LUNA (WANITA PENGGANTI)

LUNA (WANITA PENGGANTI)
PERTEMUAN YANG HANGAT


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu semenjak Bimo membocorkan sebuah rahasia yang bagi Miss. Rana sangatlah tidak masuk akal. Awalnya Miss. Rana berpikir bahwa Luna hanyalah menjadi simpanan seorang pengusaha kaya raya, tetapi ternyata ia salah. Luna bukan hanya sekadar menjadi simpanan, tetapi istri kedua dari seorang pemiliki perusahan terbesar yang ada di kota itu. Tentu saja hal itu membuat Miss. Rana terkejut dan tidak habis pikir. Bagaimana bisa Luna yang seorang wanita murahan mengenal seorang Arjuna Evan yang wajahnya sering menghiasi halaman utama majalah-majalah bisnis?


Selama dua bulan ini Miss. Rana sibuk menyusun rencana bagaimana caranya agar ia bisa menyambangi Luna dan mendapatkan wanita itu kembali ke dalam kuasanya, karena ia tahu untuk masuk ke dalam lingkar keluarga super kaya dan terpandang seperti keluarga Evan adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Setidaknya ia harus menjadi sekaya dan seterpandang keluarga Evan agar dapat bergaul dengan keluarga itu, atau ia harus menjadi rendah sekalian agar dapat memasuki rumah keluarga Evan. Ya, Miss. Rana memutuskan untuk menyamar sebagai pelayan, dan bukan hal yang mudah untuk menjadi pelayan di sana, ia harus mendapatkan rekomendasi terlebih dahulu dari agen penyalur tenaga kerja. Dan beruntung sekali karena hari ini hal yang sangat ia nantikan itu akhirnya ia dapatkan.


"Rana," panggil seorang wanita bertubuh tambun yang bertanggung jawab untuk mengirim asisten rumah tangga ke keluarga-keluarga kaya yang membutuhkan jasa mereka.


Miss. Rana yang kebetulan sedang membaca buku Pedoman Pelayan yang Baik segera bangkit berdiri dan menghampiri wanita yang sering disapa dengan sebutan Amy.


"Ya, Bu Amy," ujar Miss. Rana setelah ia tiba di hadapan Amy.


"Aku akan mengirimmu hari ini. Ada sebuah keluarga yang mencari seorang pelayan, dan kali ini kamu tidak boleh menolak seperti sebelumnya," ujar Amy dengan sengit.


Miss. Rana memang seringkali menolak saat diminta untuk bekerja di sebuah keluarga kaya tanpa mengungkapkan apa alasan yang membuatnya menolak tawaran pekerjaan. Toh, incarannya hanya keluarga Evan, jika akan dikirim ke keluarga Evan barulah ia tidak akan menolak.


"Ke mana aku akan dikirim?" tanya Miss. Rana. Ia berharap bahwa kali ini keluarga Evanlah yang membutuhkan pelayan tambahan.


"Keluarga Evan, tepatnya kediaman Arjuna Evan yang ada di perumahan Black Pearl. Kamu akan berangkat sore ini juga. Dia membutuhkan pelayan untuk istrinya yang sedang hamil. Bersiaplah, sementara aku akan melengkapi dokumen dan sertifikat pelatihanmu selama di sini." Amy kemudian memunggungi Miss. Rana dan melangkah menuju ke ruangannya.


Miss. Rana bersorak. Ia berulang kali melompat kegirangan karena akhirnya waktu yang ditunggu-tunggunya telah tiba.


"Kesabaranku akhirnya membuahkan hasil. Awas saja kamu Luna. Aku akan merebutmu kembali dan membuatmu sadar diri bahwa di sana bukanlah tempatmu. Tempatmu yang sebenarnya adalah Rumah Merah." Miss. Rana terkekeh. "Ya, Rumah Merah. Kamu adalah wanita termahalku, mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja. Dasar pengkhianat."


***


Suasana di kediaman Arjuna begitu gaduh. Bagaimana tidak jika ayah, ibu, dan adik Arjuna tiba-tiba saja muncul di ambang pintu tanpa mengabari terlebih dahulu. Hal itu tentu saja membuat Anyelir kelimpungan, karena ia belum mengikat bantal di perutnya yang rata.


"Sial, bagaimana ini!" Anyelir menjerit sambil memelototkan mata ke Arjuna yang juga terlihat sama terkejutnya. Ia yang sejak tadi bersantai di ruang tamu bersama dengan Arjuna tidak memiliki persiapan apa pun untuk menutupi perutnya yang rata. Dan sekarang mau tidak mau Anyelir bersembunyi di belakang sofa.


"Hai, Kak!" Teriakan Siska yang begitu nyaring sambil melambai ke arah tangga menjadi pengalih perhatian.


Luna muncul tepat waktu untuk menarik perhatian semua yang datang, terutama Maria yang memang tidak suka pada Luna sejak pertemuan pertamanya dengan Luna.


"Hai, Siska!" Luna berjalan perlahan menghampiri Siska sambil memegangi perutnya yang buncit.


"Kakak hamil? Anak Kak Juna, ya?" pekik Siska, terlihat bahagia sekali.


"Hush! Ngomong apa kamu, Sis!" bentak Maria. "Jangan sembarang bicara. Mulutmu bisa jadi bumerang kalau sampai ada yang dengar dan menganggap serius ucapanmu itu."


Siska terkekeh. "Aku cuma bercanda, Ma, walaupun aku punya firasat kalau--"


"Diamlah, jaga ucapanmu, Nak." Dermawan Evan mencubit pipi tembam Siska, lalu pria tua itu tersenyum ke Luna yang sekarang telah berdiri di hadapan Siska.

__ADS_1


"Om, Tante," sapa Luna, sambil mengulurkan tangan ke arah Dermawan Evan dan Maria Evan.


Dermawan menyambut uluran tangan Luna sembari tersenyum, tetapi tidak dengan Maria. Wanita itu hanya melirik sekilas kemudian mendengkus kesal ke Luna.


Luna tidak mau ambil pusing. Ia tidak suka ditindas, maka ia memilih untuk tidak lagi menghiraukan Maria, dan hanya meminta Siska juga Dermawan untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di tengah ruangan.


"Saya tidak tahu kalau ternyata Nak Luna sedang mengandung juga," ujar Dermawan, sembari melangkah menuju sofa, diikuti oleh Maria dan Siska.


Luna tersenyum. "Usia kehamilan saya sama dengan usia kehamilan Bu Anye. Sepertinya kami akan melahirkan di waktu yang sama juga nanti," ujar Luna.


"Benarkah? Pasti akan seru sekali saat ada dua bayi yang lahir bersamaan." Dermawan terkekeh.


Selagi Luna sibuk mengajak keluarga Arjuna mengobrol, Anyelir menyempatkan diri untuk menyelinap keluar dari ruang tamu melalui pintu dari sisi lainnya agar tidak terlalu kentara oleh Maria dan Dermawan, sementara Arjuna tetap berada di ruang tamu. Pria itu sejak tadi tidak melepaskan pandangan dari Luna yang semakin hari terlihat semakin cantik dan anggun dengan perut buncitnya.


Tatapan Arjuna untuk Luna tidak lepas dari perhatian Siska. Gadis itu tahu jika ada sesuatu antara Arjuna dan Luna sejak kejadian di pasar beberapa bulan lalu. Hanya saja Siska adalah tipe gadis yang cuek. Ia akan melupakan dengan cepat apa yang ia lihat dan ia rasa, ia tidak suka membahas sesuatu berlarut-larut.


Siska menggeser duduknya mendekat ke Arjuna, lalu ia berbisik, "Apa Kakak poligami?"


Arjuna terbatuk. "Apa katamu?" desis Arjuna.


Siska tersenyum manis. "Iya juga tidak apa-apa. Aku suka dengan Kak Luna."


Arjuna menjewer telinga Siska. "Jangan sampai Anyelir dengar. Bisa-bisa dia mengomelimu seharian."


"Jadi kamu tinggal di sini atas persetujuan suamimu?" Suara Maria mulai terdengar kembali oleh Arjuna saat ia dan Siska berhenti saling berbisik.


Dermawan, Maria dan Luna sejak tadi memang terlibat obrolan serius tentang keberadaan Luna di rumah itu.


Luna mengangguk sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Maria.


"Suami macam apa yang menitipkan istrinya ke rumah orang lain?! Apa kamu tidak punya saudara atau siapalah yang bisa kamu tumpangi. Kenapa harus menumpang di rumah anakku?" Maria masih mengomel.


"Sudahlah, Ma, apa salahnya, sih? Lagi pula, ternyata suami Luna adalah kenalan lamaku juga. Kami baru bertemu lagi saat dia menjemput Luna sepulang bekerja, dan ternyata ... begitulah. Kami dulu berteman." Arjuna berusaha menghentikan ocehan Maria yang terus mencerca Luna dengan berbagai macam pertanyaan dan pernyataan yang tidak enak didengar.


Maria mengatur napas, ia terlihat ingin mendebat Arjuna, tetapi urung ia lakukan karena Anyelir memasuki ruangan dengan penampilan baru dan ajaib. Perut istri Arjuna itu membesar dan Anyelir menggunakan pakaian bermodel kaftan yang ukurannya dua kali lebih besar daripada tubuh aslinya.


Arjuna dan Luna berusaha menahan tawa, karena mereka tahu Anyelir pasti tidak nyaman dengan pakaian yang begitu besar. Toh selama ini Anyelir memang kerap memakai pakaian ketat dan seksi.


"Oooh, menantuku yang paling cantik." Maria bangkit berdiri dan langsung memeluk Anyelir, mengecup pipi Anyelir, lalu mengelus perut buncit Anyelir dengan lembut. "Cucu oma bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Maria pada perut buncit Anyelir.


"Baik, Oma." Anyelir menjawab dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil, dan tindakannya itu mengundang gelak tawa dari Siska dan Dermawan.

__ADS_1


Suasana tegang yang sejak tadi terjadi karena kemarahan Maria seketika menjadi ceria. Apalagi saat Maria meminta Anyelir duduk di antara dirinya dan Dermawan, lalu wanita tua itu meminta Dermawan menyentuh perut Anyelir dan berbicara pada bayi di dalam kandungan Anyelir.


"Ayolah, Pa. Papa harus bicara sama cucu Papa. Bilang sama dia, kalau kita berdua sudah tidak sabar menunggu dia lahir," pinta Maria.


Dermawan mengangguk dan menuruti apa yang Maria minta.


Luna memperhatikan Anyelir sambil tersenyum. Ia senang karena menyadari bahwa anaknya nanti akan tumbuh dengan dikelilingi oleh banyak cinta. Namun, entah kenapa di saat bersamaan Luna malah menangis. Ia buru-buru mengusap air matanya agar tidak ada yang melihat. Namun, ia salah. Arjuna dan Siska telah melihat air mata itu.


Siska menghampiri Luna dan mengelus perut Luna dengan lembut. "Hai, Adik bayi, bagaimana keadaan di dalam sana? Pasti sempit, ya? Tenanglah, saat kamu lahir nanti, aunty yang cantik ini akan bermain denganmu."


Luna terkejut dengan tindakan yang dilakukan Siska, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ia merasa senang. Selama ini tidak ada yang menyapa bayinya, apalagi ia hanya sebatang kara di dunia. Rasa bahagia yang ia rasakan membuat air matanya semakin deras mengalir, dan ia mulai terisak. Suara isaknya yang cukup nyaring membuat gelak tawa dari Maria, Dermawan, dan Anyelir terhenti.


"Maaf, aku hanya terharu karena Siska berbicara dengan bayiku. Selama ini tidak ada yang berbicara pada bayiku," ujar Luna, pada Maria dan Dermawan sembari mengusap air matanya. "Kalian lanjutkan saja. Aku permisi ke kamar." Luna bangkit berdiri, tetapi langkahnya terhenti karena Maria memanggilnya.


"Luna," teriak Maria.


Luna berhenti, lalu menoleh ke Maria. "Ya, Bu."


"Memangnya di mana ibu dan ayahmu? Lalu mertuamu?" tanya Maria.


Luna diam sejenak, lalu menjawab. "Aku dan Zion yatim piatu. Kami tidak memiliki orang tua."


"Zion? Apa dia suamimu?"


Luna mengangguk. "Ya, Bu."


Maria bangkit berdiri, dan tanpa disangka-sangka Maria yang kejam dan sangat membenci Luna itu malah menyentuh perut Luna dan membungkuk sedikit. "Halo, Nak, bagaimana keadaanmu di dalam sana. Sehatlah hingga lahir, dan jangan menyusahkan ibumu, ya."


Tes!


Sekarang bukan Luna saja yang menangis, tetapi Arjuna juga. Ia merasa begitu sedih untuk Luna, dan ia terharu karena untuk pertama kalinya sang ibu berbicara pada cucunya yang sebenarnya, bukannya bantal.


"Bu," lirih Luna.


Maria menegakkan tubuhnya kembali. "Aku tahu bagaimana rasanya mengandung tanpa kehadiran orang tua. Aku paham kesedihan yang kamu rasakan."


Air mata Luna mengalir semakin deras. "Terima kasih. Aku sungguh berterima kasih, Bu."


"Tidak masalah. Aku memang cerewet, tapi aku tidak sekejam itu." Maria kemudian merangkul Luna, membiarkan Luna menangis di dalam pelukannya.


Bersambung.

__ADS_1


"


__ADS_2