
Lidah Anyelir terasa begitu kelu. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan dari Dermawan. Ia hanya memilin ujung rambutnya dan menunduk, menatap kedua kakinya yang gemetar.
Luna merasa kasihan pada Anyelir, bagaimana pun juga Anyelir pasti merasa tidak nyaman saat ini karena kebohongannya terbongkar. Terlebih lagi Anyelir-lah dalang dari semua sandiwara yang terungkap di hadapan Dermawan.
"Nye," gumam Luna, sambil menyentuh pundak Anyelir.
Anyelir tersentak. Ia begitu terkejut pada sentuhan kecil yang Luna berikan. "Ya, apa?" tanya Anyelir.
"Pak Dermawan ... eh, maksudku ayah sudah tahu segalanya."
Dahi Anyelir mengernyit. "Ayah? Kamu memanggil mertuaku dengan sebutan ayah! Berani sekali kamu, Luna?" Anyelir terlihat gusar, ia bahkan mendorong pundak Luna dengan kasar.
Arjuna yang sedang menyetir melihat kejadian itu dari kaca spion yang menggelantung di atas dasbor, seketika ia menjadi marah saat melihat cara Anyelir memperlakukan Luna.
"Jangan kasar pada Luna, Anye, aku tidak suka," ujar Arjuna.
Anyelir tertawa terbahak-bahak sembari memelototi Luna. "Wah, luar biasa, kamu lebih membela pelacur ini dari pada aku, Juna?" Anyelir lalu memandang bagian belakang kepala Dermawan yang duduk di samping Arjuna. "Apa ayah tidak tahu kalau wanita ini adalah seorang pelacur? Luna adalah pelacur, Ayah, dan pelacur ini berusaha untuk merebut Arjuna dariku sekarang."
Dermawan berdecak kesal sembari menggelengkan kepala. "Aku rasa ucapanmu itu terlalu kasar, Anyelir. Jika boleh kubenarkan sedikit, Bukan Luna yang ingin merebut suamimu, tapi kamulah yang melemparkan suamimu ke tangannya. Dan tentang status Luna yang merupakan seorang pelacur, memangnya apa masalahnya? Semua orang punya kekurangan dan masa lalu, bukan hak kita untuk menghakimi. Lagi pula, seorang pelacur yang akan menjadi seorang ibu, hanya akan menjadi ibu. Luna akan menjadi ibu bagi anaknya, bukan pelacur."
Luna terisak mendengar apa yang Dermawan ucapkan. Ia begitu terharu, dan tidak menyangka jika Dermawan akan sebijaksana itu. Mendadak saja Luna menjadi begitu sayang pada Dermawan, dan Luna merasa seolah memiliki seorang ayah yang melindunginya dan membelanya.
Mendengar Luna menangis, Dermawan pun berkata, "Jangan menangis, Nak, aku tidak mau cucuku mendengar ibunya menangis. Bisa-bisa cucuku marah padaku nanti."
Arjuna tersenyum ke arah Dermawan. "Terima kasih, Ayah."
__ADS_1
"Tidak perlu, Arjuna." Dermawan menjawab singkat.
Anyelir menatap bergantian antara Arjuna, Dermawan, dan Luna. Ia tidak percaya jika Dermawan tidak keberatan dengan pernikahan Arjuna dan Luna. Mertuanya itu bahkan terkesan bahagia menerima Luna sebagai menantu, padahal ia telah mengatakan pada Dermawan siapa Luna sebenarnya. Seharusnya Dermawan marah dan meminta Arjuna bercerai dengan Luna, bukannya malah menerima Luna.
"Ayah, aku tidak ingin dipoligami," ujar Anyelir.
Dermawan menoleh ke belakang, di mana Anyelir duduk dengan wajah kesal. "Bukankah sudah? Bahkan kamulah yang meminta suamimu untuk menikah. Kenapa baru sekarang kamu mengatakan tidak ingin di poligami?"
Anyelir kembali tidak mampu berkata-kata, karena memang apa yang Dermawan katakan ada benarnya juga. Namun, bukan Anyelir namanya jika tidak bisa berkilah dan mencari pembenaran atas tindakan salahnya.
"Luna hanyalah istri sementara Mas Juna, Ayah, setelah Luna melahirkan, Mas Juna akan langsung bercerai dengan Luna. Artinya, Luna hanyalah wanita pengganti yang harus mengandung anak kami, setelah itu mereka akan bercerai. Jadi, bagiku Mas Juna belum poligami saat ini, pernikahan mereka hanyalah atas keinginan Luna yang tidak ingin melahirkan anak tanpa status pernikahan." Anyelir berujar.
Dermawan terkekeh pelan. "Apa pun yang kamu katakan, tetap saja mereka menikah secara sah di mata agama, itu artinya hubungan mereka adalah hubungan sah antara suami dan istri. Dan aku tidak akan membiarkan putraku bercerai dengan istrinya, apalagi istri yang baru saja melahirkan. Hal itu sangat tidak manusiawi, Anyelir."
Anyelir diam, ia tidak lagi berusaha untuk mendebat Dermawan, karena kini mobil yang dikendarai Arjuna telah memasuki area parkir rumah sakit.
"Pergilah langsung ke IGD, aku akan menelepon ibumu terlebih dahulu.
hubungan ibumu dan Sabrina sangat dekat, dia pasti tidak ingin ketinggalan kabar duka ini," ujar Dermawan, yang melangkah menuju bagian resepsionis.
"Baik, Ayah," jawab Arjuna yang langsung menggandeng tangan Luna menuju ruang IGD.
"Eh, tunggu, Juna, biar Luna ikut dengan ayah ke resepsionis, tidak baik jika dia ikut ke ruang IGD, dia pasti lelah," ujar Dermawan.
Arjuna menggeleng. "Tidak, Ayah, aku ingin dia ikut denganku," ujar Arjuna, sambil meremas telapak tangan Luna dengan lembut.
__ADS_1
"Ah, kalian seperti perangko, ya. Baiklah terserah padamu saja."
Arjuna tersenyum dan melanjutkan langkah dengan tergesa-gesa menuju IGD bersama dengan Luna dna Anyelir.
"Jangan terlalu cepat jalannya, Juna, perhatikan Luna, dia bisa kelelahan!" Dermawan berteriak saat jarak mereka sudah semakin jauh.
Mendengar teriakan Dermawan, Luna refleks menoleh dan melambai ke arah Dermawan sembari tersenyum. Dermawan membalas lambaian tangan Luna. Melihat hal itu dada Anyelir tiba-tiba kembali bergemuruh. Ia merasa jika Luna sudah keterlaluan. Selain merebut hati Arjuna, Luna juga telah berhasil merebut hati sang ayah mertua.
"Lihat saja, akan kuberi pelajaran kamu pelacur," gumam Anyelir.
***
Zion kalut, ia mulai putus asa, ia tidak tahu lagi harus mencari keberadaan Luna ke mana. Ia sudah berkeliling, mengunjungi tempat-tempat yang mungkin saja didatangi oleh Luna, tetapi ia tidak menemukan Luna di mana pun.
Zion bersandar pada sebuah pohon besar di tepi jalan, mengawasi lalu lintas yang ramai. Tubuhnya berkeringat dan kelelahan setelah mencari Luna ke sana-kemari. Zion mengatur napas, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan mencoba untuk. menghubungi Arjuna dan juga Anyelir, tetapi baik Arjuna maupun Anyelir tidak ada yang menerima telepon darinya.
"Sial, ke mana mereka berdua!" seru Zion, ia meninju batang pohon di belakangnya karena kesal, membuat punggung tangannya berdarah.
Beberapa saat kemudian sebuah gagasan menghampiri Zion. Ia tersentak begitu menyadari ada satu tempat yang mungkin saja Luna datangi, dan tempat itu adalah satu-satunya tempat kembali yang dimiliki Luna, toh Luna tidak memiliki keluarga di kota besar ini.
"Apa mungkin Luna di sana?" tanyanya pada diri sendiri. "Tidak mungkin kan Luna kembali ke rumah merah," gumamnya lagi.
Zion bimbang sekarang. Haruskan ia mencari Luna ke Rumah Merah, jika ia datang ke sana bisa-bisa Miss. Rana langsung memerintahkan para algojo untuk membunuhnya, karena biar bagaimana pun Zion adalah seorang pengkhianat di mata Miss. Rana, dan Miss. Rana sangat membenci seorang pengkhianat.
Zion meregangkan tubuhnya dan mengatur napas. "Aku harus tetap ke sana apa pun resikonya. Aku harus mencari Luna," ujar Zion, menyemangati dirinya sendiri. Lalu ia pun memulai perjalanan menuju Rumah Merah, tempat di mana ia dan Luna bertemu, tempat di mana ia menghabiskan banyak waktu sebagai algojo, dan tempat di mana ia bebas bercinta dengan sembarang wanita yang ia inginkan.
__ADS_1
Bersambung.