suami yang baik, Pak."


Arjuna terdiam sejenak, pria itu terlihat melamun. "Tidak, Manda, aku tidak sebaik itu," ujarnya, lalu ia kembali bertanya. "Apa selama ini tidak pernah ada keluhan dari Luna, misalnya dia merasa sakit di perutnya atau apa sajalah."


"Tidak, Pak. Nyonya Luna tidak pernah mengeluh tentang apa pun." Manda menjawab pertanyaan dari Arjuna.


"Baguslah. Terus jaga dia dengan baik, Manda, karena aku tidak bisa terus berada di sini. Begitu juga dengan Anyelir. Jika terjadi apa-apa padanya, langsung hubungi aku."


Manda mengangguk. "Baik, Pak, Anda tenang saja, saya akan mengurus Nyonya dengan baik."


Arjuna mengangguk sembari tersenyum, lalu ia menghampiri kamar Luna dan membuka pintu kamar itu, karena kebetulan pintu kamar Luna tidak dikunci.


Arjuna menjelajahi setiap sudut kamar Luna dengan matanya, kamar sederhana dan apa adanya, masih sama seperti saat terakhir kali Arjuna datang ke kamar itu. Luna terlihat tidak membelanjakan uang yang ia berikan, padahal saat meminta Luna pindah ke apartemen, Arjuna memberikan Luna uang dengan jumlah yang lumayan agar Luna bisa mendekorasi ulang kamar tidur sesuai keinginan wanita itu, tetapi kamar Luna masih terlihat sangat sederhana. Tidak ada barang berharga yang terlihat dikamar itu kecuali sebuah rak buku kecil yang berisikan beberapa buku parenting tentang kehamilan dan bagaimana cara mengurus bayi.


Arjuna melangkah ke rak buku itu dan mengambil sebuah buku yang letaknya tidak serapi buku lainnya--kelihatannya buku itu baru dibaca oleh Luna--dan seketika selembar kertas berukuran tidak terlalu besar jatuh dari sela-sela buku yang ia pegang. Arjuna membungkuk untuk meraih kertas tersebut dari lantai dan ternyata kertas itu adalah hasil print USG 3D yang pernah Luna lakukan.


Arjuna memperhatikan dengan saksama hasil print tersebut, dan tanpa terasa air matanya menetes. Ia telah kehilangan banyak momen berharga bersama dengan Luna karena kemarahannya pada wanita itu.


Arjuna mengusap air matanya, lalu segera mengantongi hasil print tersebut dan segera keluar dari kamar.


"Manda, Luna sepertinya sedang mandi, kalau dia selesai nanti katakan saja padanya bahwa aku sudah kembali ke rumah," ujar Arjuna.


"Baik, Pak."


***


Anyelir diam mematung, sekarang ia tidak tahu harus berkata apa pada Sabrina, karena wanita itu telah memergoki kebersamaannya dengan Zion. Apalagi barusan Zion mengecup punggung tangannya. Sabrina tidak bodoh dan pasti tidak akan percaya jika ia mengatakan bahwa Zion hanyalah teman lama yang kebetulan bertemu di mal tersebut.


"Oh, dia temanku, namanya Zion," ujar Anyelir, hanya alasan itu yang terpikir olehnya. "Mas Juna tidak ada di sini, dia sedang di kantor kurasa."


"Teman, ya? Teman istimewa maksudmu?" Sabrina melirik tangan Zion dan Anyelir yang masih saling menggenggam.


Menyadari arah tatapan Sabrina, Anyelir segera melepas genggaman tangan Zion dari tangannya. Zion menghela napas dengan berat, lalu menatap Sabrina lekat-lekat.


"Biar kuluruskan sebelum terjadi kesalahpahaman di sini. Perkenalkan, Nona, namaku Zion Smith." Zion mengulurkan tangannya ke Sabrina, dan ketika Sabrina menyambut ukuran tangan Zion, Zion langsung mengecup punggung tangan Sabrina sembari membungkuk. Hal itu tentu saja membuat Sabrina terkejut dan Anyelir terlihat tidak suka. "Di negara tempatku tinggal, tidak sopan jika bertemu wanita cantik tidak mengecup tangannya." Zion mengedipkan sebelah matanya, membuat kedua pipi Sabrina merona.


"Kamu berasal dari luar negeri?" tanya Sabrina.


"Ya, sebenarnya aku lahir dan besar di sini, Indonesia, tetapi karena salah satu orang tuaku adalah orang Amerika, aku sering terbang ke sana kemari, Amerika, Jerman, Belanda, Inggris, dan negara lain yang ingin kukunjungi." Zion berbohong. "Aku backpacker sejati."


"Wah luar biasa. Pantas saja jika wajahmu tidak seperti pria Indonesia kebanyakan."


Zion terkekeh. "Ya, aku tahu kalau aku sangat memesona." Zion kembali mengedipkan matanya.


Memang wajah Zion begitu rupawan dan bisa dibilang mirip sekali dengan pria blesteran, hingga wajar saja jika Sabrina percaya dengan mudah pada kebohongan pria itu yang mengaku sebagai orang Amerika.


"Karena kita sudah bertemu di sini, bagaimana kalau kita makan siang bersama," ujar Sabrina.

__ADS_1


Anyelir menggeleng. "Tidak, Rin, aku--"


"Ayolah, kapan lagi kita makan beramai-ramai. Lagi pula, kedatanganku ke Indonesia tidak lama. Aku akan senang sekali jika kita bisa makan bersama." Zion menyentuh bahu Anyelir.


Anyelir tidak berdaya, jika ia tidak menuruti kehendak Zion, bisa-bisa Zion hanya akan pergi makan berdua saja dengan Sabrina.


"Oke kalau itu maumu Zion Smith!" ujar Anyelir dengan sengit.


Zion hanya terkekeh, lalu segera melangkah lebih dulu ke salah satu restoran Pizza yang ada di mal tersebut.


Sesampainya di restoran, Anyelir tidak banyak bicara, apalagi saat ia menyadari bahwa Sabrina terlalu menaruh perhatian pada Zion. Seolah wanita itu menyukai Zion dan menginginkan Zion untuk menjadi miliknya.


Sabrina tidak pernah kehabisan bahan obrolan dengan Zion, membuat Anyelir semakin kesal.


"Aku tinggal tidak jauh dari rumah ibu mertua Anyelir. Kapan-kapan datanglah ke rumahku, aku pasti akan senang sekali menyambut kedatanganmu," ujar Sabrina, saat pesanan mereka telah ludes tak tersisa.


"Dia tidak bisa, Rin, setelah ini saja dia harus segera ke Bandung. Benar, 'kan, Zi?" Anyelir menjawab tawaran Sabrina untuk Zion.


"Bandung? Memangnya rumah Zion di Bandung?" tanya Sabrina.


"Rumah neneknya di sana." Anyelir menjawab singkat, lalu menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kamu sudah terlambat. Nanti jantung nenekmu bisa kumat karena mengira kamu tidak peduli lagi padanya." Anyelir bangkit berdiri dan menarik lengan Zion agar berdiri juga.


"Kamu mengantarkan Zion ke Bandung?" tanya Sabrina penasaran.


"Tidak, aku hanya mengantarnya sampai Stasiun. Bye, Rin, dan terima kasih traktirannya." Anyelir berbalik pergi. Zion melambai ke Sabrina dan langsung menyusul Anyelir.


"Hai, tunggu, Nye, tunggu."


"Apa-apaan itu tadi? Kalian terlihat akrab sekali. Apa kamu menyukainya?" tanya Anyelir yang melangkah dengan cepat menuju pintu keluar.


"Kamu cemburu?" tanya Zion.


"Tidak!"


Zion tertawa renyah. "Katakan saja iya, aku sama sekali tidak masalah, Anyelir. Bukankah bagus jika sepasang kekasih saling cemburu, itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku."


Anyelir menghentikan langkah, lalu meletakan tangan di pinggang. "Sepasang kekasih katamu?"


Zion mengangguk. "Ya, memangnya sebutan apa yang cocok untuk hubungan ini? Bukankah kita ini sepasang kekasih rahasia? Atau barangkali kamu tidak menganggap hubungan kita seserius itu? Apa kamu hanya menganggapku sebagai pemuas nafsu, semacam gigi lo begitu?"


Anyelir menutup mulut Zion dengan tangannya. "Jaga bicaramu, bagaimana kalau ada yang dengar?" ujar Anyelir dengan mata melotot.


"Teruslah melotot seperti itu, maka aku akan menciumu di sini dan saat ini juga!"


Anyelir buru-buru melepaskan tangannya dari bibir Zion dan kembali melanjutkan langkah dengan cepat. Ia bahkan tidak memedulikan suara Zion yang terus berteriak memanggil namanya.


"Hai, Anye sayang, tunggu aku!"

__ADS_1


"Dasar gila." Anyelir bergumam, kemudian berlari dengan cepat menghindari Zion yang terus menggodanya.


Bersambung.


__ADS_2