LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
PERDEBATAN ANYELIR DAN LUNA


__ADS_3

Plak!


Sebuah tamparan dari Anyelir mendarat di pipi Luna saat Anyelir mendengar apa yang Luna katakan. Anyelir tidak pernah menyangka jika Luna akan mengatakan hal demikian, meminta Arjuna dari hidupnya sama saja dengan merebut Arjuna. Hatinya sakit, tentu saja. Apalagi saat Arjuna membentaknya. Ia merasa seperti dikhianati oleh Luna dan Arjuna yang ia percaya selama ini.


"Anyelir, apa yang kamu lakukan?!" seru Arjuna, sembari menahan tangan Anyelir yang kembali ingin menampar Luna.


Anyelir menyentak tangan Arjuna dengan kasar dari tangannya. "Kenapa? Mas tidak suka kalau aku menampar pelacur ini? Mas membelanya, ya?!"


"Jaga ucapanmu, Anyelir, biar bagaimana pun dia itu istriku juga. Tidak sepantasnya kamu mengatakan hal demikian padanya."


"Itu sebelum aku tahu kalau dia adalah pelacur, Mas. Apa Mas tahu apa pekerjaan seorang pelacur yang terlalu rakus?" tanya Anyelir pada Arjuna, lalu ia melanjutkan sambil melempar tatapan jijik ke Luna. "Merebut suami orang seperti yang barusan Luna lakukan padaku. Mas dengar sendiri kalau dia memintamu dariku, Mas? Dia tidak puas dengan semua fasilitas yang selama ini kita beri padanya, itulah sebabnya dia memintamu dariku!"


Arjuna menghela napas panjang. "Tapi aku memang suaminya, Nye--"


"Aku akan segera mengurus perceraian kalian berdua, tetapi aku akan tetap mengawasimu, Lun, agar saat bayi itu lahir kamu langsung menyerahkannya padaku." Anyelir memotong ucapan Arjuna, dan berujar pada Luna.


Luna menggeleng. "Jangan harap. Aku tidak akan memberikan anakku!" desis Luna, lalu ia segera berlari menuju kamarnya.


"Luna! Mau ke mana kamu!" Anyelir berteriak dan segera menyusul Luna dengan tergesa-gesa. Apa yang baru saja Luna ucapkan menjadi tamparan yang keras bagi Anyelir. Ia tidak ingin kehilangan bayi yang selama ini telah ia nanti.


"Manda, urus wanita ini. Jika dia tidak mau pergi dari sini, hubungi sekuriti, polisi atau apa sajalah, yang penting dia tidak lagi menginjakkan kaki di rumahku!" Arjuna memerintah Manda sambil menunjuk


wajah Miss. Rana yang licik, lalu segera menyusul Luna dan Anyelir yang telah tiba di lantai atas.


***


Zion mengawasi kediaman Arjuna seperti biasanya. Sebenarnya selama ini pria itu selalu mengawasi Luna dari kejauhan. Sebisa mungkin ia berusaha untuk mengetahui keadaan Luna melalui Anyelir, itulah sebabnya ia mendekati Anyelir dan berusaha mengambil hati Anyelir agar Arjuna lebih memerhatikan Luna yang sedang hamil.


Dan siang ini saat sedang mengawasi kediaman Arjuna Evan, ia begitu terkejut saat melihat Miss. Rana keluar dari rumah mewah itu dengan mengenakan pakaian pelayan.


Zion menegakkan duduknya di balik kemudi mobil yang ia kendarai. Ingin rasanya ia segera turun dari mobil dan menanyai Miss. Rana, tetapi urung ia lakukan, karena jika Miss. Rana tahu ia masih hidup, Miss. Rana pasti memerintahkan Boy untuk mencarinya dan menghabisinya saat itu juga.


Miss. Rana berdiri beberapa saat di tepi jalan, wanita tua itu terlihat sibuk melakukan panggilan melalui ponsel, dan beberapa saat kemudian sebuah mobil mewah tiba dan berhenti tepat di depan Miss. Rana.

__ADS_1


Zion menunggu dengan sabar, menanti agar mobil itu cepat berlalu dan membawa serta Miss. Rana yang pasti telah mengacau di dalam rumah Arjuna. Setelah Miss. Rana pergi, Zion tidak lagi membuang banyak waktu. Ia segera keluar dari mobil dan berlari menuju bangunan megah di seberang tempat mobilnya terparkir.


"Aku ingin masuk. Pak Arjuna memanggilku beberapa saat lalu," ujar Zion, pada sekuriti yang berjaga.


Sekuriti yang berjaga memindai penampilan Zion dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Mana mungkin Pak Juna memanggil seseorang sepertimu ke rumahnya."


Penampilan Zion memang sangat berantakan siang ini. Pria itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana jogger yang sobek di bagian lutut. Toh, ia memang tidak memiliki rencana untuk menemui Arjuna, sehingga ia tidak melakukan persiapan apa pun.


"Telepon saja ke dalam dan katakan pada Pak Juna kalau Zion ada di luar. Aku yakin dia pasti akan langsung memintaku masuk walaupun dia sibuk dengan kedua istrinya, Luna dan Anyelir."


Sekuriti yang berjaga mengerutkan dahi. Tidak ada orang lain yang tahu kalau Arjuna memiliki dua istri sekarang, kecuali memang orang-orang kepercayaan Arjuna. Karena hal itu, si sekuriti langsung menyingkir dan membuka gerbang agar Zion bisa masuk ke dalam.


"Masuklah kalau begitu. Pak Juna ada di dalam."


Zion menghela napas lega. "Terima kasih," ujar Zion, lalu segera berlari menyeberangi halaman luas menuju bangunan utama.


***


Di dalam kamar, Luna sibuk mengemasi barangnya. Ia memasukan semua pakaiannya ke dalam sebuah koper berukuran sedang secara asal-asalan. Luna melakukannya sambil menangis dan sesekali ia memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Luna. "Bukankah kamu memintaku untuk pergi sebelumnya dan tidak menginginkan anakku, lalu kemudian kamu berubah pikiran dan mengatakan agar aku menyerahkan anakku, dan sekarang kamu melarangku pergi. Kamu gila?"


Luna tertawa sinis. "Aku sudah membayar banyak untuk anak itu, mana mungkin aku tidak mengambil apa yang telah kubayar."


"Aku tidak membelanjakan uang yang kamu beri sepeser pun. Ambil saja lagi, semua masih ada di rekening yang kamu buatkan untukku. Aku tidak butuh uangmu!" seru Luna.


"Tetap saja, anak itu adalah anak Mas Juna, kamu tidak boleh membawanya bersamamu!"


"Kalau begitu biarkan Arjuna pergi bersamaku. Biar aku dan Arjuna yang merawat anak ini. Anak ini adalah anak kami berdua, bukan anakmu!"


Plak!


Luna jatuh tersungkur di lantai, sementara Anyelir berdiri dengan tubuh gemetar karena emosi telah menguasai tubuh dan pikirannya saat ini.

__ADS_1


"Sialan! Aku sungguh menyesal karena tidak mengenalmu dengan lebih baik. Aku pikir kamu wanita baik-baik, tapi ternyata kamu itu wanita kotor dan tidak bermartabat!" desis Anyelir.


Luna mengangkat wajahnya dan tersenyum sinis ke Anyelir. "Terserah apa katamu, yang penting aku bisa bisa mengandung dan kamu tidak."


"Luna!" Anyelir berteriak. Apa yang baru saja Luna katakan adalah cambuk yang nyata bagi Anyelir, diingatkan tentang kekurangan terbesarnya tentu saja membuat hati Anyelir menjadi sakit.


Arjuna datang tepat waktu untuk berlutut di samping Luna dan merangkul tubuh wanita itu sebelum Anyelir kembali melampiaskan amarahnya kepada Luna.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arjuna, pada Luna.


Luna mengangguk. "Pergilah bersamaku. Aku mencintaimu."


Deg!


Dada Arjuna menghangat mendengar apa yang Luna katakan. Ia tidak percaya jika Luna akan mengungkapkan perasaan padanya. Arjuna segera mengusap air mata di pipi Luna dan membantu Luna untuk berdiri.


"Keluarlah, Anyelir, aku ingin bicara pada Luna," pinta Arjuna.


Anyelir tertawa sinis. "Keterlaluan, bukankah seharusnya kamu berbicara padaku sekarang, Mas? Aku yang membutuhkan penjelasan, buka dia."


"Plis, Nye, aku tidak ingin berdebat. Aku tahu siapa yang paling membutuhkanku saat ini," ujar Arjuna lagi.


Air mata Anyelir jatuh, ia tidak menyangka jika Arjuna lebih memilih Luna daripada dirinya. "Oke! Aku akan pergi jika itu maumu!" Anyelir kemudian berbalik dan segera keluar dari kamar Luna.


Sembari menangis, Anyelir terus berlari menuruni tangga, menyeberangi ruang tamu hingga tiba di teras, dan hatinya yang sejak tadi kalut menjadi lega saat ia melihat Zion berdiri di teras.


"Anye, ada apa?" tanya Zion, dengan wajah khawatirkan.


Anyelir tidak banyak bicara. Ia langsung menghampiri Zion dan memeluk pinggang Zion, seketika tangisnya semakin menjadi.


Zion membalas pelukan Anyelir, ia mengusap punggung Anyelir dengan lembut. "Cup, cup, cup, wanita cantik tidak boleh menangis. Ceritakan padaku ada masalah apa, maka aku akan membantumu sebisaku."


Anyelir melepas pelukannya di pinggang Zion, lalu mendongak menatap wajah Zion. "Bawa aku pergi. Aku ingin menghabiskan banyak waktu denganmu."

__ADS_1


Zion tersenyum, lalu membelai pipi Anyelir. "Dengan senang hati, Tuan Putri. Mari habiskan waktu bersama."


Bersambung.


__ADS_2