LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
MENERIMA KEHADIRAN MENANTU KEDUA


__ADS_3

Dermawan mendengarkan semua penjelasan dari Arjuna tanpa menyela sedikit pun. suasana begitu hening, hanya suara Arjuna yang terdengar memenuhi ruangan, menjelaskan semua kronologi bagaimana akhirnya ia bisa mengenal Luna dan menikah dengan Luna.


Baik Dermawan Evan maupun Bimo sama-sama tidak menyangka jika hal demikian bisa terjadi di kehidupan nyata. Terutama di bagian Anyelir yang berpura-pura hamil dan mengikat bantal di perut setiap kali ada yang datang.


"Jadi begitulah yang sebenarnya terjadi, Ayah. Luna sama sekali bukan perusak rumah tangga antara aku dan Anye, bukan juga penyebab renggangnya hubunganku dan Anye. Justru Anye yang berada di balik semua ini. Dialah yang bersikeras agar Luna mau menikah denganku dan mengandung anakku. Luna bahkan harus rela kehilangan kehidupan normalnya, pekerjaan, dan juga kekasih karena menuruti keinginan Anyelir yang keras kepala. Jika Luna tidak menuruti keinginan Anyelir, Anyelir mengancam akan melukai dirinya sendiri seperti yang sudah-sudah dia lakukan." Arjuna mengakhiri penjelasan panjangnya sambil menyentuh telapak tangan Luna dan meremasnya dengan lembut.


Bimo menghela napas sembari menggelengkan kepala, sementara itu Dermawan hanya bisa mengusap wajahnya dengan lesu dan melempar tatapan ke Luna dan Arjuna bergantian.


"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran kalian sehingga kalian memainkan sandiwara ini dan membohongi aku dan juga Maria. Namun, dapat kutarik kesimpulan bahwa memang benar Luna lah yang banyak berkorban dan menderita. Aku minta maaf padamu, Luna, sungguh aku mohon maafkan kelancanganku karena telah salah menilaimu." Dermawan menyatukan kedua tangannya di hadapan Luna sebagai tanda bahwa ia benar-benar menyesal.


Luna menggeleng dan segera menyentuh tangan Dermawan, mengembalikan tangan keriput itu di pangkuan Dermawan. "Jangan minta maaf, Tuan, Anda sama sekali tidak bersalah. Justru akulah yang seharusnya minta maaf karena telah membohongimu."


Dermawan kembali menghela napas. "Setelah menjadi menantuku, kenapa kamu masih menyebutku dengan sebutan Tuan. Panggil saja aku ayah, seperti Arjuna dan Anyelir memanggilku."


Kedua mata Luna membelalak, ia tidak menyangka jika Dermawan akan berujar demikian.


Melihat ekspresi terkejut dan bingung di mata Luna, Dermawan lantas tersenyum, senyum yang terlihat begitu tulus dan menenangkan.


"Aku tidak mungkin mengabaikan kenyataan tentang statusmu yang merupakan istri sah putraku. Itulah sebabnya aku mengakui kedudukanmu sebagai menantuku, sama seperti Anyelir."


"Tapi, Tuan, aku adalah ... maksudku, ada fakta lain yang belum Anda ketahui tentang diriku. Aku adalah seorang--"


"Semua orang memiliki masa lalu dan sisi gelap dalam kehidupannya. Tidak ada manusia yang ingin hidup dengan harga diri yang terinjak-injak. Aku yakin kamu memiliki alasanmu sendiri. Aku tidak masalah dengan pekerjaanmu sebelumnya, yang penting bagiku adalah bagaimana kamu saat ini dan di masa depan nanti," ujar Dermawan, dengan sangat bijaksana.


Luna menangis. Ia tidak menyangka jika Dermawan akan memaafkan dan menerima keberadaannya semudah itu. Ia juga tidak menyangka jika Dermawan tidak mencaci dan mengusirnya untuk meninggalkan Arjuna, Padahal Dermawan tahu bahwa ia hanyalah seorang pelacur.


Melihat Luna menangis, Arjuna pun ikut menangis, dan Arjuna langsung memeluk Luna, membiarkan Luna menangis di dalam pelukannya.


"Luar biasa, beruntung sekali Arjuna karena memiliki dua istri, ckckck," gumam Bimo.

__ADS_1


Dermawan mengetuk kepala Bimo dengan keras. "Menikahlah kalau ingin memiliki istri, jangan terus-terusan pergi ke rumah bordir, karena suatu saat nanti penyakit kelamin pasti akan menyerangmu, Bim."


Bimo bergidik. "Om jangan menyumpahiku."


Bimo terkekeh, lalu ia bangkit berdiri. "Ayo kita kembali ke rumah. Aku rasa kita harus menjelaskan segalanya pada ibumu," titah Bimo.


Arjuna melepaskan pelukannya pada tubuh Luna. "Apakah tidak sebaiknya kita merahasiakan hal ini untuk sementara, Ayah? Aku takut Mama akan marah dan mengusir Luna."


Bimo menggeleng. "Aku tidak ingin menyimpan rahasia apa pun dari Maria. Sama saja aku membohonginya jika aku tidak mengatakan langsung padanya, dan aku tidak pernah suka membohongi ibumu."


"Tapi, kalau mama mengusir Luna bagaimana?" tanya Arjuna.


Bimo tersenyum. "Dia tidak mungkin melakukan itu, karena dia sangat menantikan kehadiran cucunya."


Arjuna tersenyum. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan sang ayah ada benarnya. Maria tidak akan mungkin mengusir Luna, apalagi saat ini Luna sedang mengandung penerus keluarga Evan.


Jika Arjuna dan Luna baru saja merasakan kelegaan yang luar biasa karena tidak lagi menyimpan rahasia dari Dermawan Evan, berbeda hal dengan yang terjadi pada Anyelir.


Sekarang Anyelir sedang terlihat begitu panik karena Sabrina yang tanpa sengaja ia dorong dan pingsan belum juga sadarkan diri. Bukan hanya itu yang membuat Anyelir menjadi panik, darah yang cukup banyak terus keluar dari kepala Sabrina tanpa henti.


Anyelir menangis dan berlutut di samping Sabrina. Tubuhnya gemetar dan berkeringat. Ia tidak tahu tindakan apa yang tepat yang harus ia ambil saat ini. Jika ia membawa Sabrina ke rumah sakit, dokter pasti akan banyak bertanya dan bisa saja ia terjerat hukum karena peristiwa yang menimpa Sabrina, tetapi jika ia diam saja bisa-bisa Sabrina meregang nyawa di hadapannya saat ini juga.


Anyelir menarik napas dalam-dalam, dan setelah berpikir sejenak akhirnya ia memutuskan untuk menelepon ambulans, toh tidak ada yang tahu kejadian sebenarnya. Ia bisa saja mengarang cerita dan mengatakan bahwa Sabrina terpeleset, atau bisa saja ia mengatakan bahwa begitu ia membuka pintu, ternyata Sabrina sudah ada di terasnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Anyelir bangkit berdiri, lalu berlari masuk ke dalam rumah untuk menelepon Ambulans. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ambulans tiba bersamaan dengan kedatangan Dermawan, Arjuna, dan Luna.


"Ada apa, Anyelir?" tanya Arjuna, yang langsung turun dari mobil begitu melihat sebuah Ambulans berhenti tepat di depan terasnya.


Anyelir tidak mampu berkata-kata. Ia hanya menunjuk ke lantai, di mana Sabrina masih terbaring dalam genangan darahnya sendiri.

__ADS_1


"Sabrina! Astaga, apa yang terjadi?!" teriak Arjuna, yang begitu terkejut melihat keadaan Sabrina.


Anyelir menggeleng. "Aku tidak tahu. Saat aku membuka pintu, dia sudah ada di sana dan kepalanya berdarah. Aku takut sekali, Juna, aku takut sekali." Anyelir menutup wajah dengan tangan yang gemetar.


Arjuna menghampiri Anyelir dan memeluk wanita itu agar lebih tenang. "Tenanglah, Nye, tindakanmu sudah benar dengan memanggil ambulans.


Anyelir diam saja.


Arjuna kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Anyelir, lalu menghampiri petugas medis dan mengatakan akan menyusul ke rumah sakit.


Petugas medis mengangguk dan langsung meninggalkan kediaman Jeremy begitu Sabrina telah berada di dalam ambulans.


"Ayo, Nye, kita harus langsung ke rumah sakit. Sabrina tidak mungkin di sana sendirian." Arjuna menarik lengan Anyelir dan menuntun Anyelir untuk masuk ke dalam mobil yang tadi ia kendarai.


Anyelir menurut, dan betapa terkejutnya ia begitu melihat siapa yang ada di dalam mobil.


"Luna. Ayah," gumam Anyelir.


Dermawan tersenyum. "Hai, Anyelir, senang bertemu denganmu, dan senang rasanya bisa satu mobil dengan dua menantuku sekaligus."


Anyelir terlihat begitu terkejut. Ia melirik Luna sekilas sebelum berkata, "Apa yang Ayah katakan? Ayah ini suka sekali bercanda." Anyelir berusaha untuk tersenyum.


"Aku tidak suka bercanda, Anye, kamu tahu akan hal itu. Justru kamulah yang sedang bercanda dan mempermainkanku saat ini, benar?"


"A-Ayah." Anyelir tergagap, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Dermawan sekarang. "Mempermainkan bagaimana maksud Ayah?"


Dermawan menghela napas, sebelum berkata, "Katakan saja di mana perutmu?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2