
Arjuna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh membelah ramainya jalanan kota. Ia bahkan dapat dikatakan tidak peduli pada keselamatannya sendiri, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya menyelamatkan Luna dan membuat Luna menghindari hal-hal bodoh yang mungkin saja dilakukan wanita itu dalam keadaan terdesak.
Setelah beberapa saat, akhirnya Arjuna tiba di Rumah Merah. Ia menghentikan mobilnya dan memarkirkannya sembarangan, lalu ia segera melompat turun dan berlari menuju bangunan utama.
Dua orang penjaga menghampiri Arjuna dan menahan Arjuna yang memaksa masuk ke dalam Rumah Merah.
"Ada keperluan apa?" tanya seorang penjaga. "Anda tidak bisa sembarangan masuk di luar jam operasional bar."
"Aku harus masuk sekarang. Ini penting," jawab Arjuna, sambil mendorong tubuh penjaga itu agar menjauh dari hadapannya.
"Tidak bisa. Pergilah dan kembali lagi saat bar sudah beroperasi."
Arjuna hilang kesabaran. Ia langsung melayangkan tinju ke pria yang sejak tadi menghalanginya untuk masuk ke dalam bar. Pria tersebut langsung jatuh tersungkur, tetapi muncul beberapa penjaga lagi yang langsung menyerang Arjuna bersamaan.
Arjuna mengambil posisi ke sudut lorong sambil mengeluh. "Sial, kalian mau main kroyokan?!" serunya, lalu mulai memasang kuda-kuda yang siap untuk menangkis serangan. Arjuna memang pandai bela diri bahkan tanpa senjata sekalipun.
"Hiyaa!"
Sedikitnya ada lima orang penjaga bertubuh besar yang maju menghampiri Arjuna dengan tinju mengepal.
Arjuna menghindar, membungkuk sedikit sambil mengayunkan kaki guna menjatuhkan beberapa lawan sekaligus, kemudian ia melayangkan tinjunya yang selalu tepat sasaran dan membuat lawannya ambruk seketika.
Arjuna tersenyum miring sambil menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Ia cukup puas dengan hasil yang ia dapat. Namun, malang tidak dapat dihindari, dua orang penjaga yang baru saja tiba di lorong langsung memukul bagian punggung Arjuna dengan sebuah kayu, membuat Arjuna seketika ambruk dan tidak sadarkan diri.
***
Sementara itu di kediaman Arjuna Evan, Anyelir yang baru saja mendapat kembali kesadarannya langsung bangkit berdiri dengan tiba-tiba, tetapi ia kembali duduk di tepi ranjang saat kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya berkunang-kunang.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanya seorang pelayan.
Anyelir menggeleng, tetapi tetap saja rasa sakit di kepalanya begitu terasa sangat menyiksa.
"Kamu akan merasa pusing jika mendadak bangun seperti itu," ujar Tirta, yang sejak tadi merawat Anyelir.
Anyelir menatap Tirta. "Di mana Arjuna?" tanyanya.
Tirta menggeleng. "Aku tidak tahu, saat aku tiba di sini dia sudah tidak ada. Pelayanmulah yang meneleponku," jawab Tirta.
__ADS_1
Anyelir kemudian memijat kepalanya yang masih berdenyut. "Luna yang melakukan ini padaku. Dia memukulku saat aku tidak lihat."
Tirta mengernyitkan dahi. "Luna. Tapi, untuk apa Luna melakukannya? Dia tidak terlihat seperti orang yang mudah menyerang orang lain."
Tubuh Anyelir gemetar. Ia kembali teringat pada video yang beberapa waktu lalu ia tonton di ponsel Luna. Video saat Zion ditenggelamkan ke dalam sebuah bak penampungan air dalam keadaan tidak sadarkan diri dan wajah yang bersimbah darah.
"Zion. Luna memukulku agar aku pingsan dan dia pergi menyelamatkan Zion," gumam Anyelir.
"Zion? Ada apa dengan Zion?" Tirta kembali bertanya.
Anyelir mendongak agar dapat memandang Tirta. "Aku butuh bantuanmu, Tir."
"Ya, Anyelir, katakan saja apa yang harus aku lakukan untukmu?"
"Antar aku ke Rumah Merah. Kau rasa Luna dan Arjuna ada di sana sekarang untuk menyelamatkan Zion."
Tirta menghampiri Anyelir, dan membungkuk di hadapan wanita itu. "Ceritakan dulu padaku apa yang sebenarnya terjadi, setelah itu aku akan mengantarkanmu ke Rumah Merah. Aku tidak mau mengambil resiko."
Anyelir mengepalkan tangannya yang gemetar, lalu ia mulai menceritakan pada Tirta apa yang terjadi, mulai dari Video yang masuk ke ponsel Luna hingga isi video tersebut yang memperlihatkan penyiksaan terhadap Zion.
Tirta mengepalkan tangan saat mendengar apa yang Anyelir katakan. "Itu berarti mereka bertiga berada dalam bahaya sekarang."
"Baiklah. Ayo, aku antar ke sana. Tapi, sebelum berangkat ke sana biar aku hubungi polisi terlebih dahulu."
***
Arjuna sadarkan diri beberapa saat kemudian dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat. Ia mengerjap karena cahaya yang memasuki matanya membuatnya silau.
Arjuna bergerak, berusaha membenarkan posisi tubuhnya yang terbaring dalam posisi miring di lantai yang dingin dan berdebu.
"Argh!" rintih Arjuna, tubuhnya terasa sakit saat digerakkan sedikit.
"Ck, seharusnya kamu tidak tertangkap."
Suara seseorang yang berasal tidak jauh darinya membuatnya terkejut. Arjuna berusaha untuk duduk agar dapat melihat siapa yang berbicara.
"Jujur saja sebenarnya aku berharap banyak padamu, tapi saat melihat kamu dilempar ke ruangan ini dalam keadaan pingsan dan terikat seperti hewan ternak, aku jadi sedikit kecewa dan putus asa."
__ADS_1
Arjuna tahu siapa yang sedang berbicara padanya sekarang. Suara pria itu begitu familiar.
"Zion! Kamukah itu?" tanya Arjuna.
Suara helaan napas terdengar.
"Ya, ini aku. Apa kabar, Arjuna?" ujar Zion dengan malas.
Arjuna menggeliat, masih berusaha untuk bangun. Setelah beberapa saat akhirnya usahanya itu membuahkan hasil. Ia berhasil duduk dan sekarang sedang memandang Zion yang berada tidak jauh darinya. Tangan dan kaki Zion juga terikat sama seperti tangan dan kakinya sendiri, tetapi Zion terlihat lebih menyedihkan. Pakaian Zion basah, wajahnya sepucat mayat karena kedinginan, dan terdapat luka sobek di pelipis Zion yang terlihat parah.
"Syukurlah kamu selamat," ujar Arjuna, dengan napas yang terengah-engah.
Zion tersenyum kecut. "Tidak ada yang patut disyukuri. Toh keselamatan yang kudapat ini harus mengorbankan Luna."
Arjuna mengangguk. "Ya, benar, tetapi setidaknya apa yang Luna korbankan tidak sia-sia. Bayangkan saja jika mereka tetap membunuhmu dan di sisi lain Luna juga tetap tertangkap. Luna pasti akan sangat kecewa dan merasa bodoh karena telah berusaha menyelamatkanmu.
Zion mengangguk. Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Arjuna. Setidaknya ia masih hidup untuk memikirkan cara bagaimana menyelamatkan Luna.
"Apa rencanamu sekarang?" tanya Zion pada Arjuna. "Kita tidak mungkin duduk diam di sini. Kita harus bisa melepaskan diri dan menyelamatkan Luna sebelum Luna kembali diperdagangkan oleh si Rana gila itu."
Arjuna diam sejenak. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Beberapa saat kemudian ia pun berkata, "Apa kamu bisa bergeser? Maksudku apa kamu bisa menggerakkan tubuhmu?" tanya Arjuna.
Zion mengangguk. "Tentu bisa."
Cepat bergeser ke tengah ruangan ini, dan aku juga akan bergeser ke tengah, dengan begitu aku bisa melihat bagaimana simpul di tanganmu, dan kita bisa saling membelakangi agar kita bisa melepaskan ikatan di tangan kita masing-masing.
Zion tersenyum. "Wah, ternyata kamu berguna juga." Zion langsung menggeser tubuhnya ke tengah ruangan, dan Arjuna pun melakukan hal yang sama.
Butuh waktu yang lumayan lama bagi Zion dan Arjuna untuk melepaskan ikatan tangan mereka masing-masing, tangan keduanya bahkan sampai lecet dan mengeluarkan darah karena gesekan tali yang mengikat tangan mereka. Namun, hal itu tidak berarti apa-apa saat akhirnya tali di tangan Zion dan Arjuna terlepas.
"Yes, kita berhasil," desis Zion, yang langsung melepas tali yang mengikat kakinya. Arjuna pun melakukan hal yang sama seperti yang Zion lakukan.
Setelah tali di kakinya terlepas, Arjuna langsung bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu.
"Sial! Terkunci!" ujar Arjuna, setelah ia mencoba membuka pintu yang ternyata pintu itu terkunci dari luar. "Sekarang apa?" tanya Arjuna pada Zion.
Zion tersenyum sambil menunjuk langit-langit. "Aku tahu jalan rahasia."
__ADS_1
Bersambung.