
Satu minggu berlalu tanpa kejadian yang berarti. Luna lebih banyak mendiamkan Arjuna dan menganggap seolah pria itu tidak ada. Sementara Arjuna selalu sibuk di dalam ruang kerjanya, sehingga keduanya memang jarang bertemu apalagi bertatap muka.
Saat malam tiba pun Luna dengan bebas dan suka hati berpindah-pindah kamar, dari kamar satu ke kamar lainnya. Tidak ada agenda tidur bersama seperti yang telah Anyelir jadwalkan untuk Luna dan Arjuna melalui pesan Whatsapp yang rutin Anyelir kirim ke ponsel Arjuna dan Anyelir.
Hari ini adalah tepat satu minggu Arjuna dan Luna tinggal bersama sebagai pasangan suami istri. Anyelir yang selalu tepat waktu dan tidak pernah ingkar janji datang ke Villa bersama dengan seorang pria bertubuh tambun dan berkacamata yang merupakan dokter spesialis obgyn di rumah sakit ternama. Bukan hanya datang dengan sang dokter, tetapi Anyelir juga membawa serta Zion.
Luna yang sedang asyik membuat cake bersama dengan pelayanan di Villa itu terkejut saat Anyelir sengaja mengagetkannya dari belakang.
"Hola!" teriak Anyelir, membuat Luna terperanjat dan akhirnya wanita itu menumpahkan setengah adonan cake yang siap dicetak.
"Astaga, Bu! Tumpah kan," gerutu Luna. Meskipun begitu, ia tetap tersenyum, ia senang karena akhirnya dapat bertemu dengan Anyelir lagi. Tinggal dengan Arjuna selama satu minggu seperti tinggal dengan orang asing. Maka Luna sangat senang saat akhirnya ia dapat bertemu dengan orang yang dikenalnya.
Anyelir mengintip dari balik bahu Luna apa yang sedang dikerjakan oleh istri sementara suaminya itu. "Kalian sedang membuat kue? Yang benar saja, Lun? Di toko ada banyak, kenapa harus buat sendiri, ckck."
"Tapi kalau hasil buatan sendiri kan pasti berbeda rasanya, Bu." Luna menunduk dan membersihkan tumpahan adonan di lantai, walaupun pelayanan telah melarang Luna, tetap saja Luna membersihkan lantai dengan cekatan.
"Tinggalkan itu, Lun, jangan bertingkah seperti pelayan," titah Anyelir. "Ayo, ikut aku ke ruang tengah. Aku datang dengan seorang dokter. Kamu juga, Mas." Anyelir mengalihkan pandangan, menatap Arjuna yang sejak tadi menikmati secangkir kopi di hadapan meja makan.
Luna mengikuti arah pandang Anyelir, dan benar saja, Arjuna ada di sana, terlihat tampan dan cool seperti biasanya. Ia tidak menyadari kehadiran pria itu. Sejak kapan Arjuna duduk di sana pun ia tidak tahu.
Arjuna bangkit berdiri dan melangkah keluar dari dapur seperti robot yang menurut pada tuannya. Sementara Luna dan Anyelir berjalan beriringan menuju ruang tengah.
"Zion!" Luna berteriak, begitu ia melihat Zion duduk di salah satu sofa.
Zion bangkit berdiri dan tersenyum, tidak lupa ia merentangkan kedua tangannya, siap menangkap Luna yang sebentar lagi pasti berlari memeluknya. Detik berikutnya, Luna sudah berada di dalam pelukan Zion.
"I miss you," ujar Luna, menenggelamkan wajahnya semakin dalam ke dada Zion yang terasa hangat.
Zion mengusap punggung Luna saat ia merasakan cairan menembus kaos yang ia kenakan. "Jangan menangis," bisik Zion di telinga Luna.
"Saat kembali, bawa aku bersamamu," gumam Luna.
"Tentu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu lagi."
Baik Anyelir maupun Arjuna mendengar percakapan antara Zion dan Luna, membuat Arjuna merasa tidak nyaman dan ia sedikit merasa tidak terima juga karena Luna yang merupakan istrinya dipeluk oleh pria lain tepat di depannya. Luna itu miliknya, dan tidak seharusnya miliknya bebas disentuh oleh pria lain!
Arjuna menggelengkan kepala, berusaha membuyarkan pikiran primitif yang baru saja hinggap di kepalanya. "Aku tidak peduli, aku tidak peduli," gumamnya, lalu memilih duduk di sofa dengan menyilangkan kaki seperti yang bias ia lakukan.
"Lun," panggil, Anyelir.
Luna segera memisahkan diri dari Zion, dan buru-buru mengusap kedua pipinya yang basah. Sebenarnya ia tidak ingin menangis, ia juga tidak serindu itu pada Zion sampai-sampai ia menangis saat bertemu dengan pria itu. Hanya saja kehadiran Zion selalu mengingatkan Luna pada mendiang ibunya. Bagaimanapun juga banyak suka dan duka yang telah ia lewati bersama dengan Zion dalam merawat sang ibu. Tidak mengherankan jika Luna merasa bertemu Zion sama halnya dengan bertemu ibunya.
"Perkenalkan ini Dokter Damar, dia adalah dokter kandunganku, dan sekarang dia akan menjadi dokter kandunganmu." Anyelir memperkenalkan Luna dengan dokter Damar.
__ADS_1
Luna menyalami Dokter Damar. "Saya Luna, Dok."
Dokter Damar tersenyum. "Ya, saya sudah mendengar banyak tentangmu dari Anye. Saya sungguh tidak menyangka jika Anyelir akan mengambil jalan ini. Semoga saja pengorbanan Anyelir yang luar biasa ini akan membuahkan hasil."
"Kita semua berkorban di sini, Dok, bukan hanya Anyelir saja. Toh semua ini adalah keinginannya." Arjuna menimpali ucapan Dokter Damar dengan santai.
Dokter Damar mengangguk. "Benar, juga. Itu benar. Kalian semua berkorban di sini."
"Ah, sudah, sudah, jangan bahas masalah pengorbanan dan yang lainnya. Toh pada akhirnya kita semua akan diuntungkan. Sekarang ayo langsung saja kita periksa," ujar Anyelir. Ia terlihat tidak suka pada kalimat yang terlontar dari bibir Arjuna, padahal jika dipikirkan lagi, apa yang diucapkan Arjuna ada benarnya.
Dokter Damar mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam tasnya dan memberikan alat itu pada Luna. "Ingin tes sendiri, atau aku yang melakukan tes? Anda tinggal buang air kecil di tabung ini dan berikan urine Anda pada saya, selanjutnya akan saya lakukan pemeriksaan."
"Tidak usah. Biar saya saja." Luna menolak. Ia merasa tidak nyaman jika harus menyerahkan urinenya pada orang lain, walaupun orang itu adalah seorang dokter.
Dokter Damar mengangguk. "Nah, semua petunjuk ada di belakang sini. Anda tinggal mengikutinya saja."
Luna bangkit berdiri, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi Luna mengantupkan dahinya di dinding. Ia tahu hasil tesnya pasti akan negatif. Tentu saja negatif, kecuali rahimnya bisa dibuahi oleh udara, maka bisa jadi hasil tesnya akan positif.
Luna mengatur napas, membuka celana dan mulai melakukan petunjuk yang ada di belakang kemasan alat tes kehamilan itu. Toh biar bagaimanapun ia tetap harus melakukan tes ini demi menyenangkan hati Anyelir, walaupun ia tahu setelah mengetahui hasil tesnya, Anyelir pasti akan sangat kecewa.
Setelah beberapa saat, Luna keluar dari dalam kamar mandi dan kembali ke ruang tengah.
Melihat Luna kembali, Anyelir tersenyum. Ia kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Luna. "Bagaimana? Positif, 'kan? Garis dua?" tanya Anyelir, dengan kedua mata yang berbinar bahagia.
"Lun, ayo, mana hasilnya?" desak Anyelir.
Luna mengulurkan tangan, menyerahkan alat tes kehamilan yang telah ia gunakan. "Maaf," lirihnya.
Anyelir kecewa. Ya, ia sangat kecewa saat melihat satu garis merah muda terpampang di hadapannya. "Padahal aku telah merelakan suamiku," ujarnya.
Perlahan tubuh Anyelir merosot ke lantai, ia menangis. Ia merasa gagal untuk kesekian kalinya.
Luna berlutut di hadapan Anyelir. "Maafkan aku, Bu, aku--"
"Apa kalian berdua tidak mengikuti petunjuk yang aku berikan pada kalian berdua di whatsapp? Perbanyak istirahat, Lun, jangan kelelahan dan konsumsi susu Materna yang sudah kusiapkan, perbanyak makan makanan yang mengandung asam folat dan vitamin-vitamin lainnya. Apa kamu lakukan semua itu?"
Luna mengangguk.
"Lalu, kenapa kamu tidak hamil juga? Kamu tidur dengannya setiap malam, 'kan? Kalian rutin melakukan hubungan badan, 'kan?"
"Anyelir, cukup!" Arjuna bangkit berdiri sebelum Zion melakukannya. Lalu ia menghampiri Luna, menarik lengan wanita itu yang terlihat tertekan karena bentakan Anyelir.
__ADS_1
"Apa kamu pikir semua pertanyaanmu itu pantas ditanyakan pada Luna di depan orang lain?"
"Tidak ada orang lain di sini," ujar Anyelir, sembari mengusap sudut matanya.
"Ada, Nye. Di sini ada aku, ada Zion, ada Dokter Damar. Dan tidak menutup kemungkinan seluruh pelayanan di Villa ini mendengarnya juga, karena kamu berteriak-teriak seperti orang gila," ujar Arjuna.
"Tidak masalah. Toh, itu kewajibannya. Seharusnya dia tidak ingkar janji, Mas."
"Ingkar janji bagaimana maksdumu? Tidak ada manusia yang bisa menentukan kapan dia akan hamil. Kami menikah baru satu minggu, dan kamu sudah mewajibkan Luna untuk segera hamil! Mana bisa begitu, kita berdua saja sudah menikah lima tahun lebih tetapi kamu tidak kunjung hamil. Jangan egois, Nye."
Deg!
Anyelir merasa bahwa Arjuna telah melempar kotoran ke wajahnya. Wajahnya seketika berubah merah padam, hatinya sakit, dan dadanya sesak. Apa yang barusan Arjuna katakan sungguh menyakiti hatinya, hingga ia tidak mampu untuk berkata-kata.
Menyadari perubahan suasana hati Anyelir, Luna menepis tangan Arjuna dari lengannya. "Bu, saya akan berusaha. Ibu tenang saja."
"Ya, berusahalah, Lun, setidaknya dokter tidak memvonismu mandul, seperti vonis yang jatuh padaku. Sayangnya, suamiku sepertinya lupa akan vonis itu," ujar Anyelir, dengan air mata yang kembali mengalir menuruni pipi.
Setelah mengatakan itu, Anyelir melangkah menuju pintu dengan cepat, disusul oleh Dokter Damar.
"Anda tidak menghentikannya?" tanya Luna pada Arjuna.
"Apa setelah berteman dengannya kamu tidak paham bagaimana perangainya?"
Luna diam saja. Ia memang belum terlalu mengenal Anyelir.
Melihat Luna yang tidak menjawab pertanyaannya, Arjuna pun berbalik pergi meninggalkan Luna dan Zion di ruang tengah. tanpa mengatakan apa pun lagi.
"Rumah tangga yang kacau," komentar Zion.
Luna mengangguk, lalu duduk di samping Zion. "Aku merasa tidak enak pada Bu Anye. Aku tidak pernah tidur sekamar dengan suaminya selama ini."
Zion tersenyum. "Aku lega mendengarnya."
Luna mencubit pinggang Zion, membuat pria itu meringis kesakitan. "Aku hanya bercanda. Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Lun? Kamu tidak bisa berada di sini terus-terusan, karena Miss pasti akan sangat marah, kecuali kamu memang tidak berniat untuk kembali ke sana."
"Apa menurutmu dia tidak akan mencariku jika aku tidak kembali sama sekali? Aku ingin berhenti, aku akan kembali nanti setelah melahirkan. Kira-kira satu tahun lagi. Itu juga jika aku memang bisa hamil dan melahirkan."
"Kenapa kamu harus kembali jika kamu bisa pergi selama itu. Pergi saja untuk selamanya," ujar Zion, sembari menyentuh pipi Luna dengan begitu lembut.
"Aku harus membalas semua yang Miss telah lakukan padaku. Karena perbuatannya, ibuku tersiksa. Ibuku pergi dengan perasaan hancur melihat putrinya hancur tepat di bawah hidungnya tanpa bisa melakukan apa-apa."
Zion memeluk Luna. "Lakukan sesukamu. Aku akan selalu ada untuk mendukungmu."
__ADS_1
Bersambung.