
Sabrina mengalami pendarahan hebat di kepalanya yang menyebabkan Sabrina menjadi koma. Itulah yang baru saja dokter Alferd katakan pada Arjuna, Luna, dan Anyelir. Dokter Alferd adalah salah satu sahabat Dermawan yang menangani Sabrina.
Luna yang tidak mengenal Sabrina tidak terlalu merasa kasihan pada Sabrina. Meski pun begitu ia tetap saja merasa kasihan pada Arjuna dan Anyelir yang terlihat terpukul, dan ia yakin orang tua Sabrina pun akan lebih terpukul begitu mengetahui keadaan Sabrina.
Anyelir jatuh terduduk di salah satu sofa yang ada di tengah ruangan dokter. Ia begitu terkejut dan tidak menyangka jika karena perbuatannya Sabrina sampai harus mengalami koma. Anyelir merasa bersalah, meskipun ia tidak terlalu menyesal karena hubungannya dengan Sabrina memang tidak pernah baik sejak pertama kali ia mengenal Sabrina. Namun, tetap saja ia tidak bermaksud untuk melukai Sabrina saat ia mendorong tubuh wanita itu. Ia tidak sengaja, sungguh tidak sengaja.
Tubuh Anyelir gemetar hebat saat ia mulai membayangkan nasibnya jika sampai Arjuna mengetahui bahwa dirinyalah yang menyebabkan Sabrina menjadi seperti sekarang. Arjuna pasti tidak akan tinggal diam, bisa saja Arjuna menelepon polisi, dan polisi pasti akan menangkapnya kemudian memasukannya ke dalam penjara.
"Tidak, aku kan tidak sengaja, aku tidak sengaja." Anyelir bergumam dengan suara yang tidak jelas. Ia bahkan terlihat susah payah menahan tangannya agar tidak terus gemetar. Melihat hal itu, Luna yang sejak tadi duduk di samping Arjuna di hadapan dokter segera melangkah menghampiri Anyelir dan duduk di samping Anyelir.
"Butuh sesuatu? Air mineral atau jus barangkali?" tanya Luna.
Anyelir diam saja, tetapi kepalanya menoleh ke tempat Luna duduk. "Tidak, aku tidak sengaja."
Luna mengerutkan dahi. "Tidak sengaja?" tanya Luna. "Apa maksudmu dengan tidak sengaja, Nye?"
Anyelir menggeleng kuat. Ia terkejut karena bibirnya berucap sembarangan. "Bukan ... maksudku, aku tidak butuh air. Aku tidak haus."
Luna mengangguk, kemudian ia meremas pundak Anyelir. "Sabrina akan baik-baik saja. Aku yakin, dia akan segera sadar. Kita berdoa saja untuk Sabrina."
Anyelir mengangguk pelan. Ingin sekali ia mengatakan bahwa lebih baik begini, lebih baik Sabrina tidak lagi sadar, karena jika sampai sadar kembali, bisa saja Sabrina menceritakan segalanya pada Arjuna dan Maria, dan hal itu bukanlah hal yang baik baginya.
Ceklek.
Pintu ruangan itu terbuka, dan Maria memasuki ruangan dengan tergesa-gesa bersama dengan Siska. Wajah Maria terlihat begitu khawatir dan kedua matanya merah serta bengkak, tidak diragukan lagi jika Maria pasti menangis sepanjang jalan menuju rumah sakit.
"Arjuna, Arjuna, apa yang terjadi pada Sabrina? Ayahmu bilang--"
"Ma, duduklah dulu," pinta Arjuna, yang langsung menghampiri Maria dan menuntun Maria menuju sofa.
Maria menurut. Ia mengikuti langkah Arjuna ke sofa dan duduk tepat di hadapan Anyelir dan Luna. Untuk beberapa saat Maria tidak menyadari keanehan pada Anyelir, ia sibuk terisak dan meratapi kejadian buruk yang menimpa Sabrina. Namun, tidak demikian dengan Siska. Kedua mata gadis itu begitu jeli, dan hanya butuh waktu beberapa detik bagi Siska untuk menyadari bahwa penampilan Anyelir terlihat tidak seperti biasanya.
"Kak Anye," gumam Siska, sambil menunjuk langsung ke perut Anyelir yang rata.
Anyelir yang menyadari arah tatapan Siska langsung meraih tas tangannya dan berusaha menutupi perutnya dengan tas tangan tersebut, walaupun ia tahu bahwa usahanya itu akan sia-sia belaka.
__ADS_1
"Kakak keguguran? Kapan?" tanya Siska lagi.
Pertanyaan Siska sukses mengalihkan perhatian Maria. Maria yang sejak tadi menuduk sembari mengusap sudut matanya dengan sapu tangan langsung mendongak dan menatap lurus ke tempat Anyelir duduk.
Deg!
Dunia seakan jungkir balik bagi Maria saat dilihatnya perut menantu kesayangannya kini rata, serata sebelum Anyelir mengandung.
"Ya Tuhan, Nye, apa yang ...." Maria menggantung ucapannya, kemudian segera bangkit berdiri dan menghampiri Anyelir. "Apa yang terjadi, hah!" Maria mengulang pertanyaannya begitu ia telah duduk di sebelah Anyelir. "Katakan padaku, Anye, apa yang terjadi. Di mana cucuku, hah, di mana?"
Luna yang tahu bahwa sebentar lagi pasti akan ada perang di dalam ruangan itu segera bangkit berdiri. Ia melangkah menuju pintu keluar dengan perlahan agar tidak menarik perhatian.
Sebelum ia tiba di pintu, pintu telah terbuka terlebih dahulu dan Dermawan masuk ke dalam ruangan.
Melihat Dermawan tiba, Dokter Alferd langsung bangkit berdiri, seperti sadar pada situasi yang tidak nyaman, ia pun pamit undur diri. "Istirahatlah sebentar di sini Dermawan, aku akan memeriksa beberapa pasienku," ujarnya, sembari menepuk pundak Dermawan.
"Ah, terima kasih, Alferd."
Dokter Alferd mengangguk. "Jangan sungkan. Aku banyak pekerjaan di luar, anggap saja rumah sendiri, oke."
"Tetaplah di sini, Nak," ujar Dermawan.
Luna menggeleng. "Waktunya tidak tepat, Ayah, aku harus pergi dari sini."
Ya, bagi Luna waktunya memang sangat tidak tepat. Sekarang Maria sedang sangat sedih karena kecelakaan yang menimpa Sabrina, dan Maria juga begitu terkejut karena melihat bentuk fisik perut Anyelir yang berubah. Luna tidak ingin kehadirannya malah akan membuat keadaan semakin runyam. Apalagi Maria tidak menyukainya. Ia tidak ingin melihat Maria mengamuk dan mencaci makinya.
"Aku bukannya mencari waktu yang tepat, Nak, aku hanya ingin langsung mengatakan apa yang terjadi. Dan karena sekarang kita semua sedang ada di sini, maka bagiku sekarang adalah saat terbaik untuk mengatakan pada Maria tentang segalanya. Lebih cepat, lebih baik."
"Segalanya," gumam Luna. "Ayah akan mengatakan segalanya?"
"Ya, Nak, segalanya." Dermawan lalu mengangguk, dan meminta Luna mengikuti langkahnya untuk menghampiri Maria dan Anyelir.
Arjuna mengambil alih apa yang Dermawan lakukan, ia menghampiri Luna dan menyentuh pergelangan tangan Luna, lalu membantu Luna untuk duduk di sofa yang tersisa.
"Juna," gumam Luna.
__ADS_1
Arjuna tersenyum dan menatap kedua mata Luna dengan tatapan hangat penuh cinta agar Luna merasa lebih tenang. "Percayalah pada keputusan ayah. Jika mama tidak menerima semua ini, masih ada aku yang pasti akan selalu ada di sampingmu."
Luna tersenyum, dan di saat yang bersamaan ia juga menangis. Perkataan Arjuna membuat nya terharu.
"Apa yang kamu katakan, Arjuna? Dan ada apa ini? Aku rasa kalian semua sedang menyembunyikan sesuatu dariku?!" teriak Maria, ia merasa kesal dan bingung karena baik Dermawan atau pun Arjuna terlihat begitu perhatian pada Luna.
Dermawan menatap Maria dengan sabar. "Pelankan suaramu, Maria, kita sedang berada di rumah sakit, dan kita sedang meminjam ruangan Alferd sekarang," ujar Dermawan. "Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu, Maria, dengarkan aku dan jangan menyela."
Maria mengangguk. Maria sudah hidup begitu lama dengan Dermawan. Ia tahu, jika Dermawan ingin mengatakan sesuatu, sesuatu itu pastilah sesuatu yang sangat penting.
"Anyelir tidak pernah mengandung, Sayang, selama ini Anyelir membohongi kita semua. Anyelir sengaja mengikat bantal di perutnya saat kita akan datang ke rumahnya, agar kita semua yakin bahwa dia memang sedang mengandung."
Maria menyentuh dadanya. Ia merasa dadanya akan meledak detik ini juga. Dadanya nyeri dan sakit, seperti ada ribuan belati yang menusuk-nusuk di dalam dadanya. Apa yang baru saja Dermawan katakan sungguh membuat hatinya sakit.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Maria pada Dermawan. "Itu berarti aku tidak akan punya cucu?" Maria mulai menangis. Ia lalu menatap Anyelir dan tangannya refleks menampar wajah Anyelir.
Anyelir meringis, begitu juga dengan Luna yang mendadak bangkit dan memeluk Anyelir.
"Minggir kamu! Biar aku beri pelajaran wanita sialan ini. Bagaimana bisa dia membohongiku!" Maria mendorong Luna agar menjauh dari Anyelir, tetapi Luna tidak menyerah. Ia tetap memeluk Anyelir agar Anyelir tidak lagi mendapat tamparan dari Maria.
"Maria, duduklah, aku belum selesai bicara," pinta Dermawan.
"Apa lagi yang harus dibicarakan, hah? Sudah jelas kalau Anyelir menipuku dan memberiku harapan palsu. Aku tidak akan punya cucu, aku tidak akan punya cucu selama-lamanya. Ya, Tuhan, malangnya nasibku." Maria mengacak rambut Anyelir yang masih berada di dalam pelukan Luna.
Arjuna bangkit berdiri dan menjauhkan Maria dari Anyelir dan juga Luna. "Ma, dengarkan, Juna."
"Pergilah, Juna, kamu juga sama saja. Kamu bekerjasama dengan istrimu untuk membohongi mama. Tega sekali kamu. padahal kamu tahu kalau mama begitu bahagia saat mendengar kabar kehamilan Anyelir." Maria mengamuk dan memukuli dada Arjuna.
"Kehamilan Anyelir memang bohong, Ma, tapi mama akan tetap memiliki cucu tidak lama lagi," ujar Arjuna.
Maria menghentikan gerakan tangannya yang masih terus memukuli Arjuna. "Apa maksudmu?" tanya Maria keheranan. "Mama tidak mau anak adopsi lagi."
Arjuna menggeleng. "Bukan anak adopsi, Ma, kali ini benar-benar anakku. Bayi yang Luna kandung ... bayi itu adalah anakku. Luna adalah istri keduaku."
Bersambung.
__ADS_1