LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
ERRAND GIRL


__ADS_3

Waktu terus berjalan seperti roda yang meluncur dari ketinggian, berputar dengan cepat dan tidak akan pernah berhenti bahkan ketika menabrak sebuah batu besar sekali pun. Sama halnya seperti kehidupan Luna.


Kematian sang ibu bukan akhir dari segalanya. Walaupun ia sempat terpuruk dan mengurung diri di dalam kamarnya selama berhari-hari, ia tetap harus melanjutkan hidup di bumi yang sama, dan parahnya di tempat yang sama pula.


Luna bukannya tidak bisa pergi dari sana. Ia bisa saja melarikan diri dan bersembunyi di desa terpencil sekali pun, tetapi hal itu tidak akan ia lakukan, apalagi jika ia harus meninggalkan Zion. Luna tidak ingin kehilangan seseorang yang ia sayangi untuk kedua kalinya. Lagi pula, ia harus melakukan balas dendam pada Miss. Rana, dan hal itu hanya bisa ia lakukan jika ia tetap bertahan di tempat pelacuran itu.


Sekarang Luna tengah duduk di hadapan Miss. Rana, di dalam kamar wanita tua itu yang berbau alkohol. Luna mengajukan penawaran pada Miss. Rana agar ia diberi waktu untuk menjalankan kehidupan normal pada siang hari, sementara ia akan bekerja di bar pada malam hari.


Miss. Rana mengangguk setuju, ia tidak mungkin tidak memberi izin pada Luna, bisa-bisa Luna kabur dan asetnya akan berkurang. Tidak dapat dipungkiri bahwa Luna adalah satu-satunya harta berharga yang dimiliki oleh Miss. Rana. Luna begitu cantik, tubuhnya tinggi dan berisi, wajahnya lonjong dengan tulang pipi tinggi bak seorang bangsawan. Luna memiliki mata bagai mata seekor rusa; besar, tatapan sendu, dan jernih. Bulu matanya lentik, alisnya tebal dan bibirnya berwarna merah muda alami. Siapa pun yang melihat Luna akan langsung terpikat. Sulit menyembunyikan wajah secantik itu bahkan saat Luna berpenampilan seperti gembel sekali pun.


"Ya, aku, sih, setuju saja. Asalkan kamu menjadi penurut dan tidak banyak membangkang." Miss. Rana tersenyum ke arah Luna.


Melihat senyum di wajah wanita itu, membuat Luna ingin muntah, dan ingin sekali ia menjambak rambut wanita tua itu hingga terlepas dari kulit kepalanya.


"Baiklah. Aku akan bekerja mulai pagi besok di kantor," ujar Luna sambil bangkit berdiri.


Miss. Rana tertawa. "Memangnya kamu bekerja di sana sebagai apa, hah? Penari di ruangan bos besar, atau tukang pijat plus?" ujarnya, meremehkan Luna. "Aku tahu kalau kamu pandai menari, Luna, beberapa pelanggan sangat suka melihat tarianmu."


Luna menatap Miss. Rana tanpa ekspresi, wajahnya datar seolah ia tidak merasakan emosi apa pun, dan jujur saja bagi Miss. Rana, Luna terlihat mengerikan jika seperti itu.


"Tidak keduanya, yang jelas aku bukan bekerja sebagai pemuas nafsu di sana." Luna kemudian berbalik pergi dan meninggalkan Miss. Rana, yang tiba-tiba saja menjadi gugup.


"Ckck, ada apa dengan anak itu. Sikapnya seperti tersangka pembunuhan berantai saja."

__ADS_1


***


Anyelir meneriaki semua karyawan yang ada di depan ruangannya, bahkan model yang sedang di make up pun menjadi sasaran kemarahan Anyelir yang memang terlihat kesal sejak beberapa hari belakangan.


Bagaimana wanita itu tidak kesal, jika ia menerima laporan dari salah satu fotografer bahwa suaminya terlihat keluar dari Rumah Merah pada suatu malam. Setelah menerima kabar itu, darah Anyelir tiba-tiba saja mendidih. Hubungannya dengan sang suami memang tidak begitu baik, tetapi tetap saja baginya sangat keterlaluan jika suaminya menghabiskan malam di tempat pelacuran terbesar di kota itu.


"Di mana Luna, apa dia belum masuk kerja juga hari ini? Ini sudah hampir dua minggu!" teriak Anyelir pada salah satu staf bagian perekrutan model baru yang sedang berdiri di depannya.


"Belum, Bu Anye, ponselnya bahkan tidak dapat dihubungi," jawab Windi, dengan gugup.


Anyelir mendengkus kesal, lalu masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu dengan kasar di belakangnya.


Karyawan yang ada di depan ruangan Anyelir seketika mengelus dada melihat kemarahan Anyelir yang begitu berapi-api.


"Pantas saja dia tidak punya anak. Kejam begitu, sih," komentar Indra, salah satu karyawan di kantor itu.


Anyelir adalah pemiliki perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa, dalam hal ini perusahaan Anyelir biasa disebut dengan Agensi model.


Perusahaan yang dipimpin oleh Anyelir tidak diragukan lagi kredibilitasnya, sudah banyak model sukses yang lahir dari agensi itu. Namun, kesuksesan Anyelir tidak diimbangi dengan kesuksesannya dalam menjalani rumah tangga dengan seorang pria dari keluarga terpandang bernama Arjuna Evan.


Arjuna Evan sendiri adalah seorang pengusaha sukses dan juga pewaris dari salah satu perusahan terbesar yang ada di kota itu.


Menjalani pernikahan dengan Arjuna terasa begitu berat bagi Anyelir, apalagi saat dirinya divonis tidak dapat memiliki anak. Sebenarnya Arjuna sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, Arjuna bahkan mengadopsi seorang bayi dari salah satu panti asuhan agar Anyelir tidak merasa tertekan dan bertanggung jawab untuk memiliki anak dari rahimnya sendiri.

__ADS_1


Akan tetapi, tekanan dari orang tua Arjuna sangat mengerikan. Anyelir bahkan nyaris gila setiap kali orang tua Arjuna datang dan menanyakan tentang; apakah Anyelir sudah hamil atau belum?


Arjuna dan Anyelir memang sengaja merahasiakan keadaan mereka yang sebenarnya. Jika tidak demikian, Anyelir dan Arjuna pasti sudah bercerai sejak beberapa tahun lalu.


"Selamat siang. Maaf terlambat." Luna memasuki ruangan sembari tersenyum ke arah rekan kerjanya yang seketika kompak memelototinya. Mendapat tatapan seperti itu dari rekan-rekannya, Luna hanya nyengir sembari berjalan menuju meja kerjanya.


"Dari mana saja kamu, Lun? Apa kamu tidak tahu kalau kami bagai bekerja di neraka tanpa dirimu," ujar Indra sembari melambaikan selembar uang 50.000 ke arah Luna.


Windi, Siska, dan Radit melakukan hal yang sama. Mereka semua mengeluarkan uang dari saku pakaian mereka dan melambaikannya ke arah Luna.


Luna tersenyum lebar, lalu meraih sebuah buku catatan kecil dan pena sebelum menghampiri rekan-rekannya dan mencatat semua pesanan mereka.


"Aku Jus apel, kebab tanpa bawang bombay dan jangan lupa cokelat batang." Suara Windi terdengar yang paling pertama memasuki gendang telinga Luna.


"Aku dua berger, Lun, dan cappuccino."


"Nasi padang pakai rendang, es teh juga."


"Dua Fried chicken tanpa nasi."


Teriakan-teriakan memenuhi ruangan, saling bersahutan di udara dan membuat suasana tenang menjadi berisik. Luna mencatatkan semuanya dengan telaten dan teliti agar tidak terjadi kesalahan, lalu ia menghampiri rekan-rekannya dan menerima uang yang sejak tadi telah diarahkan padanya.


"Baiklah, aku akan segera kembali. Tunggulah dengan sabar, oke."

__ADS_1


Luna melesat dengan cepat dari ruangan. Ia gesit, karena itulah pekerjaannya. Errand Girl, gadis suruhan.


Bersambung.


__ADS_2