
Anyelir mengemudikan kendaraannya lebih cepat dari sebelumnya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu, mengingat ada Zion yang sedang sekarat di dalam mobilnya, mana mungkin ia menyetir dengan santai.
Anyelir juga memilih untuk membawa Zion ke villa alih-alih ke rumah sakit, karena ia masih ingat bagaimana Zion menatapnya dengan marah saat dirinya mengajak Zion untuk pergi ke rumah sakit. Lagi pula, di dekat villa ia mengenal salah seorang dokter yang merupakan teman lama Arjuna, lebih mudah menghubungi dokter itu daripada harus membawa Zion ke rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, akhirnya Anyelir tiba di villa, ia membunyikan klakson berkali-kali, berharap seseorang keluar dari dalam villa dan membantunya memapah Zion yang masih belum sadarkan diri.
Tidak lama kemudian, Arjuna keluar dari dalam villa dan menghampiri mobil Anyelir yang terparkir di halaman depan.
"Anyelir," gumam Arjuna.
Anyelir membuka pintu mobil, dan segera beralih ke pintu mobil sebelah kiri. "Mas, tolong bantu," ujar Anyelir.
Arjuna terlihat bingung, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut dan memilih untuk mengekor Anyelir.
Saat Anyelir membuka pintu mobil sebelah kiri ia melihat Zion yang terkulai lemas dengan wajah penuh luka.
"Astaga, Nye, kamu menabraknya?" komentar Arjuna spontan.
Anyelir menggeleng. "Tidak, Mas, justru aku bertemu dengannya di jalan sudah begini. Aku berniat membawanya ke rumah sakit, tapi dia tidak mau. Saat hendak kutinggalkan, dia malah pingsan."
Arjuna memapah Zion masuk ke dalam villa diikuti oleh Anyelir yang terlihat khawatir. Luna yang sedang asyik bermain piano di ruang utama walaupun sebenarnya ia tidak bisa, begitu terkejut saat melihat Zion. Ia segera bangkit berdiri dan menghampiri Arjuna.
"Zion. Astaga, apa yang terjadi?" tanya Luna.
"Telepon dokter, Nye," ujar Arjuna, lalu terus melangkah memasuki kamar tamu diikuti oleh Luna.
Setelah Arjuna membaringkan Zion di ranjang, Luna segera menyentuh wajah Zion yang penuh dengan darah yang mulai mengering. Kemudian dengan cekatan ia meraih gunting di laci meja dan menggunting kaos putih yang Zion kenakan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arjuna.
"Aku harus memeriksa, dari mana saja darah di pakaiannya ini berasal. Jika sampai ada luka tusuk atau ...." Luna menggantungkan ucapannya di udara, saat ia melihat sebuah luka tusuk di bagian perut bawah, dan luka gores di dada Zion. "Ya, Tuhan."
Luna segera berlari keluar dari kamar, dan beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa kotak P3K. Dengan cekatan Luna membersihkan luka di tubuh Zion agar luka itu tidak infeksi. Luna juga membawa air hangat yang ia gunakan untuk membersihkan wajah Zion dari darah yang telah mengering. Luna melakukannya sembari menangis, dan bibir yang terkunci rapat. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, bahkan saat Anyelir memasuki kamar dan bertanya pada Luna apakah Zion memiliki musuh yang mungkin melukai Zion, Luna pun tidak menjawab.
Setelah beberapa saat, dokter tiba dan segera memeriksa keadaan Zion serta menjahit lukanya.
"Dia akan baik-baik saja. Beruntung lukanya tidak dalam sehingga dia tidak banyak mengeluarkan darah," ujar dokter Tirta, yang sejak tadi memandang Arjuna dengan tatapan iba, karena Luna memberikan perhatian yang begitu besar pada pasien yang baru saja ia tangani.
"Terima kasih," ujar Luna pada Tirta.
"Tidak masalah, Luna. Apa dia temanmu?" tanya Tirta, yang penasaran.
Luna mengangguk. "Dia segalanya untukku."
"Oh." Tirta kembali memandang Arjuna yang sekarang terlihat cemberut, seolah tidak suka pada kehadiran Zion dan pernyataan Luna.
"Aku keluar dulu." Arjuna keluar dari kamar.
"Panggil aku jika dia sudah sadar. Aku akan ada di luar dengan Juna." ujar Tirta, lalu menyusul Arjuna.
***
Arjuna meraih sebotol soda dingin dari dalam kulkas, dan meraih sebotol lagi lalu melemparkannya pada Tirta saat dilihatnya Tirta berjalan menghampirinya.
"Aku tidak minum soda." Tirta melambaikan soda yang baru saja ditangkapnya.
Arjuna kembali membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa kaleng minuman beralkohol. "Yang ini kalau begitu?"
Tirta tertawa. "Tidak juga. Beri aku air mineral saja."
Arjuna mengangkat kedua bahu, lalu meraih sebotol air mineral dan menyerahkannya pada Tirta.
"Terima kasih, Tuan muda."
Arjuna tertawa, lalu bejalan menuju halaman belakang villa, diikuti oleh Tirta.
__ADS_1
"Dia kekasih istrimu?" tanya Tirta. "Maksudku, istri keduamu?"
Arjuna mengangguk.
"Kehidupanmu sungguh sinetron sekali, Juna. Saat mendengarnya pertama kali dari Anyelir, aku tidak percaya bahwa kamu menikah lagi, dan lebih tidak percaya lagi saat aku mengetahui bahwa Anyelirlah yang memintamu menikah secara diam-diam. Gila, sungguh gila," ujar Tirta.
Arjuna membuka tutup botol minuman bersodanya dan meminumnya hingga habis. "Anyelir pasti belum menceritakan semuanya. Apa kamu tahu kalau aku dan Luna hanya menikah sampai wanita itu melahirkan anak untuk kami. Dengan kata lain, Luna hanyalah istri sementara buatku. Suatu hari nanti kami akan berpisah."
kedua mata Tirta membulat sempurna. "Serius?"
"Ya, aku serius. Setelah Luna melahirkan, kami akan bercerai. Jika tidak begitu, mana mungkin Anyelir memintaku menikah lagi. Anyelir hanya memanfaatkan kebaikan wanita itu."
"Luar biasa, drama sekali." Tirta menggelengkan kepala. "Tapi sepertinya kamu tidak menganggap Luna sebagai istri sementaramu, ya? Aku melihat kecemburuan di matamu saat Luna memberi perhatian penuh untuk pria di dalam tadi."
Arjuna mengusap wajahnya. "Entahlah, Tir, aku tidak mengerti dengan perasaanku. Kamu tahu kalau aku begitu menyayangi Anyelir, bahkan saat mengetahui kondisi Anyelir tidak pernah terpikir olehku untuk menikah lagi hanya demi mendapatkan keturunan. Tapi, semenjak Luna hadir di dalam hidupku, aku merasa berbeda. Aku merasa lebih hidup dan ... entahlah, aku tidak bisa menjelaskan segalanya."
"Kamu jatuh cinta padanya. Itu sudah pasti." Tirta berkomentar.
Arjuna tertawa. "Tidak mungkin. Mana mungkin aku jatuh cinta semudah itu. Mungkin aku hanya kasihan padanya karena dia rela mengorbankan diri demi kepentingan Anye."
Tirta menggeleng. "Tidak. Perasaanmu pada Luna tidak sesederhana itu. Kita sudah bersahabat sejak lama, dan aku tahu saat kamu jatuh cinta. Kamu mencintai Luna, sementara Anyelir ... kurasa kamu tidak lupa apa alasanmu menikahi wanita itu dulu."
Arjuna menghela napas, menatap langit malam yang gelap tanpa hadirnya bintang-bintang.
Tirta menepuk pundak Arjuna. "Jalani saja, semoga semuanya berjalan sesuai keinginanmu."
***
Luna tertidur di samping Zion sembari memeluk pinggang pria itu. Pintu yang dibiarkan terbuka membuat Arjuna yang sejak tadi mondar-mandir di depan kamar tamu dapat melihat dengan jelas perlakuan Luna pada Zion, termasuk pelukan menyebalkan itu.
"Tidak lelah, Mas?" tanya Anyelir, yang berdiri tidak jauh dari kamar tamu.
Arjuna terkejut. "Sejak kapan kamu di situ?" tanya Arjuna.
"Sejak tadi. Sejak kamu mondar-mandir di depan kamar itu. Memangnya kenapa, sih?" Anyelir terlihat kesal.
Sementara itu di kamar tubuh Zion mulai bergerak. Zion mulai mendapat kesadarannya kembali. Ia perlahan membuka mata dan meringis begitu merasakan nyeri di bagian perut dan dadanya.
"Luna," gumam Zion, saat ia melihat Luna tengah tertidur sambil memeluknya.
Luna perlahan membuka mata dan mendongak saat mendengar suara Zion di telinganya.
"Zion. Kamu sadar! Syukurlah!" Luna terlihat begitu senang.
"Aku ada di mana?" tanya Zion, kebingungan.
"Kamu ada di villa Bu Anye. Kamu datang dalam keadaan pingsan. Aku sungguh khawatir, aku pikir kamu akan ... bagaimana bisa ada luka tusuk di tubuhmu? apa semua ini perbuatan Miss?"
Zion terdiam sejenak, ia lalu berusaha untuk duduk dan segera menarik Luna mendekat. "Aku sudah tidak apa-apa, jangan khawatir. Tapi memang ada kabar buruk, Lun. Miss tidak lagi percaya padaku. Aku masih hidup karena Boy yang ditugaskan untuk mengejarku, dia sengaja menusukku di bagian yang tidak berbahaya. Jika bukan karena dia, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku."
Luna memeluk Zion. "Maafkan aku, aku mohon maafkan aku. Semua ini karena aku."
Zion mengusap punggung Luna, dan di saat itulah ia melihat beberapa tanda merah di leher Luna.
Zion melepaskan pelukannya dari tubuh Luna, entah mengapa ia merasa sakit hati melihat tanda di leher sahabatnya itu.
"Keluarlah, Lun, aku ingin istirahat sebentar," pinta Zion.
"Apa kamu tidak ingin makan sesuatu atau minum?"
"Aku akan minta saat aku ingin. Sekarang keluar saja dulu, oke!" Zion segera berbaring dan memunggungi Luna, membuat Luna kebingungan, karena perubahan sikap Zion yang begitu mendadak.
"Selamat istirahat, Zion," ujar Luna, lalu ia keluar dari dalam kamar dan menutup pintu kamar.
Luna memutuskan untuk kembali ke kamarnya, karena ia merasa sangat lelah sekarang. Namun, Anyelir yang sedang berdiri di ruang tengah langsung memanggil Luna begitu ia melihat Luna melintas.
__ADS_1
"Luna."
Luna menoleh dan segera menghampiri Anyelir."Ya, Bu," ujar Luna, setibanya di depan Anyelir.
"Kudengar kamu sakit, apa itu benar?" tanya Anyelir dengan sengit. Sebenarnya ia tidak ingin bersikap begitu kasar pada Luna, tetapi tanda merah yang terlihat jelas di leher wanita itu membuat ia kesal dan merasa cemburu.
"Ah, iya, aku memang kurang enak bada sejak pagi. Tapi tenang saja, Bu, aku tidak sesakit yang terlihat."
Anyelir tersenyum sinis. "Ya, kamu memang tidak terlihat sakit sama sekali. Lihat saja lehermu. Tidak mungkin orang yang sakit bisa melakukan hubungan se_x sampai semuanya merah begitu." Anyelir kemudian meninggalkan Luna.
Luna sendiri segera meletakkan kedua telapak tangannya untuk menutupi leher, kemudian Luna berlari ke kamar dan menghampiri meja rias untuk melihat lehernya.
"Astaga, kenapa Pak Juna tidak bilang kalau leherku seperti ini!" Luna mengeluh, lalu wanita itu mulai mengantupkan kepalanya di atas meja rias. Ia mengerti sekarang kenapa Zion tiba-tiba bersikap bermusuhan padanya. Pasti karena tanda merah yang tersebar di lehernya.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Luna. Ia segera bangkit berdiri dan meraih selimut guna menutupi lehernya.
"Masuklah," ujarnya, saat lehernya telah tertutup sempurna.
"Waktunya minum susu!" Arjuna tersenyum semringah memasuki kamar sembari membawa nampan yang berisi segelas susu dan beberapa potong cake cokelat.
Melihat Luna diam saja dan menatapnya dengan wajah cemberut membuat Arjuna kebingungan. Pria itu meletakkan nampan di atas meja dan segera menghampiri Luna. "Ada apa? Apa aku membuatmu kesal?"
Luna segera melepas selimut dari lehernya dan melempar selimut itu ke wajah Arjuna.
"Hai, hai, hai, katakan ada apa?x Arjuna kembali bertanya.
"Kenapa Anda tidak bilang padaku?" Luna menunjuk lehernya.
Arjuna tersenyum. Bukannya merasa bersalah, pria itu malah menyentuh leher Luna. "Indah bukan?"
"Indah apanya? Zion marah padaku karena ini, Bu Anye juga marah padaku karena ini. Seharusnya Anda bilang padaku. Aku kan jarang bercermin sehingga aku tidak tahu."
"Kenapa mereka marah?" tanya Arjuna, dengan ekspresi yang menurut Luna sangatlah menyebalkan.
Luna memelototi Arjuna. "Tentu saja mereka marah. Mereka pasti cemburu."
Arjuna menyentuh pinggang Luna dan menarik tubuh Luna agar mendekat ke arahnya. "Kenapa mereka cemburu? Kamu istriku sekarang, seharusnya mereka dan juga dirimu sendiri sadar akan posisi itu. Saat melihat tanda merah di lehermu ini seharusnya mereka tahu bahwa kamu adalah milikku. Terutama Zion, aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya, apalagi kamu bersentuhan dengannya. Apa kamu pikir aku tidak cemburu? Aku cemburu, sangat cemburu!"
"Tapi dia--"
"Ya, aku tahu dia kekasihmu, tapi kamu istriku sekarang. Tolong ingat ini, Luna, setidaknya jangan bersentuhan dengannya hingga status kita berubah." Arjuna melepaskan pelukannya di pinggang Luna dan segera keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Luna yang terkejut karena pengakuan Arjuna.
***
Malam kembali berlalu dengan ditandainya terbitnya sang surya yang mulai membagi kehangatannya.
Luna terbangun karena sinar matahari masuk melalui celah jendela yang tirainya tidak tertutup rapat. Ia menggeliat, lalu bangkit untuk duduk. Kedua matanya segera mengedar, mencari keberadaaan Arjuna yang biasanha selalu ada di sampingnya saat pria itu menginap di villa. Namun, setelah beberapa saat ia sadar bahwa Arjuna tidak ada di kamarnya, jika ada pria itu pasti tidur di sampingnya dan memeluknya sepert biasa
Luna turun dari ranjang dan langsung melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka, tetapi di kamar mandi oa mendaoagi bathtub telah terisi air habgat dan terdapat sepucuk kartu berwarna merah muda di tepi bathtub yang bertuliskan,
Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah mandi, mari kita ke dokter. Kita juga harus memberitahu Anyelir tentang kehamilanmu.
Refleks Luna tersenyum membaca kartu itu. Ia pun segera melepas seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub.
Setelah mandi, Luna segera memakai pakaian paling indah yang ada di dalam lemarinya, dress beewarna merah muda sepanjang lutut yang terlihat begitu manis saat ia kenakan. Lalu, Luna memoles riasan setipis mungkin di wajahnya agar terlihat natural, dan membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja.
Setelah merasa bahwa ia telah pantas untuk menemui Arjuna, ia segera melangkah keluar kamar untuk menuju ke ruang utama.
Suara betisik di ruang utama terdengar hingga ke deoan pintu kamar Luna. Luna yang penasaran mempercepat langkahnya untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Dia siapa?"
Seorang wanita menunjuk Luna begitu Luna muncul di ruang utama.
__ADS_1
Bersambung.